Tugas 3 Davi

Tema: cerita bertema keluarga

Judul :the Kobayashi’s ” modern day ninja

Petunjuk gambar: menemukan ketiga jalan

Sampul depan

Sampul belakang

Punggung buku

Advertisement

Tugas 3-Khalisa

Tema Cerita : Keluarga

Petunjuk Gambar : Anak Kembar

Petunjuk Cerita : Anak Kembar

Nama Penulis : Khalisa NF Shasie

Cerita :

Motherhood

Pembukaan :

  1. Topik pembicaraan anak sulung

Tokohnya Kak Ricky dkk ya…

Yang ngerasa jadi ortu, adek, kakak atau anak tengah jangan tersinggung ya…

Soalnya aku dapat cerita ini dari temen-temenku juga

Kak Ricky : Repotnya punya adek…

Author : Emang :v

Oswald : Memang repot kalau punya adek, tapi kita juga bisa nyuruh-nyuruh mereka *plak* *based on true story* Aku suka dijahilin adikku, trus kalau dilaporin ke ortu, pasti dibiarin. Giliran aku jahilin adikku dan dia ngelapor ke ortu, aku pasti dihukum *derita anak sulung*

Catatan : Kemaren waktu lagi nyari nama anak cewek Inggris, aku nemuin nama Oswald. Padahal kukira Oswald itu nama cowok ^3^. Tapi Oswald yang di sini cowok kok.

Eric : Biasanya kalau adikku yang salah, aku yang dimarahin *berdasarkan kisah teman :v* Masa ada orang yang menyatakan kalau anak sulung itu anak yang paling disayang, anak perjuangan.

Author : Orangnya yang nulis sok tau tuh.

Oswald : Memang sih, yang biasanya disayang itu cuma anak bungsu.

Author : Berarti Kakak nggak disayang ortu ^3^.

Oswald : -_-

Kak Ricky : Adekku bandel banget.

Author : Masa sih…Gitu-gitu kan Kakak juga suka ngandalin Ren *plak lagi*

Eric : Kita memang bisa manfaatin adek sih *smirk*

Oswald : Hm, setuju.

Author : Terus, kalau ada sesuatu yang menyenangkan kita pasti disuruh ngalah.

Oswald : Setuju

Kak Ricky : Tapi kan, sebagai anak sulung, hanya aku yang bisa mengendalikan perusahaan ^3^

Eric : Auth, jangan pakai emoji mengerikan itu dong.

Author : OK

Oswald : Enakan pas jadi anak tunggal -_- Soalnya, seluruh kekayaan keluarga cuma ngelimpah ke aku.

Author : Maksud Kakak apa?

Oswald : Ya waktu aku masih jadi anak tunggal, aku nggak perlu pinjem-pinjeman HP atau laptop sama adek *based on true story nya friend*.

Author : Iya juga sih, tapi…

Forum anak sulung : Kita sebagai anak sulung bisa manfaatin adek masing masing *plak* Meski kadang menderita juga -_-

  • Topik pembicaraan anak tengah

Tokohnya Ress dkk, soalnya Ress itu kakak kembarnya Ren ya…

Alice : Aku nggak suka jadi anak tengah di keluargaku, pasti disuruh-suruh terus sama kakakku. Yang paling disayang ya adikku doang.

Ress : Hm, kalau di keluargaku sih, biasanya yang disuruh-suruh adikku.

Rilianne : Kalau di keluargaku sih, aku yang anak tengah biasa aja.

Ress : Jadi anak tengah memang biasa aja ‘_’

  • Topik pembicaraan anak bungsu

Yang jadi tokohnya Ren dkk

Ren : Aku nggak suka punya kakak. Disuruh-suruh melulu.

Author : Emang ‘_’

Marianne : Tapi di keluargaku, anak bungsu itu yang paling disayang.

Ren : Itu kan kamu -_-

Annabeth : Kalau di keluargaku sih juga sama 😀

Marianne : Memang sih, jadi anak bungsu memang menyenangkan, meski terkadang nggak terlalu menyenangkan, terutama kalau dijahili sama kakak laki-laki.

Ren : Aku sih nggak masalah sama yang itu.

Annabeth : Paling kamu ngelapor ke ortu ^_^

Ren : Nggak tuh, aku bales jahilin.

Annnabeth & Marianne : -_-

***

Ren POV

Hujan salju turun di sepanjang jalan. Bau khas kue jahe dan cokelat panas menguar dari toko-toko. Lagu-lagu khas natal diputar di sana sini. Udara semakin mendingin, aku merapatkan syal dan mantel yang kupakai. Aku lalu membayangkan imej-imej anak perempuan yang kadang suka ditindas oleh temannya sendiri.

Di Jepang, imej anak perempuan yang tertindas adalah perempuan yang memakai kacamata dengan rambut yang dikepang, lalu mereka itu suka menyendiri dan membaca buku. Sementara di sekitarku, imej anak tertindas biasanya anak perempuan yang berambut panjang dan menutupi muka, dan pada umumnya mereka juga pendiam sih.

Pikiranku sedikit melayang-layang mengingat temanku yang bernama Anna Alberta. Dia anak yang cukup manis, tapi sayangnya ia sering ditindas oleh siswi-siswi lain.

“Ren, film tadi seram sekali ya…Aku takut…” ucap Ress seraya memeluk lenganku.

“Biasa saja kok.” balasku. Aku dan Ress baru saja pulang dari bioskop untuk menonton film di akhir pekan. Film yang kami tonton adalah film Creep (2015).  Tadi, saat di bioskop berisik karena banyak perempuan yang berteriak ketakutan saat film diputar. Salah satu perempuan yang menjerit itu adalah kembaranku sendiri. Kepalaku jadi pusing karena mendengar kebisingan di bioskop tadi.

Memang, akhir-akhir ini, Ress yang sebelumnya seorang K-Popers, mulai berubah menjadi seorang penonton film horor. Sementara aku sudah suka film horor dari dulu.

“Mmm, Ren, kamu masih punya CD film horor kan? Nanti di rumah nonton lagi yuk.” Ajak Ress.

Aku menoleh ke arahnya dan memasang tatapan meremehkan.”Lebih baik tidak usah. Bukannya sepanjang menonton film tadi kau ketakutan?”

“Aku tidak takut!” sanggah Ress.

“Oh ya? Buktinya sampai sekarang kau masih gemetaran ketakutan.” ucapku lalu tertawa.

“Aku tidak ketakutan! Aku menggigil kedinginan tau!”

Aku masih terus tertawa, sementara Ress memukul tanganku pelan. Akhir pekan ini terasa menyenangkan meski tidak ada Kak Ricky. “OK, nanti di rumah kita akan menonton film yang kau mau, tapi jangan menjerit seperti tadi ya.” ucapku seraya menyeringai.

 “Terserahlah!” balas Ress seraya memalingkan wajah. Tapi sedetik kemudian dia menarik tanganku. “Itu bukannya Alberta ya?” tanya Ress seraya melirik ke arah gang di samping. Tampak siluet seorang gadis dikelilingi oleh beberapa anak perempuan lain.

“Dari mana kau tau kalau itu Alberta? Bisa saja itu orang lain.” Ucapku tidak peduli.

“Kelihatannya gadis itu sedang dijahati.” Ress menebak-nebak.

“Kau kan tidak melihatnya secara jelas.” balasku. Aku menarik tangan Ress, “Ayo kita pulang. Bisa jadi mereka sedang mengobrol atau apa. Bisa jadi mereka hanya teman biasa, bukan apa-apa.”

“Oh…Em, Ren, apa menurutmu mereka sedang melakukan hal yang biasa? Jika memang teman, kenapa salah satu dari mereka menampar yang lain?” tanya Ress lagi.

Kali ini aku menghentikan langkahku. Aku berusaha memerhatikan kumpulan gadis yang berada di gang itu, lalu berjalan mendekat. Akhirnya aku bisa mendengar percakapan mereka meski suaranya agak pelan.

“Ayo berikan uang jajanmu pada kami!”

“Kamu tidak akan menyesal!”

“Nanti akan kuganti uang jajanmu itu. Kalau kamu mau menuruti kami kamu juga akan kuberi tambahan!”

Sepertinya gadis itu memang ditindas,’ gumamku dalam hati.

Aku mengambil dompetku, lalu melemparnya ke arah gadis-gadis itu. Serempak, mereka menoleh padaku dan Ress. Rupanya, gadis-gadis itu adalah Odd Geng, sekelompok pembuli di sekolahku. Dan, gadis yang sedang ditindas itu memang Alberta.

Aku berjalan mendekat, lalu mengambil dompetku kembali.“Maaf mengganggu acaranya. Tadi dompetku jatuh di sini.” ucapku, lalu berbalik pergi.

“Kamu sedang apa?” tanya Bridget, ketua Odd Geng.

“Ya, tadi kamu sudah lihat kan? Aku hanya mengambil dompetku. Tenang saja, aku tidak lihat apa yang kalian lakukan pada Alberta.” ucapku berpura-pura.

“Hei, Ren, kuberitau ya, ini bukan pemerasan!” ucap salah satu dari Odd Geng, nama gadis itu adalah Viona.

Aku tertawa pelan,“Iya aku tau kalau ini bukan pemerasan.” Aku tersenyum, dan melanjutkan,”Tapi penindasan ‘kan? Ya…Kalau begitu besok akan kulaporkan pada Miss Angie.”

Odd Geng menggeram kesal. “Kami akan pergi hari ini, Anna!” ucap Bridget pada Alberta. Lalu mereka semua pun pergi meninggalkan kami bertiga.

“Ayo Ress, kita pulang!” ucapku seraya menarik tangan Ress.

Waktu itu, tanpa sengaja, pandanganku dan pandangan Alberta bertemu. Matanya tampak berbinar-binar seolah hendak menyampaikan sesuatu. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Alberta juga tersenyum, tapi ia tidak mengatakan apa pun. Sampai di sini, hubunganku dan Alberta hanyalah teman biasa.

***

Ren POV

Keesokan harinya…

“Kalian sudah menonton film Creep?!”

Begitu aku dan Ress masuk ke kelas, kami sudah diserbu *eh, maksudnya dihampiri ding, kalau diserbu kan, orangnya bisa terluka* oleh Alice, Annabeth, Marianne dan Rilianne. Sekarang, teman dekatku bukan Shira lagi. Saat naik ke kelas tiga, Shira tidak lagi sekelas denganku. Sekarang, teman dekatku adalah Alice, Annabeth, Marianne, dan Rilianne.

“Sudah, kemarin.” ucapku seraya menaruh tas di bangku. Alice duduk di deretan bangku di depanku bersama Rilianne, sementara Annabeth dan Marianne duduk di deretan bangku di belakangku.

“Oh ya, aku sudah punya boneka voodoo lho!” ucap Alice. Ia mengambil sebuah boneka voodoo berwarna putih dari tasnya dan memamerkannya pada kami. Di leher boneka itu ada sebuah pita berwarna biru.

Aku mengambil boneka voodoo itu. “Wah, ini yang namanya boneka voodoo ya. Kok imut begini sih…” ucapku seraya menyeringai jahil.

“Sudah ah! Aku memang sengaja menambahkan pita biru itu supaya boneka voodoonya tidak seram tau!” balas Alice.

“Kalau takut, kenapa kamu beli? Daripada membicarakan tentang boneka voodoo…” ucapku seraya mengambil dua boneka kelinci dari tas,”…nih, lihat! Boneka B-Rabbit sama White Alice yang kubeli waktu ke Jepang!”

“Apa ini?” tanya Alice sambil memerhatikan kedua boneka itu.

“Ini bukannya bonekaku ya?” tanya Ress seraya mengambil boneka White Alice. “Kapan kamu ambil, Ren?”

