Tugas 9 – Josephine

Jenis tema cerita: Kisah nyata

Petunjuk cerita: Jump suit, Mama, Dunia

Petunjuk gambar: Jump suit, Blue, Yellow

Judul cerita: I am Your’s Joy – Series 2

Author: Josephine

Sampul depan:

20190905_193314_0000.png

Sampul belakang:

20190905_193315_0001.png

Punggung buku:

20190905_193315_0002-01.jpeg

Advertisement

Tugas 10-Nada

Tema : Fantasi

Petunjuk Gambar : Kuda, Naga

Petunjuk Cerita : Naga

Judul : Naga Semangka

Penulis : Nada

Sampul depan:

Sampul Belakang

Punggung Buku

Cerita:

NAGA SEMANGKA

“Assalamu`alaikum…” Suara Tiwi mulai terdengar, pertanda akan pergi.
“Wa`alaikum salam. Hati-hati ya ma..!” Si kembar menjawab salam.
Tinggallah mereka berdua di dalam rumah. Chiki melakukan hobinya.
Chiko hanya menonton Chiki yang sedang menumbuk-numbuk daun dan buah-buahan kecil yang tidak terlalu dia kenal.
“Chiki…Chiko…” Terdengarlah suara yang sudah mereka kenal.
“Eh..siapatuh?” tanyak Chiko sembari melihat kebelakang.
“Oh..Mimi..kirain siapa tadi,” kata Chiko. Oh..ternyata Mimi, seekor anak kucing.
Mimi melihat tumbukan itu dengan serius, Entah apa yang dipikirkannya. Setelah beberapa menit, Mimi mulai bertatanya.
“Untuk apa yang kamu tumbuk itu?” Mimi mulai bertanya.
“Ini obat,untuk orang berobat,” kata Chiki yang tak henti-henti menumbuk tumbuhan tersebut.
Setengah jam kemudian…
Satu persatu pekerjaan mereka sudah selesai. Mereka mulai bosan dengan pekerjaan mereka sekarang ini,terlebih lagi Chiko dan Mimi. Mereka pun segera keluar untuk bermain. Mimi memberi ide agar bermain petak umpet. Mereka pun Akhir nya bermain petak umpet.
Setelah lima kali putaran, Mimipun Akhinya pulang karena sudah jam setengah dua.
“Aku pulang dulu ya..,kalau Aku main panas-panasan,nanti sakit,” kata Mimi. “Mimi memang anak yang disiplin gak seperti Chiko, sebentar-bentar main,” kata Chiki dalam hati nya.
Chiko mengajak Chiki entah kemana.
“Kamu mau ngajak Aku kemana Chiko?kok jauh kali?” tanyak Chiki.
“Tenang saja,ini dekat rumah kita,” kata Chiko santai sembari menunjuk ke arah rumah mereka.
Ternyata dia ingin mengambil buah semangka.
“Ini kan jam dua,waktu nya kita makan,” kata Chiko.
Chiko mengambil buah semangka yang agak busuk. Mereka mematuk-matuk buah semangka tersebut untuk memakan seekor ulat. Patukan mereka itu sangat dalam karena setiap mematuk, si ulat mengikuti kearah lobang yang dipatuk. Mereka terus mengejar ulat dengan terus mematuk. Ketika sedang mematuk..,Tiba-tiba…
Huaa…!!
Chiki dan Chiko meluncur entah kemana. Mereka pun sampai di permukaan yang tak mereka kenal sedikit pun.
“Ada manusia rupa nya disini.” Suara menyeramkan itu membuat Chiki dan Chiko takut.Si kembar itu menghadap ke belakang.
“Huaa..!!Naga..!!Siapa manusia??” tanya mereka.
“Kalianlah, siapa lagi kalau bukan kalian?” kata Naga itu.Chiki dan Chiko melihat sayap nya.
“Ya Allah,kok badan kita berubah menjadi seperti manusia??” sontak mereka berdua serempak.
“Sudah jangan banyak alasan, Sekarang waktunya kalian menjadi makanan ku siang ini” kata Naga itu,Chiki dan Chiko langsung terkejut,Si kembar itu pun lari sekuat tenaga.
Dan Bruk..
Chiki dan Chiko menabrak Seekor kuda.
“Sorii…,” kata Chiki.
“Tidak apa-apa,sekarang kau naik di punggung ku,” kata kuda itu.
“Aku ini kuda baik,” lanjut kuda itu lagi. Tunggu apa lagi? Naga sudah dekat. Mereka pun menaiki punggung kuda putih itu.
“Nama kau siapa?” tanya Chiko.
“Namaku Hermex seperti yang ada di punggung ku itu,” jawab kuda itu (Hermex).
Hermax adalah seekor kuda jantan yang suka berlari kencang sehingga membuat Chiko dan Chiki harus berpegangan kuat. Warna bulu nya putih,di punggung nya ada tulisan Hermex. Mereka akhirnya sampai disebuah tempat yang seperti perumahan. Rumah-rumah disana sangatlah aneh. Bentuk nya sama. Bulat dan bulat lonjong.
“kita aman di sini?” tanya Chiki dengan wajah cemas.
“Tidak,” kata Hermex sambi menggeleng.
“Kalau begitu kita pindah dari sini,” pinta Chiko.
“kalau kami pindah,dia selalu mengikuti kami. Jadi kami nggak bisa pindah,” kata Hermex.
Mereka memasuki rumah yang sangat besar.Itu adalah rumah nya Hermex. Mereka mengobrol bersama.
“Oiya,kenapa kita bisa jadi manusia?Aku tidak pernah memakai topi secantik ini, aku juga tidak pernah memakai jilbab,dan juga baju kembang seperti putri,” kata Chiki.
“ini adalah Dunia semangka ajaip,” kata Hermex.
“Yang seperti aku bilang tadi, kita harus pindah,” kata Chiko.
“Bagaimana caranya?” tanya Hermex.
“Jika kalian ingin mengucapkan sesuatu kalian berbisik-bisik ya..”lanjut Hermex.
Mereka mulai berpikir keras.
“Bagaimana kalau kita pindah di malam hari” Usulan dari Chiko itu sangat bagus. Akan tetapi, ada satu penghalang. Apakah itu?
“Itu memang ide terbagus. Cuman..,kau itu bermadsud pindah ketika naga itu tidur kan?”Tanyak Hermex.
“Iya,maksudku warga-warga pindah secepat nya ketika malam hari,” jawab Chiko.
“Dia berjaga-jaga di malam hari,dan tidur di sore hari”kata Hermex.
“Kalau begitu, Kita pindah di Sore hari saja,” kata Chiki. Semua mengangguk.
“Perkenalkan namaku Nadila” kata seorang gadis perempuan. Chiki dan Chiko pun berkenalan bersama Nadila.
Semua Warga-warga membereskan Barang-barang yang ingin dibawa pindah. Hermex dan Chiko berjaga –jaga ketika ada Naga. Chiki dan Nadila membantu warga membereskan barang-barang. Sore pun tiba. Warga-warga sudah siap untuk pindah. Kali ini mereka memakai kendaraan seperti kuda,keledai,sapi,mobil,dan honda.
Kali ini mereka berhasil pindah. Tempat nya sangat Aman. Mereka membangun rumah yang sangat besar. Disitulah mereka tinggal bersama. Mereka mengobrol bersama. Mereka menyantap makanan dengan senang keculi Nadila.
“Nadila kamu kenapa?kamu sakit ya?” tanya Chiki. Perkataan itu membut semua orang diam melihat Nadila. Nadila tetap tidak menjawab.
“Aku tidak sakit,Aku hanya ingin membunuh Naga itu karena Naga itulah yang membunuh ibuku. Aku mohon kepada kalian, kita harus berperang membunuh Naga itu,” kata Nadila. Semua setuju dengan permintaan Nadila.
“Baiklah kami mau menolong kamu, maksud ku kami mau berperang membunuh Naga itu,” kata Chiki.
“Hari apa kita melawan Naga itu?” tanyak Hermex.
“Lima hari lagi” jawab Chiko.
Mereka berlatih semampu mungkin. Sebenarnya mereka adalah orang yang paling pemalas. Karena akan ada peperangan, mereka pun mendadak jadi rajin.
***
Keesokan hari nya…
Kring…Kring…Kring…
Suara lonceng berbunyi. Lonceng itu tidak berhenti berbunyi jika mereka tidak segera bangun. Nadila membangunkan Chiki,Chiko,dan Hermex lebih awal. Chiki dan Chiko merenung di kamar mereka. Mereka memegang sebuah potoTiwi dan mereka berdua sambil menangis. Mereka membaca tulisan di dalam Foto itu. Chiki dan Chiko kesayangan ku. Mereka membaca tulisan hampir tak bersuara.
“Sabar ya….Kami janji akan kembalikan kamu kenegeri kamu semula setelah peperangan ini,” kata Hermex sambil menggosok gosok punggung Chiki dan Chiko. Mereka pun pergi ke lapangan untuk melanjutkan latihan mereka hari ini.

