Materi 3 – Anatomi Sampul Buku

Assalamu’alaikum, selamat pagi teman-teman!

Sebelum kita mulai membuat sampul, ada baiknya kita pelajari dulu… sampul buku itu terdiri dari apa saja sih? Nah, coba simak video berikut yaa. Buat kamu yang mau mengejar poin, di video ini ada kata kunci. Cara mendapatkan poinnya:

  • Simak videonya, lalu temukan kata kunci tersebut,
  • Setelah dapat kata kunci, buatlah satu paragraf cerita yang mengandung kata kunci itu tersebut, lalu tulis di kolom komentar
  • Kalau mau nulis lebih dari satu paragraf boleh kok gak dosa xixixi

Mudah kan? Hehehe… selamat berburu harta karun, semoga sukses 😀

Direct link, kalau video di atas ngga kebuka: https://www.facebook.com/cerivitas/videos/1143073722566929/ (video 14 menit)

Buat yang susah sinyal untuk lihat video, klik di sini untuk lihat PDF slide nya.

Advertisement

59 thoughts on “Materi 3 – Anatomi Sampul Buku”

  1. Paragraf Cerita:
    Pada suatu pagi, di tempat yang selalu cerah dan terang-benderang.. hiduplah seekor Ikan mas kecil hidup bahagia di suatu hulu sungai tempat tinggalnya. Ikan mas suka sekali melompat, Ikan mas melompat sudah menjadi kebiasaan yang dilakukannya setiap pagi.

    Suatu hari Ikan mas melompat terlalu tinggi, hingga dia mendarat daratan, dan terjebak disana! Ikan mas menggoyang-goyangkan badannya, meminta tolong. Tapi, siapa yang bisa menolongnya? Ketika Ikan mas sudah putus asa, tiba-tiba muncul seonggok tangan raksasa datang mengambil Ikan mas, ada yang menolongnya!

    Plung! Ikan mas sudah kembali ke air, dia sangat gembira. Tapi.. kok Ikan mas ditaruh di ember? Ikan mas mau dibawa kemana?? Ikan mas sangat panik dan berputar-putar dalam air. Ikan mas mencoba melompat, tetapi tiba-tiba ember miring! Air keluar dari ember dan mengalir ke sungai. Ikan mas melihat kesempatan, dia tak menyia-nyiakannya. Ikan mas segera masuk ke sungai dan segera berenang pergi.
    The End.
    -0-0-

    Aslinya cerita ini pengen kubuat dua POV, si Ikan mas dan si Manusia, tapi males nulisnya dan udah mentok juga, jadi gini ada deh. Kapan-kapan ditulis ceritanya.

    Oh ya, ini ceritanya terispirasi dari salah satu episode Doraemon, dimana Doraemon mengeluarkan alat yang ketika ada hewan yang kesusahan, terus ditolong nanti bakal dateng ke kita untuk membalas budi kita. Nah, aku juga aslinya pengen buat kayak gitu ceritanya, tapi nanti aja kalo udah ada ide 😛

    Oh, iya. Sama maaf ya, kalau agak gaje ceritanya xD
    *Amanda*

    Liked by 5 people

    1. Aaa ini ceritanya aku suka.. terharu sama orang yg mau nolong si ikan, semoga nanti dibalas dengan kebaikan juga yaa.. a very good job, amanda!

      Like

  2. Sore yang cerah. Bunga dan pohon berjejeran di tepi jalan, sehingga menyejukkan pinggiran jalan di perumahan itu. Seperti biasa, Lusi menikmati udara sore. Sesekali dikutipnya bunga bunga yang jatuh. “Ah harum…” Katanya mencium setiap bunga yang dikutip. Setelah cukup lama berjalan, istirahatlah ia sejenak. Dia duduk di salah satu bangku yang berjejer di pinggir jalan. Diteguknya kopi GoodDay yang masih tersisa di botol. Hanya sekali teguk saja si kopi langsung habis. Ketika akan membuang botol itu ke tong sampah, ia melihat plastik bening berisi air. Di dalam plastik itu terdapat sesuatu. Diambilnya plastik itu, lalu dilihatnya isinya. Ikan Mas Koki! Ikan yang diimpikan nya sejak dulu. “Siapa yang tega membuang ikan semahal ini ya?” Batinnya.
    Jaihan

    Liked by 4 people

    1. Wahh ada buang mahluk hidup ke tong sampah, sedih jdnya.. knp ga dibalikin ke sungai atau ke got ya.. eh bisa ngga sih hidup di got xD

      Btw tadi aku edit supaya kata kuncinya ngga muncul, nanti jd spoiler buat temen2 yg blm lihat videonya huehehe…

      Nice story, good job, jaihan!

      Liked by 2 people

  3. Pagi yang sejuk itu Rani ikut ayahnya memancing di sungai. Dia ingin mandi di sungai, sedangkan ayahnya akan menikmati hobinya mancing ikan. Setelah 10 menit berjalan, mereka sampai. Rani segera menyeburkan diri, ayah pun langsung melempar kail ke sungai. Air sungai hari ini dingin karena masih pagi. Setelah 30 menit berenang, Ayah berteriak memanggil Rani. “Rani…ayah mendapatkan ikan mas!” Rani yang sedang bermain air langsung menghampiri ayah seraya berkata “mana kata ayah ikan mas itu” Rani tak percaya. Ketika Rani melihat ke dalam ember, ternyata benar ada ikan mas. Kemudian merekapun pulang bersama.
    Nada
    Sebenarnya tadi Nada panik dikasih tugas menulis paragraf, huh…Nada belum terbiasa. Yang paling sulit itu memulainya. Untung kak Jaihan dah selesai, jadi Nada lihat dulu punya kak Jaihan

    Liked by 4 people

    1. Ehehe ini ceritanya bagus kok nadaaa.. kyk yg kamu bikin di sketchbook kmrn kan ada ceritanya juga.. santai aja gpp kok yg penting udh berusaha, semoga ngga panik lagi yaa 😀 love the story! Good job!

      Liked by 1 person

  4. Kio adalah anak seekor ikan mas yang tidak patuh pada omongan orangtua. Suatu hari, Kio pergi ke desa sebelah karena diajak temannya. Ibu Kio sudah menasehati Kio agar tidak kesana karena disana ada pusaran air yang sangat besar. Pusaran air itu hanya bisa di lintasi oleh ikan dewasa. Tapi Kio tidak mau menurut. Dia tetap pergi tanpa menghiraukan teriakan ibunya. “Mana mungkin apa yang ibu bilang itu benar …” Gumam Kio. Dia pun meneruskan perjalanan. Dia terus berenang hingga Kio melihat sesuatu dari kejauhan. “Apa itu ya ?” Kata Kio penasaran. Dia pun memutuskan untuk mendekat. Tiba-tiba saja tubuh Kio tersedot ke dalam pusaran air itu. “Aaaaaaa…….siapapun ….tolong akuuuuu !!!” Kio mencoba berenang sekuat tenaga tapi tenaganya tidak cukup. Disaat itu lah Kio menyadari bahwa perkataan ibunya benar. Dia merasa menyesal sekali tidak mendengarkan perkataan ibunya. Mungkin sekarang ini ibunya sedang khawatir akan keadaannya.
    Tiba-tiba …..di depan Kio muncul sosok ikan raksasa. “Tolooong….jangan makan aku !!! Kio menjerit panik. “Loh….kenapa aku akan memakanmu ? Aku hanya ingin menolongmu….” Ah…..ternyata itu bibi Riri si ikan Pari. Dia menolong Kio keluar dari pusaran air itu. Dia juga membantu Kio pulang ke rumah. Kio minta maaf pada ibunya karena telah melalaikan pesan ibunya.

    Note :
    Namira membuat cerita ini dalam waktu 10 menit

    Liked by 5 people

  5. Kalau cerita fiksi gak papa kan? Soalnya, semuanya ceritanya non fiksi.

    IKAN MAS YANG AJAIB

    Alkisah, ada seorang Bapak dan istrinya. Pada suatu hari, ketika Bapak itu memancing, dia mendapatkan seekor ikan Mas. Sang ikan Mas berkata, “Lepaskan aku, maka semua keinginanmu akan terwujud”. Saking kagetnya, si Bapak segera melepaskan ikan Mas kembali ke air.
    Sorenya, si Bapak pulang dengan tangan kosong, karena dia tidak menemukan ikan selain ikan Mas itu. Lalu si Bapak menceritakan kejadian tadi kepada istrinya. Sang istri marah karena si Bapak tidak membawa pulang ikan tersebut. Lalu sang istri berkata, “Kembalilah ke danau itu, dan mintalah rumah baru yang tidak ada kayu lapuknya”. Si Bapak menurut dan langsung kembali ke danau tersebut.
    Sesampainya di danau, dia mengambil ikan Mas dan mengucapkan permintaannya, lalu berlari pulang. Sesampainya di rumahnya, dia terkejut, karena rumahnya baru dan tidak ada kayu lapuknya. Tapi, sang istri belum puas juga, dia meminta banyak hal mulai menjadi Ratu, istana megah dan pelayan yang banyak.
    Suatu hari, sang istri berkata, “Aku ingin menjadi Dewi laut dan ikan Mas menjadi pelayanku”. Saat si Bapak mengatakan permintaan tersebut, si ikan Mas tidak menjawab dan langsung berenang kembali. Saat si Bapak pulang, dia terkejut karena tidak ada istana megah dan pelayan-pelayan istrinya, yang ada hanya gubuk reot dan istrinya yang duduk termenung menyesali ketamakannya. TAMAT.

    Liked by 4 people

    1. Eh gpp kok, yg lain juga bikin cerita fiksi 😀 aku dah baca ceritanya… Ini baguuus! Aku suka pelajaran di akhir cerita, supaya kita nggak menjadi orang yg tamak hehe.. good job, laras!

      +50 poin, congrats!