“Hehe, kemarin malam, sewaktu kamu sudah tidur.” jawabku.

“Oh ya, Ren, ini boneka apa? Namanya siapa?” tanya Annabeth.

“Kan tadi sudah kubilang, ini boneka White Alice,” ucapku seraya mengambil boneka kelinci berpita biru,”Kalau yang ini boneka B-Rabbit.” lanjutku seraya menunjuk boneka kelinci berpita merah. “Boneka B-Rabbit ini punyaku, sementara boneka kelinci yang White Alice itu punya Ress.”

“B-Rabbit itu apa sih?” tanya Marianne.

“Artinya Black Rabbit, kelinci hitam.” jawab Ress.

“Haha, tadi kan Marianne bertanya pada Ren.” ucap Rilianne.

“Oh ya, katamu, waktu ke Jepang kamu membeli ini kan? Waktu itu ada acara apa?”tanya Marianne.

“Waktu itu pamanku ada urusan ke Jepang. Beliau pergi bersama istrinya, dan mengajak kami dan kakakku.” ucapku.

“Terus?”

“Waktu di Jepang, karena sibuk, pamanku menitipkan aku dan Ress dengan kenalannya yang bernama Azusa Murakami.” aku menoleh pada Ress,”Kamu masih ingat dengan Azusa-chan tidak?” tanyaku.

“Ah, Azusa-chan ya? Iya, aku masih ingat.” Ress mengangguk.

“Lalu…?”

“Azusa-chan pernah mengajak kami ke Mall Bla bla bla *nama samaran*, lalu di sana ternyata sedang ada pameran anime begitu. Kebetulan, waktu di stand anime Bla bla bla *nama samaran*, aku lihat ada boneka ini. Terus aku sama Ress beli deh.” lanjutku.

*bilang aja kalo lo suka sama anime, Thor*

*hehe, sori ^_^*

“Oh ya, Azusa-chan itu jago bahasa Inggris?” tanya Annabeth tertarik.

“Lumayan sih.” ucapku seraya mengingat-ingat.

“Kalian pasti punya foto waktu di Jepang kan?” tanya Marianne.

Ress mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mengoperkannya pada Marianne dan Annabeth. “Itu kebanyakan foto kami sewaktu kami jalan-jalan di Kyoto.” ucap Ress. “Waktu itu kakak kami tidak ikut jalan-jalan. Ia ikut bersama paman dan bibiku.”

“Eh, Ren! Memang kamu itu punya kakak yang lain ya? Bukannya kakakmu hanya Ress?” tanya Alice.

“M….Aku punya kakak laki-laki, namanya Ricky.” ucapku.

Rilianne tampak tertarik.“Terus? Kakak kamu itu seperti apa orangnya? Ganteng ya?” tanya Rilianne. “Eh, aku boleh coba lihat foto kakakmu?”

Aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan salah satu foto Kak Ricky pada Rilianne. Cukup lama Rilianne memegang ponselku. “Wah, ini foto kakakmu ya?” tanya Alice.

“Iya.” jawabku.

“Fotonya diambil sewaktu kapan nih?” tanya Annabeth. Ternyata, tau-tau saja Annabeth dan Marianne sudah ikut merubung ponselku.

“Itu sewaktu kakakku ikut pertandingan basket di Florida.”

“Eh, Ren, kakak kamu kelas berapa sih? Dia tidak satu sekolah sama kita ya? Habisnya aku tidak pernah melihatnya.” tanya Rilianne. Annabeth, Alice dan Marianne juga menatapku seolah-olah meminta jawaban.

“Kenapa, kok tanya-tanya tentang kakakku? Tertarik ya?” godaku. Pipi Rilianne merona malu. Aku tersenyum jahil,“Ya sudah kalau kamu mau tau. Tapi jangan kaget ya, apalagi menyesal.” lanjutku.

“Ah, mana mungkin aku menyesal.” ucap Rilianne.

“Kakakku sekolahnya juga di sini kok, di London Central University. Umurnya kalau tidak salah tahun ini akan menjadi dua puluh dua.” jawabku.

“Hah?! Kakakmu itu sudah kuliah?”

Yang kaget bukan hanya Rilianne. Annabeth, Alice dan Marianne juga kaget. Aku menoleh ke arah Ress, dan ia hanya mengangkat bahu, seolah-olah tidak peduli.

“Kenapa, kalian sangat tertarik pada kakak kami ya? Hm, kalau mau sih, kalian bisa kenalan sama Kak Ricky kok.” ucap Ress. Ia tersenyum simpul, mengabaikan aku yang agak bingung.

“Eh?! Boleh nih?! Kapan?!” tanya Rilianne dkk serempak. Ress menoleh padaku. “Kalau kalian mau, nanti malam ke rumah kami saja. Biasanya sih, kalau malam Kak Ricky sedang ada di rumah. Bagaimana Ren, kamu setuju tidak?”

“Wah setuju banget! Boleh sekalian menginap tidak?”

“Nanti ya, tanya kakakku dulu.”

Aku termangu sejenak karena percakapan itu, tidak sadar ada sesosok bayangan yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kami berenam. Aku baru sadar ketika orang itu berbicara,”Oh, nanti malam kalian mau berkunjung ke rumah Ren dan Ress ya?! Sebelumnya, bersihkan toilet dan gudang sekolah dulu!”

Aku terlonjak, Ress terkaget-kaget, Annabeth melongo, Alice terperangah tidak percaya, Marianne juga terperangah sementara Rilianne gemetaran menatap orang itu. Orang itu adalah Mr. Bred, wali kelas kami yang super galak.

***

Ren POV

“Huh…Mr. Bred menyebalkan! Karena membersihkan toilet, aku menjadi lelah! Padahal setelah ini kan masih ada pelajaran olahraga!” keluh Rillianne. “Lagi pula, aku tidak terbiasa membersihkan toilet tau! Susah! Susah!” jeritnya.

Aku menatap teman-temanku yang sedang membersihkan toilet satu per satu. Alice sedang membersihkan langit-langit toilet, Rillianne sedang membersihkan kaca, Annabeth sedang menggosok lantai, Marianne juga sedang menggosok lantai, Ress juga sedang membersihkan langit-langit, sementara aku secara sukarela mengambil bagian membersihkan kloset.

Perlu kuakui kalau secara umum murid-murid di sekolahku tidak ada yang pandai dalam urusan membersihkan rumah. Kebanyakan teman perempuanku juga tidak pandai memasak. Sedari tadi, hanya aku dan Alice yang tidak mengeluh. Aku sih, biasa saja terhadap tugas-tugas seperti ini, sementara kalau Alice, mungkin ia senang karena bisa menghindari pelajaran fisika yang dibencinya—Mr. Bred mengajar fisika di kelas kami.

“Tidak apa-apa. Setelah ini kan kita bisa istirahat sebentar.” ucap Marianne menanggapi.

Jadi begini, singkat kata singkat cerita, karena kami tidak memperhatikan bel sekolah dan kedatangan Mr. Bred karena terlalu asyik mengobrol satu sama lain, kami dihukum, disuruh membersihkan toilet-toilet angker di London Central Elementary School, lalu dilanjut dengan toilet di sekolah kami sendiri, lalu ke toilet angker di London Central Senior High School, dan yang terakhir, London Central University. Sekarang, kami sedang membersihkan toilet angker terakhir di kampus Kak Ricky.

“Ah, capek!” keluh Annabeth. Ia berhenti menggosok lantai, lalu duduk.

“Nanti rokmu bisa kotor.” Ress memperingati.

“Ah iya ya.” Annabeth segera bangkit, lalu kembali menggosok lantai. Akhirnya, kami kembali mengerjakan pekerjaan kami masing-masing.

***

Ren POV

“Aduh, badanku pegal-pegal…” ucapku saat aku dan Ress sedang berada di ruang ganti pakaian. “Mr. Bred mengasih hukumannya tidak kira-kira!” keluhku lagi. Memang, di depan teman-temanku aku tidak mengeluh soal membersihkan toilet itu. Tapi ya, aku masih manusia, masih mengeluh juga.

“Kamu tidak usah ikut pelajaran olah raga saja.” saran Ress.

“Aku mau ikut pelajaran olah raga!” pintaku.

“Tapi, apa nanti kamu tidak terlalu lelah?” tanya Ress.

Aku terdiam sebentar. Alasanku ingin ikut olah raga kali ini—meski badanku masih pegal-pegal—adalah karena materi pelajaran olah raga kali ini adalah bermain tenis. “Aku sudah lama tidak main tenis.” gumamku.

“Ya sudah, terserahmu saja…” balas Ress. “Tapi, ingat! Nanti malam mereka akan berkunjung ke rumah kita. Jangan sampai kamu kelelahan.”

“Tentu saja!” aku tersenyum.

“Eh, sebentar, tadi ada pesan dari Miss Angie.” ucap Ress seraya meraba-raba saku celana olah raganya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu. “Untuk pelajaran biologi, kita disuruh sekelompok dengan Alberta. Tugas biologinya itu kira-kira sebagai PR liburan musim dingin, tapi cukup banyak. Nanti kuberitau detailnya.” lanjut Ress seraya menyimpan ponselnya.

“Oh… begitu.” tanggapku. “Jadi, kita harus kerja kelompok dengan Alberta ya?”

“Kelihatannya kamu tidak senang.” ucap Ress.

“Biasa saja kok.” balasku.

Begitu keluar dari ruang ganti pakaian perempuan, kami dihadang oleh Odd Geng. Ketuanya, Bridget, tersenyum sinis.”Kudengar kamu akan sekelompok dengan Anna pada saat pelajaran biologi ya?”

Aku memasang ekspresi datar. “Kalau iya, memang kenapa?”

“Dengar ya, kamu tidak boleh membela Anna atau membantunya!” bisik Bridget. Ia menarik kerah bajuku,“Kalau kamu melawan, kamu akan kubuat menyesal karena menolongnya, di sini sekarang juga!”

“Oh ya?”

Aku melepaskan tangan Bridget. Ia tampak bingung. Aku menarik napas sejenak, lalu menendang ke atas, kena telak ke dagu Bridget. Perempuan itu terjatuh, namun tidak ada seorang pun anak buahnya yang mau menolongnya. “Kalau kalian tidak mau terluka seperti Bridget, kalian jangan coba-coba mengganggu Alberta.” ucapku kalem.

Anak-anak buah Bridget mengangguk. Mereka membantu Bridget berdiri, mundur teratur, lalu kabur begitu saja.

“Ayo, Ress, sampai kapan mau diam di sana? Pelajaran olah raga akan segera dimulai!” ucapku seraya menarik tangan Ress.

“Eh, oh ya. Eh, Ren, tadi itu namanya tendangan apa? Kamu belajar di mana?” tanya Ress.

“Aku tidak belajar di mana-mana kok.” jawabku. “Tapi, dulu waktu kita ke Jepang, sewaktu di kuil Shinto-cho, di sana ada bangunan kayu begitu ‘kan? Lalu di sana ada orang-orang yang latihan bela diri begitu ‘kan? Azusa-chan bilang itu namanya dojo, dan orang-orangnya sedang latihan bela diri tekondo. Aku sempat melihatnya cukup lama, jadi hafal beberapa gerakannya.”

“Ngomong-ngomong, gerakan tadi cukup mudah! Aku mau coba!” ucap Ress seraya berusaha menirukan gerakanku tadi. Tapi ia malah mengaduh-aduh kesakitan.

Memang, tendangan tadi sekilas mudah, seperti split ke atas saja. Tapi, kalau ototnya kaku, akan susah. Ototku cukup lentur karena pernah ikut klub Field and Track sewaktu kelas enam. Lagi pula, kalau asal tendang seperti Ress tadi, bisa berakhir di Ruang Kesehatan secara mengenaskan *maksudnya berakhir di Ruang Kesehatan karena kecerobohan diri sendiri ding*

***

Aku menenteng tas olah ragaku, dan berjalan keluar dari halte bus bersama Ress. Seperti anak kembar pada umumnya, kami menganut motto ‘ke mana-mana bersama’. Aku melirik jam tangan, rupanya sudah jam enam sore. Salju masih menumpuk di jalanan. Kabarnya, malam hari ini salju akan kembali turun.

“Nanti malam makan apa ya…” tanya Ress.

“Aku sudah tau mau masak apa kok.” jawabku.

“Ren! Ress!”

Kami berdua serempak menoleh. Tampak seorang gadis berambut cokelat panjang sepunggung berlari menghampiri kami.

Kami berhenti berjalan. Ia juga berhenti berlari, ia membungkuk dan napasnya terngah-engah.

“Alberta…?” tanya Ress.

Gadis itu mengangkat kepalanya seraya berusaha mengatur napas. Pipinya merona merah, dan ia tersenyum. “Eh, kata Miss Angie, kita sekelompok pada pelajaran biologi ‘kan? Kapan kita mau mulai mengerjakannya? Maaf ya, mendadak memanggil kalian seperti ini!” ucap Alberta.

“Oh begitu. Kebetulan sih, aku dan Ress lagi pulang ke rumah. Kalau mau ayo mampir, nanti kita diskusikan PR nya di rumahku saja.” jawabku sambil melirik Ress.

Ress mengangguk setuju. “Ayo, Alberta, ikut ke rumah kami saja mau?”

Alberta tampak senang, matanya yang berwarna hijau—yang mirip dengan Ress itu—berbinar gembira. “Oke, aku ikut!”balasnya.

Sepanjang sisa perjalanan ke rumah, Ress dan Alberta asyik mengobrol. Tapi, topik obrolannya biasa saja, tidak terkait topik yang sensitif, keluarga atau semacamnya.

“Beli cokelat dulu yuk!” ajakku saat kami melintasi sebuah kafe.

“Emmm boleh juga! Ayo, Alberta!” ucap Ress seraya menarik tangan Alberta. Aku menekan gagang pintu kafe tersebut, membukanya, dan aroma manis khas cokelat dan kue jahe menguar.

“Eh, tunggu dulu, aku tidak mempunyai uang.” ucap Alberta.

Aku menunjukkan dompetku. “Jangan khawatir, kamu akan kujajani kok.” ucapku seraya mengedipkan mata.

Alberta tersenyum, membiarkanku mengikuti kemauanku.

***

Ren POV

Sesampainya di rumah…

“Ayo masuk, Alberta!” ajakku. Aku membukakan gerbang rumah, dan membiarkan Ress dan Alberta masuk duluan. Aku segera masuk dan kembali menutup gerbang rumah.

“Wah, rumahmu besar ya… Ada berapa lantai?” tanya Alberta.

Kebetulan, di komplekku, hanya rumah kami yang bertipe hook. Makanya halamannya super luas. Halaman depan di pasang paving block, dan di halaman belakang ada kolam renang dan taman mini.

“Hanya dua kok.” jawab Ress seraya tersenyum.

Catatan : kalau orang Inggris itu menyebut lantai itu seperti ini, lantai satu dibilangnya lantai ground (di lift ditulisnya G), lantai dua itu lantai satu, dan seterusnya.

Kami bertiga menaiki tangga yang terhubung dengan pintu depan. Ress mengeluarkan kunci cadangan dari saku jaketnya, dan membuka pintu. “Ayo masuk Alberta, mau kusajikan teh atau cokelat?” tanya Ress.

“Eh, Alberta, tunggu dulu! Sebelum masuk, ganti sepatunya dengan selop rumah dulu ya!” aku menginterupsi. Aku mengambilkan selop rumah khusus untuk para tamu, lalu memberikannya pada Alberta. “Pakai ini ya! Supaya lantai rumahnya tidak kotor!”

“Oh eh ya, terima kasih.”

“Ayo ke ruang tamu! Biar aku yang bawakan tasnya!” ucap Ress.

“Eh, jangan repot-repot…” wajah Alberta terlihat memerah.

“Harusnya kamu yang jangan sungkan-sungkan dengan kami…” ucapku.

Aku membukakan pintu ruang tamu, dan menyuruh agar Alberta segera masuk. Ress segera menyuguhkan minuman pada Alberta.

 Ruang tamu, atau ruang perapian besar, adalah salah satu ruang kesukaanku di rumah. Lantainya adalah lantai parquet, dilapisi oleh permadani tebal berwarna merah, dan dindingnya dilapisi wallpaper bermotif bunga krisan emas. Ada empat sofa beludru berwarna merah, mengelilingi sebuah meja kecil di tengah ruangan. Di atas meja itu ada berbagai macam makanan ringan berMSG, yang kebetulan oleh-oleh dari Kak Ari, kolega Kak Ricky yang tinggal di Indonesia.

*bilang aja kalo kamu suka makanan MSG Thor*

*emang suka sih…*

Tepat di seberang pintu, ada sebuah perapian besar. Memang sih, ada tiga perapian di ruangan lain, tepatnya di perpustakaan pribadiku, di ruang bermain dan di ruang kerja Kak Ricky, tapi perapian paling enak hanya ada di ruang tamu. Di hari seperti ini, kebanyakan orang memasang penghangat ruangan, tapi saat membangun rumah ini, kedua orang tuaku membuat perapian dan cerobong asap karena Mama menyukai perapian klasik. Aku memasukkan beberapa kayu bakar ke dalam perapian dan menyalakannya.

“Eh, Alberta, mau ikut ke atas? Aku dan Ren harus mandi dulu.” ucap Ress. “Kalau mau menunggu, kamu bisa menunggu di ruang tunggu.”

“Eh, ya sudah…Ayo…”

Kami bertiga segera keluar dari ruang tamu. “Alberta, ayo! Di sini liftnya!” ucapku seraya menekan salah satu tombol di dinding lift.

“Lho, kenapa pakai lift segala? Kan hanya ada dua lantai?” tanya Alberta.

“Iya, memang hanya ada dua lantai tingkat, satu lantai dasar, dan yang terakhir lantai bawah tanah.” jawab Ress.

Sebenarnya sih, biasanya aku dan Ress lebih suka naik lewat tangga, tapi karena lagi ada tamu, aku sengaja pakai lift.

“Jadi sebenarnya ada empat lantai?!”

Aku dan Ress sama-sama menyeringai jahil. Di lantai satu, Ress mengajak Alberta ke ruang tunggu, sementara aku segera ke kamarku. Begitu aku menutup pintu kamarku, aku langsung mengecek ponsel dan menghela napas lesu.

  • mail yang kukirim pada Kak Ricky belum dibalas juga.

***

Ricky POV

Bunyi peluit tanda istirahat pertandingan terdengar. Aku melangkah menuju tribun tempat aku dan teman-temanku menaruh tas olahraga. Aku mengeluarkan ponsel dari tas,“Eh, ada satu e-mail dari Ren. Apa ya isinya…” gumamku seraya mengeceknya.

Kakak, nanti malam ada lima temanku mau menginap di rumah. Boleh ya?

‘Isinya hanya seperti ini? Ya sudah…’ pikirku seraya menulis balasan. Selesai menulis balasan, aku hanya diam seraya memperhatikan wallpaper home screen ponsel. Untuk wallpaper home screen ponsel, aku sengaja pakai foto Ren dan Ress. Sebaliknya, untuk wallpaper home screen ponselnya, Ren memakai fotoku dengan Ress, dan Ress memakai fotoku dengan Ren untuk wallpaper home screen ponselnya.

“Eh, Ricky, itu foto siapa? Kamu dan pacarmu ya?” tanya Oswald dengan tiba-tiba. Aku kaget mendengaranya.

“Apa? Pacarnya Ricky? Kamu sudah punya pacar ya Rick?” Eric ikut-ikutan bertanya. Ia mengambil ponselku, lalu memerhatikan wallpaper home screennya. “Yang dimaksud oleh Oswald foto yang ini? Wah, anaknya cantik banget!”

“Mana? Mana?”

Nathan dan Ryan, sohibku di klub basket, ikut-ikutan melihat ponselku. “Ya ampun ini pacarmu Rick? Cantik banget!”

“Katanya kamu belum punya, ternyata diam-diam…”

“Itu bukan pacarku tau!” ucapku kesal seraya merebut ponselku kembali. “Asal kalian tau ya….Ini tuh, foto adikku!”

“Adikmu dan pacarnya?” tanya Oswald. Ia menyeringai jahil.

“Bukan.” aku menggeleng.

“Lalu, siapa dia?” tanya Nathan.

“Yang anak bermata biru itu kan? Itu adikku juga.” jawabku.

“Hah? Adikmu juga?!” tanya Eric dengan kaget. Bukan hanya ia yang kaget, Oswald, Nathan dan Ryan juga kaget.

“Iya. Memang kenapa?” aku bertanya balik seraya memegangi kepala yang mendadak pusing. ‘Sepertinya aku demam. Tapi…sebentar lagi permainan basketnya selesai. Nanti aku akan segera pulang…’ batinku.

“Adikmu yang ini juga main basket ya?” tanya Ryan.

“Kadang-kadang sih.” gumamku.

“Sepertinya cocok nih kalau kita rekrut ke klub kita.” ucap Nathan.

“Hei…”

Mendadak, peluit tanda permainan akan segera dimulai berbunyi. “Ayo, sudah mau mulai tuh!” ajakku.

Aku, Oswald, Eric, Nathan dan Ryan segera kembali ke lapangan, dan kembali bermain basket. Sebenarnya, kepalaku sudah lumayan pusing, tapi sepertinya, kalau aku memaksakan diri, aku masih bisa bertahan sampai akhir permainan. Di tengah permainan, aku merasa sudah tidak kuat.

Ah, aku benar-benar sudah tidak kuat…

Buk!

Kesadaranku menghilang, membiarkan alam bawah sadarku mengambil alih pikiran.

***

“Sudah sadar?”

Kesadaranku masih timbul tenggelam, dan pandanganku masih buram. Suara tadi…siapa ya?

Aku mendengar pembicaraan yang terdiri dari sekelompok orang. Aku meraba-raba keningku sendiri, dan menemukan sehelai kain basah yang dingin. Aku beranjak duduk, dan pandanganku mulai menjelas. Ternyata, ini di Ruang Kesehatan, dan ada Oswald, Nathan, Eric dan Ryan.

“Kata suster, kamu sedang demam.” Ryan membuka pembicaraan.

“Kalau begitu, mana ponselku…? Aku mau segera pulang…”

“Akan kuambilkan dulu.” ucap Eric.

Nathan menyodorkan secangkir teh padaku,”Minum tehnya dulu, Rick.”

Beberapa saat kemudian Eric kembali dengan membawa ponselku. “Ini.”

“Terima kasih.” aku segera mengaktifkan ponsel, lalu menelepon Ren. Tak berapa lama kemudian, ia sudah mengangkatnya.

“Halo, Ren…?”

Ya Kak, kenapa?

“Bisa jemput aku pulang?” tanyaku.

Lho, bukannya tadi sore Kakak berangkatnya pakai mobil?” tanya Ren.

“Iya, tapi aku mendadak demam, tadi sampai pingsan. Aku khawatir tidak bisa menyetir sendiri sampai ke rumah.” jawabku.

Ya sudah, sebentar lagi aku akan berangkat…Kakak tunggu di mana?

“Di Ruang Kesehatan.”

OK.” telepon pun ditutup.

“Oh ya, aku pulang duluan ya…” ucapku.

“Kamu minta dijemput oleh adikmu?” tanya Nathan.

Aku mengangguk. “Memang dia kelas berapa? Dia sudah punya SIM belum?” kali ini Eric yang bertanya.

Aku menggeleng. “Dia menjemput pakai taksi.”

Eric, Nathan dan Ryan terdiam selama beberapa detik. Tiba-tiba, Oswald merangkulku,“Eh, Ricky, gimana kalau kita mengantarkanmu pulang saja?!”

“Eh…”

“Oh iya ya, kita bisa sekaligus mengerjakan tugas musim dingin di rumah Ricky!” ucap Nathan.

“Menginap?! Ayo! Ayo!” yang lain menimpali.

Aku menghela napas pasrah. Dengan cepat, aku menelepon Ren lagi.

“Halo?”

Iya iya, sabar Kak, aku baru saja pesan taksi.” tau-tau saja Ren langsung marah-marah.

“Bukan begitu. Aku tidak jadi dijemput olehmu, teman-temanku mau mengantarku pulang sekaligus menginap di rumah.”

Apa?!

“Sudah ya, tolong siapkan kamar tamu.”

Eh, Kakak, tunggu?!

Pip pip. Aku menutup telepon.

“Sudah ya, yuk pulang!” ajak Oswald seraya mengggandeng tanganku. Aku sampai terkaget-kaget.

“Mau kubantu bawakan tas, Ricky?” Nathan menawarkan.

“Ada yang bisa kubantu?” kali ini Ryan menawarkan bantuan.

Eric ikut-ikutan menawarkan bantuan,“Rick, nanti biar aku saja yang menyetir ya!”

“Kalian ini kenapa sih?! Kok jadi pada aneh?” ucapku kesal. Kesal karena mereka mendadak perhatian sekali padaku. Maksudku kan, kami laki-laki. Masa pakai acara gandengan tangan atau saling membantu segala.

“Maaf deh Rick, kita lagi semangat buat bantuin kamu, soalnya.” ucap Nathan seraya menyeringai jahil.

Aku menghela napas pasrah,“Terserahlah…”

***

Ren POV

“Jadi, kita buat tugas yang ini pakai slide saja ya?” tanya Alberta.

“Iya, nanti kita susun dulu tugasnya, lalu dipindahkan ke komputer.” jawabku.

“Oke deh, kita mulai susun tugasnya kapan? Banyak sekali nih tugasnya.” ucap Alberta.

“Kita mulai saja dulu dari bab satu.” Ress menanggapi.

“Oh ya, mau membuat tugasnya di mana nih? Cari ruangan yang enak yuk.” ajakku.

“Bagaimana kalau di ruang bermain saja?” tanya Ress.

“Boleh juga tuh! Ress, kamu antarkan Alberta duluan ya, aku mau ambil buku Biologiku dulu!” ucapku seraya bangkit berdiri.

Beberapa menit kemudian, aku sudah menyusul ke ruang bermain. Ruangan bermain ini, secara harfiah memang tempat untuk bermain. Lantai parquetnya dilapisi dengan karpet bulu berwarna pink, dan di ujung ruangan ada sofa berwarna lembut. Di sisi lain ruangan, ada tiga lemari pajangan. Satu lemari pajangan milik Ress berisi victorian doll, satu lemari pajangan milikku berisi rakitan lego, dan satu lemari pajangan lainnya diisi dengan helikopter mainan milik Kak Ricky. Ruangan bermain ini cukup luas. Kata Bibi Michael, sewaktu kecil dulu, Kak Ricky sering menghabiskan waktunya di sini. Begitu juga dengan aku dan Ress ketika masih kecil, kami berdua sering bermain bersama di sini.

“Ruangan yang ini juga luas ya…” ucap Alberta.

“Haha, sudah yuk, kita kerjakan tugasnya!” ajak Ress. Aku dan Alberta mengangguk.

Sekitar satu jam kemudian…

Kruyuk…

“Bunyi apa tuh?” tanya Alberta.

Aku menoleh padanya. “Maaf ya, ternyata aku sudah lapar. Aku mau masak makanan dulu. Kalian berdua juga mau ikut ke dapur?” tanyaku.

“Eh, sudah jam 7 ya? Pantas saja, aku juga sudah lapar.” ucap Ress seraya meihat jam tangannya. “Yuk Ren, kita makan dulu.”

“Alberta, yuk ikut makan.” ajakku.

“Eh, ayo.” ucapnya seraya berdiri. “Oh ya, kalian panggil aku Anna saja ya, aku nggak terlalu nyaman kalau dipanggil dengan nama keluarga.”

“Ya sudah, Anna.”

Kami bertiga naik ke lantai tiga, lebih tepatnya, kami pergi ke dapur. “Eh, Ren, kamu mau memasak apa?” tanya Ress.

Fettucini carbonara saja. Anna, tolong bantu Ress menyiapkan piring dan teh ya!” ucapku seraya menjerang air.

Selagi menunggu airnya mendidih, aku mengeluarkan fettucini, bawang bombay dan daging asap dari dalam kulkas. Dengan cekatan, aku memotong-motong bawang bombay dan daging asapnya.

“Kamu bisa memasak ya?” tanya Anna.

Aku menoleh padanya.”Aku?”

Anna mengangguk. Aku kembali beralih pada rebusan fettucini,”Aku bisa memasak sih, tapi kakakku lebih pandai memasak daripada aku.”

Anna mengangguk. “Kalau begitu, bagaimana denganmu, Ress? Kamu juga pandai memasak ya?”

Aku menoleh pada Anna lagi. “Ress itu, menyalakan kompornya saja tidak berani. Ia tidak bisa memasak.”

“Hehe, aku memang belum bisa memasak. Biasanya aku hanya membantu mencuci piring atau menyiapkan makan malam.” ucapnya salah tingkah.

“Oh….” Anna mengangguk. ”Tapi, aku tidak menyangka lho, kalau Ren ternyata bisa memasak. Kupikir, di antara kalian berdua, yang pandai memasak adalah Ress.”

Aku hanya diam seraya memerhatikan masakanku. Sebentar lagi masakannya matang, batinku.

“Kamu sendiri bisa memasak?” Ress bertanya balik ke Anna.

“Aku hanya bisa memasak bubur oat.” jawab Anna.

“Sudah selesai mengobrolnya? Aku sudah selesai masak nih!” ucapku .

“Eh, kamu memasak sebanyak ini? Untuk siapa saja?” tanya Ress kaget.

“Kata Kak Ricky, teman-temannya mau menginap di rumah. Makanya aku masak saja yang banyak.” jawabku.

“Apa?! Teman-teman Kak Ricky juga mau menginap? Ya ampun, artinya kita harus menyiapkan kamar tamu juga!” pekik Ress.

“Nanti saja, ayo kita makan dulu.” ucapku seraya menarik kursi makan. Setelah Ress dan Anna siap, aku segera membagikan fettucini carbonaranya.

Di tengah-tengah acara makan…

Ting tong…

Bel rumah berbunyi. Aku segera mengecek ke interkom yang berada di dapur, dan melihat empat perempuan berdiri di depan gerbang.Aku yakin itu adalah Alice, Annabeth, Marianne dan Rillianne. Aku menekan salah satu tombol,”Siapa ya?”

Hening. Belum ada jawaban.

“Siapa?” tanyaku lagi.

Aduh, baru ingat. Bisa jadi mereka berempat tidak tau caranya memakai interkom!

“Ress, Anna, aku ke bawah dulu ya, sepertinya ada tamu.” ucapku.

Aku terburu-buru turun ke lantai bawah. Sesampainya di depan gerbang, aku segera membukakan gerbang. Di depan gerbang, ada Alice, Annabeth, Marianne dan Rillianne.

“Ayo masuk!” ajakku seraya membuka gerbang lebih lebar. Alice, Annabeth, Marianne dan Rillianne segera masuk. Aku menuntun mereka menaiki tangga ke pintu utama.

“Mau langsung ke kamar tamu? Tadi aku dan Ress sedang makan malam.” ajakku. “Eh, sepatunya dilepas dulu ya, ganti pakai selop rumah.” ucapku seraya mengeluarkan empat pasang selop rumah dari dalam lemari.

“Oh ya, kita jadi boleh menginap di sini?” tanya Annabeth.

“Boleh kok, kakakku sudah setuju.” jawabku.

“Ngomong-ngomong, kakakmu sekarang di mana?” tanya Rillianne.

Aku menatapnya. ‘Sepertinya sejak tadi melihat foto Kak Ricky, dia jadi naksir habis-habisan sama kakak deh…’ batinku. “Kakakku belum pulang, tapi sebentar lagi sampai rumah.”

Sesampainya di kamar tamu…

“Ada dua ranjang dengan ukuran super king di kamar tamu perempuan. Kalian bagi sendiri ya, mau tidur sama siapa saja.” ucapku sembari membuka pintu kamar tamu.

“Satu kasur bisa muat berapa orang?” tanya Marianne.

“Satu kasur bisa muat tiga orang dewasa, jadi kalian nggak bakal tidur sempit-sempitan.” jawabku.

“Wah, kamarnya luas sekali!” komentar Annabeth.

Alice meloncat ke salah satu kasur, dan memeluk bantal. “Kasurnya empuk banget! Enak!”

*Itu kasur Lice, bukan makanan*

“Ya sudah, apa kalian sudah makan malam? Ikut ke dapur yuk, tadi aku masak fettucini carbonara untuk kalian!” ajakku.

“Wah, Ren bisa memasak ya? Hebat!” puji Annabeth.

“Ahaha, biasa saja kok…” balasku.

“Oh ya, Ren, rumahmu besar sekali ya? Tapi kenapa tidak ada pelayannya?” tanya Marianne.

“Oh…Kalau itu sih, sejak kedua orangtuaku meninggal, para pelayan yang dulu bekerja di sini berhenti bekerja. Sekarang, yang tinggal di sini hanya kami bertiga, aku, Ress, dan kakakku.”

Ting tong…

Bel rumah lagi-lagi berbunyi. “Maaf ya, Alice, Annabeth, Marianne, dan Rillianne, sepertinya ada tamu lagi. Aku panggilkan Ress dulu ya, untuk menemani kalian.” ucapku.

Aku segera pergi ke dapur. ”Ress, tolong ajak mereka berempat makan malam ya, sepertinya Kak Ricky sama teman-temannya sudah datang, aku harus ke bawah dulu!” ucapku.

Ress hanya mengangguk.

***

Ren POV

Aku terburu-buru membukakan gerbang, lagi. Di sana, ada sebuah Honda Civic hitam milik Kak Ricky, tapi yang mengendarainya bukan Kak Ricky, melainkan seorang pemuda berambut pirang.

Tanpa aba-aba, tau-tau saja pemuda berambut pirang itu memasukkan mobil ke halaman utama, dan berkata begini padaku. “Eh, Dik, tolong bukakan garasi bawah tanahnya dong!”

Aku menggertakkan gigi dan menahan amarah,’dasar pemuda sok tau! Memang dia tau dari mana kalau garasi di sini itu di bawah tanah?!’. Dengan agak terburu-buru juga, aku membukakan pintu gerbang bawah tanah. Honda Civic itu meluncur mulus di atas paving block, dan bergabung dengan tiga mobil lainnya di garasi bawah tanah.

Baru saja aku mau menutup pintu gerbang ketika sebuah taksi merapat ke gerbang. Aku terpaksa membuka gerbang untuk ketiga kali.

Dan aku terkejut sekali.

Sang Sopir Taksi keluar, dan membukakan pintu penumpang bagian belakang. Orang yang keluar dari balik pintu tersebut adalah Kak Ricky. Aku segera menyongsongnya,”Kakak, kenapa Kakak pulang pakai taksi?”

Kak Ricky menoleh ke arahku. Wajahnya tampak cukup merah, ini pasti efek demam. “Aku mau istirahat saja.” ucapnya.

