Tugas 7-Jaihan

Tema : Misteri

Judul : Penampakan Aneh di Pinggir Kemah

Penulis: Dzakiyyah Jaihan

Sampul depan

Sampul Belakang

Punggung buku: MB

Cerita:

Penampakan aneh di pinggir kemah
Allahuakbar, allahuakbar…
Suara itu berasal dari musolah. Petualang segera menuju kamar mandi untuk berwudhu. Berlari secepat mungkin agar bisa lebih dulu mendapat keran untuk berwudhu. Laila berjalan dengan santai, dibiarkannya saja Haura berlari kencang meninggalkannya. Jika nanti dia tidak mendapatkan antrian berwudhu di keran, toh dia bisa berwudhu di wc. Di wc kan juga ada keran. Tinggal geser ember di bawah keran itu saja kok, susah amat sih logikanya. Pikir Laila.
Dia tiba di kamar mandi paling akhir. Semua tampak sedang berebutan keran untuk berwudhu.
“Cepetan dong..! bentar lagi iqomat tuh..!” Begitulah teriakan mereka memanggil.
“Sabar dikit, ngapa?” Balas orang yang berwudh di keran. Begitulah mereka semua berkelahi mulut.
Laila dengan tenang dan hati lapang menuju wc. Ada yang tenang juga seperti Laila. Khansa adalah orang yang pendiam, tapi dia jarang sekali berkelahi. Bawaannya begitu tenang. Jika disuruh Khansa menurut saja. Kalau marah suaranya tegas dan lansung dipatuhi, mungkin karena dia jarang marah.
Laila keluar dari kamar mandi. Wajah, tangan, rambut, dan kakinya basah semua. Dia lewat di tengah kerumunan yang keras kepala itu. bajunya sedikit basah karena percikan air yang mengenai bajunya. Tapi kan, baju jadi bersih. Jika diomeli bajunya basah, selalu begitu jawabannya.
Laila segera mengambil mukenanya ke kemah, lalu segera menuju mushalah. Menunggu iqomat. Selain dia ada juga Khansa yang shalat tahiyatul masjid. Laila ingin ikutan, tapi baru saja dia mau takbir iqomat lansung terdengar. Laila pun lansung shalat. Dia bersebelahan dengan Khansa. Baru sekali ini dia shalat di sebelah Khansa. Ternyata Khansa itu shlatnya khusyuk sekali, tidak bergerak sama sekali seperti patung.
Terdengar suara derapan kaki yang bergumuruh, mushalah itu seperti gempa dibuatnya. Ternyata mereka anak-anak perempuan yang lengkap dengan sarung dan mukena. Mereka segera shalat di samping Laila dan Khansa. Takut benar mereka jika tertinggal satu rakaat saja. Mereka merapikan kembali mukena dan sarung ketika shalat.
Usai shalat mereka segera berkeliaran. Haura dan Laila menuju teras gedung papan. Mereka makan pregedel tahu yang dicampur mie sambil menikmati bintang-bintang malam. Haura bercerita sesuatu, sepertinya Horor.
“Tahu nggak kamu, semenjak kita membunuh singa banyak sekali kejadian yang mengancam di sini. Mungkin rakyat raja hutan itu sudah marah manakala mengetahui raja mereka mati.” Kata Haura sembari menatap hutan ngeri.
“Serigala masuk dalam area kita. Beberapa kali kita jumpai ular di dalam kemah.” Lanjut Haura sembari mengunyah pregedel.
Itu sepertinya sedikit masuk akal. Tapi bukan kah kawasan di pinggir hutan sering dijumpai binatang buas? Pernyataan Haura seperti dongeng saja.
Semua mengerumuni Laila dan Haura.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Humairoh.
“Cuman bicara soal binatang-binatang buas yang sering masuk ke area sekolah Petualang.” Jawab Haura enteng.
“Eh, kemarin senja aku nampak makhluk bertanduk loh..!” Seru Asad, dia memasang wajah ketakutan.
Semua ikutan takut. Asad tidak pernah berbohong.
“Yang benar?” Tanya Omar memastikan.
“Iya, benar.” Jawab Asad menatap wajah takut Omar.
“Makhluk itu mau mencari nek Nazira.” Yazid nyambung-nyambung saja bicara orang, pasti satu tujuannya, mencari masalah.
“Eh, Yazid ini ceritanya nyata loh! Nggak boong!” Kata Asad sembari menyenggol tangan Yazid. Sepertinya Yazid mulai ketakutan.
“Kalian benar-benar takut, nih..?” Tanya Asad serius, dia justru bukan serius lagi, tapi duarius.
Semua reflek mengangguk. Asad justru malah tertawa geli.
“Itu aja takut, sudah jelas aku kemarin senja nampak rusa..!” Kata Asad tertawa terbahak-bahak. Asad emang jahil, tapi bukan jahil pembuat masalah seperti Yazid.
“Ya, elah..! Pandai aja ngasih jebakan ke orang! Kirain benar.” Nazira jengkel. Asad masih tertawa dengan jebakannya sendiri.
“Kalian cerita-ceritain yang seram nanti betulan datang hantu. Hantu yang berbaju putih dan rambutnya terurai panjang. Ihh.., ngeri..!” Kata Ana menyilang kedua tangannya.
“Hiii..!” Terdengar suara menyeramkan.
Semua reflek berteriak ketakutan. Menghadap kebelakang, barulah mereka diam.
“Ihh.., kapten buat kami ketakutan aja!” Syifa’ mengomel.
“Ya, ngapain cerita-cerita hantu. Bukannya tidur.” Kata kapten sambil lalu.
Semua menggaru-garuk kepala. Padahal ini ceritanya seru banget.
“Kita tidur?” Tanya Haura sembari melihat punggung kapten Zoo yang semakin menjauh.
“Ya udah, ayo kita tidur.” Jawab Nazira bangkit berdiri. “Anak laki-laki, kalian bukan urusan aku. Anak perempuan ayo tidur sekarang, atau kalian mau shalat malam?”
“Udah, yuk Hau! Kita ke kemah.” Ajak Laila sembari mengamit tangan Haura.
Laila dan Haura meninggalkan teman-temannya yang masih asyik bercerita sambil makan cemilan. Laila memukul-mukul kasur tipisnya, begitu juga Haura. Mereka bersiap untuk tidur. Ah, cerita hantu tadi nggak usah diingat.
Laila menarik selimut tebalnya. Dia mulai memejamkan mata. Dalam sekejap tertutuplah matanya, Laila tertidur. Haura lebih dulu tertidur dibanding Laila.
~~~
Laila terbangun sekitar jam tiga malam. dia sesak kencing. Segera dilepasnya selimut tebal yang empuk itu, meskipun tebal selimut ini tidak bisa melindunginya dari hawa dingin. Lihat, sekarang dia sudah hampir ngompol.
“Jangan sampai aku pipis dalam celana.” Batin Laila ketika membuka pintu kemah yang berresleting.
Laila lari secepat mungkin ke kamar mandi. Uhh, untung dia tidak kebelet. Laila berwudhu sehabis buang air kecil. