Tugas 9- Jaihan

Tema: Acara atau perayaan

Petunjuk cerita: Cemilan

Petunjuk gambar: Cemilan dan malam

Judul: Api Unggun

Nama penulis: Dzakiyyah Jaihan

Sampul depan:

Sampul belakang:

Punggung Buku:

Cerita:

Api Unggun
Matahari kian meninggi. Cahayanya makin panas, membuat badan gerah. Enaknya minum dingin-dingin. Lapangan juga mulai sepi, eh… bukannya dari tadi emang sepi? Petualang pergi berburu. Lama banget, mungkin mereka banyak medapat buruan. Perlahan terdengar suara tawa dan percakapan. Petualang keluar dari hutan.
“Ealah.. Yazid katanya tadi mau buru rusa, tapi cuman dapat ikan..!” Asad tertawa terbahak-bahak, menunjuk-nunjuk Yazid.
Yazid garuk-garuk kepala. “Rusanya lari cepat, makanya aku nggak bisa dapat.”
“Ihh.. Yazid banyak alasan nih..” Laila menggoda Yazid (Kakinya masih pincang).
“Oi! Diam lah.” Hardik Yazid menatap Laila tajam, Laila hanya nyengir.
“Eh, tapi kita semua dapat buruan nih…” Kata Aulia melerai.
“Hah..iya. Nanti kita hitung bersama, ya..” Ajak Nazira riang. Semua mengangguk setuju.
Mereka segera menuju dapur petualang. Mengumpulkan seluruh hasil buruan. Ada daging Rusa, Kambing, dan Ayam hutan. Ada juga Udang, Ikan sungai, dan tumbuhan-tumbuhan hutan, dijamin semuanya lezat, asal yang masak Aulia, petualang iseng menggoda Aulia di dapur. Mereka juga memetik buah-buah hutan. Ah… seperti akan ada acara Api unggun saja.
“Oi, banyak sekali!” Seru Aulia riang, tangannya sudah gatal ingin memasak.
“Makanya kita hitung dulu.” Ucap Nazira menatap bingung seluruh hasil buruan, mau diapakan semuanya?
“Ayo kita hitung lansung..!” Seru Haura tak sabaran, Laila mengusap punggung Haura, sabar…, mungkin begitu maksudnya.
“Oke, kita akan mulai.” Kata Nazira mengeluarkan buku tulis berukuran A6 dan pena.
“Yazid, Asad, Aulia. Kalian pisahkan satu-satu kelompok dan jenis hasil buruan kita.” Perintah Nazira sembari menunjuk Yazid, Asad, dan Aulia dengan penanya.
“Eh, kita nggak nentuin ketua dulu nih?” Tanya Aulia.
“Nggak usah, Nazira saja yang jadi ketua.” Laila yang menjawab. Semua mengangguk setuju.
Asad, Yazid, dan Aulia mulai bekerja. Hasil buruan Rusa dikumpulkan dalam satu kelompok, kambing dalam kelompok kambing, udang dalam kelompok udang, ikan dalam kelompok ikan, ayam dalam kelompok ayam, buah dalam kelompok tumbuhan, dan tumbuhan hutan dalam kelompok tumbuhan. Lengkap sudah. Tapi ada kejadian yang membuat dapur ribut.
Aulia membuka plastik yang berisi tangkapan ikan milik Yazid. Tapi…
“Hua…!”Aulia histeris melempar sebuah plastik bening yang ada di dalam plastik hasil tangkapan ikan Yazid.
Apa sih isinya? Semua jadi penasaran.
“Ada apa, Aulia?” Semua orang bertanya keculi Yazid, dia terlihat salah tingkah, tentulah dia tahu apa itu yang dilempar Aulia.
Aulia hanya menunjuk plastik bening itu dengan menutup mata, dia tidak berani membuka mata sebelum plastik itu dibuang. Semua mendekat dengan hati-hati, ingin tahu di dalam plastik itu apa. Mengapa Aulia bisa sehisteris itu?
Semua tersentak, mundur menjauh, geli melihatnya. Semua menatap tajam ke arah Yazid. Yazid pura-pura tidak tahu.
“Yazid..!!!” Nazira berteriak kencang bagaikan singa yang mengamuk.
Yazid menutup telinga, merasa pekak. Lalu dia menatap semua orang sembari tertawa kecil.
“Apaan sih kamu? Kenapa malah tangkap katak..?” Tanya Laila kesal.
“Aku tadi cuman mau main aja.” Jawab Yazid malu.