Aku mengangguk. Aku segera mengantarkan Kak Ricky ke kamarnya, tidak memedulikan pemuda berambut pirang tadi. Dengan interkom yang terhubung ke dapur, aku berpesan pada Ress agar membawa teman-teman Kak Ricky ke kamar tamu, dan melakukan tur orientasi.

Sembari menunggu Kak Ricky selesai mandi, aku mengambil setablet parasetamol, dan membuat teh.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Kak Ricky keluar. “Kakak, kakak minum obat dulu ya, baru tidur. Apa Kakak juga mau makan malam dulu? Aku sudah masak makan malam…” aku mengulurkan parasetamol dan cangkir teh.

Kak Ricky duduk di tepian tempat tidurnya, dan mengambil parasetamolnya. Ia lalu mengambil tehnya dan meminumnya. “Terima kasih, Ren, tapi sekarang aku hanya ingin istirahat dulu.” ucapnya dengan nada lemah.

Aku hanya mengangguk seraya menatapnya. Ketika sedang Kak Ricky sedang sakit, rasanya aku tidak bisa melepaskan pandangan darinya. Begitu juga ketika Ress sedang sakit, rasanya aku tidak bisa beranjak dari sisinya meski hanya sedetik. Entahlah.

 Begitu Kak Ricky berbaring, aku segera menyelimutinya. Aku mengambil sebuah waslap berwarna biru dari laci nakas, memberinya sedikit air dan menaruhnya di atas kening Kak Ricky.

“Kak, aku keluar dulu ya.” ucapku.

Tiba-tiba Kak Ricky menarik ujung pakaianku. Aku beralih lagi padanya. “Maaf ya…Aku sudah membuatmu kesusahan.” ucap Kak Ricky dengan lemah.

Aku hanya tersenyum simpul, mengangguk, lalu keluar dari ruangan.

“Eh, Ren…?” Aku berbalik lagi.

“Kamu mau menemani Kakak di sini?” Kak Ricky bertanya seraya tersenyum memohon.

“Ya sudah…”

***

Ress POV

“Teman-teman, kebetulan, ada teman-teman kakakku. Mereka mau menginap di sini. Nah, supaya kalian tidak tersesat saat jalan-jalan di sini, makanya kta melakukan tur orientasi.” ucapku saat kembali ke dapur.

Alice dkk langsung setuju. Mungkin mereka penasaran juga dengan seluk beluk rumahku. Aku langsung mengajak mereka ke garasi bawah tanah, tempat teman-teman Kak Ricky menunggu.

Di sana, setidaknya ada empat pemuda sedang menenteng koper(?). Salah satunya memegang kunci mobil. Aku menghampirinya,”Kakak-kakak semua temannya Kak Ricky ya?” tanyaku.

Kakak yang memegang kunci mobil itu mengangguk dan memberikan kunci mobil itu padaku,”Iya, namaku Eric Jefferson.”

“Kak Jefferson, lalu…” ucapku.

“Aku Oswald Mitchell.” pemuda berambut hitam di berdiri paling belakang memperkenalkan diri.

*makin lama nama Oswald makin mirip nama cewek -_-*

“Kak Mitchell.”

“Kalau aku Ryan Raymond.” ucap pemuda yang berambut pirang platina.

“Kak Raymond.”

“Aku Nathan Celtic.” pemuda terakhir memperkenalkan diri.

Aku tersneyum,”Kak Jefferson, Kak Mitchell, Kak Raymond, dan yang terakhir Kak Celtic ya? Perkenalkan, namaku Ress Vlore, lalu yang di sana Alice Ellianna, Annabeth Maurice, Marianne Kelvin, Rillianne Candela, dan yang terakhir Anna Alberta.”

“Oh, begitu. Salam kenal semuanya!” ucap Kak Mitchel sambil tersenyum. Mengamati senyumnya sejenak, aku langsung tau kalau Kak Mitchell ini tipe orang yang aktif dan suka diajak bicara. ‘Sepertinya dia bukan teman yang membosankan.’ aku membatin.

“Kita akan melakukan tur orientasi dahulu sebelum ke kamar tamu. Dan bagi kakak-kakak sekalian, jika belum makan, nanti kalian bisa makan setelah tur orientasi.” ucapku.

Semua orang bergumam menyetujui.

“Yang pertama adalah garasi bawah tanah ini. Di samping garasi ada gudang, lalu satu ruangan di sebelahnya adalah….” aku terdiam sebentar saat melihat pintu ruangan itu.

Alice tampak tidak sabaran. “Ruangan apa?”

“Ruang penyiksaan.” ucapku. Aku beralih ke sana, dan membuka pintunya. “Ruangan ini adalah ruang pertunjukan tentang kejadian pembantaian sekte sesat yang pernah ada di Eropa pada abad ke-18.”

Di dalam ruang penyiksaan, ada alat-alat penyiksaan khan abad ke-18, seperti Iron Maiden atau alat pemacung kepala lengkap dengan keranjang di bawahnya. Ruang penyiksaan adalah salah satu ruangan yang paling kubenci di rumah. Aku heran kenapa Mama dan Papa membuat ruangan semacam ini.

“Sudah selesai melihat-lihatnya? Ayo kita keluar!” ajakku.

Kami bersepuluh berjalan keluar dari ruang penyiksaan. “Di lantai satu, hanya ada dua ruangan.” kataku sembari membuka pintu ballroom. “Yang pertama adalah ballroom, dulu sering dipakai Mama dan Papa untuk pertemuan dengan rekan kerjanya.”

Sama seperti lantai-lantai lain di rumah, lantai di ballroom juga lantai parquet yang dilapisi karpet merah. Hanya saja, ruangan besar ini kosong. Jendela-jendela besar ditutup dengan korden berwarna putih dengan renda. Dindingnya dilapisi dnegan wallpaper bermotif bunga krisan emas.

“Ada banyak lukisan wajah…” gumam Kak Mitchell.

Aku mendongak, menatap lukisan-lukisan yang ada di dinding. “Ya, lukisan yang pertama adalah lukisan kakek dan nenek dari Mama. Yang kedua lukisan kakek dan nenek dari Papa. Yang ketiga adalah lukisan paman dan bibiku. Yang keempat, itu lukisan Kak Ricky ketika ia berumur tujuh tahun. Lukisan yang di sebelahnya adalah lukisan kedua orangtuaku.”

“Lalu, lukisan yang terakhir…?” tanya Kak Raymond.

Aku tersenyum,”Itu lukisanku dengan kembaranku.”

“Lalu, di seberangnya ada ruang tamu.” Aku membimbing semuanya keluar dan membukakan pintu ruang tamu.

“Di depan pintu utama ada aula, lalu ada tangga. Tapi, di sini kami juga memakai lift.” ucapku seraya menekan tombol lift.

“Lalu, di lantai dua ada empat kamar tamu dan satu ruang bermain. Ayo kita ke kamar tamu!” ajakku.

Aku membukakan satu pintu kamar tamu,”Ini kamar tamu laki-laki. Kak Mitchell dan Kak Jefferson kamarnya di sini ya. Ada dua lemari dan dua ranjang ukuran super king untuk masing-masing orang. Di dalam juga ada kamar mandi pribadi. Di sini juga ada balkonnya.”

“Dua kamar di sebelahnya adalah kamar untuk tamu perempuan. Lalu, kamar di ujung sana adalah kamar tamu laki-laki, Kak Raymond dan Kak Celtic tidur di sini ya.” ucapku seraya membukakan pintu kamar tamu yang terakhir.

“Kalau sudah selesai menata, kita lanjutkan tur orientasinya.” lanjutku sambil tersenyum.

“Kami sudah selesai menata barang.”

Aku menoleh ke belakang, dan melihat Kak Mitchel dan Kak Jefferson. “Oh ya, kalau kalian mau, panggil kami langsung dengan nama depan saja ya, sepertinya kalau dipanggil dengan nama keluarga kurang nyaman.”

“Ya sudah.” aku mengangguk. Setelah Kak Ryan dan Kak Nathan selesai menata koper, kami melanjutkan tur orientasi. “Di lantai tiga ada perpustakaan pribadi milik Ren, dan satu ruang kerja milik Kak Ricky. Di kedua ruangan ini juga ada perapiannya, mau coba lihat?”aku menawarkan.

Alice dkk setuju. Aku membukakan pintu perpustakaan pribadi Ren, dan membiarkan mereka masuk. “Ruangan ini kadang dipakai untuk menerima tamu. Buku-buku yang ada di sini ada majalah, novel berbagai macam genre…dan buku ensiklopedia.”

“Yang ini buku apa?” tanya Kak Nathan. Ia menunjuk sederet buku di rak.

Deretan buku di rak itu ada yang berbahasa Jepang, Prancis, Swiss Indonesia, dan Italia. “Itu buku-buku catatan yang dikumpulkan Ren dari negara Jepang, Swiss, Prancis, Indonesia dan Italia. Karena sempat tinggal di Jepang dalam waktu yang lumayan lama, makanya ia mahir bahasa Jepang. Dan karena kami cukup sering ke Swiss dan Indonesia, Ren menjadi cukup fasih berbicara dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia.” jawabku.

“Eh? Ini pintu apa? Kenapa digembok?” tanya Marianne seraya menunjuk pintu di salah satu pojok ruangan.

“Oh, kalau yang itu juga perpustakaan pribadi punya Ren. Tapi entah kenapa pintunya ia gembok begitu, aku tidak tau.” jawabku. “Ya sudah, yuk ke ruangan selanjutnya, ruang kerja kakakku!” ajakku seraya menutup pintu perpustakaan.

Aku menuntun mereka ke seberang ruangan, dan membuka pintu ruang kerja Kak Ricky. Ruang kerja Kak Ricky didesain dengan cat dinding dominan berwarna oranye segar. Di satu sisi ada meja dan kursi, lengkap dengan sepot kaktus dan perangkat komputer di atasnya. Di sisi lain, ada sofa beludu warna pirang platina, dilengkapi dengan rak buku berisi ensiklopedia dan buku sejarah.

“Ruangan ini biasanya dipakai kakak saat bekerja, tapi kurasa ia lebih suka bekerja di kamarnya sendiri sih.” ucapku.

“Ini apa?” tanya Annabeth seraya memerhatikan tiga foto yang dipajang berderet di dinding. Foto pertama adalah foto Kak Ricky, di bawahnya ada tulisan ‘our adorable son’, foto kedua adalah fotoku, dengan tulisan ‘lovely little Ress’ dan foto terakhir adalah foto Ren, di bawahnya ada tulisan,’adorable little princess,

“Dilihat sekilas juga tau kan?” aku balik bertanya. “Tapi…tulisan-tulisan itu ditulis oleh kedua orangtuaku.”

“Lalu, yang terakhir, di atas ada tiga kamar, satu kamarku, satu kamar milik Ren, dan satu kamar milik Kak Ricky. Di ujung sana ada dapur dan ruang makan. Ayo ke dapur, kakak-kakak sekalian sudah lapar ‘kan?” ucapku saat kami melintasi koridor lantai 4.

Aku menyajikan delapan porsi fettucini,”Silakan dinikmati makanannya. Jika sudah selesai, bisa ditaruh di kitchen sink, nanti akan dicucikan.”

“Wah, terima kasih!” ucap Alice dkk.

Aku hanya mengangguk.

“Oh ya, Anna, kamu mau ikut menginap di sini?” aku beralih pada Anna. Ya ampun, karena terlalu sibuk mengurus tur orientasi itu, aku nyaris melupakan Anna! Untung saja dia dengan sabar tetap mengikutiku…

“Oh, menginap ya? Boleh juga deh…” Anna tersenyum simpul.

“Ya sudah, mandi dulu ya, nanti aku ambilkan baju ganti!” ucapku.

