[CLOSED] Team Battle – Challenge Week 3 – Dystopia

THE SETTING

Bumi, tahun 2519. Lima puluh tahun setelah The Pulse, saat energi badai matahari terbesar menabrak atmosfir planet ini. Kerusakan lingkungan yang terjadi di bumi membuat pelindung radiasi kita bolong-bolong, sehingga badai tersebut langsung menghantam permukaan. Beberapa kota di daratan gosong terbakar. Terjadi gelombang kejut elektromagnetik yang mematikan seluruh perangkat elektronik dan komunikasi di seluruh dunia. Semua satelit rusak dan pembangkit tenaga listrik meledak, membuat bumi diselimuti gelap dan sunyi. Negara-negara tumbang, aksi jahat bersahut-sahutan.

Sebuah organisasi penjahat bernama POX menggerayangi CAPITOL, ibu kota negara MALACCA, yang sudah hampir kolaps karena bencana tersebut. Pemerintah Malacca sudah berusaha bangkit, namun kemajuannya bisa dibilang lambat. Hanya satu pembangkit tenaga listrik yang berhasil dihidupkan kembali, yang hanya cukup menerangi setengah kota Capitol pada malam hari, sehingga pemadaman bergilir dilakukan. Pemerintah juga sudah memuat Program Genecha, yang memisahkan semua anak dari orang tua mereka dan melatih mereka menjadi Saber, agen pemerintah berkekuatan super untuk membela negara. Mereka dipasangkan dengan saudara masing-masing dan ditempatkan di Komplek Besar Fortz, di pinggiran kota Capitol, dibentengi dengan pagar tinggi untuk mencegah akses masuk dan keluar.

Suatu malam POX mendobrak pertahanan komplek tersebut, meruntuhkan tembok dan memporak-porandakan fasilitas di sana. Semua agen Saber melarikan diri dari barak-barak dan gedung-gedung, berpencar di tengah kegelapan malam. Ini adalah cerita sekumpulan anak yang bebas dari cengkeraman pemerintah yang telah memenjara mereka di sana.

Bagaimana cara mereka kabur? Apa yang akan mereka hadapi? Apa yang akan mereka lakukan sekarang? Ke mana mereka akan pergi? Apakah keluarga mereka masih ada? Bisakah mereka berkumpul kembali dengan keluarganya?

HOW TO START THIS GAME

Step 1 – Senin 15 Juli 2019 – CONFETTI (challenge dari game master)

Kalau kamu memilih menulis cerita, buatlah perkenalan terhadap 2 orang karakter (kakak & adik, boleh kembar/tidak) untuk cerita kamu, minimal 1 paragraf. Sertakan kekuatan dan kelemahan masing-masing. Lalu tulis kisah bagaimana mereka kabur dari Komplek Fortz. Dalam perjalanan mereka harus bertemu dengan beberapa pasukan POX. Tuliskan kejadiannya.

Kalau kamu memilih gambar, buatlah gambar karakter tokoh atau latar belakang sekitar komplek Fortz.

Poin: +200/anggota tim yang berhasil mengumpulkan
Due: Rabu 17 Juli 2019, 23:59:59 WIB

Step 2 – Selasa 16 Juli 2019 – STORY BAZOOKA (challenge cerita dari kapten tim)

Kapten masing-masing tim memberikan challenge STORY pada tim lain, berupa apa yang harus mereka hadapi hari itu. Bisa berupa kesulitan tertentu, atau sekedar aktifitas sehari-hari, atau tempat yang harus dikunjungi, atau percakapan tentang sesuatu.

Misal: Tim Alpha memberi tantangan pada Tim Bravo: “Sudah dua hari kakak beradik itu kelaparan dan tidak punya uang. Ketika sedang mencari makan, si adik tertangkap pasukan POX. Tulis bagaimana kakaknya dapat menyelamatkannya.”

Atau: Tim Bravo memberi tantangan pada Tim Alpha: “Kedua saudara itu sampai di Pantai Tebing Tinggi. Mereka belum pernah ke pantai. Tulis kegiatan dan percakapan yang mereka lakukan di sana.”

Poin: +100/anggota tim yang berhasil mengumpulkan
Due: Kamis 18 Juli 2019, pukul 23:59:59 WIB

Step 3 – Kamis 18 Juli 2019 – STORY BAZOOKA (challenge cerita dari kapten tim)

Sama seperti Step 2. Berikan challenge STORY pada tim lawan berupa kesulitan yang para karakter hadapi hari itu, dengan catatan mereka bertemu karakter dari penulis lain (cross over). Penulis bebas memilih karakter dari tim sendiri atau dari tim lawan.

Contoh: Amanda punya karakter namanya Ami dan Ani, Cantika punya karakter namanya Eli dan Evan. Di cerita ini Ami, Ani, Eli, dan Evan ini harus bertemu dan bekerja sama.

Poin: +100/anggota tim yang berhasil mengumpulkan
Due: Sabtu 20 Juli 2019, pukul 23:59:59

Step 4 – Sabtu 20 Juli 2019 – ART BLASTER (challenge gambar dari kapten tim)

Kapten masing-masing tim memberikan challenge ART pada tim lain, yang berkaitan dengan cerita/setting game ini. Contoh: gambar saat karaktermu bersembunyi di hutan.

Poin: +100/anggota tim yang berhasil mengumpulkan
Due: Senin 22 Juli 2019, pukul 23:59:59

THE TEAM

Tim Alpha

KAPTEN:
Amanda (13), Tangsel, @marsmellowmozara – WRITER

PASUKAN:

Tim Bravo

KAPTEN:
Khalisa (14), Tangsel, @kshasie – WRITER/ARTIST

PASUKAN:

ANY QUESTIONS?
Silahkan tanya di sini 🙂

Advertisement

89 thoughts on “[CLOSED] Team Battle – Challenge Week 3 – Dystopia”

  1. THE TEAM

    Tim Alpha

    KAPTEN:
    Amanda (13), Tangsel, @marsmellowmozara – WRITER

    PASUKAN:

    Cantika (14), Medan, @websitebelajarwebsitekodingdanlainlain – WRITER
    Jaihan (11), Riau, @ummujaihan – WRITER/ARTIST
    Dira (7), Sumatra Utara, @ummunadira – WRITER/ARTIST
    Abi (10), Yogya, @abimanyurw – ARTIST
    Umar (12), Tangsel, @seterahmaudipanggilapa – ARTIST
    Ayska (11), Jakarta, @aghayska – ARTIST, weekend only
    Tim Bravo

    KAPTEN:
    Khalisa (14), Tangsel, @kshasie – WRITER/ARTIST

    PASUKAN:

    Aila (10), Skotlandia, @luvkoala – WRITER/ARTIST
    Nada (9), Riau, @ummujaihan – WRITER/ARTIST
    Binar (10), Magetan, @binaras – ARTIST
    Angga (11), Surabaya, @satriamanggala – ARTIST, weekend only
    Namira (10), Sumatra Utara @umminadira – WRITER/ARTIST
    Sarah (15), Tangsel, @sarahtanujaya – WRITER

    Liked by 2 people

    1. Contoh menjawab Confetti.
      Perkenalan karakter dan cerita bagaimana mereka bisa kabur dari Komplek Fortz.

      ***

      Ben sedang merangkak di lumpur ketika ledakan itu terjadi.

      Gelombang suara frekuensi tinggi menusuk telinganya yang sensitif. Dia terpaksa meringkuk sambil menutup kedua telinga, merasakan getar bumi yang bergejolak hebat. Lalu seluruh lampu di Komplek Fortz mati, berikut dengan kalung pengontrol di lehernya.

      Suasana langsung kacau. Para Saber yang sedang menjalani latihan halang rintang di lapangan terdengar bangkit dan berlari. Sersan Ron berteriak-teriak, memberi perintah agar mereka berkumpul ke depan, tapi Ben tahu yang didengarnya itu adalah suara anak-anak yang sedang kabur.

      Seseorang menyentak dan menarik lengannya dengan keras.

      “Ben! Ayo cepat!” tukas suara dalam yang amat dikenalnya. Adam, kakaknya yang terpaut usia empat tahun. Sahabat dan sekaligus partner misinya.

      Mereka terseok berlari. Tidak tahu ke mana, yang jelas menjauhi Sersan Ron. Di kejauhan gedung asrama tempat tinggal mereka terbakar. Begitu pula dengan gedung pusat kontrol, tempat mesin yang mengendalikan kalung mereka. Benda yang membuat mereka tidak bisa lari dari tempat itu, yang akan meledak seandainya mereka nekat melewati pagar tinggi yang mengelilingi Komplek Fortz.

      Adam melompati pagar yang setengah rubuh, Ben mengikuti dengan cepat di belakangnya. Hutan gelap terhampar beberapa puluh meter di depan mereka. Adam berlari ke sana tanpa ragu-ragu.

      Sesaat Ben hanya bisa termangu. Kalung pengontrol itu benar-benar sudah mati. Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun terkurung di tempat ini, akhirnya mereka bisa bebas. Dia baru berusia enam tahun ketika para agen pemerintah menangkap Adam dan dirinya yang sedang bermain di tepi sungai desa kelahiran mereka. Sejak saat itu mereka ditahan di fasilitas pelatihan ini, dididik menjadi agen Saber angkatan berikutnya. Pasukan berkekuatan khusus yang dipakai pemerintah untuk menjaga keamanan negara.

      BRUK!

      “Adu–” suara Ben teredam oleh tangan Adam, yang menutup mulutnya dan menyeretnya ke balik sebuah pohon rindang. Ben mau protes agar Adam tidak berhenti mendadak seperti itu lagi, tapi kakaknya sedang menunduk dan mengintip dari celah dahan, mengamati sekelompok orang yang sedang mengendap-endap ke arah komplek.

      Lima orang. Seragam putih abu, bersenjata lengkap. Sebuah lambang tersemat di lengan baju mereka. Ben mengenali lambang itu dari kelas Pertahanan Negara.

      POX, penjahat yang berusaha menumbangkan Pemerintah Malacca. Apa yang mereka–

      Salah seorang pasukan POX melempar benda kecil ke arah lapangan halang rintang yang tadi mereka tinggalkan.

      DUAR!!

      Granat itu meledak. Mereka bergerak cepat, menyerang sedikit agen Saber yang masih berada di sana. Mereka ingin menghancurkan tempat ini?!

      Adam kembali menarik lengannya, mengajaknya segera kabur dari tempat ini. Menerobos pohon dan semak belukar di hutan belakang. Menembus pekatnya malam. Tidak masalah bagi Adam, karena matanya yang setajam burung elang dapat menemukan jalan dengan mudah.

      Ben sudah yakin akan selamat, ketika mereka tiba-tiba keluar dari hutan dan sampai di padang rumput kecil di samping jurang. Berhenti tepat di hadapan selusin pasukan POX yang menghadang. Adam langsung menerjang orang di depannya. Tenaganya yang besar membuat orang itu terlempar. Tiga orang temannya menyerang Adam. Ben tidak sempat memperhatikan karena dua pasukan musuh menyergap dari samping.

      Pukulan lurus, kelit, tebasan samping, merunduk. Ben berputar dan menjegal musuh di kanan. Meraup baju lawan di kiri dan membantingnya ke tanah. Ganecha telah melatihnya menghadapi situasi seperti ini. Ketika penyerangnya habis, Ben berpaling mencari Adam. Di belakang. Enam orang sedang mengeroyoknya.

      Sekilas pandangan mereka bertemu. Adam memicingkan mata dan membuat gerakan singkat dengan tangannya. Tiga orang yang akan menerkam Ben di belakang langsung terjengkang, terdorong oleh kekuatan telekinesis yang dimiliki Adam. Tapi hal itu membuat pertahanan Adam terbuka. Seseorang memukulnya keras. Adam oleng dan jatuh. Musuh segera menginjak dan menendangnya.