      Like

    2. Pagi itu, Laras dan keluarganya pergi memancing ikan. Tiba tiba Laras mendapatkan ikan mas! Laras menjadi sangat senang. Laras sangat menyukai ikan mas walaupun ikan mas memiliki banyak duri. “Ibu….ibu..” panggil Laras. “Aku mendapatkan ikan mas!” Laras berteriak teriak memanggil ibu. Tapi sayangnya, ikan mas diember Laras, loncat kembali kesungai. Laras menjadi sangat sedih karena ikan mas miliknya loncat kesungai. Laras menjadi putus asa. Ibu kemudian menasihati Laras. “Laras…jangan langsung berputus asa. Lihat kakakmu, dia gigih memancing ikan.” Nasihat ibu membuat Laras tidak berputus asa lagi. Tiba tiba, kak Mela, kakaknya Laras, berteriak “Aku mendapatkan ikan mas!!!” Laras langsung datang menghampiri kakaknya. Laras pun bertanya “kakak kok bisa dapat ikan yang banyak?” Kak Mela menjawab, “karena kakak pakai umpan.” “Pantas saja kakak dapat ikan sebanyak itu. Sudah mau sepuluh” gumam Laras. Laras kemudian memancing ikan menggunakan umpan.

      Liked by 2 people

  6. Pagi itu, Laras dan keluarganya pergi memancing ikan. Tiba tiba Laras mendapatkan ikan mas! Laras menjadi sangat senang. Laras sangat menyukai ikan mas walaupun ikan mas memiliki banyak duri. “Ibu….ibu..” panggil Laras. “Aku mendapatkan ikan mas!” Laras berteriak teriak memanggil ibu. Tapi sayangnya, ikan mas diember Laras, loncat kembali kesungai. Laras menjadi sangat sedih karena ikan mas miliknya loncat kesungai. Laras menjadi putus asa. Ibu kemudian menasihati Laras. “Laras…jangan langsung berputus asa. Lihat kakakmu, dia gigih memancing ikan.” Nasihat ibu membuat Laras tidak berputus asa lagi. Tiba tiba, kak Mela, kakaknya Laras, berteriak “Aku mendapatkan ikan mas!!!” Laras langsung datang menghampiri kakaknya. Laras pun bertanya “kakak kok bisa dapat ikan yang ban

    Liked by 3 people

    1. Ini ceritanya dira ya? Wow bisa dapet 10 ikan 😀 ternyata kakak adik hobi memancing yaa hehe.. bagus pesannya supaya kita gigih berusaha. Keren, good job dira!

      +50 poin, congrats!

      Like

  7. Pada suatu hari yang cerah tingggallah seorang ikan mas yang sangat cantik bernama lala, karena kecantikan nya lala menjadi sombong. Bahkan pernah suatu hari dia mengejek ikan lele yang bernama koko. Lalu beberapa bulan kemudian ada seorang ikan hiu yang senang memakan ikan – ikan yang ada di sana, sehingga ikan – ikan lebih sering bersembunyi karena takut dimakan oleh ikan hiu itu.
    Pada suatu ketika lala sedang berjalan – jalan mempamer kan kecantikan nya. Lalu saat lala sedang mempamerkan kecantikannya di saat yang bertepatan ikan hiu sedang mencari makan, dia melihat sesuatu yang cerah lalu dia mendatangi yang cerah itu ternyata itu lala yang sedang mempamerkan kulitnya. Lalu saat lala melihat ada ikan hiu yang menuju dia lala pun langsung berenang secepat cepatnya, namun ikan hiu itu terus mengejar ngejar lala, saat dia lari dia belok ke kanan ternyata itu jalan buntu lala tidak bisa lari kemana mana lagi. Saat dia menghadap belakang untuk berlari lagi, ternyata ikan hiu itu sudah tepat di belakang nya.
    Ikan hiu itu sudah bersiap untuk memakannya lalu lala punberkata pada ikan hiu itu “i…..ikan hiu jangan makan aku, aku janji akan membantu mu jika ada masalah” kata lala ,”kau membantuku, tidak mungkin aku ini kuat tidak sepertimu aku tidak perlu siapa siapa” kata ikan hiu dengan sombong.Lalu lala berkata “tapi aku janji” kata lala,lalu akhirnya ikan hiu itu melepaskan nya sambil berkata “ingat janjimu” kata ikan hiu itu. beberapa hari kemudian ada manusia yang ingin mengkap ikan hiu. lalu mereka memasang perangkap itu.
    Beberapa menit kemudian ikan hiu yang ingin memakan lala tertangkap dari perangkap manusia. Lalu lala melihat ikan hiu itu yang terperangkap, lala langsung meminta temannya ikan pedang yang bernama nana untuk memotong tali perangkapnya setelah itu nana pun melaksanakan dengan memotongnya. lalu ikan hiu itu berterimakasih dan saling berkenalan ternyata nama ikan hiu itu duki. dan akhirnya mereka hidup bahagia dan bersahabat selamanya

    Liked by 4 people

    1. Ini ceritanya ziggy ya? Wah seru ini aku kaget waktu ada ikan hiunya xD tapi kreatif juga ada tokoh ikan pedang, juga pesannya banyak, untuk tidak pamer, tidak sombong, dan menjaga janji. Good job, ziggy!

      +50 poin, congrats!

      Liked by 1 person

  8. Bismillaah,
    Alhamdulillah lebaran kemarin kami sekeluarga silaturahmi ke rumah Simbah di Yogyakarta.
    Pada suatu pagi, Aku dan adik-adikku Lia ,bun bun,ical, Izzam, Iyan dan Minmin jalan-jalan keliling kampung..Berpetualang menjelajahi kampung.
    Lalu aku dan adik-adikku melihat di dekat sebuah lapangan volly ada sebuah terpal yg dikasih air di dalamnya.
    Padahal sebelumnya pas aku datang ke sana belum ada lho..
    Lalu Aku dan adik-adikku berlarian mendekati pemancingan itu, dan bertanya kepada Si Om yang sedang berdiri di dekatnya.
    Om..ini apa? boleh kita lihat Om?
    Si Ompun menjawab “Boleh dong, mau mancing juga boleh..ini pemancingan dadakan yang Om buat untuk kalian mancing di sini.”
    Haa..lalu kami semua ingin mancing ikannya.
    Lalu Aku suruh adikku Iyan untuk bilang ke Ummi di rumah Simbah, kalau ada pemancingan anak- anak.
    Kata iyan…lalu Ummi bilang ‘bayar gak?” iya jawab iyan “berapa?” tanya Ummi “Rp.5.000” jawab iyan. kata ummi sembari menyodorkan uang Rp.20.000 lalu adik Ummi menyodorkan uang Rp.10.000an lalu iyan berlari menuju pemancingan itu lalu dikasih lah uang Rp.30.000 yang dipegang oleh iyan ke si Om lalu kami memancing bersama tapi kalau min min dia beli ikan mas 2 atau gak 4 aku juga mancing dapat ikan lele aku juga beli ikan mas lia pun juga dapat lele dan dia membeli IKAN MAS KOKI so ikannya lebih bagus milik bun bun dan lia karena warnanya terang dan lucu gitu deehhh….
    malamnya mereka jalan jalan keliling kampung lagi lalu kami melihat orang yg sedang memancing tapi sepertinya ikanya sudah mati semua ToT ….. terus si lia loncat loncat dipinggir terpal lalu…..GUBRAK….BYAAAR..ternyata lia tercebur empang…. THE END….
    sekian terimakasih byeee👋👋

    Liked by 4 people

    1. Ahahahaa ya ampuun ini ceritanya seru dan kocak xD aku suka petualangannya, kerasa banget rasa senangnya anak2 pas tahu ada pemancingan. Sempet sedih juga waktu ikannya mati, eh tapi jadi ketawa krn lia kecebur empang haha xD a very good job, rere!

      +50 poin

      Liked by 1 person

  9. PUTRI IKAN MAS

    Disebuah kerajaan yang indah hiduplah seorang raja dan ratu. mereka sangat ingin mempunyai anak.
    dan akhirnya lahir lah seorang pangeran yang sangat tampan.
    ‘’oh… akhirnya kita mempunyai anak ratuku ‘’ kata raja .
    ‘’ya,aku sangat senang sekali.kita.. akan memberinya nama siapa ? ‘’ ‘’bagai mana jika kita beri nama pangeran John ‘’
    ‘’ya… itu nama yang bagus ‘’ .

    pangeran John pun tumbuh menjadi pria muda yang sangat tampan .kini sudah waktunya ia untuk menikah.ia pun meminta izin sang raja untuk berkelana mencari putri yang ia inginkan.dan sang raja pun mengizinkannya.

    Sementara itu di negri yang jauh hiduplah seorang putri .
    ia bernama putri angel.saat masih kecil ia di culik seorang penyihir . berkali –kali ia mencoba kabur namun gagal dan membuat penyihir kesal.dan penyihir itu pun mengubah putrid angel menjadi ikan mas dan membuangnya kesebuah danau .

    saat sedang berkelana pangeran menemukan sebuah danau yang sangat indah .’’ahh… aku lapar dan lelah .hmmm… mungkin aku bisa istirahat sebentar disini ‘’

    ia duduk di pohon dekat danau .tiba-tiba muncul seekor ikan mas dan ia pun berkata,’’pangeran yang tampan maukah engkau menolongku ? ‘’ pangeran pun kaget dan menjawab, ‘’apa yang harus kulakukan untukmu ? ‘’ ‘’kau harus menciumku lalu mengatakan apa yang kau inginkan ‘’
    awalnya pangeran sempat ragu-ragu ,namun akhirnya ia mencium ikan ma situ .dan….tiba-tiba ikan itu berubah menjadi putri angel . ‘’ siapa kamu ? ‘’ ‘’aku putri angel ,terimakasih telah menyelamat kan ku ‘’ ‘’bagaimana kamu bisa menjadi ikan mas ? ‘’ putri angel pun menceritakan kisahnya ,dan berkata ‘’sekarang apa yang kau inginkan dan siapa kau ? ‘’ ‘’aku pangeran john ,aku ingin kau menikah denganku ‘’ dan putri angel pun setuju . akhirnya mereka kembali ke kerajaan pangeran john lalu menikah dan hidup bahagia selamanya ….
    tamat

    Liked by 3 people

    1. Waww aku jadi inget cerita putri aurora 😀 aku suka penyusunan plot nya yang rapi. Sebuah cerita yang manis. Good job, binar!