Setelah Beberapa hari mereka berlatih. Peperangan pun di mulai. Mereka menyiapkan pasukan yang sangat banyak. Semua gagah dan kuat. Seperti ingin membunuh seribu singa. Berepa menit setelah itu mereka sampai di kerajaan Naga.
“Oh…ini lah yang aku tunggu dari dulu,HAHAHA….!!! Kalian tidak akan bisa mengalahkan ku,kalian pas…” Tiba-tiba perkataan Naga terputus karena Nadila menyabet pisau kearah Kaki Naga. Nadila geram mendengar perkataan Naga. Nadila membuat Naga itu marah. Bukan marah karena kesakitan tetapi,karena Nadila memotong pembicaraan nya. Naga itu langsung mengejar Nadila. Nadila terkejut, dia pun berlari sekuat tenaga. Naga itu mencakar Nadila. Salah satu dari pasukan menembak kaki Naga itu. Chiki yang memakai baju seperti putri, membawa Nadila pergi.
“Rencana….!!” kata Panglima yang Gagah, yaitu Chiko.
Beberapa pasukan langsung mengambil tali yang berada di dalam plastik. Mereka mengikat kaki Naga. Naga itu terduduk. Chiko pergi menuju Nadila yang sedang diobati oleh seorang gadis yang bertugas mengobati.
“Kamu itu kelewatan, seharusnya kamu tidak menyabet kaki Naga itu,” kata Chiko.
“Maaf,tapi Dia menyakiti hatiku” kata Nadila merasa bersalah.
“HAAAA…….!!!! Aku tidak mau diikat……!!” Teriak Naga itu.Tiba-tiba tali terputus. Naga itu membuat semua orang mati. Semua hampir habis dimakan dan dicakar. Ada juga yang mati karena hanya melihat Naga mengamuk.
“DI MANA KAU NADILAAAA……..!!!!!” kata Naga itu. Chiko pun memerintahkan pasukan agar menjaga Nadila. Naga itu melihat Nadila. Karena Naga itu besar Dan tinggi, Naga itu mendapat kan Nadila. Dia melempar Nadila kearah istananya.Tiba-tiba saja Nadila menghilang. Melihat Nadila menghilang entah kemana, Chiki menjadi marah, dia langsung menembak anak panah sampai lima kali. Chiko melihat kearah orang yang sudah kesakitan. Hanya tinggal Mereka bertiga,yaitu Chiki,Chiko,dan Hermex. Chiko pun langsung meloncat ke arah Naga sambil menyabet-nyabet pisau kearah Naga. Hermex mengikat kaki Naga.
“HUAAA!!” Naga itu mengeluarkan suaranya yang terakhir sambil terduduk. Mereka mendekati naga dengan hati-hati. Chiko memeriksa naga itu apakah sudah mati atau nggak.
“Naga ini masih hidup,” kata Chiki. Naga itu membuka matanya. Chiki terkejut.
“Maaf kan aku Ya!!” kata Naga itu. Chiki langsung tersenyum mulihat Naga itu mengakui kesalahan nya.
“Iya” setelah mendengar jawaban Chiki, Naga menutup matanya.
“Naga…!!Bangun naga…Bangun…!” kata Chiko sambil menangis. Chiki Langsung memeriksa Naga itu lagi.
“Naga ini sudah mati” kata Chiki merasa sedih juga.
“Kenapa kalian Sedih? Seharus nya kita gembira naga ini mati. Ayo gembira…!!Kita menang…!!!” kata Hermex sambil mengangkat tangan Chiki dan Chiko.
“Dia sudah mengakui kesalahan nya, kita tidak boleh gembira kali ketika ada mahkluk yang mati,” kata Chiki dan Chiko.
“Tapi Dia itu jahat sekali..!!” kata Hermex.
“Walau pun Dia jahat sama kita,tetapi kita harus ikut bersedih juga. Coba kamu digitukan juga, pasti kamu sakit hati juga kan?” kata Chiki.
“Baiklah Aku ikut bersedih juga. Oiya kita Cari Nadila Yuk!” kata Hermex.
Mereka pun memasuki Kerajaan Naga tersebut. Mereka menemukan dua persimpangan, mereka menjadi Bingung.
“Chiko…Ini kan ada dua simpang,bagaimana kalau aku pergi ke kiri, kau dan Chiki ke kanan” kata Hermex. Semua mengangguk setuju.
Chiki dan Chiko berjalan lurus, mereka memasuki sebuah ruangan. Mereka melihat seorang gadis yang telah mereka kenal yang terbaring di atas kasur.
“Itu Nadila” kata Chiki sambil menunjuk ke arah gadis tersebut.
Mereka mengobati Nadila,Beberapa manit setelah itu, Nadila pun sadar. Chiki langsung memeluk Nadila.
“Syukur lah kau sudah sadar,Nadila”Kata Chiki sambil memeluk Nadila, Nadila hanya tersenyum sedikit. Dahi nya mengeluarkan garis seperti masih bingung.
“Aku di mana?Kenapa aku Seperti ini?Apakah naga sudah mati?Dimana Hermex?”tanyak Nadila.
“Kau di kerajaan naga,Kau dicakar Naga Semangka” kata Chiko. Chiki mengangkat kepalanya.
“Naga itu sudah mati, Hermex menunggu di sana” kata Chiki.
“Syukur lah”Kata Nadila.
Mereka meninggalkan Ruangan itu. Mereka bertemu dengan Hermex. Mereka berempat keluar dari kerajaan itu. Tiba-tiba saja Naga itu tidak ada lagi. Hari sudah mulai gelap pasukanpun pulang bersama.
Di desa itu, Chiki dan Chiko memasuki kamar mereka dan melihat kembali foto Tiwi dan anak-anaknya.
“Seperti yang kami janjikan tadi pagi,kami akan mengantarkan mu ke negeri asal mu”Kata Hermex.
“Kamu saja yang ngantar Dia”Kata Nadila.
Keesokan hari nya…..
Seperti biasanya lonceng selalu berbunyi. Chiki dan Chiko bangun lebih awal. Mereka langsng mandi Setelah mandi, mereka lang sung menaiki punggung Hermex. Mereka bertiga pergi.
“Selemat tinggal…”kata si kembar itu.
“Terimakasih telah menyalamat kan kami dari Naga,Selamat Tinggal juga..”
“Iya,Sama-sama” kata Chiki.
Semakin jauh mereka semakin menghilang. Mereka melawati Kerajaan Naga.
“Siap-siap,tutup mata kalian”perintah dari Hermex langsung dilakukan. Chiki dan Chiko menutup matanya.
“Sekarang kalian boleh membuka mata kalian”Kata Hermex. Ketika mereka membuka mata mereka.Tiba-tiba…
Mereka terkejut melihat mereka berdua menaiki punggung boneka kuda. Di punggung nya ada tulisan Hermex.
“ini mimpi atau nyata?”tanya mereka. Mereka pun membawa boneka itu pulang dan menceritakan kepada Tiwi.

Tugas 10- Jaihan

Tema: Cerita fantasi

Petunjuk Cerita: Naga, Dandelion, panah

Petunjuk gambar: Naga dan Istana

Judul: Dandelion

Nama penulis: Dzakiyyah Jaihan

Kesan: Alhamdulillah, sudah selesai tugas sepuluh. Terimakasih kepada teman-teman yang selalu membagi tips dan ilmunya. @umminamira dan @aghasyka. Jaihan tunggu proyek berikutnya ya, kak Sari (Cerivitas)..

Sampul depan:

Sampul belakang:

Punggung Buku:

Tugas 9- Jaihan

Tema: Acara atau perayaan

Petunjuk cerita: Cemilan

Petunjuk gambar: Cemilan dan malam

Judul: Api Unggun

Nama penulis: Dzakiyyah Jaihan

Sampul depan:

Sampul belakang:

Punggung Buku:

Cerita:

Api Unggun
Matahari kian meninggi. Cahayanya makin panas, membuat badan gerah. Enaknya minum dingin-dingin. Lapangan juga mulai sepi, eh… bukannya dari tadi emang sepi? Petualang pergi berburu. Lama banget, mungkin mereka banyak medapat buruan. Perlahan terdengar suara tawa dan percakapan. Petualang keluar dari hutan.
“Ealah.. Yazid katanya tadi mau buru rusa, tapi cuman dapat ikan..!” Asad tertawa terbahak-bahak, menunjuk-nunjuk Yazid.
Yazid garuk-garuk kepala. “Rusanya lari cepat, makanya aku nggak bisa dapat.”
“Ihh.. Yazid banyak alasan nih..” Laila menggoda Yazid (Kakinya masih pincang).
“Oi! Diam lah.” Hardik Yazid menatap Laila tajam, Laila hanya nyengir.
“Eh, tapi kita semua dapat buruan nih…” Kata Aulia melerai.
“Hah..iya. Nanti kita hitung bersama, ya..” Ajak Nazira riang. Semua mengangguk setuju.
Mereka segera menuju dapur petualang. Mengumpulkan seluruh hasil buruan. Ada daging Rusa, Kambing, dan Ayam hutan. Ada juga Udang, Ikan sungai, dan tumbuhan-tumbuhan hutan, dijamin semuanya lezat, asal yang masak Aulia, petualang iseng menggoda Aulia di dapur. Mereka juga memetik buah-buah hutan. Ah… seperti akan ada acara Api unggun saja.
“Oi, banyak sekali!” Seru Aulia riang, tangannya sudah gatal ingin memasak.
“Makanya kita hitung dulu.” Ucap Nazira menatap bingung seluruh hasil buruan, mau diapakan semuanya?
“Ayo kita hitung lansung..!” Seru Haura tak sabaran, Laila mengusap punggung Haura, sabar…, mungkin begitu maksudnya.
“Oke, kita akan mulai.” Kata Nazira mengeluarkan buku tulis berukuran A6 dan pena.
“Yazid, Asad, Aulia. Kalian pisahkan satu-satu kelompok dan jenis hasil buruan kita.” Perintah Nazira sembari menunjuk Yazid, Asad, dan Aulia dengan penanya.
“Eh, kita nggak nentuin ketua dulu nih?” Tanya Aulia.
“Nggak usah, Nazira saja yang jadi ketua.” Laila yang menjawab. Semua mengangguk setuju.
Asad, Yazid, dan Aulia mulai bekerja. Hasil buruan Rusa dikumpulkan dalam satu kelompok, kambing dalam kelompok kambing, udang dalam kelompok udang, ikan dalam kelompok ikan, ayam dalam kelompok ayam, buah dalam kelompok tumbuhan, dan tumbuhan hutan dalam kelompok tumbuhan. Lengkap sudah. Tapi ada kejadian yang membuat dapur ribut.
Aulia membuka plastik yang berisi tangkapan ikan milik Yazid. Tapi…
“Hua…!”Aulia histeris melempar sebuah plastik bening yang ada di dalam plastik hasil tangkapan ikan Yazid.
Apa sih isinya? Semua jadi penasaran.
“Ada apa, Aulia?” Semua orang bertanya keculi Yazid, dia terlihat salah tingkah, tentulah dia tahu apa itu yang dilempar Aulia.
Aulia hanya menunjuk plastik bening itu dengan menutup mata, dia tidak berani membuka mata sebelum plastik itu dibuang. Semua mendekat dengan hati-hati, ingin tahu di dalam plastik itu apa. Mengapa Aulia bisa sehisteris itu?
Semua tersentak, mundur menjauh, geli melihatnya. Semua menatap tajam ke arah Yazid. Yazid pura-pura tidak tahu.
“Yazid..!!!” Nazira berteriak kencang bagaikan singa yang mengamuk.
Yazid menutup telinga, merasa pekak. Lalu dia menatap semua orang sembari tertawa kecil.
“Apaan sih kamu? Kenapa malah tangkap katak..?” Tanya Laila kesal.
“Aku tadi cuman mau main aja.” Jawab Yazid malu.
“Sekarang kamu buang itu katak, udah penyet..! Kayak ayam penyet! Kamu mau makan??” Nazira berseru kesal, kesal sekali, dia serasa ingin mengutuk Yazid jadi katak.
“Hiii.. pantesan plastiknya Yazid bau. Geli deh mau makan ikan tangkapan mu..” Asad pura-pura menjadi penggeli.
“Oi! Itu kan beda plastik.” Kata Aulia menatap Asad.
Yazid mengambil plastik berisi katak penyet itu. Lalu membuang dengan menutup hidung. Puk-puk, Yazid menepuk tangannya.
“Cuci tangan mu, Yazid.” Kata Aulia. Yazid menuruti saja.
Itu lah yang terjadi. Mereka melanjutkan pekerjaan lagi hingga selesai.
“Sekarang coba hitung Rusa ada berapa plastik?” Tanya Nazira bersiap mencatat.
Aulia menghitung dengan cepat. Sesaat kemudian didapat lah angkanya.
“Lima.”
Nazira mencatat.
“Sekarang hitung Ayam.” Kata Nazira. Aulia mengangguk.
Mulai menghitung lagi, lalu memberitahu angkanya. “Tujuh.” Dan Nazira mencatat lagi.
“Udang?” Tanya Nazira.
Aulia menghitung lagi, lalu memberi tahu. “Empat.”
“Emm.., Sekarang ikan.” Kata Nazira sembari mentusuk pipinya sendiri dengan pena.
Aulia kembali menghitung. “Enam.”
“Terakhir, sayur dan buah.” Kata Nazira usai mencatat.
“Ada lima kantong plastik.” Aulia menyebut angka terakhir.
Nazira melihat serius catatannya. Oi? Nazira bingung.
“Banyak sekali buruan kita.” Nazira mengabari.
“Asiik….!!” Seru Aulia.
“Mau kita apakan semua ini?” Tanya Nazira bingung, dia mulai berfikir.
Laila, Aulia, dan Yazid ikutan berfikir. Emm…? Laila berfikir tajam, mencari jalan keluar yang tepat. Yang diinginkannya adalah bagaimana caranya agar untung dan tidak rugi? Bagaimana caranya menggunakan semua hasil buruan ini?
“Kita masak saja semuanya.” Aulia memberi usulan, ah, pikirannya selalu masak.
“Lalu bagaimana cara menghabiskannya? Sampai kita tamat dari sekolah Petualang, buruan ini tak bakal habis.” Komentar Laila, tepat dan cerdas.
Mereka berfikir lagi. berfikir dengan cermat dan matang-matang.
Tiba-tiba terlintas ide konyol di kepala Yazid. “Aha..!” Seruannya menjadi perhatian. “Kita kemabalikan saja seperti semula.”
Oho,ho..!
“Hebat ya, idenya. Kamu pikir kita ini tuhan? Sehingga bisa menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati?” Tanya Nazira ketus. Yazid garuk-garuk kepala, baru sadar atas ucapannya.
“Yee.. Yazid. Kembalikan lah katak penyet itu seperti semula, kalau kamu pikir kamu bisa.” Aulia cengesan, menambah rasa malu Yazid.
“Eh, bagaimana kita berikan ke warga-warga sekitar sini?” Usul Nazira, itu ide bagus tapi kurang tepat.
Laila menggeleng. “Itu ide bagus. Tapi apakah kita akan memberikan setiap warga satu ikan? Satu potong daging? Satu paha Ayam? Satu Udang? Itu akan membuat mereka jengkel, bukan berterimakasih.”
“Lalu, apa ide mu?” Tanya Haura kepada Laila.
Laila tersenyum, terlintas ide cemerlang di kepalanya. “Kita buat acara, nanti malam.”
“Hah?” semua terkejut serempak.
“Kenapa harus acara?” Tanya Asad bingung.
“Iya, nanti malam pula.” Timpal yang lain.
“Biar seru, dan buruan kita akan berkurang, pas untuk seminggu lagi, kita akan tamat. Oya! Besokkan dokter Lala akan pulang, acara ini bisa juga dijadikan untuk acara melepas dokter Lala.” Jelas Laila tersenyum-senyum. Semua mengangguk setuju.
Mulailah mereka bekerja, membagi tugas. Aulia, Khansa, Enisya, Amaroh, Syifa, dan Humairoh bertugas di dapur, masak. Nazira, Ana, dan Haura bertugas membersihkan lapangan. Asad, Syafiq, Thariq, Amer, dan Harun bertugas mengambil kayu bakar dan mengangkat tikar. Yazid, Khalid, Omar, Ikrimah, dan Thalha bertugas menata dan menyiapkan piring, gelas, dan bahan yang kurang. Sedangkan Laila sendiri kocar-kacir memantau.
Di dapur, Petualang sibuk mencari menu masakan yang enak.
“Menu kita kebab turki dan susu saja.” Usul Aulia.
“Nggak ah, Ramen saja.” Enisya membantah, jelas-jelas dia suka sekali makanan khas Jepang itu, makanan ala Naruto, Naruto itu film kesukaan Enisya.
“Sushi saja kalau kamu mau makanan Jepang.” Syifa berucap tegas.
“Nasi Kebuli saja, aku pandai memasaknya.” Usul Khansa, Nasi kebuli? Makanan khas Arab.
Amaroh menggeleng kuat. “Bagimana kalau Hamburger saja? Atau Krabi patty saja.”
“Lotek saja, itu makanan tradisional Indonesia. Seharusnya kan kita melestarikan makanan ala Indonesia, bukan makanan negara luar.” Itu usul yang bagus dari Humairoh.
“Boleh juga, lalu tambah satu menu. Mie Api.” Ucap Aulia. Kata-katanya benar membuat semua orang tersedak dan terkejut. Mie Api? Di Pentas Hobi saja Mie itu tidak laku.
“Bisa bolak-balik kamar mandi orang nanti.” Enisya nyengir lebar. Aulia sebal makanan kesukaannya dicela.
“Kalian belum mulai?” Ada yang bertanya, itu Laila yang mendengar keributan di dapur.
“Belum tahu menunya apa.” Jawab Khansa polos.
“Emang kalian mau menunya apa?” Tanya Laila mengelus dagunya.
Semua lansung rebutan menjawab.
“Kebab turki!”
“Tidak! Ramen!” Seruan lain.
“Sushi!!”
“Oi, nasi kebuli!”
“Hamburger!!”
“Lotek! Makanan tradisional!!”
“Mie Api!!” Seru Aulia, semua terdiam.
Laila geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya. “Tidak usah ribut, masak saja yang ingin kalian jadikan menu. Buruan kita banyak, tidak mungkin menunya satu atau dua.” Laila mengusulkan cara yang tepat. Semua mengangguk setuju.
“Tapi jangan jadikan Mie api sebagai menu acara, itu akan merusak acara. Bukannya aku mau mencela Mie api ya… Emang kita semua disini bukan orang yang tahan pedas seperti kamu, Aulia.” Jelas Laila tersenyum. Aulia hanya mengangguk kecil.
“Oya, jangan lupa tambahkan satu menu utama. Ikan darah. Itu makanan kesukaan dokter Lala.” Kata Laila menambah satu menu spesial. Yang lain mengangguk.
Sedangkan di lapangan, semua berjalan lancar. Hanya saja Yazid sesekali menjadi TJPM seperti tabiatnya, usil dan jahil, sukanya mengganggu orang lain.
~~~
Akirnya semua selesai sebelum magrib. Semua lelah, sama-sama lelah. Makanan telah tersusun rapi di atas tikar besar. Ada tela-tela, susu, kue, kebab, nasi kebuli, buah-buahan, sayur sup, ayam kecap, sushi, ramen, dan masih banyak lagi. ada juga cemilan seperti kerupuk dan pop crond. Ada juga jagung dan ikan bakar. Nyeemm… dijamin semuanya lezat.