      Ben menggertakkan gigi.

      Tidak ada yang boleh menyakiti kakaknya.

      Dengan sentakan tangan kanannya, Ben membuka jalan ke hadapan Adam. Menghantam lawan dengan siku. Menarik kerah baju Adam, dan memanggil kembali kekuatan teleportasinya.

      SRAT

      Mereka terhuyung di depan jurang. Ben memandangi pasukan musuh yang kembali mengerubung, entah dari mana mereka dapat tambahan bala bantuan. Adam sudah bangkit kembali, tapi Ben tidak mau berlama-lama di sini. Dia melirik ke bawah, ke atas batu besar di tepi sungai di bawah jurang. Dia belum pernah teleport sejauh itu, namun tidak ada pilihan lain.

      “Pegangan,” bisik Ben sebelum dia menggaet lengan Adam dan menjatuhkan diri ke jurang.

      Tiga.. dua.. satu..

      SRAT

      Teleportasi Ben menghempaskan mereka ke dinding tebing di samping batu besar yang tadi dilihatnya.

      Ugh.

      “Kamu berat sekali, Kak!” gerutu Ben sambil tersengal. Yah, tidak terlalu buruk untuk pendaratan darurat.

      Adam mengerang bangkit, lalu terduduk di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka hanya duduk bersandar di situ, mengatur napas.

      “Kamu bisa jalan?” tanya Adam sambil meliriknya.

      Ben mengangguk.

      “Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, mumpung masih malam. Aku tidak tahu apakah mereka akan mengejar, tapi kalau sudah pagi mereka bisa menemukan kita dengan mudah,” kata Adam, bangkit dari tempat duduk mereka.

      Ben mendengus, tapi menyetujuinya. Dia menyambut uluran tangan Adam. Dalam sekejap mereka kembali menerobos pepohonan, menghilang dalam rimbunnya hutan.

      ***

      Liked by 1 person

    2. Contoh lain menjawab Confetti. Kali ini nada ceritanya santai, dan para agen Saber di cerita yang ini tidak diculik dan membenci pemerintah seperti Ben dan Adam. Melainkan secara sukarela mendukung pemerintah dan setia bela negara hehe…

      ***

      “Perhatian! Markas di serang! Perhatian! …”

      Suara sirine yang tiba-tiba berbunyi kencang itu membuat Vira berhenti makan.

      DUAR!

      CEMPLUNG!

      Baso di sendok Vira sukses meluncur kembali ke mangkok saat ledakan besar terdengar.

      “Eh sobaso baso, amit-amit eh amit-amit–” Vira tergagap.

      Vega yang memperhatikan adiknya itu tertawa. Vira yang kesal ditertawakan jadi cemberut dan memukul lengan Vega.

      “Ih, apaan sih Kak! Kok malah diketawain!”

      “Tau nih, Kak Vega jahat! Tuh lihat lagi keadaan genting begini masih sempat bercanda!” tukas Kirana, sahabat Vira. Dia lalu ikut bangun ketika Kelly kakaknya bangkit dari tempat duduk mereka di kantin.

      Dengan sigap Kelly menyetel kacamata 3D yang dipakainya.

      “Ayo teman-teman! POX menyerang markas kita! Profesor Dindin menyuruh kita mengatasi mereka,” seru Kelly yang menjadi ketua kelompok pasukan mereka.

      “Siap, laksanakan, komandan!” Vega, wakil ketua pasukan yang dari dulu naksir Kelly, berdiri sambil mengangkat tangan hormat. “Demi membela negara Malacca, bosku Kelly tercinta!”

      Vira mencibir. Huuu!! Kakaknya itu terlalu banyak berlagak! Mentang-mentang dia orang terkuat sepasukan!

      Mereka semua bergegas keluar ruangan kantin. Ternyata kantor utama sudah hancur terbakar!

      “Astaga… ini lebih serius dari yang kukira,” keluh Kelly. Dia lalu mengajak Vega mendampinginya melawan musuh. Kekuatan Kelly adalah bisa bergerak dengan sangat cepat. Dia bisa memukul 10 orang musuh dalam 1 detik! Bersama dengan Vega, dia bisa memporak-porandakan musuh dalam waktu singkat.

      Namun nasib baik tidak berpihak pada mereka malam itu. Setelah melawan pasukan musuh yang tak habis-habisnya, akhirnya Kelly membuat keputusan strategis.

      “Semua mundur! Laksanakan evakuasi darurat!”

      Kontan semua pasukan Saber yang tersisa mengambil langkah seribu.
      Vira, Kirana, Vega dan Kelly berhasil keluar komplek pertahanan Fortz dan bersembunyi di hutan Huhuhaha. Hutan yang sangat gelap dan terkenal angker.

      “Aduuh! Kenapa kita malah ke sini, sih!” seru Kirana. Dia memang paling takut cerita horor.

      “Sst! Diam! Kalau ada pasukan POX yang berhasil melacak kita sampai ke sini bagaimana?” desis Vira sambil menyikut sahabatnya itu.

      “Kita bermalam di sini dulu ya,” ujar Kelly dengan nada khawatir. “Sepertinya mereka berhasil menghancurkan markas. Kita harus menyusun kekuatan. Aku dan Vega akan memikirkan rencana berikutnya.”

      “Siap, Bu Bos!” seru Kirana. Vira hanya mengangkat bahu dan lalu mencari posisi yang enak untuk tidur.

      ***

      Liked by 1 person

      1. WAAAIIIT… what happened?? :O si kapten itu siapa? orang POX? dia tembak tentaranya sendiri? whayyyy… takda penjelasan lagiii uhuhu… lanjutkennnn ceritanyaaa i want to know moarr xD

        Like

      2. Btw, Naf sounds cool! heheh.. Alice juga, itu dia ceritanya bukan pingsan beneran kan? Hooo… interesting story! Dan aku lupa kasih poin xD

        +200 poin, congrats!

        Like

        1. Iya, temanya dystopia (kekacauan di masa depan), jd bisa gambar kota yang runtuh, gersang, dsb

          Like

        2. Ya confetti nya kalo emang lagi pengen gambar2 aja sih hehe.. art blaster belom ada tuh dari khalisa, dah aku tanyain tp anaknya blm nongol 😛

          Like

    1. Jadi inti tantangannya adalah membuat cerita dengan setting / latar belakang dunia distopia / kekacauan di masa depan. Pada saat itu badai matahari menghancurkan alat komunikasi dan pembangkit listrik. Kekacauan besar pun terjadi. Cerita kita dimulai di sebuah negara bernama Malacca, yang mengambil anak2 dan melatih mereka menjadi agen Saber, sebutan dari pasukan berkekuatan super yang menjaga keamanan negara. Proyek pemerintah ini disebut proyek Ganecha.

      Suatu malam POX, organisasi jahat yang ingin menumbangkan pemerintah, menyerang komplek Fortz, tempat pelatihan proyek Ganecha. Dengan tujuan menghancurkan program pemerintah tersebut sehingga bisa memenangkan perang dan mengambil alih kekuasaan.

      Di sini aku sebagai game master menantang kamu untuk menbuat cerita tentang dua bersaudara yang dilatih menjadi agen Saber. Buatlah tokoh kamu dan ceritakan bagaimana cara mereka kabur dari komplek Fortz. Kamu bisa tulis mereka memiliki kekuatan super, sekedar panca indera yang diperkuat atau macam bisa terbang kayak superman juga boleh. Tapi jgn terlalu kuat nanti gak seru kaburnya gampang hehe…

      Nada ceritanya sendiri bebas, mau dibikin humoris atau serius juga bisa. Detil dari dunia saat itu juga bebas, mau bikin scifi atau medieval bisa. Inti dari tantangan ini pada dasarnya adalah membuat cerita bertemakan keluarga, sesuai dengan tema Tugas 3. Makanya tokohnya diambil dua bersaudara hehe.. jadi kamu sesuaikan aja menurut imajinasi kamu.

      Ini aku kasih contohnya yaa.. kasih tahu bagian yg mana yg kamu masih bingung.

      Like

    1. So basically the challenge is to write a story in a dystopian setting. Dystopia is a state of chaos. In this case the story happens in a world after a massive solar flare hit the earth and destroyed all communication devices and electricity. Cities and countries fall, villains try to take over the goverments all around the world.

      Our story begins in a country named Malacca, where the government takes the children to be trained as super soldiers called Saber agents. The project is code named Ganecha. One night POX, an evil organization who wants to defeat the Malacca goverment, destroys the Fortz Compound, one of Project Ganecha facilities. They hope destroying the goverments super army will enable them to win the war.

      So in the Confetti attack, I as the game master challenge you to write a story about siblings that are raised as Saber agents. The night when POX attacks the compound, your characters manage to escape the ambush and run away from there. What will the do now? Where do they go? They meet POX agents on their way out, how can they escape?

      You can interpret and write the story any way you want. You can make it humorous or write a thriller. You can give your characters any kind of super abilities (as long as not too strong! Otherwise it won’t be fun cause they can escape easily). The main focus of this challenge is to exercise the theme of Tugas 3: a story about relationship in family. Is that clear enough for you?

      Let me know which part gets you confused ^^

      Good luck!

      @luvkoala

      Like

  2. I get it.Thx for the info tante,it really helps me:).But,do we have to write this dystopian story as our Tugas 3?And also,where do we write the story?In the Team Battle Comments Section?

    Like

  3. I get it.Thx for the info tante,it really helps me:)Btw,do we have to make this dystopian story as our Tugas 3?Also,where can we write this story,at the Team Battle Comments Section?

    Like

    1. You can use it for Tugas 3, but you don’t have to if you already have other ideas. This is just a writing exercise hehe… Write the story here as a comment/just reply to this blog post .

      Like

        1. Ohh iya lupa diupdate, kmrn kan blm konfirmasi, baru dapet info pas malem hehe.. nanti aku update yah

          Like

  4. @kshasie @marsmellowmozara kamu udah bisa menyerang tim lawan pake 1 story bazooka ya hari ini. Latar belakang cerita masih tetep di world distopia yg ini. Tulis challenge seperti kemarin (buat post baru, kasih judul story bazooka buat tim alpha/bravo, kategori team battle)

    Like

      1. Latarnya cerita distopia yg dibikin, sedangkan isi petunjuknya terserah kamu yg nyerang. Misal, “tulis cerita saat tokoh kamu bertemu dengan robot pemusnah bikinan POX”. Atau, kata kuncinya “pengkhianatan”, tulislah ceritanya dgn tokoh yg sudah dibuat tadi. Atau “tulis cerita saat tokoh kamu hampir digigit buaya”. Kira2 gitu.. masih bingung kah?

        Like

        1. Oh, begitu. OK deh, aku mau kasih kata kunci yang super sulit, biar Tim Merah pada K.O 😀

          Like

        2. Ahaha xD eh story bazooka nya jgn yg pake pelajari fandom lain ya. Untuk jawab gpp kalo mau crossover, tp untuk ngasih kata kuncinya yg to the point aja jgn minta crossover

          Like

        3. Closed aja ya, krn sebenernya udh di jawab walau ga spt yg dibayangkan, tp seenggaknya udh berhubungan dgn kata kuncinya

          Like

        4. Eh yg kmrn yg mana dulu nih? Kata manda ada yg blm ketangkis ya? Katanya kmrn dia nulis tp kehapus. Kalo ada yg blm dijawab jatohnya expired

          Like

      1. Tan, udah boleh ngeluarin Art Blaster belum? Aku pengen ngeluarin Art Blaster soalnya udah nemuin kata kunci super sulit hehe 😀

        Like

        1. Kata kuncinya jgn aneh aneeeh.. ini yg ngerjain anak 9-15 tahuun.. keep it under PG13 okayy xD

          Like

  5. Hari itu, akademi kami diserang.
    Joy dan April adalah teman sekaligus rival. Mereka menduduki peringkat 1-2 dari seluruh murid di akademi SABER. Kemarin, gurunya bilang kalau mereka murid SABER kelas 7-A akan mengunjungi akademi lain di wilayah utara kawasan CAPITOL. Mereka sedang asyik mengobrol, ketika tiba-tiba mereka mendengar suara ledakan yang kencang dari luar bangunan.