      +50 poin, congrats!

      Liked by 1 person

  10. Aku mempunyai ikan mas, namanya mas-mas. Setiap 3 kali seminggu aku memberinya makan. Tapi kalau aku sering pergi, nenekku yang memberinya makan. Dan setiap 2 kali seminggu, aku membersihkan toples tempat ikan mas tinggal.
    Sekarang, ikanku sudah besar, karena toples tempat dia tinggal sudah kecil, aku membeli akuarium. Aku sayang sekali dengan ikan ini.
    Lucu deh. Suatu hari aku iseng mengeluarkan ikan mas itu ke panci. Ternyata dia berenang berputar-putar terus-menerus. Seperti bingung. Aku kembalikan saja lagi ke dalam akuarium. Mungkin dia ingin kembali ke akuarium karena dia tidak mengenali tempat itu.
    Lalu, suatu pagi di pasar aku melihat ada ikan mas yang lain, lalu, aku membeli ikan itu. Ikan itu kuberi nama manis. Aku menaruh si manis itu ke dalam akuarium bersama dengan si mas-mas. Kelihatannya si mas-mas suka deh ada temannya.
    Aku sebenarnya ingin sekali punya akuarium yang besar dan aku isi ikan laut yang kecil warna-warni seperti di SeaWorld atau JatimPark2. Mungkin nanti kapan-kapan bisa kesampaian.
    NB:
    Ini sih sebagian cerita non fiksi sebagian lagi cerita fiksi.
    Boleh kan Tante Sari? Hehehe ^_^

    Liked by 4 people

    1. Boleh koook xixixi… Nama ikannya lucu si mas-mas xD yg satu lagi knp gak dinamain si mbak-mbak haha… Tapi manis bagus juga sih namanya, krn warna ikannya manis hehe… Btw semoga aquarium abi tambah banyak isinya 😀 good job, abi!

      +50 poin, congrats!

      Like

  11. Pada suatu hari…di pagi yang cerah. Ada beragam ikan ikan yang hidup di sungai. mereka hidup bahagia, mereka berenang di sungai yang luas. Tiba-tiba Kepiting yang suka menipu datang sambil membawa kabar buruk. “Hei ikan-ikan semua, ada manusia yang ingin menangkap kita dengan kawat set-“. Ikan Mas yang paling sering kena tipu oleh Kepiting memotong kalimat kepiting.” Aku tidak akan pernah percaya denganmu lagi! kau penipu”. Kepiting tersinggung.”terserah kalian mau percaya atau tidak”. Kemudian Kepiting meninggalkan mereka.beberapa ikan ada yang panik, kemudian menyusul Kepiting. sisanya bersama ikan Mas. Ternyata perkataan kepiting benar manusia itu datang kemudian memasukkan kawat setrum, dan seketika itu semuanya panik, semuanya mati termasuk ikan Mas.

    ~TAMAT~

    Liked by 4 people

    1. Wadooow kasian ikan mas nya matiii xD ya susah juga sih kalau punya temen seperti kepiting yg suka menipu itu.. giliran kita ngga percaya malah dia yg bener 😛 good job, angga!

      +50 poin, congrats!

      Like

  12. Disebuah kolam ikan, terdapat banyak jenis ikan. Salah satunya adalah ikan mas. Ikan mas tersebut memiliki tubuh yang lebih besar daripada ikan ikan lainnya. Ikan mas suka menyombongkan diri kepada teman-temannya yang lebih kecil karena merasa ia yang paling hebat.

    Sore itu, pemilik kolam memberi makan berupa cacing untuk ikan-ikan miliknya yang ada di kolam tersebut. Namun, saat ada ikan kecil yang ingin mengambil cacing yang melimpah didekat ikan mas yang besar, ikan mas mengusirnya dan berkata, “hei, mau apa kau kesini? Ini jatahku, dan badanku lebih besar daripada kamu, ikan kecil! Sebaiknya kau cari cacing didekat kerumunan itu, sana!” “Tapi disana cacingnya sudah mau habis, disini cacingnya sangat melimpah. Bolehkah aku memintanya?” Tanya temannya yang paling kecil.
    “Tidak! Aku tidak mau berbagi denganmu. Pergi dan cari cacing di tempat lain!” Usir ikan mas itu.

    Setiap hari ikan mas selalu angkuh dan tidak mau bergaul dengan teman-temannya.

    Sehingga, pada suatu hari… Ada salah seorang teman pemilik kolam tersebut yang ingin membeli ikan. Kemudian teman pemilik kolam itu diajak untuk melihat-lihat ikan di kolam. Setelah melihat ikan, temannya tertarik dengan ikan mas besar yang sombong. Kemudian pemilik kolam mengambil ikan mas besar itu menggunakan jaring. Ikan mas meronta-ronta, namun teman-temannya tidak ada yang mau menolong dan berpikir bahwa ikan mas bisa menyelamatkan diri sendiri. Akhirnya ikan mas dibawa pulang oleh teman pemilik kolam dan digoreng dirumahnya.

    Kini, kolam tersebut aman dan damai setelah ikan mas tidak ada lagi di kolam itu.

    –TAMAT–

    Liked by 3 people

    1. Aah kasian ikannya digoreng xD tapi pesannya bagus banget supaya kita tidak sombong hehe.. good job, icha!

      +50 poin, congrats!

      Like

  13. paragaf:
    Suatu hari hiduplah seorang raja yang bernama Alex,raja Alex memimpin kerajaan yang bernama bumi.ratu dan raja mendabakan seorang putri,mereka selalu berdoa hingga akhirnya ratu hamil.9 bulan kemudian anak itu lahir dan diberi nama golden karena rambutnya yang bewarna emas.dia tumbuh dengan sifat manjanya.dia menganggap rendah rakyatnya.golden sanggat menykai lautan.

    Hari bertambah hari bulan bertambah bulan bertambah tahun,golden telah berumur 16 tahun dan tak lupa semakin bertambah sifat manja,dengki,pelit dan sombong.dia sangat cantik banyak pangeran yang meminangnya .saat ulang tahun ke 17 nya dia meminta agar semua kerajaan diundang.golden dihadiahi oleh ayahnya 10 kotak perhiasan dan di pakailah semuanya.datang seorang penyihir yang ingin merubah sifat sang golden tapi sangat disuruh memakai kalung untuk menghilangkan sifat jeleknya dia menolaknya.dia lalu dikutuk menjadi ikan mas agar dia selalu indah

    Liked by 2 people

    1. Owhh ini kyk cerita rakyat gitu yaa.. asal usul ikan mas hehe.. bagus juga namanya putri golden, sesuai dengan ceritanya. Good job, ajeng!

      +50 poin, congrats!

      Like

  14. Pada suatu hari yang cerah seekor Ikan Mas bernama Cupi sedang bermain sendirian didekat rumahnya. Lalu tiba-tiba tiga teman Cupi mendekati Cupi. Cupi terkejut dan sekaligus ketakutan karna ketiga temannya itu sering mengejek dia. Cupi ingin sekalu berkata tentang mareka kepada ibunya tapi sayangnya cupi takut. Cupi sering di ancam “Jika kau mengatakan tentang kami kepada seseorang maka kau akan jadi tukang ngadu dan tidak ada yang suka berteman dengan tukang ngadu!” Kalimat itu selalu membuat Cupi takut. Cupipun tidak pernah berkata kepada siapapun tentang ketiga temannya. Cupi pergi kembali kerumahnya sambil bersedih. Ia duduk di depan pintu rumah dan menangis.

    Ibu melihat Cupi dan menghamprinya, ibu bertanya “mengapa kau bersedih nak?, ceritakan pada ibu!..” “tapi jika aku ceritakan pada ibu aku akan jadi tukang ngadu dan tidak akan ada yang suka berteman dengan tukang ngadu!..” kata Cupi sambil bersedih “kau tak akan jadi tukang ngadu jika kau hanya becerita apa yang menyakiti perasaanmu!” Kata ibu baik-baik.”oh.. benarkah jadi begitu baiklah, sebenarnya ada tiga temanku sering sekali mengejekku saat aku bermain dan bahkan selalu.. maaf ibu aku tidak cerita sejak awal..” kata Cupi dengan penuh rasa lega. “Oh..Kalau begitu kau tidak perlu bersedih kau hanya perlu ikhlas dan berani ” ibu menasihatkan dengan sangat baik. “Baiklah ibu aku akan lebih berani dan ikhlas lagi aku akan pergi bermain bersama mereka, terima kasih ibu, ibu memang selalu yang terbaik” kata Cupi sambil memeluk ibunya. Cupipun pergi untuk menemui ketiga temannya itu.

    Saat di perjalanan Cupi mendengar ada suara ribut, Cupi penasaran, didalam hati Cupi berkata “Ada suara ribut apa tuh!?” Ternyata ada seekor hiu besar yang ingin memakan ketiga teman Cupi. Cupipun terkejut. Dengan rasa barani dan ikhlas Cupi manghadap si hiu dan berkata “Jangan makan teman-temanku dagingnya keras dan tidak enak!!” Kata si Cupi dengan sangat berani “ooh.. benarkah usahaku sia-sia huuh..!” Kata si hiu sambil pergi meninggalkan keempat Ikan Mas itu “Siapa yang sangka kita bertiga telah berkali-kali mengejek dan mengancam Cupi tapi Cupi tetap setia kepada kita” kata salah satu teman Cupi. Ketiga teman Cupi amat sangat menyesal dan malu karena sudah jahat pada temannya Cupi. Merekapun meminta maaf karena sudah mengejek Cupi. Cupipun dengan senang hati memaafkan ketiga teman. Dan merekapun jadi sahabat selamanya.

    .
    .