Anna hanya mengangguk.

“Ress…?”

“Ya?” aku berbalik ke arah meja makan. Alice menatapku. “Ada apa?”

“Eh, itu…Aku mau tanya, kenapa kamu tidak memasang pohon natal?” tanya Alice.

Aku terdiam sejenak. “Memang kenapa kalau kami tidak memasang pohon itu? Keluargaku tidak merayakan sesuatu yang kekanakan begitu tau!” balasku. Aku kesal karena topik itu menyangkut hal yang sensitif. Ya, kami tidak seperti keluarga lainnya yang merayakan hari-hari spesial.

“Tapi, itu kan wajib…” Marianne berkomentar.

Aku menoleh ke arahnya, menatapnya marah,”Tidak ada yang mewajibkan memasang pohon natal! Tidak ada yang namanya perayaan di rumah ini!!” aku menyahut marah.

Alice dan Marianne sama-sama terdiam. Aku juga diam, dan kembali beralih pada Anna yang tampak agak kaget. ”Ayo, Anna, kita segera ke kamar tamu!” ucapku seraya menggandeng tangannya.

“Oh ya, Ress, kebetulan kami kebetulan mau mengerjakan tugas musim dingin kami. Nanti boleh pinjam ruangannya tidak?”

Aku berbalik ke arah meja makan, lagi. Kak Oswald menatapku. “Boleh saja sih, nanti pakai ruangan bermain saja ya.” aku berpesan.

“Haha, terima kasih,” Kak Oswald tersenyum.

Aku ikut tersenyum, kembali berbalik ke Anna dan mengantarnya ke kamar tamu. Setelah mengambilkannya baju ganti, aku langsung ke kamar, dan merebahkan diri di atas tempat tidur.

“Aku sangat lelah…” gumamku.

***

Ren POV

Aku bangkit karena mendengar pintu kamar Kak Ricky diketuk. Ya sejak kedatangan teman-teman Kak Ricky tadi, aku belum beranjak sedikit pun dari kamarnya karena ia meminta ditemani.

Sebuah kepala muncul dari balik pintu sebelum aku sempat membukakan pintu,“Hei, apa Kak Ricky sudah tidur?” tanya Ress.

Aku menggeleng. “Memang kenapa?” aku balik bertanya.

“Aku masuk ya.”

Aku mengangguk, dan membiarkan Ress masuk. Ress duduk di pinggiran tempat tidur Kak Ricky, dan beralih padaku. “Kak Ricky sakit ya?” tanyanya.

“Iya, sakit demam.” aku mengangguk.

Ress meraba kening Kak Ricky, dan berkata padaku,”Sepertinya demamnya cukup tinggi.”

“Memang demamnya tinggi. Ketika kuperiksa tadi, sudah sampai 39° Celcius. Pasti demamnya disebabkan kelelahan, kelelahan akibat terlalu lama bekerja..” ucapku.

Kelopak mata Kak Ricky terbuka sedikit. Ia tampak ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia tetap diam.

“Makanya Kakak kalau kerja jangan berlebihan.” ucapku lagi.

Kak Ricky masih diam.

“Sudahlah Ren. Tidak ada gunanya menasehatinya sekarang.” malah Ress yang berkomentar. “Sekarang kita hanya perlu menemaninya saja kan?”

Aku menghela napas. ”Ya sudah, kalau kamu ke sini dengan niat mau menemani Kak Ricky sampai pagi, silakan lakukan. Aku mau keluar dulu.”

“Jangan buru-buru pergi begitu, ayo di sini dulu.” Ress buru-buru menarik tanganku.

Aku malah memperhatikan jendela kamar Kak Ricky yang tidak tertutup oleh gorden. Ress memperhatikan arah pandanganku. “Saljunya belum turun bukan? Kurasa besok pagi kita belum bisa bermain salju dan ice skate di halaman belakang.”

“Memang hanya ada salju sisa kemarin.” aku mengangguk.

Aku mendekati jendela, dan menyentuhkan telapak tanganku ke kaca jendela. Aku menatap keluar jendela, di mana kota London terlihat sangat indah karena ditemani cahaya dari lampu-lampu jalanan.

Karena kamar kami berada di lantai teratas, kami bisa dengan mudahnya mengamati kota. Aku sibuk memperhatikan Menara Big Ben yang terlihat menawan.

“Di luar sana dingin bukan? Namun orang-orang tetap saja pergi keluar.” ucap Ress. Ia berdiri di sebelahku, ikut menatap keluar.

Aku menatap Ress selama sepersekian detik. Ada sesuatu di matanya. “Ada apa?” tanyaku penasaran.

“…” Ress malah diam sambil tetap menatap keluar jendela.

“Kamu ingin membicarakan apa?” aku bertanya lagi.

“Kamu mau kubuatkan cokelat panas? Sepertinya enak jika sekarang kita minum cokelat.” Ress malah beranjak dari jendela, dan meraih teko pemanas air yang terletak di meja di ujung ruangan.

Aku memerhatikan Ress yang sedang menyiapkan mug. “Kamu yakin tidak mau bercerita apa pun padaku?” tanyaku. Aku beranjak untuk duduk di sofa.

Ress tetap diam. Ia mengangsurkan mug berisi cokelat panas padaku, lalu duduk di sampingku. Ia menunduk, menatap mugnya. “Aku hanya sedikit kepikiran tentang ucapan Alice tadi.”

“Ucapan tentang apa?” tanyaku.

“Bukan tentang apa-apa kok….” balas Ress.

Aku hanya mengangguk. Kalau ada ucapan teman yang bisa membuat Ress sampai melamun begini pasti bersangkutan dengan topik keluarga.

“Ya sudah, kalau begitu aku mau kembali ke kamarku dulu.” ucapku sambil bangkit berdiri.

“Kak Ricky sudah tidur?”

“Sepertinya begitu.”

“Kalau begitu, aku juga mau kembali ke kamar.”

Tepat ketika aku hendak menutup pintu, Kak Ricky malah beranjak bangun dari tempat tidur. “Kalian sudah mau istirahat?” tanyanya.

Aku dan Ress serempak mengangguk.

“Kalau begitu, di sini saja, temani aku tidur.” ucapnya lagi.

Aku langsung terkaget-kaget, karena, terakhir kami tidur bersama adalah sepuluh tahun yang lalu, saat aku dan Ress masih berusia empat tahun, sementara Kak Ricky sendiri berusia sebelas tahun. Memang biasanya kalau menginap di hotel kami tidur sekamar, tapi tetap tidak seranjang.

Ada tiga alasan mengapa kami tidak tidur seranjang. Pertama, karena aku benci tidur seranjang—karena menurutku hal itu sangat kekanakan—, kedua, karena Kak Ricky sudah terlalu besar untuk tidur bersama kedua adiknya ini, dan yang terakhir karena Ress juga malas melakukan hal itu. Intinya, kami kompak tidak suka tidur seranjang.

 “Tapi kan Kakak sudah besar, masa harus ditemani saat tidur?” tanya Ress.

“Bukan itu masalahnya.” balas Kak Ricky.

“Lalu…?”

“Intinya, aku mau ditemani kalian tidur, sekarang.” Kak Ricky mengacuhkan pertanyaan Ress.

Dengan agak ragu-ragu, aku dan Ress naik ke atas ranjang. Aku di sisi kiri ranjang, dan Ress di sisi kanan ranjang. Kami berdua mengambil posisi sejauh-jauhnya dari Kak Ricky. Biar saja, kita bertiga sudah terlalu besar untuk tidur bersama.

“Kalian ini kenapa sih? Ayolah, jangan malu-malu begitu. Kan kita sudah lama tidak tidur bersama.” ucap Kak Ricky. Aku menutup telingaku dengan bantal. Ucapan Kak Ricky tadi mirip dengan rajukan anak-anak.

“Kalian tega ya melihat kakaknya merana karena tidak ada adiknya yang mau menemaninya?”

Aku masih terdiam, begitu juga dengan Ress.

“Kalau kalian mau akan kubacakan buku. Kalian mau dibacakan cerita apa? Hm…baiklah, jangan cerita sebelum tidur…Bagaimana kalau Kakak menceritakan hal-hal tentang kalian saat kalian masih kecil?”

“Sudahlah Kak, Kakak mau cerita dari A sampai Z juga aku tidak akan tidur di samping Kakak.” ucapku ketus.

“Ya sudah, tidak apa-apa.” kalau dari nada suaranya, aku menebak-nebak, pasti Kak Ricky sedang tersenyum jahil,”Ya, aku mendadak ingat sewaktu kita sedang ke Jerman saat musim panas lima tahun yang lalu, apa kalian masih ingat…?”

Tidak ada respon. Aku menyahut ketus dalam hati,’Kalau masih ingat memang kenapa? Aku kan nggak pikunan!

Author : Lu emang nggak pikunan. Yang pikunan tuh kucingnya gue!

“Waktu itu, aku ingat sekali, ketika sedang pesan es krim, tiba-tiba ada orang yang menabrakmu sampai es krimmu jatuh Ren! Setelah itu, bukannya ditolong atau apa, kamu malah terpeleset kulit pisang! Apa kamu masih ingat?”

Aku masih terdiam dengan muka yang mendadak memerah, malu karena ingat kejadian itu. Waktu itu, bukannya menolongku atau apa, orang yang menabrakku malah menertawakanku saat aku jatuh. Menyebalkan sekali.

“Lalu, Ress, kamu masih ingat? Sewaktu kita ke Jepang, kamu sempat terpisah dari rombongan kita ‘kan? Lalu, kamu secara tidak sengaja menggandeng wanita yang mirip dengan Bibi Michael…Apa kamu masih ingat? Wanita itu malah pingsan saking kagetnya…”

“Kakak berisik!”

“Lalu, ada lagi saat kita mengunjungi Italia…”

“Agh, jangan diingat-ingat lagi!!”

“Waktu mengunjungi Italia, Ress kan…”

“Baiklah, baik! Kita akan menemani Kakak tidur deh!” ucapku putus asa. Tampak di sebelahku, Ress juga melakukan hal yang sama, dari pada Kak Ricky menceritakan lebih banyak lagi hal-hal memalukan semasa kami kecil.

“Nah, dari tadi begitu dong!” Kak Ricky tersenyum penuh kemenangan saat kami berdua menggeser posisi tidur kami. Tapi, tetap saja kami berdua tidak tidur berhadapan, melainkan tidur dengan posisi saling memunggungi.

“Eh, kenapa begini?”

“Eh, Ress? Ren?”

“Eh, Kakak masih mau cerita…”

Suasana di kamar lengang sejenak.

“Kalian ngambek ya? Padahal aku mau bilang kalau saljunya sudah turun!”

Aku langsung bangkit dari ranjang, dan bergegas menghampiri jendela yang tadi belum kututup gordennya. Benar saja, salju sudah turun dan mulai menumpuk di halaman.

“Sudah masuk tanggal 21 Desember…”

***

Author POV

Nah, sekali lagi…Kita bakal mulai ceritanya. Oh ya, ini sudut pandang aku, jadi jangan komplain kalo aku mendadak komentar di sini!

Ren terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Untung saja ini hari Sabtu, jadi ia tidak perlu pergi ke sekolah. Ia bangkit dari kasur dan bergegas keluar kamar. Di koridor menuju halaman belakang, ia bertemu dengan Anna.

“Eh, Anna? Kamu juga menginap di sini?” tanya Ren.

“Oh eh iya, kemarin Ress mengajakku juga.” jawab Anna.

“Mau lihat-lihat halaman belakang? Tunggu ya, kuambilkan mantel dan sepatu boot dulu…” ucap Ren sambil bergegas ke ruang tamu. Ia mengambil dua mantel yang tergantung di dinding dan dua sepatu boot, dan kembali bergegas ke koridor.