    Pada saat murid-murid keluar, mereka bisa melihat asap mengebul dari gerbang depan. Seketika mereka langsung tahu, mereka sedang diserang! Para sersan tengah sibuk menangkis serangan musuh, sehingga mereka tidak menyadari kalau beberapa murid telah kabur darisana, memanfaatkan momentum kejadian tersebut.

    Sebenarnya, kami para murid ada yang masuk akademi bukan keinginan kami sendiri. Sebagian besar dipaksa masuk, ada beberapa bahkan yang dipisah paksa dari keluarganya. Karena itulah, sejak dulu mereka ingin kabur darisana, tetapi penjagaan selalu super-ketat dari pagi sampai malam hingga pagi lagi. Mereka tak punya kesempatan kabur sama sekali.

    April hendak membantu para sersan pada saat itu, Joy menahannya.
    “Ada apa sih Joy? Kita harus membantu mereka! Lihat, mereka tampak kekurangan orang!”
    “Iya, aku tahu. Tapi, kita sebaiknya kabur saja, itu pertempuran orang dewasa! Sedangkan kita masih murid-murid yang tidak berpengalaman dalam pertempuran sama sekali!” jawab Joy, dia masih menghalang April agar lewat.

    “Apa?! Tapii..!! kita peringkat atas, dari seluruh murid pula?!” jawab April, dia terdengar tak terima. Tapi, dia benar juga sih, mereka kan murid peringkat atas, jadi apa salahnya?
    “Aku tahu! Tapi kita juga harus tahu kan, kapan harus ikut dan kapan tidak?!” Joy menaikkan nada suaranya, sehingga hampir seperti orang teriak.

    “Tapi–” ucap April, hendak membantah.
    “Tidak boleh!” sahut Joy tegas.
    “Kamu cerewet banget sih!”
    “Lah, kamu aja lebih bodoh! Dibilangin keras kepala!”

    Mereka terus saja bertengkar, hingga melupakan kalau mereka berada ditengah medan peperangan.. di-karena-kan mereka terus bertengkar, sebentar saja mereka menjadi lengah dan tidak menyadari kalau ada musuh mendekat. Joy menyadarinya lebih dulu, dia langsung melompat jauh kebelakang, berdiri diatas pagar.

    Tapi, April sedikit terlambat menyadarinya. Ketika dia melompat, tangannya terkena sedikit ujung pedang tersebut. “April!” Joy berteriak padanya.
    “Kamu baik-baik saja?” tanya Joy, sepertinya dia khawatir. “Bisa jalan?” Joy bertanya lagi. April tidak menjawab, tapi dia menganggukkan kepalanya.

    Musuh semakin banyak, Joy memutuskan agar mereka lari saja ke hutan, setidaknya disana lebih aman daripada diam di Akademi.. kan?

    === 000 === 000 ===

    Para musuh masih berusaha mengejar mereka, dari tampang mereka dan gerakan seperti berusaha mati-matian. Sepertinya mereka murid terakhir SABER yang masih… hidup?
    “Cih, menyebalkan..” gumam Joy. Tiba-tiba dia berhenti dan meraih kantong bajunya.
    “April, kamu jalan duluan.” ucap Joy pelan, April hanya mengangguk dan terus berlari melintasi hutan.

    Joy menarik tangannya dari kantong, terlihat sebuah benda berbentuk bulat.. sebuah bom! “Ayo, kemari kalian semua!” tantangnya. Ditantang seperti itu, musuh tentu saja marah dan lari semakin cepat. Mereka pun semakin mendekat, pada saat itulah Joy membuka ‘tutup’ bom dan melemparnya kearah musuh.

    TAK! PSS…

    Udara langsung dipenuhi asap dari bom tersebut, rupanya yang dilempar Joy hanyalah bom asap yang biasa digunakan orang untuk membuat musuh bingung dan mereka punya kesempatan untuk lari. Setelah melempar, Joy langsung berlari sekuat tenaga, menyusul April.

    === 000 === 000 ===

    Saat sudah benar-benar ditengah hutan, mereka berhenti sebentar. Joy menaruh tangannya diatas tangan April yang terluka, lalu cahaya keluar dari tangan Joy. Ya, kekuatan dia adalah Healing, dimana kita bisa mengobati luka dengan cepat tanpa bekas. Ini bisa digunakan untuk diri sendiri, ataupun untuk orang lain.

    Setelah beberapa waktu, Joy selesai mengobatinya. April merasakan kalau tangannya sudah mulai bisa digerakkan lagi. “Lukamu tidak terlalu dalam, jadi seharusnya bisa sudah bisa digerakkan sekarang”. “Nah, karena masalah sudah selesai. Sekarang kita hendak kemana?” tanya Joy.

    “Bagaimana kalau kita ke kota saja? Kita sepertinya butuh baju baru,” saran April. Saat ini mereka memakai baju seragam Akademi, orang-orang akan heran jika mereka masih memakai baju itu. Dan juga, mereka hanya punya satu baju ganti, mereka juga butuh makanan. Jadi, kota bisa jadi destinasi pertama yang tepat.

    Joy mengangguk, tanda bahwa dia setuju. Mereka membereskan barang yang mereka bawa, sekaligus membuang yang tidak perlu. Mereka melihat sekeliling, sepertinya masih kosong, belum terlihat musuh. April memegang tangan Joy, lalu dia menggunakan kekuatan teleportasinya untuk berpindah tempat. Merekapun hilang diantara pepohonan..

    ~~ TO BE CONTINUED ~~
    *Amanda*

    Liked by 3 people

    1. Wahh kereen! Healer & teleporter ya 😀 btw Joy n April itu ade kakak? Yg jd sodaraan siapa?
      Oya itu kata “kami” bisa diganti dengan “mereka”, karena yg bawain cerita bukan “aku” (ga ada tokoh “aku”), jadi lebih tepat memakai sudut pandang orang ketiga, yaitu “mereka”

      Good job, Amanda!
      +200 poin, congrats!

      Liked by 1 person

      1. Oke, deh 😀
        Oh, bukan. Mereka bukan adek-kakak. Kebetulan mereka itu jadi temen satu kamar di Akademi, ceritanya ^^

        Mereka bisa akrab, karena mereka peringkat 1-2 di Akademi. Sekaligus mereka ke Akademi itu dengan sukarela, bukan karena dipaksa. Jadi ya.. teman satu nasib? :V

        *Amanda*

        Like

  6. SAVING THE WORLD.

    “Come on Taufik,let’s get out of here!”Ali begged his twin brother,and grabbing his right arm.
    “Wait,I need to collect the important belongings!”Taufik told Ali,and quickly getting a telescope,map,a picture of their family and some laser guns.
    “Quickly Taufik!Or POX’s robots’ll come,I can sense them,the house is beginning to break!”Ali coughed,wiping sawdust out of his eyes.
    “Ok,I’m finished!Let’s go!”Taufik said,holding Ali’s hand tight.
    “TO THE…SHALLOW CAVE!”Ali and Taufik both said together.Suddenly,they disappeared,and only dust can be seen.When POX’s bots reached Ali and Taufik’s home,they never gound them.
    “Oh no!Boss,I’m sorry,but they Changed somewhere,”Error informed POX from the radio(Error was POX’s worst bot).Changed is like going from one place yo another in code.
    “Oh come on you bots!Find them NOW!”demanded POX.The bots all obeyed and set off to their journey of finding Ali and Taufik.

    “Phew!I’m glad we made it safely.Thanks Ali,”smiled Taufik.
    “It’s OK.Right,now let’s make this place like home,”Ali said,picking up his rucksack and unpacking all the contents which were,two comfy water-proof folding beds,a foldable table and some blankets+pillows.
    “Where are the food Ali?”
    “Don’t worry,everyday we can rob some food from the shop near our house.Remember the shopkeeper’s our uncle,”Ali reminded his brother.
    “Ok,but we have to wear our Invisibility Blankets,because the bots might spot us.I heard POX saying that he’s got to destroy everyone in our family,because Mama and Papa almost saved the world and killed POX!”Taufik cried,suddenly remembering the death of his parents.
    “Come on Taufik don’t cry now.We still have Fani,our super-smart spy-sister,remember?”
    “Oh yeah!She’ll help us!Good point Ali!”
    “Now,let’s get some sleep,I’m tired,”yawned Ali.
    “Ok,”Taufik said.

    Taufik wasn’t actually sleeping.He was comunicating with Fani on the computer that can transform into the family photo.
    “What’s the Project called again Fani?”Taufik asked Fani quietly,so Ali couldn’t hear him.
    “Project Ganecha.Make sure Ali knows this piece of information,if he doesn’t,he might post important info on to other people.Like POX’s army.Their Project’s called “Project Evil”,”Fani answered Taufik.
    “Oh Ok.I feel tired now,Fani.So I guess,bye for now.See you later,”yawned Taufik.
    “Bye lil’ bro!”Fani waved,”Also,be careful!”
    Taufik obeyed and pulled his blanket and puffed his pillows.

    It’s the morning now!
    “Wake up Ali,it’s 06:00 on the dot!We have to get some food from Uncle Ilyas now!”Taufik shook Ali hard.
    “Ok!Let’s go!”Ali replied,still a bit sleepy.Together they held hands tightly again and said,”TO UNCLE ILYAS’S SHOP!”and off they went,with their Invisibility Blankets over their heads.1 minute later,they finally arrived.
    “Right Ali,what do you want to have for breakfast?”Taufik asked Ali.
    “Boiled eggs and rice.What about you?”
    “I’ll have sushi.Look,what about if I get the food and you stay here,OK?”Taufik told Ali;Ali nodded sleeply.
    “Remember,Fani’s online.So,if she tells you that the bots are coming,tell me and we’ll run,”Ali replied just by nodding sleeply.Taufik started to tiptoe quietly and quickly to where the fridge was and grabbed breakfast.Suddenly,Fani spoke on Ali’s radio.
    “Ali,quick!The bots are coming here!Get Taufik!Come on,Ali,hurry up!”Fani worried.
    “Humph,”Ali sighed,still sleeping.