Aulia yang memang hobinya memasak, tentu tidak akan berhenti memasak jika bahan-bahan masih banyak. Dia meminta Asad menyalakan api di pinggir kemah, lalu dia menegakkan kayu penyangga. Dia pun mulai memasak di atas api, seru sekali. Acara ini berlansung di pinggir kemah. Asad menyalakan api lagi ditengah-tengah kemah. Bukan untuk masak, tapi api ini adalah inti acaranya. Acara ‘Api Unggun’.
“Dokter Lala!!” Seru Laila berlari mendekati dokter Lala dengan kakinya yang pincang, kalau berjalan pincangnya tidak terlalu kelihatan.
“Laila. Ada apa?” Tanya dokter Lala sembari jongkok, dia menatap Laila tersenyum.
“Acara Api Unggun kejutan..!!” Laila membentangkan tangannya. Semua petualang melambaikan tangan ke arah dokter Lala.
Dokter Lala berdiri, wajahnya sumringah. Dia membaca tulisan sepanduk yang digantungkan diantara dua pohon. “Kami ingin melepas kepergian dokter Lala…”. Dokter Lala tersenyum lebar membaca tulisan itu.
Laila menarik dokter Lala ke tikar yang penuh dengan makanan.
Setelah sholat magrib, Haura pergi memanggil para jendral untuk makan. Yazid pergi memanggil kapten. Asad pergi memanggil para letnan. Semua pun datang. Mereka duduk di tepi-tepi tikar. Mereka bersiap untuk makan, makanan sudah mereka ambil dan mereka letakkan di piring masing-masing. Satu-persatu menyamtap makanan di piring masing-masing.
“Oi! Aku ketinggalan..!!!” Aulia berteriak, dia belum selesai memasak menu terakhirnya. Nasib-nasib… Chef yang terlalu semangat memasak. Yang masak malah nggak makan. Semua tertawa, sedangkan Aulia salah tingkah.

Setelah menu terakhir Aulia selesai, Aulia pun lansung masuk kedalam kelompok perempuan. Dia tidak membawa masakan terakhirnya itu.

“Eh, Aulia. Itu makanannya nggak dibawa kesini?” Tanya Nazira.

“Aku mau kasih Zia dan teman-temannya.” Jawab Aulia enteng.

Semua tersedak. “Siapa itu Zia?” Tanya Laila.

“Sahabat ku.” Aulia menjawab polos.

“Kenapa harus dikasih ke orang? Kenapa nggak kita aja yang nikmati?” Tanya Haura dengan wajah datar.

“Kan menu kita kelebihan. Kalau kita punya makanan yang lebih, kita hadiahkan ke orang lain, biar dapat pahala.” Jawab Aulia mantap, yang lain hanya mengangguk petanda setuju.

“Mungkin nanti mereka juga bakal kasih kita balasan makanan yang lezat.” Aulia nyengir lebar.

“Kamu pengen dapat imbalan?” Tanya Nazira melotot.

Aulia buru-buru menggeleng. Sehabis makan Aulia lansung izin keluar. Dia menghadiahkan makanan itu kepada Zia dan teman-temannya. Zia dan teman-temannya (Karakter Namira) mengucapkan terimakasih.

Tugas 10 – Namira

Tema : Fantasi

Pettunjuk cerita : Ramuan

Petunjuk gambar : Surat

Judul cerita : Ramuan

Nama penulis : Namira Fayola Ritonga

Sampul depan :

SD NAMIRA10.png

Sampul belakang :

SB NAMIRA10.png

Punggung buku :

PB NAMIRA10

Cerita :

“Cepat! Cepat! Berikan kepada dia! Jangan sampai kita ketahuan!” bisik seorang anak perempuan bernama Vania. Temannya yang di sebelah, segera menyerahkan gumpalan kertasa berisi tulisan yang barusan di tulis oleh Vania. Aini, segera menyambar gumpalan kertas yang di serahkan Sasha. “Apa ini Van?” tanya Aini sambil mengerutkan keningnya. Vania melotot kesal padanya, sudah jelas-jelas Aini melihat yang di serahkan Sasha adalah gumpalan kertas, buat apa lagi di tanya? Segera buka! Vania akhirnya menunjuk kertas, kemudian pura-pura menulis di atasnya. Aini akhirnya paham, dan ber-oh pelan sambil membuka kertas yang di berikan Sasha. “Hmm….apa sih yang sangat ingin di beritahu Vania? Sampai dia menyerahkan surat seperti ini?” Aini membuka surat itu di laci mejanya, dia kemudian menunduk, agar tidak ketahuan oleh ibu guru yang sedang mengajar di depan. Isi surat itu adalah : Aini, aku punya rencana hebat! Kita bisa menggunakan laboratorium milikmu untuk melakukan rencana hebat itu! Tenang saja….semuanya akan terkendali. Aku tahu kamu bakal khawatir setelah membaca surat ini, karena itu juga reaksi yang di berikan Sasha. Pokoknya, kita harus berkumpul di rumahmu setelah pulang sekolah, (Karena kita kan makan siang di sekolah…hihihi) Jangan lupa ya!      *DARI VANIA, UNTUK SASHA DAN AINI*   

Aini tampak agak bingung dengan surat yang di tulis Vania barusan, sesuatu yang hebat? Walaupun Vania seringkali mengeluarkan ide menarik, tidak ada yang berani mencoba melakukan ide Vania. Aini dan Sasha takut kalau ternyata ide itu gagal dan membahayakan mereka bertiga. Namun, kali ini, nampaknya, Vania sudah ‘memaksa’ mereka untuk melakukan idenya. Aini menghembuskan nafas pelan, dia hanya bisa berharap ide vania akan berrhasil, meskipun dia tidak tahu apa idenya. “Aku harap, kami bertiga baik-baik saja….”  Aini berkata dalam hati, kemudian meneruskan menyimak keterangan yang di berikan ibu guru di depan kelas.

 

Tugas 8- Jaihan

Tema: Profesi

Petunjuk gambar: Dokter, putih, coklat

Petunjuk Cerita: Dokter

Judul buku: Hadiah Terbaik

Nama penulis: Dzakiyyah Jaihan

Sampul depan:

Sampul belakang:

Punggung Buku:

Cerita:

Hadiah terbaik
Matahari menampakkan diri, tak segan menyebarkan cahayanya. Sebagian cahaya itu menyentuh permukaan tanah, sebagiannya lagi menyentuh pucuk-pucuk pohon di hutan, sebagiannya lagi berhasil menembus kemah petualang sehingga membuat cahaya bergradasi. Sebagian cahaya itu dengan senang hati membelai kain jemuran yang basah, dan sebagian cahaya itu berhasil menghangatkan tubuh lembut dan tubuh perkasa, sampai kedua tubuh itu megeluarkan setetes demisetetes air.
Pohon-pohon mulai berbuah yang banyak. Beberapa buah tampak masih berbentuk bakal, beberapa lagi sudah membentuk buah muda, dan beberapa lagi tampaknya sudah matang. Bau manis buah matang itu menyebar kemana-kemana, ahh.. sedap… Hewan maupun Manusia berebut untuk memetik buah yang meneteskan air liur itu. Betapa tidak! Musim buah hanya sekali sampai tiga kali setahun. Meskipun diwaktu lain berbuah juga, tapi buahnya tak sebanyak di musim buah dan buahnya pun tak semanis sekarang ini. Bagi sekolah Petualang, saat ini adalah musim emas. Karena sebelumnya tidak ada musim buah yang buahnya semanis sekarang ini.
“Woii..!” Panggil Amer. Semua mengerumuninya.
“Lihat, banyakkan aku dapat buah..!” Harun berseru riang, dia meraih satu buah di dalam keranjang.
“Kalian berdua yang metik?” Tanya Amaroh ikutan meraih buah di dalam keranjang, tapi tanggannya berhasil dicegah Amer.
“Iya.” Jawab Amer ketus.
Aulia segera mengambil buah mangga dari keranjang biru itu. “Minta mangga satu..!” Serunya yang sudah tak tahan melihat buah mangga manis itu.
Hap! Tangannya dicegah Harun. Harun mentapnya tajam. “Enak saja! Metik sendiri dong..!”
Aulia menarik kembali tangannya. Sedangkan Harun dan Amer segera pergi menuju tepi lapangan, menikmati semua buah-buah manis itu. yang lain hanya bisa meneteskan air liur.
“Eh, Yazid. Kamu petik ya buahnya. Ya, ya, ya..!” Thalha memohon sambil memelas pada Yazid.
“Nanti aku yang metik tapi kalian yang makan.” Kata Yazid jengkel.
“Kamu kan juga ada makan.” Kata Asad menyikut Yazid.
“Mana banyak aku makan dengan kalian?” Tanya Yazid melotot, dia menatap jengkel Nazira. Nazira hanya tersipu, jelas-jelas dia yang banyak makan.
“Iya, iya. Nanti jika buahnya habis, kami lagi yang metik.” Kata Nazira meyakinkan.
“Benar, nih?” Yazid bertanya serius. Nazira mengangguk mantap, jarang mereka damai seperti ini.
“Ya, udah. Kalian bersiap dari bawah pohon.” Kata Yazid segera pergi ke pohon Mangga yang berbuah lebat. Lalu dia memanjatinya.
“Ingat! Jangan ada yang makan dulu sebelum aku turun.” Kata Yazid memperingati. Yang lain mengangguk setuju. Ini seperti perjanjian dengan TJPM saja.
Yazid mulai beraksi. Dengan lincah dia memanjati pohon mangga yang ada di tengah lapangan. Berjalan di dahan pohon yang bergoyang seakan berjalan di tanah saja olehnya. Cekatan dia memetik buah, lalu melemparnya tiba-tiba tanpa mengabari, membuat semua orang kaget dan mengejar buah-buah yang jatuh.
“Oi, Yazid! Kau tak bisa pelan?” Logat bahasa asli Aulia keluar. Yazid hanya nyengir, kan sudah aku bilang siap-siap di bawah pohon tadi, mungkin begitu pikirnya.
Satu jam setelah memanjati beberapa pohon dan memetik banyak buah, Yazid pun turun dari pohon. Pas sekali ketika kakinya menyentuh tanah, buah-buahan itu lansung diserbu. Yazid hanya bisa memandang jengkel dan sebal. Dia segera mengambil bagiannya. Eh, nggak terasa baru satu menit buah-buah itu lansung habis ludes. Metiknya lama sampai satu jam, makannya sebentar hanya satu menit.
“Yah, sudah habis.” Keluh Aulia. “Siapa nih yang congok?”
“Nggak ada yang congok Au..! Memang buahnya yang nggak cukup buat kita semua.” Jawab Nazira menenangkan.
“Lalu sipa yang mau metik lagi?” Tanya Laila menatap teman-temannya.
“Anak jantan lah..” Jawab Aulia sembari menunjuk anak laki-laki.
“Bah! Kami lagi! Kami banting tulang metik, terus kalian santap dengan santai seperti noni-noni belanda.” Kata Asad degan jengkel menolak.
“Kami nggak mau metik. Gantian dong metiknya..! giliran kalian sekarang yang metik.” Tanpa rencana anak laki-laki kompak bicara.
Anak perempuan saling tatap, bingung. Nasib mereka jika tak ada yang metik, itu artinya mereka juga tak bisa menikmati buah.
“Nazira, kamu yang metik ya..” Kata Aulia menjawil tangan Nazira.
Nazira menatapnya. “Yang lain saja. Aku terus yang metik dari anak perempuan, macam Tarzanah saja.”
