Tugas 9 – Amanda

Petunjuk cerita: Lentera, Malam, Sore, Camilan
Petunjuk gambar: Lentera, Malam

Judul: Incident Before Festival
Nama Penulis: Amanda Cahyani (Amanda)
Tema/Genre: Lantern Festival (Festival Lampion)

==~ Sampul Kesatu ~==

 

==~ Sampul Depan ~==

Incident Before Festival 1 - Sampul Depan

 

==~ Sampul Belakang ~==

Incident Before Festival 1 - Sampul Belakang

 

==~ Punggung Buku ~==

Incident Before Festival 1 - Punggung Buku

==~ Sampul Kedua ~==

 

==~ Sampul Depan ~==

Incident Before Festival 2 - Sampul Depan

 

==~ Sampul Belakang ~==

Incident Before Festival 2 - Sampul Belakang

 

==~ Punggung Buku ~==

Incident Before Festival 2 - Punggung Buku

==~ Sampul Ketiga ~==

 

==~ Sampul Depan ~==

Incident Before Festival 3 - Sampul Depan

 

==~ Sampul Belakang ~==

Incident Before Festival 3 - Sampul Belakang

 

==~ Punggung Buku ~==

Incident Before Festival 3 - Punggung Buku

==~ Cerita ~==

“Aorii! Ini kenapa lampionmu kau taruh sembarangan?! Cepat bereskan!” omel Ibunya.
“Iya, bu..” ucap Aori malas.
“Jangan malas! Nanti malam kan mau diterbangin! Kalau ke injek gimana?” ucap ibunya lagi. Aori membereskan bekas guntingan-guntingan sisa lampion dan mengambil lampion itu untuk ditaruh di kamarnya.

Nanti malam akan ada acara menerbangkan lampion sebagai tanda menyambut hari yang baru. Lampion itu dinyalakan menggunakan lilin yang dipasang di tengahnya. Mereka akan menerbangkannya di sungai dekat lapangan pada jam setengah 8 malam.

“Hmm.. Aku taruh diatas meja saja deh,” Aori menaruh di atas meja belajarnya. Lalu dia rebahan di atas kasurnya. “Sekarang ngapain ya?” Aori bingung sendiri.
“Baca buku saja deh,” Aori bangun dan mengambil salah satu buku favoritnya dari rak buku. Judulnya Elly’s Elf Journey. Lho? Kok jadi promosiin buku sendiri.. Hehehe.. 1 jam Aori membaca. Lama-kelamaan dia mulai bosan juga. Dia sudah membaca nyaris semua buku yang ada di raknya!

“Huuh.. bosan,” Aori melempar buku yang sedang dia baca sembarangan.
“Ngapain lagi yaa..” Aori melihat kamarnya yang super acak-acakan bak kapal pecah. Akhirnya dia pun membereskan buku-bukunya dan menaruhnya di tempat asalnya.
“Aorii! Temanmu memanggil!” panggil ibunya dari lantai bawah.
“Oh? Iya bu! Segera kesana!” Aori mempercepat beres-beresnya saking buru-burunya, tak sengaja dia menyenggol lampion diatas mejanya dan menginjaknya!

BRET!

Salah satu bagian lampion itu ada yang sobek.
“Bret?” Aori mencari asal suara itu yang ternyata berasal dari bawah kakinya!
“LAMPIONNYAAA!!” Aori berteriak panik.
“Ada apa sih, Aori?” ibunya yang mendengar suara itu kaget dan bertanya. “Temanmu sudah menunggu di ruang tamu tuh!”.

“Iy.. iya bu!” Aori buru-buru mengambil lampion yang sobek itu dan menyembunyikannya di balik kursi. Aduuh.. Gimana nih? Kalo ibu tahu kalau lampionnya sobek, mati aku! Ucap Aori dalam hati. Aori turun kebawah seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kenapa dari tadi kamu ribut sekali sih?” tanya ibunya sambil menuang teh dingin kedalam gelas. Aori hanya cengengesan.
“Nih, kasih teman-temanmu. Mainnya di kamarmu saja ya!” ibunya menyodorkan nampan berisi teh kearah Aori. Aori menerimanya, lalu mengajak teman-temannya yang sedang menunggu di ruang tamu.

“Oh, Reiri dan Fukuko. Ayo kita ke kamarku,” ajak Aori. Reiri dan Fukuko masuk ke kamar. Mereka mengobrol bersama. Reiri memilih topik tentang festival lampion nanti malam.
“Nah, dimana lampionmu Aori? Aku ingin melihatnya dong,” kata Reiri penasaran.
“Uuh.. lampionku.. Yah.. sebenarnya..” Aori akhirnya menceritakan kejadian tadi.