    When Taufik was still getting the snacks,the door crashed.It was POX’s bots.At first,the bots never saw Taufik and Ali,but Ali gave their hiding place away.Ali put his head down on his shoulders and everyone,including the bots,saw his head.Taufik just stared at the sleeping Ali.
    “RUN!”Taufik screamed.But there was no time to run.The bots got them at last and put them in deep sleep.The bots took Ali and Taufik to POX’s HQ.POX was super delighted to see them.
    “Ah,finally,you bots,you found the sons of Arki Rohani and Kayla Rohani.Thank you so much.Just hang them there where they’ll suffer,a lot,”POX added,to make himself look more and sound more evilly dangerous.When Taufik and Ali got hanged beside tall swords,Taufik finally was awared of where they were.
    “Ali,wake up!”Taufik hissed.Finally,Ali was woken up and also awared of where they were.
    “Taufik,how can we be here?”Ali questioned his brother,while worrying still.
    “It’s because of you,Ali!I bet you Fani already reminded you that the bots are coming,but you were sleeping,weren’t you?”
    “I probably was!Ok,I’m sorry,it’s too late!I’ll try to call her now,”as Ali said that,he looked at where hi mini radio’s supposed to be. But there was no radio.
    “They took the radios,you absolute…”Taufik hesitated to find a word,because he doesn’t want to make enimies with his own brother.
    “What,a dumbhead?Well,I guess I am,so I don’t really care.At least I don’t blame people, like you do,”Ali grumbled angrily,feeling fake hot flames covering his body.
    “Look,Ali,please forgive me of what I said to you.I actually really don’t mean it.The devils that are in this cave forced me to be angry.And I bet the devils forced you too,”Taufik sighed.
    “Hmm,OK then,I forgive you.As long as you don’t blame people,unless they’re POX and his evil bots.”
    “Good point Ali-“when Taufik was about to say that,a bullet came shooting through his anything-reppelent jacket.Taufik wasn’t dead though.
    “Taufik,shut up right now!Play dead!”Ali hissed,because he sensed POX and Danger coming(Danger was POX’s most vicious robot).
    “Yes,and you’ll play crying,ok Ali?”
    “No,but I’m not good at crying!”
    “Please?Now,prepare to cry,cos they’re coming!”Taufik told his brother,while playing dead.

    POX stepped into the room,Danger stomping behind him.
    “Ah,clever me,I made him dead!”POX exclaimed happily,while Danger laughed.
    “Good job Boss!Now he can’t save the world!Ali can’t do it with his twin brother,anyways,”Danger cackled evilly.
    “Yes,yes,don’t be too excited now,Danger.Taufik might still be alive.Please go and check if he is,”
    “Ok Boss!I’m right on it!”Danger stomped his way to Taufik.Inside,Taufik really worried.Oh no,what would I do?he thought.Danger felt Taufik’s heart beating really fast.Danger felt suddenly loved.He was touching his son.Danger remembered when POX put his soul inside a robot,and named him Danger.Danger was actually Arki Rohani.Arki doesn’t want his sons to die!So,he lied and told POX Taufik was dead.Both Taufik and Ali was suprised of course!But,luckily they never showed it.
    “And you’re gonna be dead too,”Danger screamed at the top of his lungs,getting his very powerful pistol out of hus pocket and he shooted right at POX.
    “NOOOO!”POX screeched in pain.Now,POX was no more.The only thing everyone saw was dust.
    “What,how can you kill POX, Danger,he’s your boss!”Taufik asked,opening his eyes in astonishment.
    “No,now I hate him.You know why?”and suddenly there stood a tall figure.It was Arki Rohani,smiling and realeasing his sons.
    “Papa?”
    “Yes Ali?”
    “Is that you?”
    “Of course it’s me,who else would it be?”smiled Arki,hugging his boys.
    “Papa,where’s Mama?”Taufik asked Arki.
    “She’s in the Resting Room.Let’s see her,shall we?”both Taufik and Ali nodded and followed their father to the Resting Room.Then they saw her,lying on a big purple couch,staring at the sky.It was Kayla Rohani.
    “Mama!”the twins shouted,hugging their mother.
    “Hello Taufik and Ali,my wonder boys!”cried Kayla,tears trickling from her wide eyes.
    “Mama,Papa,just to tell you,Fani is in our Project Ganecha HQ.It’s up a big old oak tree near Grandma’s house in Alaska.Let’s go there,now!”Ali informed his parents.
    “Ok,let’s go!”agreed Arki,and together tge family held hands tightly and said,”TO PROJECT GANECHA’S HQ,GRANDMA’S TREE,ALASKA!”and off they went,happily.

    THE END.

    Liked by 2 people

    1. WoW! Reading this is like watching an episode of The Incredibles 😀 by the way why can’t they just ask food from their uncle? Also, there’s a plot twist! So Danger is actually their father who is under cover? Or a robot/android with his soul? Phew, I didn’t see that one coming 😀

      This is a fun & thrilling adventure. Good job, Aila!

      +200 points, congrats!

      Like

  7. Danger is actually a robot/android that has Arki’s soul in it.And,when POX is dead,everyone gets their body and soul back,just automatically.Their mum,Kayla is like that too.Everyone who risked their life saving the world from POX,got killed and POX put their souls inside robots.

    Well,I just wanted the story to be more fun!That’s why they never asked for food from Uncle Ilyas.:)Thx for the points tante

    Liked by 1 person

  8. Tragedy of Saber
    Bumi, tahun 2519. Lima puluh tahun setelah The Pulse, saat energi badai matahari terbesar menabrak atmosfir planet ini. Kerusakan lingkungan yang terjadi di bumi membuat pelindung radiasi kita bolong-bolong, sehingga badai tersebut langsung menghantam permukaan. Beberapa kota di daratan gosong terbakar. Terjadi gelombang kejut elektromagnetik yang mematikan seluruh perangkat elektronik dan komunikasi di seluruh dunia. Semua satelit rusak dan pembangkit tenaga listrik meledak, membuat bumi diselimuti gelap dan sunyi. Negara-negara tumbang, aksi jahat bersahut-sahutan.
    Sebuah organisasi penjahat bernama POX menggerayangi CAPITOL, ibu kota negara MALACCA, yang sudah hampir kolaps karena bencana tersebut. Pemerintah Malacca sudah berusaha bangkit, namun kemajuannya bisa dibilang lambat. Hanya satu pembangkit tenaga listrik yang berhasil dihidupkan kembali, yang hanya cukup menerangi setengah kota Capitol pada malam hari, sehingga pemadaman bergilir dilakukan. Pemerintah juga sudah memuat Program Genecha, yang memisahkan semua anak dari orang tua mereka dan melatih mereka menjadi Saber, agen pemerintah berkekuatan super untuk membela negara. Mereka dipasangkan dengan saudara masing-masing dan ditempatkan di Komplek Besar Fortz, di pinggiran kota Capitol, dibentengi dengan pagar tinggi untuk mencegah akses masuk dan keluar.
    Suatu malam POX mendobrak pertahanan komplek tersebut, meruntuhkan tembok dan memporak-porandakan fasilitas di sana. Semua agen Saber melarikan diri dari barak-barak dan gedung-gedung, berpencar di tengah kegelapan malam. Ini adalah cerita sekumpulan anak yang bebas dari cengkeraman pemerintah yang telah memenjara mereka di sana.
    ***
    ‘Hari ini melelahkan. Semua pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, dan segunung latihan yang benar-benar keras. Entah sampai kapan aku akan tetap bertahan di sini.
    ‘Apa eksistensi kami? Alasan kami untuk hidup? Apa hanya untuk menjadi ujung tombak Saber bagi pemerintah? Ingatlah, kalian sudah merebut semua yang kami miliki…
    Lelaki kurus bermata hijau khas batu emerald itu menatap sebuah tabung berisi air yang berada di tengah ruangan. Di dalam tabung itu ada seorang anak berambut merah. Anak itu berada dalam kondisi tidak sadar. Kata seseorang, anak itu adalah senjata terakhir bagi pemerintahan MALACCA.
    Seluruh ruangan itu terlihat seram, ditambah lagi dengan adanya keberadaan tabung itu di tengah ruangan. Lelaki kurus itu mengalihkan pandangannya, ia menatap sebuah pintu besi dengan kunci yang ia tidak ketahui nomor kombinasinya. Dari dalam pintu besi itu sering terdengar ada teriakan-teriakan mengerikan.
    ‘Apa yang ada di dalam sana ya?’ pikirnya.
    Sinar bulan masuk melalui kisi-kisi jendela, menerangi hatinya yang gelap gulita. Hatinya gelap dan dingin, sama seperti keadaan di luar sana.
    “Kakak.”
    Lelaki itu langsung menoleh ke arah pintu. Di bawah bingkai pintu, seorang gadis—yang juga bermata hijau khas batu emerald—berdiri dengan tangan kanan memegang bingkai pintu.
    “Kakak sedang apa di sini?” tanya gadis itu seraya mendekat.
    Lelaki itu mengangkat wajahnya. Ia memeluk manuskripnya. “Aku hanya menghabiskan malam di sini. Kenapa kau belum tidur?” ia balas bertanya.
    “Aku merasa bo—” perkataan gadis itu terpotong karena ia mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat.
    Lelaki itu langsung berdiri, dan mengambil pisau lipat yang ia simpan di saku jaketnya. Sesosok lain muncul dari balik pintu.
    “Louis, Louise, kalian dicari oleh Tuan Besar!” ucap pria itu dengan tegas.
    Catatan : Kalau pakai nama Prancis, nama perempuan tinggal ditambahin huruf “e” dibelakangnya. Misalnya, selain nama Louis, nama Jeanne (bentuk perempuan dari nama Jean). Sekadar pemberitahuan terakhir, cara baca nama “Louis” itu bukan “Louis”, tapi “Lui”. Dan tentu saja cara baca nama versi laki-laki dan versi perempuannya beda 😀 (cara baca nama Louise : Luis). And…Nama Louis itu kuambil dari nama Raja Perancis, Louis XIV.
    Louis menoleh ke arah adiknya, Louise, dan mengulurkan tangannya. “Ayo Louise, jangan sampai orang itu menunggu.” ucapnya.
    Dengan agak ragu Louise meraih tangan kakaknya. Louis menggandeng tangan Louise, dan bersama-sama berjalan keluar ruangan, mengikuti pria tadi. Untuk menemui Tuan Besar, pemimpin tertinggi di Komplek Besar Fortz.
    ***
    Bersambung…

    Hai…Sori posting nya malam-malam…
    Belum ada kelanjutannya pula…
    Aku sengaja DP, apdet awal cerita dulu, hehe…

    Liked by 2 people

    1. Jiahhh ini mah appetizer, belom main course xD btw si Louis/e usianya brp? Aku pikir dia kyk ilmuwan yg menangani proyek itu? Taunya dia juga salah satu dari anak2 Saber? Si anak di tabung itu bikin penasaran deh, siapakah ituuu… dundunduuun! I smell the beginning of great story here. Lanjutkennn~ 😀

      Like

      1. Nanti soal umur karakter nya di jelasin sekitar di tengah-tengah cerita.

        Soalnya aku niru anime gitu Tan. Biasanya penjelasan tentang karakter, latar cerita dsb di jelaskan nggak di awal cerita.

        Setting tahun atau tempatnya aja kadang nggak diketahui sama sekali 😀

        Like

  9. Ninot…! Ninot…! Ninot…!

    Tanda alarm peringatan sudah berulang kali berbunyi, membuat dua orang gadis remaja berlari terbirit-birit. Josephine, si gadis unik berambut cokelat, yang sedang mengenakan rok pendek berwarna hitam di atas lutut, dan baju seragam putih, menggenggam erat tangan Stephanie, kakaknya. Bukan Karna takut tertinggal kakaknya, Tapi malah khawatir Kakaknya akan tertinggal oleh kecepatan larinya.

    “Jo.. Jose, tolong jangan lari cepat-cepat donk. Aku udah gak kuat lari lagi,” pinta Steffy disusul dengan tarikan nafas yang memburu.

    “Aduh gimana Dong?” nada suara Jose terdengar kesal, “Kamu sih, lemah!” kecam Jose, dengan tatapan yang sinis.

    “Iya deh, aku lemah, puas?”

    “…”

    “Lagian kamu sih, larinya kecepatan.” lanjut Steffy.

    Jose menghela nafas, “Aih, kamu nyusahin aja sih.”

    Brak, Bruk, Brak, Bruk!

    Terdengar dari selasar suara agen-agen saber, yang bergegas melarikan diri. Dari suaranya saja sudah tau, disana sedang ramai sekali.