    Assalamualaikun tante sari. Ini cerita najma buat terinspirasi dari kisah sheriff callie wild west. Najma buat cerita ini di waktu luang ditulis di wa dan dikirim ke bunda. Lalu bunda yang meneruskan ke tante sari. Bunda ngga sempat edit tulisan najma, setelah dibaca langsung dikirim sama bunda, jadi najma ngga tau tanda baca najma sudah betul atau belum. Mohon bimbingannya tante. Makasih.

    Liked by 2 people

    1. Wah ini cerita yang bagus, mengisahkan seperti kejadian sehari-hari yang dialami anak dalam menghadapi bully. Aku suka keberanian Cupi dalam bercerita pada ibunya, juga dalam menghadapi si ikan hiu. Juga rasa setia kawan, semua pesannya bagus dan aku suka karena happy ending hehe.. a very good job, najma 🙂

      +50 poin, congrats!

      Like

  15. Di tahun 2153, peradadaban manusia mulai hancur; binatang-binatang sudah berevolusi dengan drastis, mengalahkan manusia sebagai raja ekosistem. Banyak yang memperkirakan kalau para primata dan lumba-lumba akan memimpin Bumi.

    Tapi.

    Musibah terjadi – sebuah ledakan gunung berapi superdahsyat memusnahkan 50% kehidupan di Bumi, menyebabkan para primata, lumba-lumba dan 90% dari umat manusia punah tanpa jejak.
    Di tengah semua kekacauan itu, ada satu spesies yang bangkit. Spesies yang akan memimpin kehidupan seperti semula. Spesies yang akan menyelamatkan Bumi dari kehancuran.

    Ikan Mas.
    Mereka telah berevolusi; sehingga mereka telah menciptakan baju zirah tak tertembuskan yang mampu melewati segala tempat; dari asam berbahaya, tekanan air ekstrim, sampai lahar panas – dan zirah itu tentu saja terbuat dari: emas.

    ~ Azarel

    Liked by 2 people

    1. WOW. Ini scifi/dystopian ya? Keren banget! Ngga banyak yg suka genre ini. Penuturannya bagus dan runut. Aku suka pemaparan world buildingnya. A very good job!

      +50 poin, congrats!

      Like

  16. Pada suatu hari hiduplah binatang-binatang laut. Mereka hidup kurang bahagia karena pemimpin laut itu sang Hiu; dia sangat sombong dan tamak karena itulah mengapa mereka hidup kurang bahagia.

    Saat sore hari ada seekor Ikan Mas, dia sangat suka berpetualang dia bertamu ke rumah si Hiu.
    Saat makan malam si Hiu tidak henti-hentinya menyombongkan diri; “Aku ini jadi pemimpin di laut ini semua takluk kepadaku.” Karena tak henti-hentinya menyombongkan diri Ikan Mas pun berkata dengan ketus, “Aku sudah mengantuk jadi dimana aku akan tidur!!?”
    “Kamu tidur di dapur saja nanti kalau tidur di kasurku nanti aku sempit tidur bersamamu.” Ikan Mas pun semakin kesal tetapi dia mencoba untuk menahan emosinya.

    Di dapur itu sangat kotor dan bau. Ikan Mas merasa sangat tidak nyaman tidur di dapur.
    Keesokan harinya saat makan pagi si Hiu kembali lagi menyombongkan diri. Karena sudah tak tahan Ikan Mas langsung mengambil barang-barangnya dan langsung pergi meninggalkan rumah itu.

    Sebenarnya Ikan Mas ingin memberi pelajaran kepada Hiu supaya dia tidak sombong dan tamak lagi. Ikan Mas berkata kepada semua warga jangan lagi tunduk kepada si Hiu dan jangan lagi berteman bersamanya tetapi ada Lumba-lumba bertanya, “Mengapa kita harus memusuhi raja?”
    Ikan Mas pun menjawab “Kita musuhi Hiu supaya dia sadar betapa sombong dan tamaknya dia” semua pun setuju.

    Satu minggu pun berlalu Hiu pun merasa kesepian Hiu masuk kedalam kamarnya dan merenungkan kelakuannya selama ini. setelah 7 jam merenung dia pun sadar selama ini dia tamak dan sombong,
    Dan sejak saat itu Hiu pun merubah sikapnya dan mereka hidup bahagia selamanya.

    Cerita dari Sisco teman-teman.

    Liked by 2 people

    1. Wahh ikan mas petualang yang sangat pemberani, bisa2nya nekat ke rumah ikan hiu huehehe… It’s a good story, endingnya pun berakhir damai. Good job, sisco!

      +50 poin, congrats!

      Like

  17. judul: pelajaran untuk Mimi

    Pada suatu hari Mimi si ikan mas sedang berenang di pinggir pantai. Mimi adalah ikan emas yang nakal, dia suka membuat onar di kerajaan ikan mas. Ketika Mimi sedang asyik berenang – renang di pinggir pantai dia melihat jack anak kapten yang tinggal di seberang mercusuar. Jack sedang piknik di tepi teluk dan makan makanan yang tidak sehat. Karena Mimi penasaran Mimi berenang ke tepi teluk dekat tempat jack duduk. Hi mimi sapa,AAAARG!!! IKAN BICARA!!! Jack teriak ketakutan. Tak apa aku baik kok mimi bilang.Jack yang lega menarik nafas. Namaku Mimi, Kamu sedang makan apa?. Namaku jack, aku sedang makan coklat,keripik kentang,pizza dan beberapa permen. Boleh tidak aku coba sedikit? tanya Mimi. Boleh kok! kata jack. Jack memberi Mimi sepotong coklat.

    Mimi memakan coklat itu dan dia berkata bahwa itu enak, Mimi mencoba sepotong kecil dari setiap makanan. Setelah itu mereka berbincang – bincang tanpa sadar hari hampir malam. Mimi bilang dia akan datang kembali besok. Di kerajaan ternyata raja ikan mas sudah tahu tentang Mimi yang makan makanan manusia. Raja ikan mas sudah memperingatkan Mimi tentang makan makanan manusia, tapi Mimi tidak peduli. Keesokan harinya Mimi melakukan hal yang sama. Sampai hari ketiga, ketika Mimi hendak pulang sesuatu terjadi!! tiba tiba ekor Mimi menjadi berat, dan tidak bisa berenang!!! Akhirnya Mimi terpaksa untuk tinggal di rumah Jack hingga sembuh, dan dia sangat rindu rumah. Itu sangat menyakitkan. Setelah sembuh Mimi segera pulang dan disambut oleh semua. Mimi juga sekarang mendapat pelajaran bahwa dia tidak boleh melanggar peraturan.

    THE END

    Liked by 2 people

    1. Aahaha aku bisa bayangin si jack kaget ada ikan bisa ngomong xD cerita yg unik, si mimi yg penasaran dgn makanan manusia, makanan tdk sehat pula hehe.. tadinya aku kira si mimi bakal berubah jadi manusia 😛 btw pesannya bagus, I like it. Good job, athira ❤

      +50 poin, congrats!

      Liked by 1 person

  18. ✌ KAMU HARUS SELOW✌
    Pada suatu hari,Kania masuk ke dalam rumah.Rumah ini bukan rumah random,tapi ini rumah barunya Kania!Kania SENANG banget,tapi juga agak sedih.Dia sangat sekali rindu teman-temannya yang lama.Tiba tiba,Kania nangis!Kania tidak mau orangtua dia tau dia tu nangis.Jadi,dia berpikir untuk pergi ke toilet.
    Tapi,pas waktu Kania lagi mau jalan ke toilet,dia lewatin adeknya,Lana,yang selalu kepo.
    “Eh,kenapa kak?”Lana tanyain Kania.
    “Diam Lana,gak ada apa apa kok!”Kania marahin Lana,”Aku gak akan kasitahuin elu!Kamu terlalu kepo!Kamu PASTI akan bilang ke Ayah dan Bunda!”sakin marahnya Kania dengan Lana,dia jatuhkan mermaid squishy dia.Ah,squishy jatuh!Pikir Kania,gak apa apa lah!Itu gak penting!
    Sekarang,Kania sudah sampai ke toilet.Dia coba buka pintunya,tapi susah sekali!Aduh,pikir Kania,kok susah sih!Akhirnya,dia sudah bisa buka pintunya.Kania LANGSUNG masuk ke dalam.Kania nangis dan nangis.Tapi,beberapa menit kemudian,gak ada orang yang mencari dia.Lho,kok gak ada yang mencariku?pikir Kania,ah,aku buka pintunya lagi saja,kan SIMPLE!
    Tapi,itu bukan simple.Ternyata,pintu ini susah di buka dari dalam.Dia coba terus,tapi tetap gak bisa.Dia coba dorong pintu dari pada narik pintunya.Masih gak bisa.Akhirnya,dia berteriak,
    “BUNDA,AYAH,TOLONG!!!SAYA KEJEBAT DI TOILET!”secepat mungkin,Bunda dan Ayah ngobrol sama Kania tentang apa yang terjadi.Kania ngobrol sama mereka,tapi sambil nangis.
    “Jangan takut Kania,help is on the way!”Bunda bilang.
    Pas waktu Kania sudah bisa keluar dari toilet,dia janji gak akan marah marah terlalu cepat.Untunglah,dia lebih baik sama Lana.
    “Aku akan menjadi SELOW sekarang!”Kania bilang ke orangtuanya setiap hari.
    -TAMAT-
    PS.Semoga kamu suka cerita moral ini!

    Liked by 2 people

    1. Waaw cerita yang unik tentang Kania yang cepet marah.. dari pengalaman temen apa pengalaman sendiri niih hehehe just kidding! Ceritanya bagus kok, menggambarkan keseharian kita dengan saudara, supaya kita baik2 dengan saudara sendiri dan ngga cepat marah yaa.. I like it! Btw ini kata kuncinya kenapa ngga disertakaan xD It’s still good though. Good job, Aila!

      +30 poin, congrats!

      Like

    1. Ah.. the keyword is Gold Fish 😀

      So basically this video explains about what book cover consists of. In the front cover we usually have book title, the name of the author, and the publisher’s logo. In the back cover we have story description, sometimes a short author bio, the publisher’s details (address, social media, etc), and barcode. In the book spine we have book title and the author name. There’s also book series information the front cover, and sometimes the series number (book 1 of a trilogy, etc).