“Ini Anna! Pakai ya, di luar dingin!” ucap Ren sambil memberikan sepatu dan mantel itu pada Anna.

“Oh, makasih…” Anna tersenyum.

Selesai memakai sepatu boot dan mantel, mereka berdua pergi ke halaman belakang. Ren mengajak Anna untuk naik ayunan. Kebetulan, di ayunan itu ada kanopinya, sehingga tidak terkena salju.

Mereka berdua saling bercerita satu sama lain, hingga akhirnya Anna terdiam dengan wajah tertunduk. “Ada apa?” tanya Ren pada Anna.

“Sekarang tanggal 21 Desember kan…” Anna menggumam.

“Iya, memang kenapa?” Ren bertanya lagi.

“Sebenarnya aku bingung…”

“Bingung tentang apa?”

“Eh, hari ini hari Ibu…”

Gantian Ren yang terdiam.

“Eh, ada apa? Salah ya?” Anna menyadari topik pembicaraan sensitif, langsung terburu-buru minta maaf.

“Tidak apa.” Ren tersenyum lirih. “Ada apa jika hari ini hari Ibu?”

“Sebenarnya, aku sudah lama mau cerita hal ini kepadamu…”

“Ya…?”

“Aku tidak suka pada…”

“Odd Geng? Tenang saja, kelakuan mereka terhadap kamu sudah kulaporkan ke kepala sekolah, jadi sudah tidak ada masalah…”

“Bukan itu…”

“Lalu apa dong?”

“Di rumahku ada masalah. Hampir setiap hari Ayah dan Ibuku bertengkar. Aku tidak tau persis masalahnya apa, tapi yang jelas aku tidak suka melihat mereka bertengkar.”

“Terus…?”

“Gimana ya, aku mau berusaha mendamaikan mereka, tapi takut dianggap aneh atau ya…gimana ya? Intinya, aku nggak tau harus pakai cara apa untuk mendamaikan mereka berdua.”

“Jadi permasalahannya seperti itu, hmmm…Coba kupikirkan solusinya…” Ren bertopang dagu dan mulai berpikir.

“Eh, maaf ya, kamu jadi ikutan kepikiran…”

“Tidak apa-apa kok. Kebetulan aku sudah ada saran untukmu.” ucap Ren sambil tersenyum.

“Bagaimana caranya?” Anna bertanya.

“Kamu tulis surat saja.” balas Ren.

“Eh?”

“Iya kan? Coba pikir, kamu lebih bahagia saat mendapat e-mail atau surat?” Ren balas bertanya. “Surat itu, meski singkat dan sederhana, isinya bisa jadi istimewa bukan? Apa lagi jika dengan niatan untuk menyatukan keluarga kembali.”

“Benar juga ya, sepulang dari sini nanti aku mau mencobanya…” ucap Anna. “Terima kasih ya, Ren!”

“Sama-sama…”

***

Author POV

Anna memasuki rumahnya yang gelap, lalu kembali menutup pintu. Sepertinya tidak ada siapa pun di rumah. Ayah dan Ibu belum pulang ya?…batin Anna seraya menyimpan sepatu. Ia memandang secarik surat di tangannya, lalu menaruhnya di meja di ruang tamu. Dia terdiam cukup lama seraya memandang surat itu.

Tulisan yang tadi ia tulis di surat itu pendek, hanya terdiri dari satu paragraf,”Aku sayang pada Ayah dan Ibu. Kalian selalu bekerja dan memberikan yang terbaik padaku,. Terima kasih, Ayah dan Ibu. Aku harap kalian selalu rukun.”

Mendadak, terdengar bunyi mesin mobil dari depan rumah. Anna terburu-buru masuk ke kamarnya. Ia berdiri di balik pintu, jantungnya sedikit berdebar-debar karena ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tak lama kemudian, terdengar lagi mesin mobil dari depan rumah. Anna yakin kalau kedua orangtuanya sudah pulang.

Beberapa menit berselang, pintu kamarnya diketuk,”Anna? Keluarlah, Nak.”

Anna membukakan pintu, dan mendapati Ayah-Ibunya sedang tersenyum di ambang pintu.

“Ada apa, Ayah, Ibu?” Anna bertanya.

Kedua orangtuanya langsung memeluknya. “Kami senang sekali kamu mengerti keadaan kami. Maafkan kami yang selama ini sering bertengkar satu sama lain.” ucap ayahnya.

Ibunya mengelus rambut Anna,“Sekarang, kami berjanji tidak akan bertengkar lagi, Anna. Terima kasih karena sudah mengerti keadaan kami,”

Anna balas memeluk kedua orangtuanya,“Aku sungguh sayang pada Ayah dan Ibu…” gumamnya.

   ***

“Kedua orangtuanya Anna sudah rukun kembali, syukurlah…” gumam Ren seraya turun dari jendela.

“Apa kau sudah selesai mengintip? Ayo kita kembali. Jangan sampai ketahuan kalau kau melakukan perbuatan aneh seperti itu.” ucap Ress. Ia menunggu di luar gerbang rumah Anna, menatap Ren yang kini sedang memanjat gerbang.

“Maaf deh, aku hanya ingin memastikan hal itu…” Ren tersenyum jahil. Ia melompat dari gerbang, lalu menghampiri Ress. “Ayo kita pulang!”

Ress mengangguk, dan tersenyum.

***

Moral : kita harus peduli dengan sekitar dan tidak boleh tidak peduli pada masalah keluarga.

Sampul Depan :

Sampul Belakang :

Sampul Depan :

Sampul Belakang :

Sampul Depan :

Sampul Belakang : liat ke atas

Tugas 3-Aila

Jenis tema cerita:Cerita tentang keluarga.

Petunjuk gambar:Selimut dan TV.

Petunjuk cerita:Kembar.

Judul cerita:The Famous Twins.

Penulis buku:Aila Dinara

Sampul Depan:

20190717_225004_0000-1Sampul belakang:1563445735235Punggung buku:20190718_113432_0000

Cerita:

THE FAMOUS TWINS.
Slowly,the twins,Kania and Hania walked downstairs the beautiful spiral staircase that the Ercow’s have.
“(sigh)I wish Mummy and Daddy is still here,”Hania sighed.
“Kania,don’t remember that now.Or you’ll have histerics again,like two days ago.We never got much money,cos we weren’t doing our job,”Kania told her slightly younger twin sister.
“I’ll try not to remember it sis,but it’s a hard thing to do,”Hania complained.
“I know,but you’ll have to try,”the Ercows haven’t woken up yet,which is good news for Kania and Hania.An Ercow called Arianna,who is the mother of the bossy 10 year old called Rina,demanded the twins to clean their table and sort out the bookshelf that the Ercows have,if the twins woke up early.
“Right,you do the bookshelf,and I do the table,”Kania said,handing Hania a cloth just in case the bookshelf’s really dirty.Both of the twins done their job well.5 minutes later,Arianna,Rina and Nataniel(Rina’s father) went downstairs and found the twins chatting happily on the family sofa.
“Oi!Get out of the sofas,you disgusting little slugs!”demanded Nataniel.
“Sorry Master Nataniel,”Kania apolagised(The twins have to say Master to everyone in the Ercow family).
“I do not forgive you.Five pounds off twenty pounds,”(Pounds are the UK’s money).
“Ok Master.Anyways,what do you want to have for breakfast?”Hania asked,her temper slightly rising,but she’s good at not showing it.
“We’d like to have strawberry pancakes,NOW.And tropical juice,”replied Rina,like a business boss.
“But,Masters,there isn’t any more strawberries.Or juice.Or flour,”Kania reminded them.
“Then buy it!”demanded Rina,”Ten pounds off you!”Kania and Rina obeyed straight away to go to the shop.
“No Kania,now we only have 5 pounds,”Hania grumbled.
“It’s OK.At least we still have 10 pounds in our chestbank,”Kania said,trying to cheer her sister up,
“Maybe we can buy some stuff at Primark when the Ercows go to church tomorrow,”(Primark is an actual shop inthe UK,and I’m not joking).
“Yeah,maybe,”sighed Hania.

It took Kania and Hania about 7 minutes to get to the shop.
“Yes!The Ercows gave us 15 pounds to buy the food!Maybe we could buy some SuperMart Magazines,since the strawberries,flour and juice only cost 8 pounds,”exclaimed Hania.
“Right you are,Hania,”Kania smiled,closing the door behind them.
“Hello Kania and Hania!”a cheerful shopkeeper called Gya,who was the twins’ old neighbour,”How are you?”Kania told Gya what happened in the morning and how they were feeling right now,while Hania was shopping.
“(tut)I wish I could come to your new block now and get those Ercows in trouble,”Gya tutted angrily.
“Here you go Tante Gya,”Hania handed the shopping.
“Oh,ok.It’s-“when Gya was about to say,”It’s 10 pounds,”Hania and Kania answered her(it’s 10 pounds cos of the magazine).
“We know,it’s 10 pounds,”they said.
“Yes,that is so correct!Oh you girls still have the smart brain as your parents,”Gya exclaimed,still amazed at how clever the girls were,as Hania handed the money
“Assalamualaikum Tante Gya,we have to go now!”the twins announced to Gya.
“Oh ok girls!Wa’alaikum salam,take care!”Gya smiled,shaking her head as she imagined what it would be like to be orphans like Kania and Hania.

Finally,Hania and Kania arrived to the Ercows’s mansion.
“Hello?Master Arianna,where are you?”Kania’s light voice echoed in the empty corridor.
“Ah,there you two are.Right on time.If you were a SECOND away from the time you were given,you’ll get no money.Right,SHOW ME THE INGREDIENTS!”roared Arianna.The girls obeyed straight away and handed Arianna the plastic bag.
“Strawberries,check.
Flour,check.
And tropical juice,check.Luckily,you girls done well,so I’ll give you two more pounds as your pocket money,but that might change,”hissed Arianna.
“Thank you so much Master,”smiled Kania.
“Whatever.Make breakfast then!”the girls obeyed and got their cooking/baking skills out to make PANCAKES!

FIVE MINUTES LATER…
Happily and politely,Kania and Hania gave the Ercows their breakfast.
“Wow,these looks delicious.Probably doesn’t TASTE delicious,but we’ll try,”Nataniel added,to make the twins look bad.The Ercows REALLY enjoyed their breakfast.
“Girls,I want a word with you,”demanded Nataniel.
“Ok Master Nataniel,”Hania and Kania replied,worrying a bit.Maybe the Ercows weren’t ENJOYING their breakfast,thought Kania,maybe they were just playing along,then get us in trouble.
“Girls,that was the most delicious breakfast that I had ever.So,because of that,I’m giving you 10 pounds extra for your pocket money thingy,”
“Thanks Master,you’re so kind!”cried Hania.

AT THE END OF THE DAY…
The twins needed to wait until all the Ercows sleep.Nataniel already payed the twins,and they had 17 pounds in total,plus the money for breakfast.
“Alhamdullillah,Allah gave us so much luck today,”smiled Kania.
“Yes,Alhamdullillah,sis.Now,let’s see the magazine!”reminded Hania.
“Oh yeah!”so off they went to their liitle room in the Ercows’s attic.Straight away,Kania and Hania opened the magazine.There was a page that read,”HOW TO BE RICH”.
“Kania Kania!We can be rich now!”Hania cheered.
“What?How?”
“Look,read this,”
“How to be rich:
Sell things.Sell the things that most fits you,like for example,you are good at making bags,then make them.Make sure you sell your creation at the market called The Variation Market,if you don’t you will not get rich,”Kania gasped as she read.There were also other options of how to be rich,but it never suited Kania and Hania.
“I know what we could make Kania!Clothes!”
“No,not clothes.I know that we are talented at making clothes,but the only sizes that we know are our size.What about if we make,blankets?”
“That’s a good idea Kania!We’re both talented at making cute cosy blankets!What about if we make the blankets today,and go to The Variation Market tomorrow,since the Ercows are going to church?”asked Hania.
“That’s a good plan.We’ll do the blankets now.By the way,don’t forget the logo!”Kania reminded Hania.Hania nodded then both of them started working.