“APAA?! Terus? Lampionnya?! Kamu nanti nggak nerbangin lampion dong?! Terus nanti gimana? Nanti..” oceh Reiri sambil sedikit teriak.
“Jangan berisik Reiri, pelan-pelan, satu-satu pertanyaannya. Lalu dimana lampion itu Aori?” selak Fukuko tenang.

“Ah, ini lampionnya.” Aori berdiri dan mengambil lampion yang dia sembunyikan di balik kursi.
“Wah, robek. Mungkin sudah tidak bisa diperbaiki,” kata Fukuko mengamati lampion itu.
“Tapi kita bisa buat yang baru,” kata Fukuko lagi.
“Eh? Buat baru? Tapi lilinnya gimana?”
“Aku sudah kehabisan lilin di rumah. Itu yang terakhir,” kata Aori bingung.
“Ya, kita beli lagi saja.” Fukuko mengecek jam.
“Masih jam 2 siang. Kalau kita berangkat sekarang mungkin masih ada waktu sampai sore,” kata Fukuko bangkit. “Ayo!”.

Mereka pulang setelah 1 jam membeli lilin. Wkwk.. lama amit ya.. lilin doang padahal. Fukuko membongkar semua barang-barang yang baru saja dibeli mereka. Woaw.. ada kertas untuk lampion yang baru. Lilin, dan.. coklat? BUAT APAA?? Ternyata, Reiri yang membelinya. Dia bilang, coklat bakal enak buat dimakan sebagai camilan pada saat sedang kerja.

Fukuko mengambil kertas dan mulai membentuknya menjadi lampion. “Reiri! Tolong ambilkan gunting itu dong,” minta Fukuko. Dia menyodorkan tangannya tanpa melihat. Reiri mengasih apa yang Fukuko minta.

Fukuko nyaris selesai membuat kerangka lampion. Reiri dan Aori ikut membantunya. Fukuko pintar dalam bidang kreativitas. Jadi Reiri dan Aori yang masih nooby hanya membantu mengambilkan atau memotongkan barang yang diminta.

(Btw, Fukuko itu anak orang kaya lho, ngga kaya raya banget sih. Nggak kayak Kintan, dari karakter cerita Cantika.) waktu sekarang menunjukkan jam 5:30 sore. Berarti mereka sudah menghabiskan 2 jam 30 menit hanya untuk membikin 1 lampion! Oh mai gat. Lama amat!

“Fiuh! Akhirnya selesai,” ucap Fukuko mengusap dahinya yang keringatan. Lampion itu sudah jadi! Tampak seperti baru (karena emang baru). Dan tidak terlihat habis hancur diinjak.
“Yeey! Thanks Fukuko!” kata Aori gembira. Sekarang lampion selesai. Tinggal menunggu festival deh!
“Yup, you’re welcome Madam. Ongkosnya hanya Rp. 100.000 saja.” canda Fukuko.
“Eeeh? Bayaar? Kita teman kaan? Pleasee, duit jajan di celenganku tinggal 100 ribu nih..” mohon Aori berbinar-binar.

“Hahaha.. bercanda kok. Jangan dirusakin lagi ya!” tawa Fukuko puas. Dia berhasil melihat wajah berbinar-binarnya Aori yang jarang terlihat.
“Sudah ya! Kita mau pulang dulu. Jangan diinjek lagi loh!” ucap Reiri. Dia berdiri dan pergo keluar kamar. Diikuti oleh Fukuko. “Ketemu di festival!” Fukuko sempat terlihat berkedip sebelum menutup pintu kamar.

Jam 7. Ayah, Ibu, dan Aori naik mobil ke sungai Ozuna di dekat lapangan Norcs. Sesampainya disana, sudah ada banyak orang yang datang. Banyak dari mereka sudah menyalakan lilin lampionnya, siap diterbangkan dengan secarik kertas berisi harapan.

Walikota datang. Aori juga ikut menulis harapan. Semua memberi aba-aba. 3.. 2.. 1! Di hitungan 1 semua orang menerbangkan lampion mereka berbarengan. Aori melihat Fukuko dan keluarganya di ujung dermaga dan Reiri beserta keluarganya juga di dekat sungai.
Malam yang menyenangkan! Meskipun ribet dikit sih tadi pagi… ucap Aori dalam hatinya.

~The End~

Advertisement

Published by

marsmellowmozara

> “ɪ'ᴍ ꜱᴏᴹᴱᴏɴᴇ. ᴠɪꜱɪᴛ ᴹʸ ᴡᴇʙꜱɪᴛᴇꜱ!” < — https://mozarablog.wordpress.com — https://bukuamanda.blogspot.com

2 thoughts on “Tugas 9 – Amanda”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s