    Mendengar itu, sebuah kata terlontarkan dari mulut seorang gadis berambut Shaggy sedada, yang tidak lain adalah Steffy. “Kita kayaknya gak bisa lari lewat pintu utama, soalnya semuanya udah pada lari lewat jalur itu tuh,”

    Jose berpikir sejenak, Betul juga, bisa-bisa kami gak jalan karnanya.

    Semenit kemudian…

    Mata Jose tiba-tiba menjadi berbinar-binar, “Aku tahuuu, gimana kalau kiita manjat aja?”

    Mendengar itu Stephanie menganga, “Manjat palamu, tinggi gini mau dipanjat?” protes Steffy. Memang benar, untuk ukuran gadis feminim seperti Steffy, memanjat bukanlah keahliannya.

    “Lah, bisa kok.” balas Jose tanpa dosa.

    “Gini deh… aku tu gak bisa manjat. Lagian cewek pada normal nya mana bisa manjat, gila ya!?”

    Jose mengantongi tangan, “Bisa,” jawabnya santai.

    “Siapa?” tanya Steffy dengan pandangan curiga.

    “Aku!”

    “Ajksajjakma, yailah b**o, situkan gak normal!” teriak Steffy kesal, sambil Menepok jidatnya.

    Rupanya teriakan Steffy menggema di lorong yang sepi itu, membuat gadis-gadis itu terkejut.

    “Siapa di situ!?” teriak seseorang bersuara berat, mungkin pria.

    Belum juga kembali normal, teriakan itu malah makin membuat dua orang gadis remaja itu terkejut. Steffy tetap mematung karena kaget, sementara Jose hanya butuh hitungan detik untuk kembali normal.

    Dengan cepat Jose menyikut mulut Steffy dan menariknya untuk bersembunyi di balik sebuah dinding.

    Keringat dingin menghampiri dan membasahi tubuh mereka, ketika seorang pria dengan pakaian serba hitam, dan kacamata hitam yang menutupi matanya, datang. Pria itu botak mengkilap, besar kemungkinan dia adalah anggota POX yang mendobrak pertahanan komplek, dan memporak-porandakan tempat ini.

    Ketika pria itu sudah pergi berlalu, Jose baru melonggarkan pegangangnya, dan akhirnya dia melepaskannya.

    Jose memperbaiki tali sepatunya, yang tadi lepas karna buru-buru bersembunyi, “Gak ada cara lain, ayo kita manjat aja,”

    “Gak ah, aku gak mau!” tolak Steffy sembari memperbaiki tata rambutnya.

    Jose mengernyitkan wajahnya, nampaknya dia mulai kesal kembali melihat tingkah kakaknya yang luar biasa feminim!

    Akhirnya raut wajahnya tenang kembali, dia menghela nafas lalu memegang tiang-tiang pagar yang sudah agak berkarat. Dia mulai memanjat sambil berkata, “Ya sudah, kalau gak mau aku tinggal ya, bye!”

    “Eh!?” melihat tingkah adeknya yang hanya selisih satu tahun itu, Steffy jadi langsung Ikutan memegangi tiang pagar dengan agak ragu-ragu. Mau tidak mau, dia harus melakukannya, dia paling takut kalau harus berpisah dengan adeknya sejak lima tahun yang lalu.

    Steffy mendengus, “Parah kamu Jo,”

    “…”

    “Duh, nanti celana ku bakal robek kalau manjat kek gini!”

    “Kaukan pakai rok, dasar go**ok,”

    “Nanti aku bakal kena tetanus kalau megang yang kayak ginian,”

    “Gak usah lebaylah, toh gak karatan banget,”

    “Kenapa gak pake kekuatan apimu saja sih?”

    Dengan kesabaran yang maksimal Jose berusaha menjawab pertanyaan konyol Steffy dengan santai, “Inikan pagar anti api, pokoknya ni pagar anti apapun deh,” Jose berpikir sejenak, “orang bodoh yang bakal pasang pagar biasa kalau yang didiknya anak-anak yang memiliki kekuatan.”

    “Akutu gak bisa di Giniin!” oceh Steffy lagi.

    Lama-lama aku makan juga ni bocah!

    Akhirnya, bukit demi bukit mereka lalui, mereka akhirnya lolos juga dari pagar tinggi setinggi 10 meter. Walau… selama 20 menit mereka memanjat, Steffy goceh gak jelas terus.

    “Fiuhhh~~, capek euy!” kata Steffy lega.

    “Bisakan? Gak kena tetanuskan? Gak terjadi apa-apakan? Lebat amat jadi manusia!” Sindir Josephine.

    “Dih, akukan cuma nganti sipasi,”

    “Nganti sipasi palamu,”

    “Udahlah, sekarang kita mau kemana?”

    “Kita harus pergi tanpa ketahuan para member POX,” tutur Jose, sambil menggeliat-menggeliat kesana kemari.

    “Okey, gampang mah itu!” balas Steffy dengan santainya.

    Jose hanya menghela nafas, dia kembali menggandeng tangan kakaknya, sukanya mereka bisa berjalan dengan beriringan.

    5 menit kemudian…

    Mereka hampir saja selesai mengelilingi komplek fortz, tinggal sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit lagi…!!

    Sekonyong-konyongnya…

    Bets!!!

    Seseorang meraih kerah baju mereka, membuat mereka terdorong ke belakang sedikit.

    Dengan ragu-ragu, Steffy memutar sedikit kepalanya untuk melihat siapa itu, dan alangkah terkejutnya dia, pria itu adalah… Pria yang tadi hampir menangkap basah mereka di lorong!

    “Kalian ngapain, hah!?” Bentak pria itu kasar.

    Glek!

    Josephine dan Stephanie menelan ludah mereka beberapa kali. Karna takut, mereka tak berani mengucapkan sepatah katapun.

    “Aku tanya sekali lagi, kalian ngapain hah!??”

    Dengan tergagap-gagap, Jose membuka mulutnya duluan, “A.. anu pak, kita… mau kabur!”

    Dheggg!!!

    An**y, si Jose bodoh ya!? Mau kitanya mati?

    Respon balasan yang aneh dari pria itu semakin membuat mereka yakin pria itu gila, dia malah tersenyum menyeringai.

    “Enak aja mau kabur-kabur, emang kalian pikir ini warteg apa?” pria itu lalu menaikkan sebelah alisnya, “Ayo ikut aku, kalian enggak boleh lolos!”

    “Lho, kenapa?” tanya Jose dengan polosnya, membuat gadis di samping semakin ternganga Karna melihat tingkahnya.

    “Tentu saja kalian tak boleh lolos, untuk alasannya bocah seperti kalian gak perlu tahu!”

    Sementara pria itu membalas perkataan Jose, Jose mengedipkan mata ke arah Steffy tanpa pria itu sadari, dan karna mereka sudah hidup bersama selama 13 tahun, mereka akan mengerti apa yang diinginkan satu sama lain hanya dengan menatap satu sama lain.

    Steffy mengeluarkan kekuatan airnya, membuat pria itu basah kuyup dan kepalanya semakin bersinar. Dan selagi pria itu masih terkejut dengan air yang tiba-tiba mengenainya, Jose langsung memutar tubuhnya dan mendaratkan tunjangan kaki andalannya ke muka pria itu.

    K.O, pria itu pun langsung jatuh pingsan, tepat di depan mereka. Suara lari-larian terasa di kuping mereka akan mendekat, Jose dengan sigap menarik tangan kakaknya, dan pergi berlari, betul saja, orang-orang yang datang itu rupanya member POX, dan mereka tampak heran melihat salah satu anggota mereka terkapar di tanah tanpa jejak.

    Aksi serbu-serbuan masih sangat heboh, ini menjadi celah bagus untuk mereka supaya tidak menarik perhatian, dan akhirnya mereka pun bebas! Dengan bantuan cahaya api dari Jose, mereka pun berlari di Tengah kegelapan.

    ~To Be Continued~

    Liked by 3 people

    1. Astagaaa ini seru dan kocak ahaha… si steffy takut celana robek lah, tetanus lah, “akutu gabisa diginiin” wkwkw… dah gitu si jose dgn polosnya bilang mau kabuuuur xD *tutup muka sambil ngakak.. itu kepala disiram air jd semakin bersinar gmn caranya deh 😛 petualangan yg seruuu! Keren, cantika! Sampe dibela2in ngumpulin sebelom jam 12 teng loh! Wiiiih… good job!

      +200 poin, congrats!

      Liked by 1 person

  10. Menangkis serangan Confetti 🙂

    Malam itu, para agen Saber pulang ke asrama masing-masing. Hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan bagi para agen Saber. Mereka terus-terusan berlatih sepanjang hari. Akhir-akhir ini, POX sudah berani menyerang secara besar-besaran. Mereka sudah menambah kekuatan pasukan, dan juga tentu saja teknologi. Karena itu, Pemerintah Malacca ingin pertahanan yang lebih kuat lagi. Beberapa agen patuh pada peraturan pemerintah, mengikuti setiap peraturan. Namun, ada sebagian agen yang sebenarnya menolak untuk di jadikan agen Saber, salah satunya adalah kakak beradik Luci dan Luciana. “Kita tidak bisa terus-terusan begini! kita harus mencari cara agar bisa melarikan diri dari sini!” kata Luciana pada kakaknya. Luci diam saja, entah apa yang di pikirkannya saat ini. Dia sebenarnya juga bosan terus-terusan di latih menjadi agen Saber. Dia lebih menyukai desanya yang dulu, damai tanpa adanya kecamuk peperangan. Sekarang, dia harus hidup di bawah tekanan, dan peperangan. Entah apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba di luar sana terdengar suara…

    BUM…! BUM…! BUM…!

    Suara ledakan itu terdengar susul menyusul. Di antara suara ledakan, terdengar suara jeritan-jeritan para agen Saber. “Kak…apa yang terjadi?” Tanya Luciana pada kakaknya, wajah kakaknya terlihat panik. “Mereka sudah datang! Ayo…kita harus segera keluar dari sini!” kata Luci. Dia menarik tangan adiknya, kemudian melaukan teknik Teleportasi yang memindahkan mereka dari lantai tiga ke lantai paling bawah. “Kita harus pergi cepat sebelum….” belum habis kalimat Luci, terdengar suara dari hadapan mereka. “Mau pergi ke mana Nona?” orang yang berada di depan mereka menodongkan senjatanya ke arah Luci dan Luciana. Luci mengatupkan rahangnya, dia sudah siap bertempur sejak tadi. Dia kemudian bergerak cepat ke arah orang di hadapannya, itu benar-benar gerakan yang mengangumkan, hampir tidak terlihat oleh mata. Luci melayangkan tinjunya ke arah wajah orang itu. Tapi, orang ini seperti bisa memprediksi gerakan lawan, berkelit dengan cepat. Tinju Luci mengenai udara kosong. Di belakang Luci, Luciana di kepung oleh lima orang anggota POX. Luci mencoba melancarkan beberapa serangan lagi pada orang ini, tapi hasilnya gagal. “Percuma kamu menyerangku terus menerus! Aku bisa membaca setiap gerakanmu! Sudahlah! Menyerah saja! Aku bosan bertempur denganmu!” Kata orang itu sambil berusaha menghindari serangan Luci. Luci sadar bahwa dia tak akan menang melawan orang ini. POX jelas telah memperbarui teknologinya, juga kualitas pasukannya. “Baiklah…jika ini adalah jalan terakhir…” batin Luci dalam hati. Tangannya merogoh sakunya, mengambl dua bola hitam sebesar bola kasti. Kemudian bergerak cepat, menyambar lengan Luciana yang masih kewalahan menghadapi anggota POX yang lain. Luci kemudian melemparkan bola hitam di tangannya ke arah para anggota POX itu. Dua bola hitam itu ternyata adalah granat, granat terlarang. Saat melemparkan granat itu, Luci bergegas memakai teknik Teleportasinya ke tempat yang menurutnya selamat. Teknik Teleportasi Luci membawa mereka ke sebuah gua di dalam hutan. Ledakan dari granat Luci terdengar, Luci dan Luciana bergegas menutup telinga mereka.