“Sekarang kamu buang itu katak, udah penyet..! Kayak ayam penyet! Kamu mau makan??” Nazira berseru kesal, kesal sekali, dia serasa ingin mengutuk Yazid jadi katak.
“Hiii.. pantesan plastiknya Yazid bau. Geli deh mau makan ikan tangkapan mu..” Asad pura-pura menjadi penggeli.
“Oi! Itu kan beda plastik.” Kata Aulia menatap Asad.
Yazid mengambil plastik berisi katak penyet itu. Lalu membuang dengan menutup hidung. Puk-puk, Yazid menepuk tangannya.
“Cuci tangan mu, Yazid.” Kata Aulia. Yazid menuruti saja.
Itu lah yang terjadi. Mereka melanjutkan pekerjaan lagi hingga selesai.
“Sekarang coba hitung Rusa ada berapa plastik?” Tanya Nazira bersiap mencatat.
Aulia menghitung dengan cepat. Sesaat kemudian didapat lah angkanya.
“Lima.”
Nazira mencatat.
“Sekarang hitung Ayam.” Kata Nazira. Aulia mengangguk.
Mulai menghitung lagi, lalu memberitahu angkanya. “Tujuh.” Dan Nazira mencatat lagi.
“Udang?” Tanya Nazira.
Aulia menghitung lagi, lalu memberi tahu. “Empat.”
“Emm.., Sekarang ikan.” Kata Nazira sembari mentusuk pipinya sendiri dengan pena.
Aulia kembali menghitung. “Enam.”
“Terakhir, sayur dan buah.” Kata Nazira usai mencatat.
“Ada lima kantong plastik.” Aulia menyebut angka terakhir.
Nazira melihat serius catatannya. Oi? Nazira bingung.
“Banyak sekali buruan kita.” Nazira mengabari.
“Asiik….!!” Seru Aulia.
“Mau kita apakan semua ini?” Tanya Nazira bingung, dia mulai berfikir.
Laila, Aulia, dan Yazid ikutan berfikir. Emm…? Laila berfikir tajam, mencari jalan keluar yang tepat. Yang diinginkannya adalah bagaimana caranya agar untung dan tidak rugi? Bagaimana caranya menggunakan semua hasil buruan ini?
“Kita masak saja semuanya.” Aulia memberi usulan, ah, pikirannya selalu masak.
“Lalu bagaimana cara menghabiskannya? Sampai kita tamat dari sekolah Petualang, buruan ini tak bakal habis.” Komentar Laila, tepat dan cerdas.
Mereka berfikir lagi. berfikir dengan cermat dan matang-matang.
Tiba-tiba terlintas ide konyol di kepala Yazid. “Aha..!” Seruannya menjadi perhatian. “Kita kemabalikan saja seperti semula.”
Oho,ho..!
“Hebat ya, idenya. Kamu pikir kita ini tuhan? Sehingga bisa menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati?” Tanya Nazira ketus. Yazid garuk-garuk kepala, baru sadar atas ucapannya.
“Yee.. Yazid. Kembalikan lah katak penyet itu seperti semula, kalau kamu pikir kamu bisa.” Aulia cengesan, menambah rasa malu Yazid.
“Eh, bagaimana kita berikan ke warga-warga sekitar sini?” Usul Nazira, itu ide bagus tapi kurang tepat.
Laila menggeleng. “Itu ide bagus. Tapi apakah kita akan memberikan setiap warga satu ikan? Satu potong daging? Satu paha Ayam? Satu Udang? Itu akan membuat mereka jengkel, bukan berterimakasih.”
“Lalu, apa ide mu?” Tanya Haura kepada Laila.
Laila tersenyum, terlintas ide cemerlang di kepalanya. “Kita buat acara, nanti malam.”
“Hah?” semua terkejut serempak.
“Kenapa harus acara?” Tanya Asad bingung.
“Iya, nanti malam pula.” Timpal yang lain.
“Biar seru, dan buruan kita akan berkurang, pas untuk seminggu lagi, kita akan tamat. Oya! Besokkan dokter Lala akan pulang, acara ini bisa juga dijadikan untuk acara melepas dokter Lala.” Jelas Laila tersenyum-senyum. Semua mengangguk setuju.
Mulailah mereka bekerja, membagi tugas. Aulia, Khansa, Enisya, Amaroh, Syifa, dan Humairoh bertugas di dapur, masak. Nazira, Ana, dan Haura bertugas membersihkan lapangan. Asad, Syafiq, Thariq, Amer, dan Harun bertugas mengambil kayu bakar dan mengangkat tikar. Yazid, Khalid, Omar, Ikrimah, dan Thalha bertugas menata dan menyiapkan piring, gelas, dan bahan yang kurang. Sedangkan Laila sendiri kocar-kacir memantau.