“Tarzanah? Baru kali ini aku dengar.” Kata Haura tertawa geli.
“Nggak mungkin Tarzan, itu buat laki-laki.” Nazira menjawab polos.
“Oya! Aku punya ide. Bagaimana jika yang belum pernah metik buah di sekolah petualang saja yang metik?” Tanya Nazira memberi usulan. Semua mengangguk setuju, hanya Laila yang ragu setuju.
“Syifa!” Tunjuk Nazira tertawa menjahili. Syifa tak menyangka ditunjuk secepat itu, dia mulai memikir.
“Aku pernah metik!” Syifa buru-buru menjawab.
“Di sekolah petualang?” Tanya Nazira. Syifa mengangguk. Nazira mengangkat mulut bawahnya, jelas dia tak percaya.
“Kapan?” Tanya Nazira.
“Waktu kita lagi di pohon rambutan.” Jawab Syifa.
Nazira terus mencari orang yang belum pernah memetik buah, tapi semuanya sudah pernah memetik meski sekali. Akhirnya ketemu lah orang yang tak pernah memetik buah di sekolah Petualang sama sekali. Laila. ya, Laila. Dia lah yang belum pernah memetik buah di sekolah petualang sama sekali. Dia tidak ahli dalam manjat memanjat, dia juga tak punya pengalaman memanjat pohon yang tinggi. Dia tidak pernah memanjat pohon yang tinggi. memetik pernah, tapi tidak dengan memanjat. Laila memetik dengan kayu.
“Tapi aku nggak pernah metik dengan memanjat.” Laila mengeluh, wajahnya tertunduk.
“Yee, mau pernah mau nggak pernah, harus dilaksanakan.” Kata Humairoh cengesan.
Laila pun menurut. Dia segera menghampiri pohon kelengkeng yang tak kalah banyak buahnya. Pohon itu cukup tinggi dan akan sangat sulit buat Laila untuk memanjatinya. Tapi bau khas kelengkeng memang lah sangat menggoda. Laila segera memanjati pohon itu. Uhh… Sulit sekali. Begitu maksud ekspresi wajah sebalnya. Untung saja dia memakai RokCel (Rok Celana), sehingga bisa memudahkan gerakannya.
Semua orang tertawa melihat gerakannya yang tidak terbiasa dalam manjat memanjat, termasuk anak laki-laki dari kejahuan. Kaki Laila seperti mau menaiki tangga saja, sehingga menarik perhatian semua orang. Kapten, Letnan, Jenderal, dan anak laki-laki menghampiri pohon kelengkeng yang dipanjat Laila. Kini Laila seperti pertunjukan anak bayi saja, atau monyet yang memanjat pohon dengan lucu.
Plak! Belum satu meter Laila sudah terjatuh.
“Aduuhh..” Laila mengaduh pendek, semua orang tertawa.
Laila tak menyerah, dipanjatinya lagi pohon kelengkeng itu. beberapa kali dia terjatuh, tapi Laila pantang menyerah. Ketika memanjat untuk keempat kalinya, Laila berhasil karena semangat dan usaha yang tinggi. semua bertepuk tangan.
“Cepat sekali Laila naik tah-tah..!” Yazid pura-pura kagum, kalian tahu lah tujuannya apa.
Laila terus memanjat dengan cepat. Semua orang menyemangatinya. Suara gemuruh di mana-mana.
“Laila, Laila, Laila!!” Seperti ada perlombaan 17 Agustus saja.
Laila meraih dahan pohon yang ada di atas kepalanya, memegang kuat, lalu menaiki dahan itu. Laila duduk sebentar di dahan kokoh yang baru saja dinaikinya. Buah-buah kelengkeng yang bergelantungan membuatnya tak sabar untuk memetik. Laila melanjutkan lagi, dia mulai memetik.
Hap, hap! Banyak sekali kumpulan buah kelengkeng batang yang dipetiknya. Tapi semua kurang besar, kelengkeng yang besar-besar ada di ujung ranting dan dahan. Tapi itu pasti sulit untuk mengambilnya. Ah, kelengkengnya besarnya gitu-gitu aja. Jika Yazid, Asad, Nazira, atau anak laki-laki yang memetik, pasti dapet buah yang besar-besar.
Bosan sekali mereka yang di bawah mendapatkan buah yang kecil-kecil. Laila pun sebenarnya bosan juga. Tapi dia takut jatuh jika pergi ke ujung dahan.
“Lai! Coba ambil yang di ujung dahan lah..! Bosan orang di bawah!” Yazid berteriak lantang, semua orang memandangnya. Berani sekali Yazid mengatakan hal itu, sambil teriak pula, pikir mereka.
Tapi Laila hanya mengagguk. Dia memberanikan diri untuk merayap ke ujung dahan. Laila merayap seperti anak kecil, membuat semua orang tertawa kembali. Sampai lah dia di ujung dahan yang buahnya besar-besar dan banyak. Laila memetik sambil tengkurap di dahan pohon, dia takut jatuh.
“Di atas, Lai!” Seru Nazira dengan kedua tangan tertangkup di sudut bibir.
Laila mengangguk menuruti, lalu segera berdiri dengan hati-hati. Tangannya terbentang di udara, berusaha menyeimbangkan badannya. Setelah yakin telah seimbang, Laila pun menurunkan tangannya. Dia mengangkat tanga kanannya dengan hati-hati, ingin memetik buah kelengkeng di atas kepalanya.
Tapi…
Belum sempat dia memetik kelengkeng itu, tubuhnya bergoyang tak karuan. Keseimbangannya hilang tanpa sebab. Orang-orang yang tadi bersorak berubah menjadi panik, bagaimana ini? Yang paling panik kapten, jangan sampai Laila celaka hanya karena memetik buah.
“Huaaa..!” Laila terkejut manakala badannya terpleset.
Prak, prak, prak…
Laila terhentak ke beberapa dahan. Lalu….
Brak..!
Suara itu terdengar mengerikan. Sampai di permukaan tanah kepala Laila terbentur akar pohon kelengkeng yang keras. Memang tidak berdarah, tapi membiru lebam. Kakinya tampak seperti tak bertulang, mungkin patah. Kaki Laila juga mengeluarkan banyak darah. Laila antara sadar dan tak sadarkan diri. Dia tidak menangis ataupun mengaduh, dia sudah takberdaya lagi. Wajah cantiknya! Keningnya tergores, pipi kanannya lebam, bibirnya berdarah, dan pelipis kirinya tergores kuat, sehingga mengeluarkan banyak darah.
Semua menatap ngeri ke arah Laila. Mengapa di hari kemerdekaan ini harus ada kesedihan? Mengapa di hari merdeka ada darah yang tumpah juga? Ada yang bersedih juga? Ada yang tak berdaya juga? Itu lah pertanyaan mereka semua.
“Cepat gotong dia ke UKS!” Kapten memerintah dengan lantang, dia melambaikan tangannya.
Tiga Letnan maju membantu kapten menggotong Laila. Mereka membawa Laila ke UKS. Petualang dan para Jendral mengikuti. Jendral Jilan segera membuka pintu UKS. Kapten dan tiga letnan itu membaringkan Laila di Bed pasien.
“Kalian semua keluar.” Perintah jendral Jilan, Yang lain hanya menuruti. Tinggal lah petugas UKS.
Mereka memeriksa Laila. Kepala Laila tidak bisa mereka sembuhkan, peralatan tidak memadai. Kaki Laila juga tidak bisa, mereka tidak ahli dalam tulang dan saraf, mereka hanya memperban kaki Laila. Mereka hanya mengobati luka-luka ringan di badan Laila. Goresan di kening dan di pelipis kanannya diberi Alkohol, lalu dilumuri Betadine. Pipinya dikompres, lalu di olesi dengan Zambuk. Bibirnya yang berdarah diberi minyak zaitun.
Petugas UKS keluar setelah mengobati luka Laila (kecuali kepala dan kaki). Baru saja membuka pintu, semua lansung bangkit mendekati petugas UKS.
“Bagaimana keaadaannya?” Tanya kapten Zoo memandangi petugas UKS serius, kini bukan serius lagi, tapi amat serius sekali.
“Kepala dan kakinya parah, kami tidak bisa mengobati. Peralatan di sini tidak memadai dan kami juga tidak ahli mengobati luka parah.” Jawab jendral Jilan menatap Laila iba.
“Orangtuanya sudah dihubungi?” Tanya jendral Ayu serius.
Kapten Zoo menggeleng. “Kita tunggu kepala dan kakinya diobati, baru lah kita hubungi orangtuanya.” Jawab kapten Zoo, kepalanya sudah pening.
“Kita tidak boleh membebankan orangtuanya, kita yang harus bertanggung jawab. Tak ada gunanya jika kita tidak menyelesaikan keaadaan yang terjadi di area kita, jangan seperti anak kecil yang bergantung terus ke orang lain.” Jelas kapten sambil bersedekap. Semua mengangguk menyimak.
“Coba hubungi dokter rumah sakit kapten, suruh kesini.” Ah, Yazid! Ngomongnya enteng saja. Emang semudah itu…!?
“Oi! Bawa saja Laila ke rumah sakit.” Nazira menyikut Yazid, usul Nazira disambut dengan gelengan Yazid.
“Bisa tercekik kita. Bawa ke rumah sakit, nanti ceritanya jadi panjang. Suruh nginap lah, suruh pakai ini lah, suruh beli ini lah, suru urus ini lah. Lebih baik panggil dokter kesini. Bawa ke rumah sakit emang nggak pake kendaraan? Mau pake kendaraan apa? Di sini nggak ada mobil. Lagian kalau ada keadaan sekarang sedang darurat, harus pake Ambulance.” Jelas Yazid, perkataannya berbeda 180 derajat dari biasanya. Sekarang Yazid sangat serius.
Kapten mengangguk setuju dengan Yazid, memanggil dokter. kapten mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik nomor telepon seorang dokter.
Taninung, taninung, taninung…..
Ponsel kapten bersuara kencang.
Tlit..
Panggilan itu dijawab.
“Halo.” Sapa kapten.
“Halo..!” Seseorang di seberang sana balas menyapa.
“Bisa kesini kak? Ada anak yang terluka parah, darurat.” Tanya kapten Zoo penuh harapan.
“Wadooh, maap lah Zoo. Bukannya aku tak mau bantu kau. Tapi aku lagi ada kerja di Bangkinang, nanti malam aku baru balek.” Jawab ibu yang dihubungi dengan logat bahasa khas melayu.
“Tak apa lah kak.” Kata kapten Zoo, lalu memutuskan panggilan.
Kapten Zoo menelpon lagi, tapi sia-sia. Sebagian sibuk dan sebagian lagi tak menjawab panggilan. Ah, dokter memang kerjanya sibuk terus. Tak ada lagi harapan untuk Laila, tapi apakah akan berhenti sampai di sini?
“Bagaimana kapten?” Tanya Haura, wajahnya cemas.
Kapten melambaikan tangan. Ya begitu lah. Lalu kapten Zoo pergi ke kantornya. Semua saling tatap tak mengerti. Apa Laila akan dibiarkan begitu saja? Apa mereka akan menunggu Laila meninggal?
~~~
Kapten duduk di kursi sofanya. Kepalanya pening sekali memkirkan nasib muridnya. Ini kejadian pertama yang menegangkan. Semua orang tentu meminta pertanggung jawabannya, apa lah nanti kata wali murid, bisa jadi tahun esok sekolah Petualang tak bermurid. Dia harus mencari jalan keluar, tapi bagaimana caranya?