    BUM..!!! BUM..!!!

    Setelah bunyi ledakan dari granat Luci tidak terdengar lagi, Luci dan Luciana menurunkan telapak tangan mereka. “Kak….” Luciana memanggil kakanya yang masih terdiam dengan berbagai pikiran. “Kak….bagaimana kakak bisa memiliki granat terlarang itu? Bukankah para agen Saber dilarang untuk memiliki garanat itu?” Tanya Luciana hati-hati, dia takut kakanya tersinggung. “Aku…aku..” Luci tak bisa melanjutkan kata-katanya. “Ayo kak! katakan padaku!” Luciana mebujuk kakanya. Luci terdiam, mendadak di menyambar tubuh Luciana ke balik batu besar di dalam gua itu. “Ada ap..” Mulut Luciana di tutup oleh Luci. Mereka berdua mendengar seruan-seruan kesal dari luar gua. “Di mana dua anak tadi? Aku yakin mereka melariakn diri ke dalam hutan ini!” Kemudian terdengar seruan lagi, “Aku tidak tahu! Kita cari saja ke seluruh hutan ini!!!”.

    Luci dan Luciana keluar dari balik batu itu setelah suara-suara di luar tak terdengar lagi. Luci kembali merogoh sakunya, dia mengeluarkan alat komunikasi. “Kakak mau menghubungi siapa?” Tanya Luciana, dia mendekati kakaknya. “Aku mau menghubungi Zeannie…” jawabnya pendek. “Halo…” Luci mencoba alat komunikasi itu, Tapi tidak ada jawaban dari sana. “Sial! mereka merusak sistem Komunikasi kita!” Luci berkata marah.
    Sementara Luciana masih menyimpan berbagi pertanyaan, terutama tentang garanat terlarang itu…..

    Liked by 3 people

    1. Woww… cerita yg penuh dgn misteri! Luci keren juga, bisa langsung nyerang si agen POX walaupun ga kena xD jadi si Luci bisa teleport ya? Kalo Luciana gmn? Darimanakah granat yg Luci pegang? Siapakah si Zeannie? Jeng jeng jeeeng… ceritanya bikin penasaran nih 😀 ntar dilanjutin yaaa 😀

      Good job, Namira!

      +200 poin, congrats!

      Liked by 1 person

  11. @marsmellowmozara @websitebelajarwebsitekodingdanlainlain @kshasie @umminadira @luvkoala @sarahtanujaya @binaras

    Hi girls! So di penghujung minggu ini aku mau review kembali untuk kegiatan team battle, ada yang mau diubah ngga untuk formatnya? Ini sebenernya baru eksperimen, kalau challenge nulisnya ada batasan tema/world building kira2 pada suka, atau malah sukanya challenge dengan topik bebas aja? Tujuan aku kemaren ngasih batasan itu karena ingin menghimpun cerita2 yg udah ditulis ke satu buku mini, jadi kayak kumcer dengan tema dystopia gitu… nanti minggu depan ganti tema lagi. Kalo ada usulan tema silahkan lho ya… Tapi kalo pada suka tema bebas ya gapapa juga, tetep bisa dihimpun kok ceritanya.

    Oya, kalau ada tema yang kamu pikir gak sesuai buat anak2/kamu ngga nyaman, tolong kasih tahu ya… yg aku mention ini usianya 10-15, jadi aku pikir seperti teenlit/cerita remaja mungkin masih bisa masuk. Aku pengennya usahain agar temanya bisa dikerjakan oleh semua umur/appropriate for kids.

    Terus apa semua peserta mau dibebasin “menyerang” yang lain? Ngga mesti kaptennya doang maksudnya. Nanti dijatah gitu, misal semua orang bisa ngasih 1 story bazooka dalam seminggu itu, tapi bisa dikerjain siapa aja (ga mesti tim lawan).. jadi misal Namira ngasih 1 serangan, Khalisa yg satu tim juga bisa nulis/menjawab serangan tersebut agar ikut dapet poin.

    Ada saran2 lain kah? Kita coba adain kegiatan buat yg aktif dulu aja, yg lain yg bisanya sabtu minggu kyknya lebih banyak yg ART/gambar ya? Kayak Ayska dan Angga. Jadi yang bisa nulis sehari2 itu kira2: Amanda, Cantika, Khalisa, Namira, Sarah, Aila, Binar. Aila dan Binar sebenernya sekolah, tapi Aila lagi libur dan Binar katanya bisa cek website ini malem2. Tujuan kegiatannya supaya bisa lebih produktif nulis aja, sedikit demi sedikit kan lama2 menjadi bukit 😀 sama buat supaya berasa bisa nulis bareng2 aja, kalo nulis sendiri kan sepi 😛

    Oya kalau bisa mention aku (@cerivitas) di komen2 kamu ya.. kadang ada yg ga kebaca karena kamu lagi nge-reply komen orang lain, sehingga aku ga dapet notifnya. Anyway thanks a lot for your participation!

    @luvkoala For Aila: basically this is an evaluation of this week’s writing exercise. Do you prefer to write within a topic (for example, the world will be limited to the defined setting), or would you rather write freely? Also, would you be okay if everyone can give writing prompt/story bazooka? Currently only the captain can attack/give challenge. Also, if you have other suggestion for the team battle acitivites, please let me know. Thank youu!

    Like

    1. For me,I feel like I just want to write freelly,it feels for me,more better.Yes,I would be happy if EVERYONE can give writing prompt/story bazooka.Oh ya,can we also do rhymes in TeamBattle,as in a team gives another team something,and we have to write it as a rhyme.Can we do that?

      Like

    1. Uwowww… Langsung dibikin lho! Bagus gambarnya ayska! Itu gedungnya miring kyk lagi mau jatoh, yg liat ikut deg2an huehehe… Much better than expected! Good job!
      +200 poin, congrats!

      Like

  12. “Tuan Besar, Louis dan Louise sudah tiba.” ucap pria itu di depan sebuah interkom.
    “Masuk!” sebuah suara memerintah dari balik pintu.
    Pria itu memencet beberapa tombol tertentu dan pintu besi berdigit itu pun terbuka, dan menyuruh agar Louis dan Louise untuk masuk. Di hadapan mereka ada seorang pria berambut kelabu yang sedang berdiri di balik meja. Ia menatap langit, seolah tidak memedulikan keberadaan kakak beradik itu.
    “Tuan Besar, Louis dan Louise sudah datang.” ucap pria itu.
    Pria berambut kelabu tadi berbalik. “Terima kasih, Jacques, silakan kembali ke ruanganmu.” balas pria berambut kelabu itu.

    Jacques van Rhone, tangan kanan sang Pria Berambut Kelabu itu segera keluar dari ruangan dan menutup pintu, meninggalkan Louis dan Louise bertiga dengan tuannya.
    *nama Jacques itu kuambil dari nama Jean Jacques Rousseau. Aku lupa siapa dia secara pasti, tapi yang jelas Rousseau itu tokoh dalam dunia hukum a.k.a PKn*
    “Louis, Louise, ayo duduk. Kalian mau minum teh?” pria itu menawarkan dua cangkir teh seraya duduk di kursinya.
    “Tidak usah Tuan Eugene, langsung saja katakan Anda memiliki urusan apa dengan kami.” balas Louis dengan tegas.
    Eugene Adelheid, pria pemimpin itu, tertawa mendengar perkataan Louis. “Baiklah Louis. Akan kuturuti keinginanmu.”
    *Nama Eugene kuambil dari nama tokoh di film Rapunzel, tau kan? Sementara nama Adelheid itu nyari di Google ^3^*

    Louis menatap Eugene sejenak.
    Pria itu balas menatapnya. “Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku memutuskan untuk mengeluarkan kalian dari komplek ini sebagai agen rahasia Saber.” ucap Eugene.
    Louis dan Louise saling menatap. Eugene melanjutkan perkataannya,“Kalian akan segera diantar oleh Friederich, agen rahasia Saber yang sudah bekerja untuk POX sebagai informan. Tentu saja, informasi yang kalian akan dapatkan dari POX akan dibawa kembali ke sini. Kalian akan dikontrak dengan jangka waktu tertentu, lalu setelah musim kontrak selesai, kalian akan kembali ke sini dan melaporkan perkembangan di POX.”

    Penjelasan soal agen rahasia : Maksudnya Friederich sebagai agen rahasia Saber berpura-pura bekerja dengan setia untuk POX, padahal sebenarnya dia itu bekerja untuk Saber.
    *nama Friederich itu aku inget aja. Entah pernah kubaca di mana, tapi pas lagi nyari di Google ketemu sama nama itu, kupakai deh :D*

    “Tapi, Tuan Eugene, bagaimana dengan pemerintah? Bukannya mereka benar-benar sudah dihabisi oleh POX?” tanya Louise.
    Eugene tertawa lagi. Ia bangkit dan menghampiri Louise, lalu mengacak-acak rambut Louise. “Kau ini selalu polos Nak. Tentu saja pemerintah tidak dikalahkan semudah itu. Saat ini, orang-orang kami melakukan Underground Goverment untuk mengontrol semuanya. Kecuali POX. Karena itu, aku yang orang Jerman ini dipanggil kemari sebagai pengontrol program Ganecha ini.” balas Eugene.
    *kenapa nggak program Gacha aja, Tuan Eugene?*
    *kalo program Gacha nanti dikira mainan*

    “Lalu, kapan Tuan Friederich akan datang kemari?” tanya Louis.
    “Sebentar lagi.” Eugene melihat jam tangannya. Ketika mendengar sebuah suara lelaki dari interkom, Eugene segera menyuruh orang itu masuk. Pintu terbuka, dan seorang pria berwajah Jerman masuk.
    “Hai Friederich. Bagaimana kabar semua transaksi dengan POX? Apa berjalan lancar?” tanya Eugene seraya menjabat tangan Friederich.
    “Semuanya baik. Malam ini, sesuai rencana, kita akan menyusupkan Louis Bernie dan Louise Bernie ke dalam benteng POX sebagai agen rahasia Saber. Petinggi POX yang akan melakukan transaksi ini adalah Michael Montgomery.”
    *Btw, nama “Montgomery” itu gua ambil dari nama Jenderal Montgomery yang terkenal pas PD ke dua. Kalo nama Michael ‘nyolong’ dari nama Inggris yang udah pasaran :D* *plak*

    “Baiklah kalau begitu. Kau akan berangkat sekarang juga?” tanya Eugene.
    “Iya. Sekarang sudah hampir tengah malam. Makin malam, penjagaan di sekitar benteng POX akan semakin ketat.” jawab Friederich.
    “Ya sudah. Louis, Louise, semoga kalian berdua beruntung.” ucap Eugene seraya menepuk bahu Louis.
    ***

    Louis Bernie dan adiknya Louise Bernie adalah sepasang kakak beradik dari pasangan Perancis Jean Bernie dan Jeanne Bernie. Kedua orang tua Louis adalah konsultan Perancis yang kebetulan sedang bekerja di MALACCA. Karena repot pekerjaan, Louis dan Louise dititipkan pada neneknya, Orleans Bernie. Ketika program Ganecha dimulai, Louis dan Louise kebetulan sedang berada di MALACCA. Karenanya, mereka dipisahkan dari orang tua untuk mengikuti program paksaan Ganecha.