Di dapur, Petualang sibuk mencari menu masakan yang enak.
“Menu kita kebab turki dan susu saja.” Usul Aulia.
“Nggak ah, Ramen saja.” Enisya membantah, jelas-jelas dia suka sekali makanan khas Jepang itu, makanan ala Naruto, Naruto itu film kesukaan Enisya.
“Sushi saja kalau kamu mau makanan Jepang.” Syifa berucap tegas.
“Nasi Kebuli saja, aku pandai memasaknya.” Usul Khansa, Nasi kebuli? Makanan khas Arab.
Amaroh menggeleng kuat. “Bagimana kalau Hamburger saja? Atau Krabi patty saja.”
“Lotek saja, itu makanan tradisional Indonesia. Seharusnya kan kita melestarikan makanan ala Indonesia, bukan makanan negara luar.” Itu usul yang bagus dari Humairoh.
“Boleh juga, lalu tambah satu menu. Mie Api.” Ucap Aulia. Kata-katanya benar membuat semua orang tersedak dan terkejut. Mie Api? Di Pentas Hobi saja Mie itu tidak laku.
“Bisa bolak-balik kamar mandi orang nanti.” Enisya nyengir lebar. Aulia sebal makanan kesukaannya dicela.
“Kalian belum mulai?” Ada yang bertanya, itu Laila yang mendengar keributan di dapur.
“Belum tahu menunya apa.” Jawab Khansa polos.
“Emang kalian mau menunya apa?” Tanya Laila mengelus dagunya.
Semua lansung rebutan menjawab.
“Kebab turki!”
“Tidak! Ramen!” Seruan lain.
“Sushi!!”
“Oi, nasi kebuli!”
“Hamburger!!”
“Lotek! Makanan tradisional!!”
“Mie Api!!” Seru Aulia, semua terdiam.
Laila geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya. “Tidak usah ribut, masak saja yang ingin kalian jadikan menu. Buruan kita banyak, tidak mungkin menunya satu atau dua.” Laila mengusulkan cara yang tepat. Semua mengangguk setuju.
“Tapi jangan jadikan Mie api sebagai menu acara, itu akan merusak acara. Bukannya aku mau mencela Mie api ya… Emang kita semua disini bukan orang yang tahan pedas seperti kamu, Aulia.” Jelas Laila tersenyum. Aulia hanya mengangguk kecil.
“Oya, jangan lupa tambahkan satu menu utama. Ikan darah. Itu makanan kesukaan dokter Lala.” Kata Laila menambah satu menu spesial. Yang lain mengangguk.
Sedangkan di lapangan, semua berjalan lancar. Hanya saja Yazid sesekali menjadi TJPM seperti tabiatnya, usil dan jahil, sukanya mengganggu orang lain.
~~~
Akirnya semua selesai sebelum magrib. Semua lelah, sama-sama lelah. Makanan telah tersusun rapi di atas tikar besar. Ada tela-tela, susu, kue, kebab, nasi kebuli, buah-buahan, sayur sup, ayam kecap, sushi, ramen, dan masih banyak lagi. ada juga cemilan seperti kerupuk dan pop crond. Ada juga jagung dan ikan bakar. Nyeemm… dijamin semuanya lezat.
Aulia yang memang hobinya memasak, tentu tidak akan berhenti memasak jika bahan-bahan masih banyak. Dia meminta Asad menyalakan api di pinggir kemah, lalu dia menegakkan kayu penyangga. Dia pun mulai memasak di atas api, seru sekali. Acara ini berlansung di pinggir kemah. Asad menyalakan api lagi ditengah-tengah kemah. Bukan untuk masak, tapi api ini adalah inti acaranya. Acara ‘Api Unggun’.
“Dokter Lala!!” Seru Laila berlari mendekati dokter Lala dengan kakinya yang pincang, kalau berjalan pincangnya tidak terlalu kelihatan.
“Laila. Ada apa?” Tanya dokter Lala sembari jongkok, dia menatap Laila tersenyum.
“Acara Api Unggun kejutan..!!” Laila membentangkan tangannya. Semua petualang melambaikan tangan ke arah dokter Lala.
Dokter Lala berdiri, wajahnya sumringah. Dia membaca tulisan sepanduk yang digantungkan diantara dua pohon. “Kami ingin melepas kepergian dokter Lala…”. Dokter Lala tersenyum lebar membaca tulisan itu.