      If you’d like to make your book cover in English it’s okay. All the videos are in Bahasa Indonesia, so if you have questions just let me know 🙂

      Like

  19. Kenang-Kenangan

    Di sini, di Jakarta, masih pagi. Meski masih pagi, jalanan sudah ramai dan penuh debu. Sedikit banyak, sepagi ini jalanan juga sudah macet. Sudah dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu lalang. Aku tersenyum mengingat kenangan selama tinggal di Jakarta. Selama 5 tahun terakhir ini aku berada di Bandung untuk kuliah.
    Aku tetap diam di tempatku sekarang, menunggu bus lewat. Sesekali terdengar klakson dari angkot-angkot di jalan. Aku tidak tau apa yang terjadi nanti, tapi yang jelas, aku tau persis ke mana aku akan pergi.
    Tak lama kemudian, sebuah bus berhenti di depanku. Bus jurusan Kalideres-Bogor. Aku segera masuk. Bus pun mulai melaju. Seiring melajunya bus, kenanganku akan tempat itu semakin banyak.
    Akhirnya, setelah beberapa lama, bus pun sampai di Terminal Baranangsiang. Di inilah aku harus berhenti. Aku membayar biaya perjalanan pada kernet bus, lalu meloncat turun. Dari halte bus, aku harus naik ojek untuk sampai ke tempat tujuan.
    Sekitar 15 menit kemudian, akhirnya aku sampai di tempat tujuanku. Hamparan gedung-gedung, toko-toko dan rumah-rumah berganti menjadi hamparan perkebunan teh yang hijau. Di muka gerbang aku berhenti berjalan, tatapanku menatap tulisan yang terdapat di gerbang,”SEKOLAH LUAR BIASA SINAR HARAPAN BANGSA.”. Berjarak beberapa meter dari gerbang, ada sebuah dinding. Dinding itu tampak penuh coretan, tapi sebetulnya itu adalah tanda tangan dari para siswa yang sudah lulus.
    Aku tertawa sendiri. Aku mendekati dinding itu dan kucoba untuk mencari tangan milikku. Setelah beberapa lama berkutat dengan dinding itu, aku menyerah. Barangkali tanda tanganku sudah tertimpa dengan tanda tangan yang lain. Suasana di sini masih sepi, karena jam pembelajaran telah dimulai dari 1 jam yang lalu.
    Tiba-tiba, bahuku ditepuk seseorang. Aku langsung berbalik. “Permisi, apa Bapak sudah punya janji?” ucap seorang satpam.
    “Oh, janji ya. Iya, saya ada janji dengan Pak Sony.” ucapku sambil membuka buku agendaku.
    “Baik, saya akan antarkan ke ruangan Pak Sony.” balas satpam.
    Aku hanya mengangguk. Setiap kali melewati koridor dan kelas-kelas, aku melihat diriku, 14 tahun yang lalu, ketika masih bersekolah di sini. “Hm…sama sekali tidak berubah dari dulu.” gumamku.
    “Ada apa?” tanya satpam. Ia menoleh padaku.
    “Eh, bukan apa-apa kok.” aku menggelengkan kepala.
    Akhirnya, kami berdua sampai di depan sebuah pintu ruangan. Yang kuingat, di balik pintu itu adalah ruangan kepala sekolah. ‘Ternyata kepala sekolahnya sudah berganti saja. Waktu memang berlalu dengan cepat.’batinku.
    Satpam itu mengetuk pintu, dan seorang pria setengah baya keluar. Aku tersenyum sembari menatapnya.
    “Allen Satmaja ya?” tanyanya padaku. Aku mengangguk. “Wah, dari tadi saya sudah menunggu anda. Sekarang, silakan ikut saya. Pak Rudi, silakan kembali ke pos satpam.” ucapnya.
    Satpam itu hanya mengangguk, lalu pergi. “Ayo, kamu ikut saya ke ruang kelas kesenian. Anak-anak pasti sudah lama menunggu Anda.”
    “Bapak tau tentang saya dari Naufal ya?” tanyaku penasaran. Dulu, Naufal adalah salah satu temanku di SLB ini. Ketika lulus, ia memutuskan untuk langsung menjadi guru olahraga di sini. Aku tidak tau kenapa Bu Linna—kepala sekolah yang dulu—mengizinkannya untuk menjadi guru di sini.
    “Betul, betul! Saya mendengar hal tentang Anda dari Mas Naufal.” Pak Sony mengiakan. “Katanya, Anda pandai dalam bidang kesenian. Karena itulah Mas Naufal menyarankan saya untuk menawari Anda untuk menjadi guru kesenian di sini!”
    Aku mengangguk-angguk. “Lalu, sekarang, bagaimana kabarnya Naufal, Pak?”
    “Ah…Dia,” langkah Pak Sony terhenti sebentar, ia menggaruk-garuk kepalanya. “Bulan lalu Mas Naufal berhenti bekerja di sini, katanya mau kembali ke kampungnya.” jawab Pak Sony.
    “Oh, begitu.”
    Tak lama kemudian, kami berdua sampai di ruang kelas kesenian. Aku tersenyum. Pak Sony menekan gagang pintu dan membukanya. Di dalam, tampak anak-anak dengan berbagai kecacatan mental sedang bercanda ria.
    Semua ini membuatku benar-benar merasa seperti berada di kelas ini, 14 tahun yang lalu, ketika aku baru saja diterima di SLB ini.
    ***
    14 tahun yang lalu…

    “Mulai hari ini Allen sudah boleh pulang ke rumah.” ucap dokter itu.
    Aku tetap berwajah masam. Ibuku merangkulku seraya berterimakasih pada dokter itu. Aku melepaskan rangkulan Ibu secara perlahan, lalu meraih kedua tongkat yang terletak di sisi tempat tidur.
    “Apa kamu tidak lebih baik mengenakan kursi roda saja, Allen?” tanya Sang Dokter.
    Aku menggeleng. “Aku masih bisa berjalan. Aku masih memiliki kedua kakiku tanpa kekurangan apa pun.”
    “Tapi, Dokter bilang, setelah kecelakaan itu, kakimu—”
    “Lumpuh. Iya, aku tau.” potongku cepat. Aku segera berjalan keluar ruangan, tidak ingin lagi mendengar percakapan mereka tentang kelumpuhan kakiku ini.
    Di luar kamar, ternyata Ayah sudah menunggu. Ketika Ibu sudah keluar, kami pun bersama-sama berjalan menyusuri koridor. Terkadang, ada orang yang melirikku atau menunjukku. Sebagian orang dewasa melihatku dengan tatapan prihatin. Aku tidak tau pasti apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti, aku benci dilihat dengan tatapan prihatin seperti itu.
    “Besok hari Kamis. Apa kamu mau ke sekolah, Allen?” tanya Ayah.
    “Tentu saja aku mau. Halangan apa yang menghalangiku untuk menuntut ilmu?” aku balas bertanya.
    “Tapi, Dokter Ryan tadi bilang kamu masih perlu istirahat.” bantah Ibu.
    “Ibu, 2 bulan di atas ranjang rumah sakit itu sudah menjadi istirahat yang cukup lama bagiku. Aku mau kembali ke sekolah.” jawabku.
    “Tapi, apa tidak apa-apa? Di sekolahmu ‘kan…” ucap Ayah.
    Aku tersenyum, mengerti apa maksud Ayah.”Ayah tenang saja. Teman-temanku baik semua kok, tidak ada yang jahat.” ucapku sambil tersenyum. “Aku sudah lama tidak bertemu mereka. Pasti pertemuan besok akan menyenangkan! Karena itu aku harus kembali sekolah!”
    Tampak, Ibu dan Ayah tersenyum pasrah mendengar keputusanku untuk kembali ke bangku sekolah.
    ***
    Keesokan harinya…
    Sejak tadi memasuki gerbang sekolah, semua pandangan orang-orang langsung tertuju padaku. Aku hanya menyenyumi mereka. Terkadang, ada guru yang bertanya tentang kondisiku. Aku hanya menjawab baik-baik saja.
    Setibanya di kelas, aku langsung dikelilingi teman-temanku. Kebanyakan dari mereka bertanya tentang detail kecelakaan itu. Hanya kujawab,’ketika sedang jalan, tiba-tiba ada mobil sedan melintas, sudah deh, aku ketabrak,’. Nothing special. Mungkin mereka tidak tau betapa tidak enaknya tinggal di rumah sakit dalam kurun waktu yang lama.
    Aku bersyukur, karena seperti perkiraanku kemarin, tidak ada teman yang menjauhiku hanya karena aku lumpuh. Semula kukira begitu.
    Saat istirahat siang, bersama 2 teman dekatku, Bintang dan Aldi, kami berjalan menuju kantin. Tapi di tengah jalan, mendadak kami dihadang kakak kelas.
    “Hei, kamu Allen ya?!” tanyanya sambil menarik kerah kemejaku.
    Aku nyaris terjatuh seandainya tidak dipegangi oleh Bintang dan Aldi. “Iya, aku memang Allen. Ada urusan apa Kak?” balasku pada kakak itu.
    “Kudengar kamu baru saja keluar dari rumah sakit bukan? Kakimu lumpuh ya?” tanyanya lagi.
    “Iya, memang kenapa?”
    “Kamu bisa menjadi mainan untukku.” Ia kemudian mendorongku. Kali ini aku benar-benar kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dan, sebelum kusadari, ia sudah menyiramkan segelas air ke kepalaku.
    Aku hanya menggeram kesal ketika ia berlari menjauh seraya tertawa-tawa. Dibantu oleh Bintang dan Aldi, aku kembali berdiri.
    “Lebih baik kita laporkan saja ulah kakak itu ke guru.” ucap Bintang.
    “Tidak usah. Nanti menambah masalah saja.” balasku.
    “Kamu tidak kenapa-kenapa, Allen? Ada yang bisa kubantu?” tanya Aldi.
    Aku menoleh padanya. “Tidak usah. Aku baik-baik saja kok.”
    Mereka berdua hanya saling pandang. “Ayo kita ke kantin saja. Kalian lapar ‘kan?” ajakku. Mereka mengangguk. “Maaf ya, karena aku kalian menjadi repot.” ucapku pelan.
    “Eh?” Bintang menoleh padaku.”Nggak apa Allen! Kami kan sahabatmu, iya ‘kan Aldi? Kami akan selalu membantumu!”
    Aldi tersenyum. “Iya, aku setuju dengan Bintang.”
    “Terima kasih.” balasku.
    ***
    Tidak ada kejadian serius hingga bel pulang sekolah berbunyi. Kuharap Ayah dan Ibu tidak tau tentang kejadian ini.
    Setibanya di rumah, tepatnya di beranda rumah, aku melihat Ibu berdiri sambil tersenyum berseri-seri.
    “Ah, akhirnya kamu pulang juga!” ucap Ibu.
    “Ada apa, Ibu?” tanyaku seraya melepas sepatu.
    “Berganti bajulah dulu, Nak. Setelahnya, Ibu mau membicarakan sesuatu. Ibu tunggu di ruang makan ya.”
    Aku lantas berganti baju. Di ruang makan, ternyata Ibu sudah menungguku, seperti yang tadi beliau bilang. Aku menarik salah satu kursi lalu duduk. “Ibu mau membicarakan apa?” tanyaku.
    Ibu tersenyum lagi.“Jadi begini, Ayah dan Ibu sudah sepakat, kamu akan masuk SLB saja ya?”
    Tentu saja aku kaget.“Kenapa harus masuk SLB Bu?”
    “Hm…Menurut Ibu dan Ayah, jika kamu masuk SLB, kamu akan lebih mudah berkembang. Di sana juga ada anak-anak yang memiliki kekurangan fisik, jadi pasti kamu akan merasa nyaman.”
    “Tapi Bu, di sekolah yang sekarang aku masih nyaman kok.” kataku cepat.
    “Oh ya? Meski pun begitu, tidak apa ya? Kamu masuk SLB saja ya?”
    “Aku tidak mau Bu,” aku menolak lagi.
    “Di sana pasti asyik kok.” bujuk Ibu lagi.
    Setelah berpikir beberapa saat, aku mengiyakan saja permintaan Ibu. Karena aku tau, menolak lagi pun tidak akan membuat Ayah dan Ibu berubah pikiran.
    “Kapan kita akan mendaftar ke SLB itu Bu?” tanyaku.
    “Besok pagi kita ke sana. Karena SLB itu terletak di Bogor, maka, mulai besok juga kamu akan tinggal di rumah Kakek.”
    Aku nyaris terjatuh dari kursi karena terkejut. “Tinggal di rumah Kakek?” aku bertanya ulang.
    Ibu mengangguk. “Kamu setuju?”
    Aku hanya mengangguk dan menghela napas pasrah.
    ***
    Setelah menaruh barang-barangku di rumah Kakek dan pamit, aku, Ayah dan Ibu segera melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan dari rumah tadi, aku hanya diam sembari melipat-lipat origami yang kubawa.
    “Kamu lapar Nak?” tanya Ibu.
    Aku hanya menggeleng.
    “Haus?” kini giliran Ayah yang bertanya.
    Aku menggeleng lagi.
    “Pemandangannya di sini bagus ya!” ucap Ibu.
    Aku melihat ke luar jendela mobil, memperhatikan hamparan hijau perkebunan teh sejauh mata memandang. Padahal tadi kami masih berada di Bogor bagian kota.
    Tapi, seindah-indahnya hamparan alam di sini rupanya masih belum bisa mengobati kekecewaanku karena harus sekolah di sekolah SLB. Memang sih, aku setuju, tapi entah kenapa sebagian hatiku yang lain memberontak, tidak ingin bersekolah di SLB.
    “Hei, kita sekarang sudah sampai lho!” ucap Ibu.