    Secara umum, fisik Louis dan Louise tidak mirip dengan orang-orang Kaukasia Nordik yang berambut pirang atau bermata biru. Mereka berdua berambut cokelat, namun bermata hijau. Hal itu dikarenakan ayah ibu mereka adalah orang-orang keturunan Kaukasia Alpen yang kebanyakan berambut gelap.
    Louis—untuk anak remaja berumur 16 tahun—termasuk dalam golongan remaja dengan tinggi yang lumayan. Louise—yang baru berumur 14 tahun—juga termasuk dalam golongan remaja dengan tinggi yang lumayan.

    Sebelum mengikuti program Ganecha, keahlian bela diri Louis terdiri dari keahlian memakai pisau, bertarung jarak dekat, dan menembak jarak jauh. Semua kemampuannya itu diperolehnya saat mengikuti pendidikan perang wajib semasa umur 12 sampai 15 tahun. Setelah mengikuti program Ganecha, kemampuan bela diri Louis bertambah, salah satunya bermain anggar, bela diri karate dan kemampuan memakai senapan jarak dekat. Karena kemampuan bela dirinya yang banyak, dan termasuk salah satu agen yang bisa diandalkan, Louise termasuk dari salah satu pasukan Ujung Tombak Saber *kalo di Indonesia kira-kira kayak pasukan Bhayangkara gitu deh, pokoknya pasukan elit yang paling elit lah!*

    Sementara Louise, keahliannya sebelum mengikuti program Ganecha hanya terdiri dari keahlian bertarung jarak dekat, martial art dan aikido. Ia memperoleh semua kemampuan itu juga saat ikut pendidikan perang wajib. Setelah mengikuti program Ganecha, keahlian bela diri Louise berkembang dan bertambah, salah satunya bela diri judo dan kempo. Ia terlatih menggunakan pisau dalam pertarungan jarak dekat, kemampuan memakai senapan jarak pendek dan dekat. Selain itu, Louise juga berperan sebagai strategist agen Saber.
    ***

    Louis menatap Louise yang sedang memakai mantel hitam. Tampak, koper kecil milik adiknya sudah siap. Koper milik Louis sendiri juga sudah siap.
    “Ada apa?” tanya Louise saat sadar bahwa kakaknya memerhatikannya.
    “Maksudnya?” Louis bertanya balik.
    “Kakak seperti mau menyampaikan sesuatu.” jawab Louise.
    Louis memalingkan wajahnya, memerhatikan sinar bulan yang masuk dari kisi-kisi jendela. “Aku hanya berpikir…jika aku bisa pergi dari tempat ini. Aku tidak suka tinggal di sini.”

    “Kakak berpikir bagaimana caranya kabur?” tanya Louise.
    “Kalau kubilang begitu, memang apa yang akan kau lakukan? Aku tidak tau apakah kau ingin tetap tinggal di sini, atau kau mau ikut pergi denganku.” jawab Louis.
    ”Tentu saja aku akan ikut ke mana pun Kakak pergi.” balas Louise.
    “Meski ke jurang sekalipun?” Louis tersenyum.
    “Kalau yang itu sih…Tergantung. Kita punya urusan apa di jurang. Kalau misalnya untuk menolong orang yang jatuh ke jurang sih, aku ikut, tapi kalau misalnya sengaja terjun ke jurang hanya sekedar untuk melukai diri sendiri sih, aku tidak mau ikut.” Louise ikut tersenyum.
    “Kalau kubilang aku ingin terjun ke jurang, memang apa yang akan kau lakukan?” tanya Louis lagi.
    “Tentu saja akan kucegah.” jawab Louise.

    Louis dan adiknya saling berpandangan. Louis hanya diam dan tersenyum, sementara Louise tertawa pelan.
    “Sebentar lagi Tuan Friederich datang.” ucap Louis seraya melihat jam digital yang terletak di atas nakas. Tepat ketika jam menunjukkan pukul 23.45, interkom yang berada di dalam kamar Louis berbunyi.
    “Ayo, Louise, kita keluar.” ajak Louis seraya membuka pintu kamarnya. Di luar, Friederich sudah menunggu seraya memainkan pemantik api miliknya. “Kalian sudah siap? Ayo kita berangkat.”
    “Baik Tuan Friederich.”

    Ketiga orang itu menelusuri lorong-lorong di Komplek Besar Fortz. Setiap kali melewati pintu yang ada interkomnya, mereka harus melewati pemeriksaan tubuh. Setelahnya, harus melewati pemeriksaan sidik jari dan kartu ID.
    “Maaf, pemeriksaan sidik jari dan katu ID.” ucap salah seorang penjaga di gerbang terluar Komplek Besar Fortz.

    Louis, Louise dan Friederich bergantian diperiksa. Friederich mengeluarkan kartu ID nya,“Friederich Alserossa.” ucapnya.
    Louise juga mengambil kartu ID nya dan memperlihatkannya ke penjaga itu.”Louise Bernie.”
    “Tunggu sebentar.” jawab Louis saat si penjaga memintanya memerlihatkan kartu ID nya. “Kartuku tidak ada!” ucap Louis seraya memperlihatkan saku jaketnya yang berlubang.
    “Apa kartunya jatuh?” tanya Friederich.
    “Sepertinya begitu.” balas Louis.
    “Bukannya di gerbang yang tadi kita lewati kartunya masih ada? Pasti kartunya terjatuh di sekitar sana.” ucap Louise.
    “Kalau begitu, aku akan cari dulu!” ucap Louis. Ia segera kembali ke gerbang yang tadi, dan menelusuri lorong dengan seksama. Saat ia melihat sebuah benda kecil berkilau, ia segera memungutnya. “Ah, ternyata kartuku. Jangan ditaruh di saku jaket lagi deh.” gumamnya.

    “Tuan Friederich, kartuku sudah ketemu!” ucap Louis saat memperlihatkan kartunya pada si penjaga.
    “Tuan Friederich Alserossa, Tuan Muda Louis Bernie, dan Nona Louise Bernie ya?” ucap penjaga itu. “Tunggu sebentar, akan saya bukakan pintunya.”
    Pada saat si Penjaga menekan salah satu tombol interkom, pada saat itu juga segerombolan tentara berbaju hitam masuk. Segerombolan tentara itu langsung menodongkan senjata mereka ke arah penjaga. Sisanya lagi menerobos masuk ke dalam Komplek Besar Fortz. Alarm berbunyi, dan malam itu terjadi kerusuhan di Komplek Besar Fortz. Para agen Saber keluar, dan segera menghalau gelombang musuh.

    “Mereka kan tentara POX! Kenapa bisa ada di sini?!” teriak Louis seraya mengeluarkan pisau kecil miliknya. Dengan cepat, ia menyerang balik para tentara POX. Louise juga segera membantunya.
    Mendadak, Louis meringis kesakitan. Bukan, bukan kesakitan karena terkena serangan dari tentara POX, melainkan karena sesuatu “itu” kembali muncul. Ia menyingkir dari lorong, dan berjalan terhuyung-huyung ke arah salah satu tiang. Ia mengeluarkan sebuah tablet obat dari saku celana, dan segera memakannya.

    ‘Oh ya…Ini kesempatan bagus untuk kabur dari sini! Sepertinya jika aku memaksakan diri masih bisa.’ pikir Louis.
    Louis segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan cepat, ia menarik Louise yang sedang menghadapi salah seorang tentara. “Ayo kita pergi Louise. Kita akan segera pulang!” bisiknya.
    Memanfaatkan keributan yang terjadi, malam itu Louis dan Louise segera kabur dari Komplek Besar Fortz. Setelah beberapa saat, mereka sampai di Tembok Penghalang Besar.
    “Tidak ada siapa pun, di sini terlalu sunyi.” bisik Louis.
    “Benar. Bahkan, gemerisik rumput saja tak terdengar.” balas Louise.
    “Memang aneh, tapi ayo pikirkan cara bagaimana supaya kita bisa melewati dinding ini…” ucap Louis.

    Selama beberapa saat, hanya hening. Hingga akhirnya terdengar bunyi gemerisik rumput. Louise menggenggam tangan kakaknya, seraya memperhatikan sekitar. Belum ada sesuatu yang mencurigakan.
    Bruk!
    Sesuatu terjatuh. “Diam di sini, Louise. Aku akan mengecek apa itu.” bisik Louis setelah beberapa saat diam. Louise mengangguk.
    Louis mengarahkan senter kecilnya, dan tertegun. “Ini…kepala manusia…”
    “Ada apa Kakak?” tanya Louise seraya mendekat. Louis menatapnya dan diam saja. “Ada apa sih…” gumam Louise. Ia mengambil senter milik Louis, dan mengarahkannya ke kepala itu, lalu menjerit.

    Pemilik kepala itu adalah Friederich Alserossa. Di saat yang bersamaan, lima tentara muncul dari balik hutan, dan menyergap Louise. Louis sempat bingung melihat kelima tentara itu, mereka bukan agen Saber maupun tentara POX. Namun ia tak bisa berpikir lebih lama. Seseorang berdiri di atas tembok pembatas, dan menjatuhkan bom ke bawah.
    Dan ketika bom itu menyentuh tanah dan meledak, tidak ada satu pun yang bisa selamat darinya….
    ***

    Louis mengerjap-ngerjapkan matanya, pandangannya menangkap bayangan buram cahaya dari lampu badai.
    “Wah, sudah bangun ya?”
    Louis berusaha membuka matanya, namun yang terlihat tetap bayangan buram cahaya dari lampu badai. Tapi, ia juga melihat sebuah bayangan seseorang berdiri di ujung ruangan.

    “Ini di mana?”
    “Di tempat yang aman.”
    “Kau siapa?”
    “Aku penolongmu.”
    “Siapa namamu?”
    “.…”

    Louis juga diam, menunggu agar orang itu menjawab pertanyaannya. Tapi, orang itu hanya menghela napas. Orang itu mengambil sebotol air, dan menghampiri ranjang Louis.
    “Minumlah ini,” ucapnya seraya mendekatkan botol itu pada Louis. Dengan susah payah, Louis mengambil botol itu, lalu meminumnya. Ketika air melewati tenggorokannya, ia merasa sedikit lebih “hidup”.
    “Sekarang, tidurlah.” ucap orang itu. Ia menarik selimut yang berada di ujung ranjang, lalu menyelimuti Louis.
    Selesai menyelimuti Louis, orang itu berjalan ke arah pintu. “Terima kasih…” gumam Louis pelan. Orang itu hanya tersenyum, lalu keluar dari ruangan.
    ***

    “Kau sudah sadar?”
    Louise langsung terduduk, dan memperjelas pandangannya. Di hadapannya, ada seorang pria berjas putih. Louise memperhatikan ruangan itu, sebuah ruangan terang benderang dengan dinding berwarna putih dengan lantai bermodel keramik pentagon. Ada banyak tabung di ruangan itu, dan semuanya berisi manusia. Di sisi lain ada meja dan meja bedah, dan di atas kedua meja itu ada banyak alat-alat yang biasa kita temui di rumah sakit.
    *Maksudnya, aku nggak tau nama2 benda kedokteran semacam itu*

    “Ini di mana?!”
    Pria berjas putih itu tersenyum menyeringai. “Di mana? Tentu saja di tempat rahasiaku.” jawab pria itu.
    “Mana kakakku?!”
    “Si lelaki bermata hijau sekarang sedang bersama Percy.”
    *nama Percy diambil dari nama Percy Jackson*

    “Kamu siapa?! Kenapa aku berada di sini?!”
    “Coba perhatikan sekelilingmu dengan lebih teliti. Menurutmu, kenapa kau berada di sini?” pria itu balik bertanya.
    Louise memerhatikan sekelilingnya, dan tertegun saat melihat sebuah gelang elektronik melingkar di tangan kanannya.
    “Apa…ini?”
    “Sekarang kau adalah tawanan di sini.” pria berjas putih itu menghela napas. “Sayang sekali, annak buahku tidak berhasil mendapatkan kakakmu itu. Padahal ia bisa menjadi senjata yang kuat.”