AT SUNDAY…
Today was the twins’ chance of getting rich.First,they had to serve the Ercows,then the Ercows went to church.
“Right,we have 3 hours by ourself.Now,let’s get ready,”smiled Kania.Both of them wore their best clothes from their parents at their 11th birthdays.
“Let’s go now!”said Kania,holding the big black plastic bag full of blankets.

10 minutes later…
The twins finally made it to The Variation Market.As they walked to the market,they stared in awe at all the different stalls.
“Luckily we never made clothes!”Hania pointed out,”Loads of people already did,”
“Yeah,I don’t think anyone made blankets yet,and InshaAllah we’ll get loads of people coming to our stall,because it’s gonna be winter soon,”Kania said optimistically.

And they were right.Loads of people came to Kania and Hania’s Blanket Stall.When the twins were about to pack up,a tall,skinny woman came to their stall.
“Hello,emm,do you have more blankets?”asked the woman.
“Yeah,we only have one left,”replied Hania.
“How many is it?”
“It’s 5 pounds,”
“Ok here you go.Whoa!How many blankets DID you have?”the woman questioned the twins.
“About,50.We knitted them last night,”answered Kania.
“That’s amazing!Look,can you go to Our Studio so we can shoot you,then you can go into TV,”
“We’d love to go to Our Studio!We’ll go at Sunday,”smiled Kania.

AT Sunday…
Today is the day the twins go to Our Studio.
“Come on,get ready,”demanded Kania,quickly finishing up knitting the last blanket to display on TV.
“I’m ready,”huffed Hania,fixing her boots a bit.Both of the twins rode on a taxi,payed by the Our Studio staff.When they reached Our Studio,the same woman as yesterday showed them to the proper studio part.The twins were so surprised of what they saw.The studio was so humongeos!Now,the twins got ready to shoot in TV…

TO BE CONTINUED…

Tugas 3 Binar

Tema : Cerita Keluarga

Petunjuk cerita: Kembar

Petunjuk gambar: Tas, sepatu

Judul: Twin Mermaid

Nama Penulis: Binar Arkartya

Sampul depan:

Sampul belakang :

Punggung buku :

TWIN MERMAID

Di sebuah kerajaan laut yang sangat dalam, hiduplah dua orang putri duyung yang cantik. Mereka bernama Clara dan Clarion. Mereka sangat ingin pergi ke daratan. Mereka ingin tahu tentang kehidupan manusia.

Hingga pada suatu hari mereka di beri izin untuk meninggalkan istana bawah laut yang dalam. Mereka sangat senang dan tak lupa mereka membawa sebuah ramuan yang dapat membuat ekor mereka menjadi kaki dan sisik mereka menjadi gaun yang sangat indah.

Saat berjalan di pantai, mereka menemukan dua tas dan dua sepatu. Di sebelahnya terdapat sebuah gulungan kertas. Mereka membuka gulungan itu dan isinya adalah surat …

Siapapun yang menemukan tas ini, silahkan ambil saja isinya. Saya berikan ini untuk orang yang pertama kali menemukan surat dari saya. Saya hanya bermaksud berbagi hadiah tas dan sepatu ini. Terimakasih. (Alice)

‘’Waahhhhh… kita boleh memakainya Ra ‘’

‘’Iya, aku sangat senang. Ah, terimakasih Alice.‘’

Akhirnya mereka bersekolah di sekolah manusia. Mereka berhasil mendapatkan beasiswa karena mereka sudah banyak belajar tentang manusia. Saat di sekolah itu, mereka berteman dengan murid baik hati dan pintar yang bernama Alice. Mereka sangat senang berada di daratan. Mereka merasa jika hidup di daratan membuat mereka mempunyai lebih banyak teman dan lebih bebas. Bahkan mereka sampai melupakan dunia bawah laut.

Sementara itu, di bawah laut sana, raja dan ratu laut mengkhawatirkan mereka. Hingga suatu hari ratu lautan melahirkan seorang bayi.

‘’Akan kunamakan bayi ini Chelsea‘’

‘’Itu nama yang indah, Ratuku ‘’

‘’Ya, terimakasih.‘’

‘’Kenapa kau terlihat sedih?‘’

‘’Karena Clara dan Clarion tak bisa tahu kelahiran adiknya …‘’

‘’Sudahlah, kita jadikan saja ini kejutan untuk mereka saat datang nanti.‘’

‘’Baiklah …‘’

Akhirnya, pada suatu hari Clara dan Clarion ingat pada kerajaan lautnya. Mereka memutuskan untuk kembali ke lautan. Merekapun membongkar semua rahasia mereka pada Alice dan menceritakan apa yang terjadi.

‘’Sampai jumpa Alice.‘’

‘’Sampai jumpa.. dan simpan tas itu sebagai kenangan ya, karena aku yang menaruh itu di pantai.‘’

‘’Baiklah.’’

Akhirnya … mereka kembali ke kerajaan bawah laut dan hidup bahagia bersama orang tua dan adik nya …

The end.

Tugas 3 – Namira

Tema : Cerita tentang Keluarga

Petnjuk cerita : Tas

Petunjuk gambar : Kembar

Judul cerita : Ola dan Oli

Nama penulis : Namira Fayola Ritonga

Sampul depan :

SD NAMIRA3

Sampul belakang :

SB NAMIRA3

Punggung buku :

PB NAMIRA 3

Cerita :

Ola dan Oli sedang bertengkar seperti biasanya. Kali ini mereka memperebutkan sebuah tas, yang baru saja di berikan oleh nenek. “Aku yang akan memakainya!” teriak Ola pada Oli. Oli berseru tidak mau kalah, “Aku membutuhkannya untuk les Piano!” kemudian Ola balas berteriak, “Aku juga membutuhkannya! Aku ingin pergi ke les Matematika!” Mereka berdua beradu mulut memperebutkan tas itu. Dua-duanya sama-sama tidak mau kalah. Memang sudah begitu tabiat Ola dan Oli, selalu bertengkar karena hal-hal sepele. Ibu selalu di buat pusing oleh teriakan-teriakan mereka, seruan-seruan tidak mau kalah, hingga akhirnya mereka berdua ngambek, dan selalu ada yang menangis. Ibu mulai berusaha cuek melihat tingkah Ola dan Oli. Tapi, setelah mereka bertengkar, mereka akan berbaikan dengan sendirinya.

Saat itu, Ola dan Oli sedang pegi ke pantai mengkuti Study Tour dari sekolah mereka. Ola dan Oli merasa senang sekali karena sekolah mereka mengadakan Study Tour. Mereka mempersiapkan seluruh peralatan masing-masing tanpa perlu di bantu ibu seperti biasanya. Sewaktu menyusun barang yang akan di bawa, Ola dan Oli sempat bertengkar kecil. lagi-lagi masalah sepele. “Nanti, kamu memakai topi yang ini ya…dan aku akan memakai yang ini..” kata Ola sambil mengangkat dua buah topi. “Tapi, itu kan punyaku!” kata Oli. “Sekali-sekali tukaran gak apa-apa kan?” kata Ola. “Sekarang aku lag gak mau tukaran!” Oli mengambil kembali topinya yang sedang di pegang oleh Ola. “Kenapa kamu merampasnya?” kata Ola, tangannya mencoba meraih kembali topi yang di pegang Oli. “Siapa yang merampasnya? Ini punyaku kok!” Oli membela diri, tangannya memasukkan topi ke dalam tas dengan hati-hati, takut kalau topi itu menjadi bengkok karena di masukkan asal-asalan. “Hey…Oli! kata ibu kita kan boleh sailng meminjam barang, jadi sekarang aku pinjam topimu!” Ola tidak menyerah untuk mendapatkan topi itu. “tidak mau! pokoknya aku tidak mau!” Oli memegang erat-erat tasnya, takut benar Ola akan mengambilnya. “Aku kan, sudah bicara baik-baik! masa tidak di kasih?” Ola masih berusaha merebut tas yang berisi topi itu. Oli kemudian berlari agar topinya tasnya tidak di ambil Ola. Tapi, Ola sudah mengejar kembali Oli yang lari keruang tamu, kemudian mengambil tasnya. Oli yang kaget melihat Ola datang, tidak sempat menahan tas itu. Ola bersorak senang, kemudian membuka tas itu dan mengeluarkan topi milik Oli. Dan ternyata topi itu sudah bengkok sekarang! Oli kemudian merajuk melihat topinya bengkok dan pergi mengadu pada ibu. “Sudahlah…kaliian besok akan pergi kan? Ayo tidur! Agar besok tidak mengantuk!” ibu mengingatkan Ola dan Oli. mereka berdua melangkah ke dalam kamar mereka di lantai dua, dan kemudian tidur dengan nyenyak…

Keesokan harinya, Ola dan Oli bangun pagi dengan semangat. Mereka tampaknya sudah melupakan pertengkaran mereka tadi malam. Ola dan Oli berberes dengan cepat. Mulai dari mandi, berganti pakaian, hingga sarapan. “Wah….kalian semangat sekali hari ini!” kata ibu pada Ola dan Oli yang sedang menghabiskan sarapan mereka. Ola dan Oli mengangguk serempak, kemudian melanjutkan makan. sama seperti yang sebelumnya, Ola dan Oli makan dengan cepat. “Kenapa kalian terlihat buru-buru sekali?” ibu menatap Ola dan Oli heran. “Kami takut terlambat bu…” Kata Ola menjawab pertanyaan ibu. Ibu ber-oh paham dan berkata, “Hati-hati di jalan nanti ya…jangan terburu-buru seperti ini..” Ola dan Oli menyalam ibu, dan berlari keluar, menaiki sepeda menuu sekolah. Di sekolah sudah ramai teman-teman mereka yang datang, semuanya sibuk becakap cakap satu sama lain. Rata rata berbicara tentang Study Tour mereka hari ini. Percakapan para murid baru berhenti ketika guru pendamping menyuruh mereka naik ke dalam Bus, perjalanan ke Pantai sudah di mulai. Sepanjang perjalanan, semua anak murid menikmati pemandangan di luar lewat jendela Bus, lama kelamaan semuanya merasa mengantuk dan tertidur. “SELURUH ANAK MURID DI HARAPKAN TURUN DARI BUS! KITA SUDAH SAMPAI DI PANTAI!” Suara dari Toa yang di pegang salah satu guru pendamping membangunkan seluruh anak murid. Mereka kemudian bergegas turun, saling sikut berebut turun lebih dulu. Akhirnya seluruh anak telah keluar dari Bus. Guru pendamping membebaskan mereka bermain. Anak-anak bersorak riang, termasuk Ola dan Oli. Mereka berdua mebangun istana pasir, mencari kerang, dan tentu saja berenang! Selam di pantai, Ola dan Oli terlihat kompak dan akur layaknya anak kembar. Guru pendamping yang melihat hali ini langsung menghubungi ibu Ola dan Oli. Ibu Ola dan Oli sudah berpesan pada guru pendamping itu untuk memberi tahu tentang Ola dan Oli pada saat Study Tour ini. Ibu khawatir Ola dan Oli bertengkar dan membuat orang lain repot. Tapi, saat mengetahui bahwa Ola dan Oli terlihat kompak dan akur, ibu merasa lega. Dan yang penting ibu tahu sekattang kapan Ola dan Oli kompak dan akur. Ola dan Oli akan menjadi anak yang kompak dan akur bila mereka pergi jalan-jalan…

TO BE CONTINUED….