    Aku memerhatikan sekeliling lagi. Langitnya tampak biru, ada seekor elang yang terbang. Di depan ada sebuah bangunan besar. Ada gerbangnya juga.
    Aku meraih kedua tongkatku, lalu berjalan keluar mobil. Ibu membantuku untuk membuka dan menutup pintu mobil. Ternyata, ada seorang bapak yang menungguku di muka gerbang.
    “Selamat datang di Sekolah Luar Biasa Sinar Harapan Bangsa, Allen.” ucap bapak itu seraya mengulurkan tangannya padaku.
    “Bapak ini adalah Pak Rio, wakil kepala sekolah di sini.” Ayah menjelaskan.
    Aku membalas uluran tangan Pak Rio,”Namaku Allen.”
    “Ya, Pak Wildan, Bu Mitha, sekarang Allen akan ikut saya ya. Tidak apa ‘kan kalau ditinggal?”
    “Baik Pak. Saya percayakan Allen di tangan Bapak ya.” ucap Ayah. Lalu Ayah dan Ibu kembali menaiki mobil. Tak berapa lama kemudian, yang tertinggal hanyalah asap dan debu.
    ‘Aku tidak ada dengar cerita kalau Ayah dan Ibu akan langsung pulang setelah mengantarkanku ke sini!’ pikirku kesal.
    “Mmm…Allen? Ayo kita masuk.” ajak Pak Rio.
    Aku hanya mengangguk seraya menahan perasaan kesalku. Kami berdua berjalan di koridor-koridor yang hening, sepi. Tampak di beberapa kelas ada murid-muridnya dan mereka semua sedang belajar. Di lapangan basket, ada beberapa anak yang sedang bermain bola basket, tapi mereka semua memakai kursi roda.
    “Ada apa?”
    Aku menoleh ke arah Pak Rio. “Kamu memerhatikan anak-anak dari klub basket?” tanyanya lagi.
    “Mereka anak-anak klub basket?” rasa penasaranku terusik.
    “Ya begitulah.” Pak Rio tersenyum. “Kalau Allen suka apa?”
    “Melipat origami.” jawabku.
    “Itu salah satu origami buatanmu?” tanya Pak Rio lagi. Kali ini beliau menunjuk secarik kertas yang kugenggam. “Itu apa?”
    “Ini ikan mas.” Jawabku.
    “Oh begitu…” Pak Rio mengangguk. “Nah, sekarang, kita sudah sampai di kelas kesenian. Anak-anak di ruang kesenian pada jam-jam seperti ini sedang bermain ditemani dengan gurunya.”
    Kami berdua berhenti di depan sebuah pintu. Dari dalam ruangan terdengar suara-suara yang nyaring. Pak Rio membukakan pintu, dan serempak, anak-anak yang tadinya asyik bermain berhenti melakukan kegiatannya. Semua pandangan langsung tertuju padaku—bukan, lebih tepatnya memperhatikan kakiku. Aku hanya menatap kaku ke sekeliling ruangan. Seorang lelaki muda yang tadi berdiri agak jauh dari pintu segera menghampiri kami.
    “Murid baru ya?” sapanya ramah padaku.
    Aku hanya mengangguk kaku.
    “Namamu siapa?” ia bertanya lagi.
    Pak Rio segera mengambil alih pengenalan diriku. “Hmmm…jadi begini, ini Allen. Mulai hari ini dia akan mulai belajar di sini ya.” ucap Pak Rio. “Allen, ini Kak Dicky, penanggung jawab kelas ini.”
    “Iya.” aku mengangguk lagi.
    “Baiklah, Bapak tinggal dulu ya.” Pak Rio menepuk bahuku, lalu berbalik meninggalkan kelas kesenian.
    “Allen, kenalan dulu yuk, dengan teman-teman sekelas?” ajak Kak Dicky.
    Aku tetap diam di tempatku. Anak-anak lain masih sibuk memperhatikanku. Aku akhirnya memecahkan keheningan yang melingkupi ruangan.
    “Namaku Allen.” ucapku pelan. “Senang bertemu dengan kalian semua.”
    Anak-anak lain hanya menggaruk-garuk kepala, dan sebagian lagi hanya mengangguk-angguk.
    “Ya sudah” ucap Kak Dicky. “Allen mau duduk di mana?”
    Aku memerhatikan kelas kesenian ini dengan saksama. Lantainya dilapisi oleh karpet bulu, di beberapa sudut dipenuhi dengan pensil warna yang berhamburan dan kertas yang bertebaran. Di sisi lain ada juga clay dan beberapa siswa yang membentuk-bentuk clay. Beberapa anak ada yang melukis. Sekali lihat aku juga tau kalau mayoritas anak-anak di sini berusia sebaya denganku.
    “Hai!” tiba-tiba seorang anak lelaki berbadan kecil mengulurkan tangan padaku, raut wajahnya tampak ceria. “Salam kenal, namaku Hassan!”
    “Salam kenal, aku Allen.” balasku.
    Hassan tersenyum.“Yuk Allen, kita kenalan sama anak-anak lain!” ia menarik tanganku lalu berjalan cepat.
    “Tunggu dulu!”
    Bruk!
    Karena berjalan terlalu cepat, aku tersandung karpet dan terjatuh di atas karpet bulu. “Kamu tidak apa-apa? Sakit tidak?” dengan cepat Hassan meraih tanganku dan membantuku berdiri.
    “Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.” balasku. “Maaf, tapi aku tidak bisa berjalan cepat-cepat.” ucapku.
    “O,oh benar juga ya. Maaf ya.” ucap Hassan.
    Aku hanya mengangguk. Di pojok ruangan, tampak sekelompok anak yang sedang membuat clay.“Hei, ini Allen. Boleh kan ia ikut belajar di sini?” tanya Hassan. Salah satu anak lelaki menoleh ke arah teman-temannya, lalu menoleh ke arahku dan menyilang-nyilangkan jarinya.
    “Apa artinya?” tanyaku pada Hassan.
    “Mereka bilang, silakan bergabung.” jawab Hassan. “Mereka ini anak-anak tuna wicara dan tuna rungu.”
    “Oh begitu ya…” Aku pun menyalami mereka satu-satu, diiringi dengan Hassan yang juga memperkenalkan mereka seorang demi seorang.
    “Eh, Hassan, kamu juga membuat clay?” tanyaku.
    “Iya. Kata Kak Dicky, pada akhir tahun dan setelah UAS, khusus bagi anak-anak kelas kesenian akan ada pameran seni. Pameran seni itu adalah penilaian. Untuk anak yang karyanya paling bagus, akan ditaruh di ruang kesenian, dan sebagian lagi ditaruh di ruang kepala sekolah. Ini kan tahun pertamaku di sini, makanya aku mau membuat karya yang bagus.” jawab Hassan.
    “Apa ada seni memahat juga?” tanyaku lagi. “Atau membuat kerajinan tangan dari kayu begitu?”
    “Kalau seni memahat tak ada. Tapi kerajinan tangan ada, tapi khusus kerajinan tangan yang rumit baru dimulai saat kita kelas 5 nanti.”
    “Aku mengerti…” balasku seraya mengeluarkan secarik kertas origami dari dalam tas. Tak lama kemudian, aku sudah sibuk melipat-lipat kertas itu. Sebuah gambaran karya muncul dalam otakku.
    “Eh, Allen, kamu membuat apa?” tanya Hassan.
    Aku tersenyum misterius,“Rahasia.” jawabku.
    “Wah, Allen pandai membuat burung ya?”
    Aku dan Hassan langsung menoleh ke belakang. Tampak Kak Dicky berdiri di belakangku. Kertas origami yang tadi belum rampung diambil oleh Kak Dicky. Ia memperhatikan burungku dengan teliti.
    “Bagus sekali! Kamu pandai membuat origami ya?” tanyanya seraya mengembalikan origami itu ke tanganku.
    “Dari kecil aku sudah biasa melipat-lipat seperti ini.” ucapku masam.
    “Oh begitu! Hebat! Aku juga suka melipat-lipat origami lho!” balas kak Dicky. “Kamu masih punya origami? Kakak boleh minta kertasnya?”
    Aku mengambil selembar kertas dan memberikannya pada Kak Dicky. Dengan cepat ia melipat-lipat kertas itu dan kurang dari semenit, kertas itu sudah berubah menjadi bunga anggrek.
    “Ini untuk Allen.” ucapnya sembari menaruh anggrek itu ke tanganku.
    “Eh…” selama beberapa saat aku terpaku. “Ini kan, lipatan berbentuk bunga anggrek. Dan setahuku, pola ini ‘kan, membuatnya susah.”
    “Hehe, memang susah sih. Aku saja sampai berlatih 2 bulan untuk membuat bunga anggrek yang bagus seperti ini.” Kak Dicky tersenyum. “Kalau Allen? Kamu bisa membuat apa saja?”
    “Em….aku bisa buat cocktail dress, dulu sempat diajari oleh Bibi.” aku berusaha mengingat-ingat. “Aku bisa membuat burung bangau, muka kucing…lalu…apa lagi ya….”
    “Sepertinya asyik. Nanti kita berdiskusi lagi tentang origami ya.” Kak Dicky mengacak-acak rambutku. “Oh ya, bagaimana dengan Hassan, bagaimana clay yang sedang kamu buat?”
    “Nanti tinggal dibakar saja Kak.”
    “OK. Sudah bagus…”
    Aku memerhatikan Kak Dicky yang sedang memeriksa karya-karya anak lain. Dalam hati kecilku, tersirat sedikit firasat bahwa aku dan Kak Dicky sedikit banyak pasti cocok.
    ***
    Saat istirahat…
    “Di belakang gedung ada tempat bagus lho. Kamu mau makan di sana?” tanya Hassan sembari berdiri.
    “Aku tidak bawa bekal, tapi aku ingin lihat tempatnya.” jawabku.
    Hassan mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah kotak makan berisi risoles. “Nanti akan kubagi. Kamu suka risoles ‘kan?”
    “Iya.”
    Lalu kami berdua pun keluar dari kelas dan menyusuri koridor yang lumayan ramai. Ada anak-anak yang hilir mudik ke kantin untuk jajan. Begitu pula lapangan olahraga, ada anak-anak yang sedang bermain.
    Ternyata, di belakang gedung sekolah ada sebuah taman yang dilengkapi dengan beberapa buah gazebo. Ada sebuah air terjun buatan lengkap dengan kolam ikan. Satu dua gazebo diisi oleh anak-anak. Ada yang mengobrol dengan temannya, ada yang makan, ada juga yang sedang membaca buku.
    “Eh, itu Kak Dicky!” Hassan menunjuk salah satu gazebo. Tampak seorang pemuda sedang membaca buku di situ.“Allen, kita makan di situ yuk!”
    “Hm, terserah…”
    Aku dan Hassan segera pergi ke gazebo itu.“Kakak! Boleh gabung di sini tidak?” sapa Hassan dengan ceria.
    Kak Dicky menutup buku yang dibacanya,“Wah, Allen dan Hassan. Mau gabung ya? Ayo!”
    “Terima kasih Kak.” ucapku pelan.
    Kak Dicky tersenyum.“Ya, sama-sama.”
    “Allen, ayo makan!” Hassan membuka kotak bekalnya dan mengulurkannya padaku. Aku mengambil satu risoles dan berterimakasih.
    Setelah kenyang, aku segera mencuci tangan dan kembali ke gazebo tadi. Hassan belum selesai makan, sementara Kak Dicky masih membaca buku. Aku lalu duduk di tempatku tadi, dan mengeluarkan secarik kertas origami dari saku celana. Dengan cepat, kulipat kertasnya menjadi sebuah bangau.
    “Allen, kamu suka melipat kan?” mendadak, Kak Dicky bertanya padaku.
    Aku menoleh padanya. “Iya, memang kenapa?”