    Pria itu berbalik menuju ke arah pintu. “Kau tunggu dulu di sini. Para pelayan akan segera datang untuk mengantarkan makanan.”
    “Apakah aku…objek eksperimen di sini…?” tanya Louise.
    Pria itu menatap Louise, dan menyeringai. “Begitulah.”
    ***

    “Kamu sudah bangun, Louis?”
    Mendengar suara itu, Louis segera bangkit dari tempat tidur dan menyingkap selimutnya. “Ini di mana?” tanyanya seraya memegangi kepalanya yang masih pusing.
    “Di tempat yang aman.”
    “Kamu itu siapa?” tanya Louis. Ia menatap ke depan, dan melihat seorang lelaki berambut hitam sedang memadamkan lampu badai.
    “Aku adalah orang yang menolongmu.” jawab lelaki itu.

    “Kenapa kamu tau…namaku?” tanya Louis, lagi.
    Lelaki itu menyodorkan sebuah kartu ID. “Ini milikmu bukan? Aku mengetahuinya dari sini.”
    Louis mengambil kartu tersebut. “Terima kasih.”
    “Jadi, kau ini agen Saber?” tanya lelaki itu.
    Louis mengangguk. Lelaki itu mengeluarkan dua kartu dari saku kemejanya, dan memperlihatkannya pada Louis. “Namaku Percy Viannce. Aku juga agen Saber.”

    “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Louis seraya menatap Percy.
    Percy menggeleng. “Kamu disupervisor oleh siapa?”
    “Aku disupervisor oleh Jacques van Rhone. Kalau kamu?”
    “Supervisorku bernama Brian Arisian.”
    “Oh…”

    Selama beberapa waktu, Louis dan Percy hanya berdiam diri satu sama lain. Hingga akhirnya Louis berbicara, memecahkan keheningan. “Kamu tau tentang adikku?”
    “Maksudmu Louise?” Percy bertanya balik.
    “Ya, Louise. Kenapa kamu bisa tau tentang dia?”
    “Kamu mengigau dalam tidurmu. Ada apa dengan Louise?”

    “…” Louis diam sejenak. “Sudah berapa hari sejak serangan POX?”
    “Sudah sekitar seminggu.”
    “Sudah sekitar seminggu ya. Mungkin sudah telat untuk menyelamatkannya.” gumam Louis putus asa.
    “Memang kenapa? Hei…Jangan-jangan adikmu ditangkap oleh tentara POX?” Percy menebak.
    Louis menatapnya dengan tatapan putus asa. “Begitulah.”

    “Tapi…Apa kau yakin yang menangkapnya benar-benar tentara POX?” Percy bertanya lagi.
    “Sepertinya begitu.” Louis mengangguk.
    “Kalau begitu….Ini aneh bukan? Biasanya, setiap tentara POX bertemu dengan agen Saber, maka agen Saber itu akan dibunuhnya. Kecuali…”
    “Kecuali apa?”
    “Kecuali para agen Saber yang berpura-pura bekerja setia pada POX.”
    “Seperti Friederich Alserossa?”
    “Begitulah.”

    “Percy, kenapa kamu tau banyak tentang POX?”
    “Karena aku adalah agen Saber yang dikontrak sebagai mata-mata.”
    “Seperti Tuan Friederich?”
    “Ya, bahkan yang merekomendasikanku pada POX adalah Friederich.”
    “Tidak sopan jika kamu memanggilnya langsung dengan nama.”
    “Huh, biar saja.”

    Selama beberapa menit, hening lagi. Hingga akhirnya Percy memecahkan keheningan,“Jadi, tentang Louise itu, kurasa yang menculiknya bukanlah tentara POX.”
    ”Lalu siapa?” tanya Louis.
    “Mungkin yang menangkapnya adalah Solferino.” jawab Percy.
    “Solferino…?” Louis memastikan.
    Percy mengangguk. “Solferino adalah organisasi bentukan pemerintah yang menangani eksperimen manusia.”
    “Itu artinya…”
    “Kemungkinan besar adikmu ditangkap sebagai objek eksperimen.”
    Louis mematung menatap Percy, dan Percy menatapnya dengan tatapan datar.
    ***

    Liked by 1 person

    1. WHEW panjang amit!! xD

      Ini kenapa deh tiap berapa paragraf ada komentatornyaaa ahhaha..

      *kenapa nggak program Gacha aja, Tuan Eugene?*
      *kalo program Gacha nanti dikira mainan* ==> NGAKAK DOT COM

      TETIBA HOROR ada kepala manusia!!! HMMPFF

      THAT ENDING!!! WHYYY A CLIFFHANGER xD

      RU gonna finish this or whaaat xD

      Like

  13. ***
    “Hei, makan makanan ini!”
    “Tidak mau!” balas Louise seraya melempar baki makanan tersebut ke arah Siong Hin, pria ilmuwan yang menjadikannya sebagai objek eksperimen.
    Siong Hin menghela napas. “Kalau kamu tidak makan, kamu akan sakit.”
    “Biar saja!” ucap Louise. “Biar saja aku mati kelaparan! Aku tidak sudi menjadi objek eksperimenmu!”
    “Kalau kamu tidak mau makan, apa boleh buat.” Siong Hin mengambil sebuah jarum suntik dengan isi berwarna transparan dari saku jasnya. “Kita pakai ini saja.”
    Louise menatap jarum itu. “Isinya racun kan? Bunuh saja aku.”
    Siong Hin menghampirinya, dan tanpa basa-basi langsung menyuntikkannya pada Louise. Tubuh Louise langsung melemas, dan terkulai. “Sekarang kita akan memulai permainannya.” gumam Siong Hin.
    ***
    “Eh, kamu sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan adikku?!”
    “Ya begitulah…” Percy mengangguk. Ia memakai sarung tangannya, sementara leher dan tengkuknya menjepit ponsel,”Ya, ini aku…”
    “Nanti malam aku jadi pergi ke sana…”
    “Ya, ya, aku mengerti.”
    Louis memerhatikan Percy yang sedang menelepon. Begitu Percy selesai menelepon, ia langsung bertanya,”Telepon dari siapa?”
    “Dari Jack.” jawab Percy,”Dia tangan kanan Siong Hin, ilmuwan psikopat yang menjadikan adikmu sebagai objek eksperimen.”
    “…”
    “Kalau kau mau, ayo nanti malam kita ke Blue Field untuk membebaskan adikmu.”
    “Eh?” Louis mendongak, menatap Percy.
    Percy tersenyum. “Aku tau seberapa pentingnya adikmu bagimu, Louis. Aku juga pernah punya keluarga, kau tau.”
    Louis bangkit berdiri, dan memeluk Percy. “Kamu sangat baik. Aku tidak tau bagaimana harus membalas kebaikan hatimu.”
    Percy hanya mengangguk. “Ah, jangan bersifat kekanak-kanakan begitu, Louis. Kau sudah besar bukan?”
    Louis tersenyum jahil,”Iya, Kakak.”
    ***
    10.00 p.m…
    “Ayo, Louis, masuk lewat sini!” Percy berbisik seraya menggandeng tangan kanan Louis. Mereka berdua menyelinap masuk ke tangga darurat, dan terburu-buru menaiki tangga.
    “Aku sudah membuat keributan di luar, kita punya waktu sekitar lima menit untuk sampai di ruangan Siong Hin.”
    “Siapa yang kamu tumbalkan untuk melakukan ini?” Louis bertanya dengan nada cemas.
    “Tidak ada tumbal, namun Jack menyediakan diri untuk menjadi umpan!” balas Percy. Keluar dari ruangan tangga darurat, Percy segera menarik Louis ke lift terdekat. Ia menempelkan ID cardnya, dan pintu lift pun terbuka.
    “Ayo masuk!”
    Beberapa detik kemudian, Louis dan Percy kembali berpindah lift. “Kita harus berpindah lift supaya tidak tertangkap.” ucap Percy. Tak lama kemudian, mereka sampai di lantai teratas, yaitu ruangan Siong Hin.
    “Yang di sini kita tidak bisa menggunakan ID card, harus dengan sidik jari.” ucap Percy seraya menempelkan jari telunjuknya ke alat pendeteksi sidik jari. Dari lantai bawah, suasana sepertinya tambah ribut.
    Pintu terbuka, dan Louis melihat seorang gadis berambut cokelat berdiri tengah-tengah ruangan. Gadis itu berbalik dan tersenyum,”Akhirnya Kakak datang juga…”
    Louis langsung menyongsong Louise dan memeluknya,”Apa aku terlambat datang, Louise?”
    Louise balas memeluk kakaknya,”Kakak sama sekali tidak terlambat datang.”
    “Apa adegan mengharukan sudah selesai? Jika tidak, aku yang akan segera mengakhirinya,”
    Louis berbalik, dan kaget melihat Percy berdiri di hadapannya, menodongkan revolver. “Apa maksudnya dari semua ini, Percy?”
    “Kamu masih belum mengerti? Aku adalah Jack, bukan Percy.” Ia merobek kulit wajahnya, dan Louis terperangah saat melihat wajah asli “Percy”.
    “Aku yang ditugaskan untuk mengumpanmu agar kamu pergi kemari, Louis.” Jack tersenyum,”Jadi, kamu mau menemani adikmu di sini, atau kamu mau mati dengan revolver ini?”
    Louis segera berpikir cepat, apa yang harus ia lakukan?
    “Kakak, ayo ikut aku.” bisik Louise. Dengan segera, ia menarik tangan Louis dan mendorongnya ke arah jendela kaca. Kaca itu pecah, dan Louis terjatuh.
    “Kamu membunuhnya…” gumam Jack seraya menurunkan revolvernya.
    “Tidak.” Louise menggeleng,”Kakakku tidak akan mati semudah itu. Aku akan segera menyusulnya.” Ia berlari, dan meloncat ke kegelapan malam.
    Jack mendengus kesal, kedua calon korbannya melarikan diri.
    ***
    “Kakak, kakak sudah sadar?”
    Mendengar suara itu, Louis segera berusaha membuka matanya.
    “Louise…Nenek…?” Louis tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menatap ke luar jendela, di mana menara Eiffel masih menjulang dengan gagah. “Mustahil…” Louis langsung menghampiri Louise dan meraba-raba adiknya,”Ini di Paris? Kita selamat?”
    “Ini memang di Paris.” Orleans tersenyum,”Di hari kamu menyelamatkan Louise, ada seorang pria aneh yang menemukanmu dan Louise dan membawa kalian ke sini.”
    “Siapa pria itu, Nek?!” tanya Louis.
    “Nenek tidak tanya siapa namanya, tapi ia bilang ia adalah penolong.” jawab Orleans.
    “Pria itu sangat baik lho Kak, sudah mau mengantar kita pulang ke Paris.” Louise mengangguk.
    Louis terdiam gemetar. Jika ia bilang dirinya adalah penolong, maka ia pasti…Percy Viannce ‘kan?
    -The End-

    @cerivitas
    Finally finished, Tante Sari

    Ttd, Khalisa

    Liked by 1 person

    1. yayyy… akhirnya tamat 😀 enak lho bacanya dapat ending / berasa lega gitu ga digantung kyk gebetan aiiiihhh xD good job!

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s