Laila menarik dokter Lala ke tikar yang penuh dengan makanan.
Setelah sholat magrib, Haura pergi memanggil para jendral untuk makan. Yazid pergi memanggil kapten. Asad pergi memanggil para letnan. Semua pun datang. Mereka duduk di tepi-tepi tikar. Mereka bersiap untuk makan, makanan sudah mereka ambil dan mereka letakkan di piring masing-masing. Satu-persatu menyamtap makanan di piring masing-masing.
“Oi! Aku ketinggalan..!!!” Aulia berteriak, dia belum selesai memasak menu terakhirnya. Nasib-nasib… Chef yang terlalu semangat memasak. Yang masak malah nggak makan. Semua tertawa, sedangkan Aulia salah tingkah.

Setelah menu terakhir Aulia selesai, Aulia pun lansung masuk kedalam kelompok perempuan. Dia tidak membawa masakan terakhirnya itu.

“Eh, Aulia. Itu makanannya nggak dibawa kesini?” Tanya Nazira.

“Aku mau kasih Zia dan teman-temannya.” Jawab Aulia enteng.

Semua tersedak. “Siapa itu Zia?” Tanya Laila.

“Sahabat ku.” Aulia menjawab polos.

“Kenapa harus dikasih ke orang? Kenapa nggak kita aja yang nikmati?” Tanya Haura dengan wajah datar.

“Kan menu kita kelebihan. Kalau kita punya makanan yang lebih, kita hadiahkan ke orang lain, biar dapat pahala.” Jawab Aulia mantap, yang lain hanya mengangguk petanda setuju.

“Mungkin nanti mereka juga bakal kasih kita balasan makanan yang lezat.” Aulia nyengir lebar.

“Kamu pengen dapat imbalan?” Tanya Nazira melotot.

Aulia buru-buru menggeleng. Sehabis makan Aulia lansung izin keluar. Dia menghadiahkan makanan itu kepada Zia dan teman-temannya. Zia dan teman-temannya (Karakter Namira) mengucapkan terimakasih.

Advertisement

Published by

ummujaihan

sahabat buat anak dan orangtua

20 thoughts on “Tugas 9- Jaihan”

    1. Iya, emang Laila. Kamu nggak masuk ke dunia fantasi, makanya nggak diundang. Maunya kamu minta undangan biar karakter mu aku masukin dalam acara api unggun..🤣🤣🤣😆

      Like

        1. Nanti si chef Aulianya marah, “Nggak kenal, nggak tahu alamat.” Elah… Sudah selesai proyek ini pun ceritanya tak bakal siap. Aku kapan ada waktu senggang baru nulis, gantian sama Nada nulisnya.

          Liked by 1 person

  1. Hi Jaihan!

    Wah ini tema sampulnya back to camping ya 😀 gambarnya bagus lho, ada api unggun dan masakan yg menggambarkan isi cerita. Btw kenapa orang2nya ngga sekalian digambar? 😀 seru juga tuh kalo kita bisa lihat yg mana saja anak2 petualangnya ^^

    Untuk komposisi sampulnya udah bagus yaa… judul di sampul depan mungkin bisa lebih besar supaya ga saingan dengan judul seri. Punggung buku udah oke, sampul belakangnya cantik bangeet! Itu lightbox nya bikin pake apa biar bisa transparan dan ada tekstur kertas gitu? keren iiih!

    Nah cerita kali ini benar-benar seruuuu hehehe…. anak2 ini interaksinya kocak xD dah gitu ada katak penyet! Ya ampuuun si yazid ini bener2 deh xD pas milih menu masakan juga rameeeee wkwkw… aku seneng lihat anak2 ini saling bantu membantu untuk membuat kejutan, ide untuk mengadakan jamuan agar buruan mereka habis juga ide yg bagus. Diakhiri dengan manis saat Aulia bersedekah makanan pada temannya. Ahh, puas bacanya.

    A very good job, Jaihan!

    Poin:
    – sampul depan: 60
    – sampul belakang: 60
    – punggung buku: 30
    – ketepatan waktu: 50
    – cerita: 50
    Total: 250 poin, congrats!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s