    “Hm, sekitar 2 bulan lagi, akan diadakan lombaketerampilan melipat di sekolah kita. Nanti juga akan ada pelajar dari sekolah-sekolah lain. Kamu mau coba ikut? Kalau mau, akan kudaftarkan ke kepala sekolah.”
    Aku menimbang-nimbang selama beberapa saat. Lomba keterampilan melipat? Maksudnya membuat origami? Sepertinya asyik. “Boleh Kak. Nanti aku beritau Kakekku dulu ya Kak.” ucapku memutuskan.
    Kak Dicky tersenyum dan mengacak-acak rammbutku. “Oke, nanti kudaftarkan ya.”
    “Oh ya Kak, apa ada biaya untuk lombanya?”
    “Tenang saja, lombanya tidak dipungut biaya kok.”
    ***
    Sesampainya di rumah Kakek…
    “Assalamu’alaikum! Kakek! Aku sudah pulang!” ucapku seraya membuka pintu rumah.
    Kakek muncul dari samping kebun. “Wa’alaikumussalam. Hooo…Allen sudah pulang ya…Kebetulan, tadi Nenek baru selesai memasak. Kamu makan duluan ya, Allen.”
    Aku mengangguk. Setelah ganti baju, aku bergegas ke dapur dan menemukan sepiring tongkol balado dilengkapi dengan lalapan. Di sampingnya ada sebakul nasi dan beberapa tumpuk piring.
    Aku mengambil makanan secukupnya dan mulai makan. Kakek bergabung tak lama setelah aku mulai makan.
    Setelah selesai makan, aku membereskan piring dan kembali ke meja makan. “Kakek, ada yang mau kubicarakan sebentar…” ucapku.
    “Iya, apa itu?” tanya Kakek.
    “2 bulan lagi ada lomba kesenian di sekolah, aku mau ikut lomba itu. Kata kakak pembimbing kelasku, ia akan mendaftarkanku ke kepala sekolah. Apa Kakek setuju?”
    “Lomba keseniannya pakai biaya tidak?”
    “Tidak kok. Kata kakak pembimbingnya, tidak dipungut biaya.”
    “Oke. Kamu boleh ikut lomba itu Allen. Berjuanglah.”
    Aku tersenyum gembira seraya memeluk Kakek. “Terima kasih banyak Kek!”
    ***
    Setelah hari itu, tidak ada yang kulakukan selain berlatih habis-habisan untuk mempersiapkan diri. Terkadang, Kakek menemaniku saat aku sedang berlatih.
    Aku senang sekali, karena dalam kurun waktu sebulan ini aku sudah berhasil membuat origami-origami yang dulu belum bisa kubuat. Tenggat waktu lomba tinggal sebulan lagi.
    ***
    Sebulan kemudian…
    “Allen, ini Ibu menelepon!” ucap Kakek saat aku sedang membaca di ruang tamu. Aku menoleh pada Kakek. Setelah memberi pembatas di buku yang kubaca, aku segera mengambil alih telepon.
    “Bagaimana kabarmu Nak?” tanya Ibu begitu aku menyapanya.
    “Baik Bu. Kalau Ibu sendiri?” aku balas bertanya.
    “Kabar Ibu juga baik. Oh ya, bagaimana keadaan di sekolah? Apa asyik?”
    “Asyik sekali Bu! Aku masuk ke kelas kesenian, jadi setiap hari hanya belajar tentang SBK. Tapi kadang-kadang juga belajar materi UN. Penanggung jawab kelasku namanya Kak Dicky, dia juga suka membuat origami sepertiku!”
    “Pasti seru ya. Bagaimana dengan teman-teman sekelasmu?”
    “Teman-teman sekelas? Oh, mereka semua asyik-asyik lho Bu! Aku sudah diajari beberapa kode bicara orang tuna rungu dan tuna wicara!”
    “Oh begitu. Jadi, sekarang sudah asyik ya? Kamu betah kan sekolah di sana?”
    “Iya, aku betah kok! Oh ya Bu, kata Kak Dicky, sebulan yang lalu dia memberitau aku kalau bulan depan ada lomba keterampilan melipat origami. Ibu dan Ayah ke Bogor ya,” pintaku.
    “Tentu saja Allen. Kapan lombanya akan dimulai?”
    “Tanggal 21 Maret.”
    “Oke. Nanti Ayah dan Ibu akan ke sana.”
    “Terima kasih, Bu!”
    ***
    21 Maret…
    Halaman sekolah tampak ramai. Suasananya memang ramai, tapi asyik dan menyenangkan. Seluruh penjuru sekolah dipenuhi dengan hiasan yang dibuat para murid dan guru sehari sebelumnya. Aku berada di dalam aula, bersama dengan beberapa anak lain aku mempersiapkan persiapan lomba keterampilan melipat origami.
    Tak lama kemudian, akhirnya persiapan pun selesai. Aku menghela napas lelah, keluar dari aula dan mencari-cari sosok Ayah dan Ibu di antara puluhan pengunjung. Dan mereka tidak nampak. ‘Mungkin mereka masih di jalan,’ batinku.
    Beberapa menit berselang, akhirnya tibalah lomba keterampilan origami. Aku, dan perserta lainnya memasuki aula. Panitia perlombaan, termasuk Kak Dicky, membagikan kertas-kertas origami pada para peserta masing-masing lima lembar.
    “Allen,” Kak Dicky menepuk pundakku lalu mengangsurkan lima kertas origami. “Berjuanglah. Gunakan kekhasan dirimu, oke?”
    Aku mengangguk dan tersenyum.
    “Baiklah. Kita mulai lombanya ya. Waktunya dimulai dari jam delapan pas sampai jam sembilan. Temanya bebas, asal dibuat sendiri. Jika ada yang kekurangan kertas, silakan minta kembali pada panitia. Yak, mulai dari sekarang!” ucap salah seorang kakak panitia melalui mik.
    Aku langsung menekuri kertasku, lalu mulai membentuknya. Aku lihat anak-anak lain juga sama denganku, masing-masing sedang mengerjakan lomba. Setelah beberapa saat, aku melirik ke arah jendela aula. Pandanganku kembali mencari sosok Ayah dan Ibu. Tapi mereka sama sekali belum nampak. ‘Apa mungkin mereka sedang melihat-lihat ya, atau mungkin mereka sekarang sedang ke rumah Kakek?’ pikirku lagi.
    Aku melanjutkan lipatan origamiku dan berusaha untuk berkonsentrasi. Beberapa kakak panitia terkadang berkeliling ruangan dan mengecek karya-karya kami. Terkadang ada anak yang frustrasi, ada juga anak yang berkali-kali gagal membuat polanya. Akhirnya aku selesai mengerjakan karyaku.
    Aku memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sebentar lagi jam sembilan, deadline lomba. Aku pun menunggu sang Waktu yang berjalan dengan lambat. Akhirnya…
    “Sudah jam sembilan! Selesai atau tidak selesai silakan kumpulkan di sini! Karya-karya kalian akan dinilai oleh para juri, dan pengumuman juara akan diumumkan pada jam setengah sepuluh! Yang sudah meletakkan karya, boleh keluar dari aula.” ucap salah seorang juri.
    Seluruh anak-anak, termasuk aku, langsung membawa karya masing-masing ke tempat yang sudah ditentukan. Kami semua lalu keluar dari aula. Di luar aula, aku segera mencari Ayah dan Ibu.
    “Allen!”
    Mendengar namaku disebut, aku langsung berbalik. Terselip di antara barisan pengunjung yang ramai, Ayah dan Ibu bergegas menuju ke arahku.
    “Ayah! Ibu!” aku berteriak dan berlari ke arah mereka. Agak susah juga sih, kan aku masih pakai tongkat. Aku langsung memeluk keduanya erat-erat, bukti bahwa selama dua bulan ini aku sangat merindukan keduanya. Mereka berdua balas memelukku.
    “Allen…” Ayah mengelus-elus kepalaku, sementara Ibu masih memelukku. “Aku kangen sama Ayah dan Ibu!” ucapku.
    “Kabarmu baik Nak?” tanya Ibu.
    Aku mengangguk seraya tersenyum lebar. “Ayah, Ibu, ayo lihat-lihat sekolahku. Di sini asyik sekali lho!”
    “Ayo!”
    Lama berkeliling dengan Ayah dan Ibu, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. “Ayah, Ibu, ayo ikut aku ke aula. Akan ada pengumuman pemenang lomba keterampilan melipat origami.” ucapku seraya menarik tangan keduanya.
    Sesampainya di aula, ternyata juga sudah dipadati dengan pengunjung juga. “Ah, tambah ramai saja…” gumamku.
    “Baiklah, sekarang waktunya pengumuman pemenang lomba keterampilan melipat origami.”
    Nama demi nama disebutkan, mulai dari Juara Harapan III hingga Juara 1, namun namaku belum ada disebut. Hingga akhirnya…
    “Pemenang dengan kategori karya yang paling disukai adalah Mina Handari dari SD Bungantaran 1, pemenang dengan kategori karya paling unik adalah Kartika Indrajauhari dari SDN 7, pemenang dengan kategori karya paling sederhana adalah Hadi Thamrin dari SD 05, dan pemenang dengan kategori karya paling khas adalah Allen Satmaja dari SLB Sinar Harapan Bangsa.”
    Aku terlonjak. Bersama para pemenang lainnya, aku maju ke panggung. Juara Harapan III hingga Juara 1 dapat piala, tapi istimewa, pemenang kategori mendapat piala juga sertifikat. Setelah penyerahan piala dan sertifikat, diadakan acara foto bersama.
    Aku sungguh bahagia.
    ***
    Seusai lomba…
    “Allen! Allen!”
    Aku melihat ke belakang, dan melihat Kak Dicky berlari-lari ke arahku. Aku menghentikan langkahku. “Ada apa Kak?”
    “Apa kamu tau kenapa kamu menang dengan kategori karya yang paling khas?” Kak Dicky balas bertanya sembari mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
    Aku menatapnya dengan penasaran. “Memang kenapa Kak?”
    “Karena, salah satu juri yang tadi menilai punyamu tau, kamu paling suka melipat origami berbentuk ikan mas. Makanya ia merekomendasikan karyamu untuk kategori karya yang paling khas. Selamat ya!” ucap Kak Dicky.
    Aku tersenyum,”Sama-sama Kak.”
    ***
    Sudah 14 tahun yang lalu, pikirku. Sekarang, aku bukan lagi anak kecil. Aku sudah berumur 20 tahun. Dulu aku adalah siswa di sini, dan sekarang, aku adalah guru di sini.
    “Kakak! Kakak!”
    “E~Kakak melamun ya…?”
    “Kak Allen memikirkan apa tuh!”
    Aku tersadar dari lamunanku. Di hadapanku, murid-murid kelas kesenian sedang menatapku dengan tatapan penasaran.
    “Kak Allen, Kakak kenapa?”
    “Ah, bukan kenapa-kenapa kok. Hanya ingat ketika dulu aku bersekolah di sini.” jawabku sambil tersenyum. Aku menatap kakiku yang tidak lagi lumpuh. Ayah pernah mengajakku untuk terapi. Dan itu sudah lama sekali.
    Sudah 14 tahun berlalu sejak aku pertama kali diterima di sini. Sekarang, aku sudah menjadi pengajar di sini. Dan sekarang, aku merasakan kebahagiaan karena menjadi seorang pendidik. Aku memperhatikan sebuah karya yang tertempel di dinding kelas kesenian.
    Itu adalah lipatan origami.
    Lipatan origami ikan mas.
    Origami milikku.
    ***