Kapten Zoo menatap fotonya yang sedang berdiri di deretan saudara laki-lakinya, itu foto dia ketika sedang menghadiri wisuda keponakannya. Di bagian tengah terdapat keponakannya dengan menggunakan baju dan topi wisuda, di bagian pinggir sebelah kiri terdapat deretan ibu-ibu, dan deretan sebelah kanan terdapat deretan laki-laki, kapten Zoo termasuk di dalamnya.
Kapten Zoo tersenyum kecil, mengingat masa lalunya. Keponakan perempuannya itu menghabiskan masa kecil dan masa mudanya di rumah kapten Zoo sendiri. Orangtuanya sibuk bekerja, mereka tidak memiliki banyak waktu bersama anak mereka. Kapten Zoo bersedia menjaga dan merawat anak mereka. Setiap hari keponakannya itu ke rumah kapten Zoo, dari pagi hingga sehabis magrib. Meskipun sudah besar, keponakannya itu selalu bermain di rumahnya. Terkadang keponakannya ikutan masak bersama istri kapten Zoo, terkadang membantu pekerjaan rumah dengan senang hati. Kapten Zoo dan istrinya sangat menyayangi keponakannya itu, mungkin karena mereka tidak memiliki anak perempuan.
Kapten Zoo tersenyum lebar mengingat masa lalunya. Kini keponakannya itu telah sukses, lulus dari Universitas Gajah Mada. Dan kini keponakannya bekerja di Aulia Hospital, bekerja menjadi dokter umum dan…..
Tiba-tiba kapten Zoo tersenyum lebar sekali. Dia mengeluarkan ponselnya lagi. menelpon seseorang lagi, mungkin dokter juga.
Taninung, taninung, taninung….. taninung, tanin…
Tlit..
“Assalamualaikum.” Sapa Kapten Zoo.
“Waalaikumussalam. Ada apa man?” Di seberang sana seorang dokter muslimah, cantik dan muda bertanya.
“Kamu bisa ke sini, Lala?” Tanya kapten Zoo.
“Emm…” Dokter itu sepertinya memikir.
“Bisa. Lala kan cuti sebulan ini, cuti dokter baru, hehehe…” Jawab dokter itu.
Kapten Zoo merasa senang. “Kalau begituke sini sekarang ya.. Darurat.”
“Emang ada apa paman Zoo?” Tanya dokter itu.
“Di sekolah Petualang seorang anak berumur sepuluh atau sebelas tahun jatuh dari pohon. Sekarang keaadaannya sedang kritis.” Jawab kapten Zoo dengan nada khawatir.
“Innalillahi…” Sahut dokter itu.
“Ya sudah, sekarang Lala kesana ya, man.” Kata dokter itu.
“Oya jangan lupa siapkan Ikan kuah darah, ya man..” Lanjut sang dokter, ah sama saja dengan kapten Zoo suka becanda.
~~~
Tiiit, tiit…
Terdengar bunyi klakson mobil. Mobil itu menjadi perhatian para petualang, letnan, dan jendral. Mobil siapa itu? Orangtuanya Laila? Tapi itu mobil Livina, bukan mobil orangtuanya Laila. Seseorang keluar dari mobil itu, pengendaranya. Seorang perempuan berjilbab memakai kemeja dokter yang bewarna putih. Dokter muda, muslimah, dan cantik. Dokter? semua terperangah. Mereka tidak menelpon dokter lagi.
“Assalamualaikum.” Sapa dokter itu.
“Waalaikumussalam.” Semua menjawab salam dokter muda itu.
“Cepat juga kamu datang, Lala.” Tiba-tiba terdengar suara kapten. Dokter itu hanya tersipu.
“Jadi kapten yang menghubungi dokter ini?” Tanya Nazira tak sabaran.
“Iya, ini keponakan saya, namanya Lala.” Kapten memperkenalkan dokter itu. Dokter itu tersenyum hingga gigi serinya tampak.
“Mana yang sakit itu paman? Ikan darahnya nanti saja.” Tanya dokter Lala serius.
Kapten Zoo pun pergi ke UKS, yang lain mengikuti, termasuk dokter Lala. Kapten Zoo membuka pintu UKS. Terlihat Laila yang masih terbaring di bed pasien, keadaannya menyedihkan sekali. Dokter Lala begitu terkejut melihat keadaan Laila. Dia mengeluarkan stetoskop dari kopernya. Memeriksa jantung Laila. Lalu dia memencet sedikit. Iuuu… darahnya makin banyak keluar. Itu seharusnya menjadi pemandangan yang mengerikan, tapi yang namanya petualang Hitam Merah Putih berdarah berani dan kuat, mereka hanya bisa memejamkan mata. Ah, dokter Lala malah mangguk-mangguk.
“Kakinya patah.” Dua kata itu bagaikan petir di siang bolong.
“Lalu?” Tanya kapten Zoo.
“Lala akan coba obati.” Jawab dokter Lala. Kapten Zoo mengangguk puas.
“Kepalanya bagaimana tante..?” Tanya Yazid menarik-narik kemeja dokter Lala, dokter Lala hanya tersenyum.
“Tunggu diperiksa dulu lah pak..” Dokter Lala menjawab sambil menambahi sedikit bumbu gurauan. Semua tertawa, sedangkan Yazid malah garuk-garuk kepalanya sendiri.
“Dokter sama saja dengan kapten Zoo, suka bergurau.” Aulia sama saja dengan ibu-ibu, sok tahu.
“Kan ini mah anak angkat kapten Zoo.” Kata dokter Lala menepuk-nepuk dadanya.
Lalu dokter Lala pergi ke mobilnya, mengambil sesuatu. Itu adalah mesin… ah, apa lah namanya. Itu mesinnya buat periksa kesehatan bagian dalam, buat medis. Begitu saja penjelasan dokter Lala. Ah, zaman sekarang emang canggih. Ada WA, Facebook. Untuk sekolah pakai Ruang guru, untuk les elektro pakai @Cerivitas kak Sari ~Jaihan~ ^0^.
Dokter Lala memerintahkan agar semua orang keluar. Ya… Semua orang kecewa. Mau bagaimana lagi? Perintah dokter muda. Dokter Lala memulai aksinya. Cekatan dia memasang selang mesin untuk memeriksa pasien ke kepala Laila. Tinut, tinut, tinut. Hasilnya keluar di layar mesin itu. Apa lah maksud dari garis zig-zag merah dan angka juga huruf besar kecil itu? Hanya dokter yang tahu.
Dokter Lala mulai mengobati Laila. Pertama-tama, dia membedah kaki Laila. Memperbaiki posisi tulang dan lainnya. Lalu menjahit kembali kaki Laila dan memperbanya dengan perban yang bagus. Kaki Laila juga di lumurinya semacam obat. Lalu kepala Laila, dia membedah juga. memperbaiki tulang kepala yang sedikit keluar dari posisi. Lalu memasukkan berbagai obat dan cairan kedal kepala Laila. Setelah itu dia menjahit kembali kepala Laila. Dia sudah macam montir saja. Keringatnya sudah mulai keluar, maklum saja. Meskipun ruangan UKS ber AC, dia tetap merasa panas. Ini kan pengalaman pertamanya menangani orang yang terluka parah. Sebelumnya dokter Lala menangani pasien hanya dengan memberikan obat (Namanya dokter baru dan masih muda Jaihan..!!).
Selesai sudah kerjanya. Eits.. belum… (Jangan bosan ya Guys…^v^). Dokter Lala memasang kemabali selang-selang, ada yang ingin diperiksanya lagi. Dia mengetik sesuatu (Ini dokter apa penulis sih..?). Lalu dia memasukkan beberapa cairan kedalam mesin, dia memasukkan cairan itu kedalam sebuah lubang yang ada pada mesin itu. Ahhh… ajaib!! Mesinnya nggak rusak (Ihh.. Jaihan pura-pura nggak tahu nich..). Perlahan-lahan cairan itu masuk kedalam badan Laila lewat selang tadi.
~~~
Sliiit….top.
Dokter Lala keluar dari ruangan UKS. Wajahnya berseri-seri bagai cahaya. Semua orang ikut berseri, mereka tahu, ada kabar gembira.
“Alhamdulillah. Kepalanya sudah saya obati. Kakinya mengalami patah, tidak terlalu parah, saraf dan tulangnya sedikit melemah. Tiga atau empat hari lagi kakinya sudah bisa bergerak. Saya sudah bantu memperkuat tulang kaki dan kepalanya.” Jelas dokter Lala mengabari, disambut dengan rasa senang petualang.
“Tapi kakinya akan sedikit pincang untuk sementara.” Lanjut dokter Lala mengabarkan kabar buruknya.
“Hal itu sampai berapa bulan?” Tanya Yazid sok dewasa.
“Mungkin tiga bulan. Makanya jangan diganggu selangnya..” Jawab dokter Lala sembari mencubit dagu Yazid, Yazid menggosok dagunya yang dicubit.
“Dokter…” Panggil Haura mendekati dokter Lala.
Dokter Lala menatap Haura tersenyum. “Ada apa?”
“Boleh kami melihat?” Haura balik bertanya, tangannya menunjuk Laila yang tengah terbaring (Laila masih pingsan).
“Mengapa tidak boleh? Kau kan temannya.” Jawab dokter Lala. Haura mendengus, tadi saja dokter Lala suruh keluar.
Mereka masuk. Laila terbaring, kakinya dibalut perban dan dipasang selang. Kepalanya juga dibalut perban dan banyak sekali selang yang dipasang, mungkin lima atau enam atau tujuh atau…. bla,bla..
Laila masih belum sadar, lama sekali dia sadar. Petualang mulai bubar, melakukan aktivitas seperti hari-hari biasa. Hanya ada dokter Lala di UKS, dia menemani Laila. Oi, dokter Lala emang dokter yang baik. Berangsur-angsur garis zig-zag merah berubah menjadi kuning, angka-angka di layar mesin berubah menjadi rendah, dan hurufnya juga berubah, seperti G menjadi E. Senyum lebar mulai tergambar di wajah dokter Lala. Dia mengusap kepala Laila.
Hari mulai senja, langit begitu indah dihiasi warna oren kemerah-merahan……
Gelap seperti ruangan tak berlampu, hitam seperti rambut, dan luas seperti lapangan. Laila perlahan membuka matanya. Semua buram dan tak jelas. Dunia ini seperti berputar kencang. Auuu.. Laila merasakan sakit pada kepalanya. Dia menggeser kakinya sedikit. Uuuhh… Rasanya tumpul sekali dan sedikit sakit. Perlahan-lahan pandangannya mulai normal, tidak lagi kabur. Orang yang pertama dilihatnya setelah sadar adalah dokter Lala.
Laila Bingung, dia mencoba untuk mengingat hal yang terjadi. Bukankah tadi dia berada di atas pohon? Hendak memetik buah di ujung dahan? Lalu dahan itu bergoyang dan dia jatuh? Setelah itu dia tidak tahu kemana pandangannya, antara sadar dan tak sadar. Lalu? Apa yang terjadi pada dirinya? Dia berada di Rumah sakit? Lalu apa selang-selang ini? Seperti selang infus. Mengapa kepalanya sakit? Apa kepalanya terbentur? Ada apa dengan kakinya? Susah sekali digerakkan. Mengapa kaki dan kepalanya diperban? Ada apa dengan dirinya? Siapa perempuan ini? Berbaju putih? Dokter? Mana teman-temannya? Mana kapten Zoo? Mana para letnan? Mana Jenderal? Mana mereka yang tadi bersorak-sorak memberi dukungan pada dirinya?