    Liked by 2 people

    1. uuhhh T_T *ngelap air mata

      Waktu pertama baca aku sempet mikir si protag nya cewe, eh ternyata cowo 😀 btw si kak Dicky itu lumpuh juga?

      Baca cerita ini tuh kayak jalan di lorong terowongan yang panjang, menuju cahaya di depan. Tulisannya rapi, ritmenya kayak ngikutin deburan ombak, pasang-surut.. crashing into a foreign shore, trying something new, ended up liking it… feel nostalgia nya dapet banget. Aku sukaaaa ❤ Sebuah cerita manis yang ditulis dengan kesungguhan hati, a very good job!!

      +50 poin, congrats!

      Like

  20. PENYESALAN IKAN MAS
    Sore itu, dua sahabat bernama ikan Mas dan ikan Koi sedang berdebat. Perdebatan dimulai karena hal yang sepele. Tadi pagi, ibu ikan Mas mengingatkan, untuk tidak bermain di tepi sungai. Namun ikan Mas tidak percaya pada ibunya. Jadi, ia mengajak ikan Koi untuk membuktikan bahwa tidak ada pemburu ikan di tepi sungai.
    “Bukankah ini adalah sungai di dalam hutan lindung?” ujar ikan Mas.
    “Tapi tetap saja ikan Mas.. di tepi sungai itu rawan pemburu..” protes ikan Koi.
    “Apakah karena kau takut dengan pemburu?” ejek ikan Mas, sembari menantang ikan Koi.
    “Terserah kaulah, kalau kita tertangkap, salah kau ya!” Jawab ikan Koi, lalu ikan Mas hanya mengangguk.
    Saat seru-serunya bermain, mereka tidak menyadari datangnya pemburu ikan. Akhirnya, masuklah mereka kedalam perangkap pemburu tersebut. Mereka sangat menyesal bermain di tepi sungai, terlebih ikan Mas yang membantah perkataan ibunya dan sahabatnya.
    Beruntung, datanglah seorang peyelamat, yaitu polisi hutan yang sedang memeriksa hutan, dan menemukan bapak pemburu membawa ikan Mas dan ikan Koi. Polisi pun memarahi pemburu dan mereka dibebaskan. Mereka pun bahagia karena telah dibebaskan, dan segera kembali ke rumahnya masing-masing sembari mengucapkan, “Alhamdulillah.. kita bebas!”. Mereka pun berjanji tidak akan membantah perkataan orang tua lagi.

    Liked by 3 people

    1. Wah cerita yang bagus athia, si ikan koi udh tahu bahaya tp tetep pergi ke sana yak krn terpengaruh si ikan mas 😛 untungnya ada pak polisi.. pak polisinya baik juga cuma marahin si pemburu xD a nice short story. Goos job, athia!

      +50 poin, congrats!

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s