Laila bangkit hendak duduk. Dokter Lala membantunya duduk, menegakkan bantal agar Laila bisa duduk. Laila tersenyum kecil, dibalas dengan senyum dokter Lala yang lebar.
“Dokter?” Tanya Laila perlahan.
Dokter Lala mengangguk. “Saya dokter Lala….”
“Ini Rumah sakit?” Laila bertanya lagi, menatap langit-langit ruangan.
Dokter Lala menggeleng sembari mengusap kepala Laila. “Kamu di UKS, sayang…”
“Sekolah Petualang?”
Dokter Lala mengangguk, dia tetap tersenyum.
“Ini apa?” Tanya Laila sembari memegang selang, cairan di dalam selang itu masih mengalir.
“Selang untuk mengirimkan obat ke dalam badan kamu, Laila…” Jawab dokter Lala tambah ramah.
“Dokter tahu nama saya?” Tanya Laila tersenyum-senyum.
“Teman-temanmu sering mengucapkan itu.”
Laila mengangguk.
“Kepala mu terbentur, kaki mu patah kecil, hanya berlansung empat hari. Tapi kaki mu akan akan pincang hingga tiga bulan.” DokterLala menjelaskan secara singkat.
Sliiit… top.
Pintu dibuka oleh dua orang. Waahh… Laila kenal siapa mereka!! Umi dan Abi!
“Umi!! Abi!!” Laila berseru senang.
Dokter Lala ikutan senang.
“Emm…” Dokter Lala seperti sedang memikir.
“Oya! Laila belum makan, kan? Sini saya ambilkan makanan.” Dokter Lala beranjak keluar.
Umi Laila memegang tangan dokter Lala.
“Tidak usah. Saya sudah bawa makanan.”
Dokter Lala tersenyum, tetap keluar (Mungkin dokter Lala mau makan Ikan kuah arah, kali ya? ^U^). Laila disuapin umi makannya. Tapi umi tidak bisa lama-lama, begitu peraturannya. Eahhh.. Lagian kan ada dokter Lala yang cantik dan baik hati. Malam itu Laila tidur di UKS
~~~
Benar kata dokter Lala. Setelah tiga hari, keadaan Laila membaik. Garis zig-zag sudah bewarna hijau. Semua bersorak. Laila tidak tidur di UKS lagi, horee.. (Ah, aneh. Enakan tidur di ruangan lah, daripada tidur di kemah, banyak nyamuk).
Hari ini hari Rabu, pagi. Laila akan berlatih jalan, setelah lama baring dan duduk di bed pasien (Keenakan dia!^8^). Laila memakai sepatunya.
“Jangan pakai sepatu itu, ntar nanti jatuh.” Komentar dokter Lala, tangannya ada di balik punggung, sepertinya dokter Lala punya sesuatu.
“Lalu pakai sepatu apa dokter?” Tanya Haura bingung.
Dokter Lala menyungging senyum. “Pakai ini! Sepatu untuk orang sakit.” Dokter Lala mengeluarkan tangannya.
“Wah itu untuk Laila?” Tanya Aulia sumringah.
“Di pinjam. Ini punya rumah sakit.” Jawab dokter Lala. Aulia membuka mulutnya lalu men ‘oh’ kecil.
Laila memasang sepatu coklat itu. Dia mulai berdiri, berjalan perlahan-lahan. Semua bersorak senang. Tiga hari yang lalu semua bersorak menyemangatinya memanjat. Kini semua bersorak menyemangatinya berjalan.
Hup..! Laila terjatuh setelah tiga langkah. Laila bangkit berdiri, melangkah kaki lagi. Hup! Dia terjatuh setelah enam langkah, Laila bangkit melangkah lagi. hingga beberapa kali dia terjatuh, tapi Laila pantang menyerah. Akhirnya Laila bisa berjalan lancar, tapi dia masih pincang, badannya masih goyang. Semua bertepuk tangan.
Laila menjalani hari-harinya seperti biasa, tapi sedikit berbeda. Laila lebih banyak berjalan hari ini. Hingga senja menjelang. Laila pulang ke kemah. Dia mengambil sesuatu dari koper tempat koleksinya. Pot bunga yang sangat cantik dengan bunga yang dibuatnya dari pipet (Tangkai bunga) dan kapas (Bunga). Bunga Dandelion di dalam pot cantik. Dia memasukkan pot dan bunga itu ke dalam kotak mika, lalu diikatnya dengan pita.
Laila bangkit berdiri. Dia menemui dokter Lala.
“Dokter Lala..!!” Laila berseru histeris sembari melambaikan tangan.
Dokter Lala mendekat. “Ada apa Laila? Histeris banget..!!”
“Ini dokter Lala..!!” Laila memberikan kotak mika itu. “Hadiah sebagai ucapan terimakasih buat dokter Lala.”
Dokter Lala terharu. “Ini hadiah terbaik.” Dokter Lala mengusap kepala Laila. Laila menyungging senyum, senyum yang manis sekali dari biasanya.
“Tapi, ada hadiah yang lebih baik dari ini.” Lanjut dokter Lala. Laila menunduk, pasti pasien-pasiennya memberikan hadiah yang mahal dan bagus dari pot ini, Pikir Laila.
“Jangan bersedih putri kecil…” Dokter Lala tersenyum. “Hadiah terbaik bagi seorang dokter adalah pasiennya yang sembuh karena jasanya, dan hadiah yang paling baik ada lah pasiennya yang pertama kali sembuh setelah menglami sakit parah. kamu lah orangnya Laila… Selama ini saya tidak pernah tahu, apakah pasien saya sembuh atau tidak? Karena saya hanya memberikan obat. Kamu Laila, sudah sembuh karena jasa ku.” Perkataan dokter Lala membuat Laila tersenyum manis. Perkataan dokter Lala begitu melekat pada hati Laila.

Tugas 7-Aila

Jenis tema cerita:Misteri.

Petunjuk gambar:Museum dan Kode.

Petunjuk cerita:Kode.

Penulis buku:Aila Dinara.

Judul Cerita:BREAKING THE CODE.

Sampul depan:20190812_121217_0000

Sampul belakang:1565611132553

Punggung buku:20190812_160031_0000

Cerita:

BREAKING THE CODE.
Nathan waited in line (unpatiently) like his classmates.Nathan’s class is going to the ANCIENT MUSEUM today.Everyone in the class was so excited and joyful because of the trip to the museum.Suddenly,a woman came towards the museum’s entrance door and lead everyone inside.
“Hello Class 7A!”announced the woman,”I bet that you are ALL excited to explore the museum today,aren’t you??”everyone nodded.
“GOOD!Now,you won’t now my name,”said the woman,”So,I’m gonna introduce it.My name is Elma.So,if you want to ask me any questions AT ALL,just come visit me,OK?”everyone nodded again.
“Goody,goody!Now,let me tell you what the rules are in this museum.
RULE 1:DO NOT TOUCH ANYTHING,UNLESS STAFF LETS YOU.
RULE 2:DO NOT MESS UP THIS VERY MUSEUM.
RULE 3:DON’T FORGET TO…HAVE FUN!!”Elma informed the children,as they were all told to go and explore the museum.

Nathan and his mates(Ron,Aiden,Riley and Miley)went to go to floor 3 to the spooky section.Nathan and his mates went up with Mrs.MacDonald.
I wonder if anything REALLY CREEPY is gonna be there.Nathan thought.Finally,Nathan reached the third floor.It was basically ALL DARK BLUE.Everything was dark,except the two candles at either sides of the third floor.
“Now,this is SO SPOOKY!”exclaimed Ron.
“Yeah,that’s right,”agreed Riley,getting closer to her twin sister,Miley.
“Hey,back off Riley!”Miley grumbled,pushing her sister so hard,that she ALMOST touched the candles.
“Oi!No pushing!”warned Mrs.MacDonald.Mrs.MacDonald informed the children that they can wander off and explore the very floor.Nathan were the first to wander off.

Suddenly,Nathan smelled something rancid and rotten.When he came closer to the smell,it got more stronger.When the smell was too strong,he knew what caused the smell to be here.There in front of him was a book.It wasn’t JUST a normal book.It’s a book,filled with blood at it’s front cover,and there was some code thingy on the front cover.On the spine of the book read,
‘DO NOT OPEN’which sounds spooky enough,even for a 12-year old boy like Nathan.Then,Nathan’s group walked towards Nathan,since they were all curious at what Nathan is seeing.
“What is it Nathan?”asked Aiden.
“This,”Nathan pointed at the bloody book.
“It’s the Coded Book,”someone informed them from Mrs.MacDonald’s back.
“Huh?”gasped Mrs.M.
“Hello.I am ever so sorry to scare you,but I am one of the museum’s staffs.My name is Tilly,”replied Tilly.
“What is this book dysplayed for Tilly?”asked Miley.
“This book is dysplayed because of the death of Van Gogh,”
“WHATTT????”the children said.
“Yes,that is true.Legends say,that this was Van G’s very SECRET book for drawing beautifully.One day,when Van G was sketching something,his book became LOST.Van Gogh found the book inside his room.Along with his drawings beside it.Somehow,Van’s drawings were ripped and chewed.When Van thought it was a wild animal that did that,he somehow disappeared.INSIDE HIS OWN BOOK.The book trapped Van inside.He was squished SO BADLY,that his blood came bursting outside his book.So,do not ever try to break the code of the book,because,THE BOOK MIGHT EAT YOU!!”warned Tilly.

When Nathan got home from school,he told his parents that he wants to go to the ancient museum again.
“Really Nathan?”groaned Dad,”Aren’t you bored of it?”
“Nope,”replied Nathan.So,that’s what Nathan’s family did.They went to the museum.
“Ooh,I want to go to the Chinese place!”exclaimed Ma as she came in the museum.
“Ma,Dad,Can I go to the third floor by myself?”asked Nathan.
“Go on then,”Dad replied,following Ma to the stairs.Nathan took the lift.He reached the third floor in no time at all.When he reached the third floor,no one was there.Instead,there were his MATES waiting for him.
“Wait,you came here too?”Nathan said.
“Yeah,obviously.Don’t you think WE weren’t curious abot the book?”said Ron.
“Whatevs.Anyways,c’mon,let’s break the code,before silly Tilly comes,”Nathan reminded his friends.Miley began reading the question.
“It says,
‘I remember you,
Less than yesterday,
But more than tomorrow.’.Does anyone know what that means?”asks Miley.
“Dunno,”everyone frowned.
“Wait!I know what it means!”exclaimed Riley,”It means that the person will remember you less each day!”
“Ok then!If you’re that CONFINDENT go and type the password to the book,”grumbled Miley(Miley’s becoming so jealous).
“OK THEN!”Riley typed the words very carefully.Suddenly,without knowing,she disappeared.
“What are you waiting for then?Let’s get in!”barked Nathan,as he and his friends slipped inside the book as well…

○○○○○TO BE CONTINUED○○○○○

Team Battle – Challenge Week 4

Credits: https://wpmisc.com/wallpaper-512448

Assalamualaikum! Yo halo teman-teman!

Untuk minggu ini Team Battle kita ada sedikit perubahan. Silahkan disimak yaa 😀

Confetti – Waktunya 7×24 jam, bisa dijawab semua anggota tim/lebih dari satu, dapat 200 poin/anggota yang mengumpulkan. Bila tidak dikerjakan poin hangus.

Story Bazooka dan Art Blaster – Waktunya 3×24 jam, semua orang bisa menyerang, bisa dijawab semua orang (tim sendiri maupun lawan), bisa dijawab lebih dari satu orang dalam tim yang sama, dapat 100 poin/anggota yang mengumpulkan. Tema bebas, gak pake crossover, harus appropriate for kids. Story Bazooka boleh dijawab dengan Puisi. Bila tidak ditangkis oleh tim yang diserang, tim yang menyerang dapat 100 poin. Masing-masing anggota tim punya jatah 1 Story Bazooka dan 1 Art Blaster dalam minggu ini.

Flash Attack – Waktunya 1×24 jam, hanya kapten yang bisa menyerang, bisa dijawab semua orang (tim sendiri maupun lawan), bisa dijawab lebih dari satu orang dalam tim yang sama, dapat 200 poin/anggota yang mengumpulkan. Tema bebas, gak pake crossover, harus appropriate for kids. Bila tidak ditangkis oleh tim yang diserang, tim yang menyerang dapat 200 poin. Masing-masing kapten tim punya jatah 1 Flash Attack dalam minggu ini.

Kapten Tim & Anggota

Kaptennya gantian ya guys..

Tim Alpha

Kapten: Cantika @websitebelajarwebsitekodingdanlainlain

Pasukan:

Amanda @marsmellowmozara

Ayska @aghayska

Abi @abimanyurw

Jaihan @ummujaihan

Dira @umminadira

Sarah @sarahtanujaya

Tim Bravo

Kapten: Namira @umminadira

Pasukan:

Khalisa @kshasie

Angga @satriamanggala

Binar @binaras

Aila @luvkoala

Nada @ummujaihan

Umar @seterahmaudipanggilapa

Jadwal Online – Silahkan atur dengan tim masing-masing kalau mau komunikasi.

Writejam – Akan ada sesi Writejam (chat & nulis bareng) di hari Jum’at jam 14-15 WIB. Syarat: punya akun Discord (www.discordapp.com) dan Google Docs. Yang berminat komentar di bawah ya ^^

Any Questions? Tulis di sini 🙂

[CLOSED] Team Battle – Challenge Week 3 – Dystopia

THE SETTING

Bumi, tahun 2519. Lima puluh tahun setelah The Pulse, saat energi badai matahari terbesar menabrak atmosfir planet ini. Kerusakan lingkungan yang terjadi di bumi membuat pelindung radiasi kita bolong-bolong, sehingga badai tersebut langsung menghantam permukaan. Beberapa kota di daratan gosong terbakar. Terjadi gelombang kejut elektromagnetik yang mematikan seluruh perangkat elektronik dan komunikasi di seluruh dunia. Semua satelit rusak dan pembangkit tenaga listrik meledak, membuat bumi diselimuti gelap dan sunyi. Negara-negara tumbang, aksi jahat bersahut-sahutan.

Sebuah organisasi penjahat bernama POX menggerayangi CAPITOL, ibu kota negara MALACCA, yang sudah hampir kolaps karena bencana tersebut. Pemerintah Malacca sudah berusaha bangkit, namun kemajuannya bisa dibilang lambat. Hanya satu pembangkit tenaga listrik yang berhasil dihidupkan kembali, yang hanya cukup menerangi setengah kota Capitol pada malam hari, sehingga pemadaman bergilir dilakukan. Pemerintah juga sudah memuat Program Genecha, yang memisahkan semua anak dari orang tua mereka dan melatih mereka menjadi Saber, agen pemerintah berkekuatan super untuk membela negara. Mereka dipasangkan dengan saudara masing-masing dan ditempatkan di Komplek Besar Fortz, di pinggiran kota Capitol, dibentengi dengan pagar tinggi untuk mencegah akses masuk dan keluar.

Suatu malam POX mendobrak pertahanan komplek tersebut, meruntuhkan tembok dan memporak-porandakan fasilitas di sana. Semua agen Saber melarikan diri dari barak-barak dan gedung-gedung, berpencar di tengah kegelapan malam. Ini adalah cerita sekumpulan anak yang bebas dari cengkeraman pemerintah yang telah memenjara mereka di sana.

Bagaimana cara mereka kabur? Apa yang akan mereka hadapi? Apa yang akan mereka lakukan sekarang? Ke mana mereka akan pergi? Apakah keluarga mereka masih ada? Bisakah mereka berkumpul kembali dengan keluarganya?

HOW TO START THIS GAME

Step 1 – Senin 15 Juli 2019 – CONFETTI (challenge dari game master)

Kalau kamu memilih menulis cerita, buatlah perkenalan terhadap 2 orang karakter (kakak & adik, boleh kembar/tidak) untuk cerita kamu, minimal 1 paragraf. Sertakan kekuatan dan kelemahan masing-masing. Lalu tulis kisah bagaimana mereka kabur dari Komplek Fortz. Dalam perjalanan mereka harus bertemu dengan beberapa pasukan POX. Tuliskan kejadiannya.

Kalau kamu memilih gambar, buatlah gambar karakter tokoh atau latar belakang sekitar komplek Fortz.

Poin: +200/anggota tim yang berhasil mengumpulkan
Due: Rabu 17 Juli 2019, 23:59:59 WIB

Step 2 – Selasa 16 Juli 2019 – STORY BAZOOKA (challenge cerita dari kapten tim)

Kapten masing-masing tim memberikan challenge STORY pada tim lain, berupa apa yang harus mereka hadapi hari itu. Bisa berupa kesulitan tertentu, atau sekedar aktifitas sehari-hari, atau tempat yang harus dikunjungi, atau percakapan tentang sesuatu.

Misal: Tim Alpha memberi tantangan pada Tim Bravo: “Sudah dua hari kakak beradik itu kelaparan dan tidak punya uang. Ketika sedang mencari makan, si adik tertangkap pasukan POX. Tulis bagaimana kakaknya dapat menyelamatkannya.”

Atau: Tim Bravo memberi tantangan pada Tim Alpha: “Kedua saudara itu sampai di Pantai Tebing Tinggi. Mereka belum pernah ke pantai. Tulis kegiatan dan percakapan yang mereka lakukan di sana.”

Poin: +100/anggota tim yang berhasil mengumpulkan
Due: Kamis 18 Juli 2019, pukul 23:59:59 WIB

Step 3 – Kamis 18 Juli 2019 – STORY BAZOOKA (challenge cerita dari kapten tim)

Sama seperti Step 2. Berikan challenge STORY pada tim lawan berupa kesulitan yang para karakter hadapi hari itu, dengan catatan mereka bertemu karakter dari penulis lain (cross over). Penulis bebas memilih karakter dari tim sendiri atau dari tim lawan.

Contoh: Amanda punya karakter namanya Ami dan Ani, Cantika punya karakter namanya Eli dan Evan. Di cerita ini Ami, Ani, Eli, dan Evan ini harus bertemu dan bekerja sama.

Poin: +100/anggota tim yang berhasil mengumpulkan
Due: Sabtu 20 Juli 2019, pukul 23:59:59

Step 4 – Sabtu 20 Juli 2019 – ART BLASTER (challenge gambar dari kapten tim)

Kapten masing-masing tim memberikan challenge ART pada tim lain, yang berkaitan dengan cerita/setting game ini. Contoh: gambar saat karaktermu bersembunyi di hutan.

Poin: +100/anggota tim yang berhasil mengumpulkan
Due: Senin 22 Juli 2019, pukul 23:59:59

THE TEAM

Tim Alpha

KAPTEN:
Amanda (13), Tangsel, @marsmellowmozara – WRITER

PASUKAN:

Tim Bravo

KAPTEN:
Khalisa (14), Tangsel, @kshasie – WRITER/ARTIST

PASUKAN:

ANY QUESTIONS?
Silahkan tanya di sini 🙂

Challenge Week 3: Tugas 3 dan Team Battle Updates

Assalamualaikum teman-teman!

Selamat kembali ke sekolah yaa buat teman-teman yang hari ini masuk sekolah. Wahhh kelas yang baru, bertemu teman-teman yang baru. Pasti seruuu! Nanti ceritakan kisah hari pertama di sekolahmu yaa ehehehe…

Tugas 3

Kali ini kita masuk minggu ke 3, yang berarti saatnya mengerjakan tugas 3. Bila kamu sudah masuk sekolah, tentu waktumu jadi lebih terbatas. Silakan diskusikan dengan orang tuamu mengenai pengerjaan tugas, kira-kira kapan baiknya kamu menyisihkan waktu untuk mengerjakan proyek ini.

Setelah mengerjakan 2 tugas sebelumnya, tentu kamu sudah ada gambaran berapa total waktu yang kamu butuhkan untuk membuat 1 sampul. Mungkin 1 jam pertama untuk membuat ide cerita dan sketsa kasar sampul kamu. Lalu 1 jam di hari berikut untuk membuat ilustrasi sampul. Dan 1 jam di hari setelahnya untuk membuat layout sampul kamu. Atau mungkin 1 jam di hari Sabtu dan 2 jam di hari Minggu? Yah, pokoknya silahkan atur waktunya sesuai jadwal kegiatanmu yaa… ^^

Buat yang belum intip tugas 3, kamu bisa klik di sini untuk melihat deskripsi tugasnya.

Team Battle

Naah, berhubung para pasukan sudah mulai menerima misi dari Bu Guru di sekolah masing-masing, kemungkinan besar kehadiran pasukan berkurang, Kapten. Untuk itu bagi yang ingin tetap mengikuti Team Battle, tolong kirim pesan ke WA atau tulis komentar di sini untuk bilang kamu masih mau ikutan. Sertakan juga kira-kira kamu kapan bisa muncul di markas, supaya sang kapten nggak kebingungan pasukannya pada bolos apel pagi hehehe…

Misal nih, kamu cuma bisa ikut Team Battle di hari Sabtu & Minggu, tulis saja: Sari / Sabtu jam 18-19 malam & Minggu jam 8-9 pagi. Kalau anggota tim ngga balance, nanti kita ubah peraturan atau pembagian timnya.

Kalaupun kamu tidak bisa ikut Team Battle, jangan khawatir, kamu tetap bisa menambah poin untuk tim masing-masing dari tugas yang kamu kerjakan ^^

Scoreboard

Update team scoreboard di awal minggu ketiga:

Tim Merah: 14.835

Tim Biru: 13.840

Congrats buat Tim Merah! Saya lihat sepertinya Tim Biru kekurangan pasukan yang mengumpulkan tugas yaa… banyak yang tidak aktif di Tim Biru. Nanti saya atur lagi pembagian timnya biar imbang 🙂

Untuk Petugas Patroli belum ditentukan ya teman-teman, menunggu konfirmasi siapa saja yang mau ikutan ^^

Oke sepertinya sekian dulu info terbaru proyek kita. Selamat mengerjakan & semoga sukses!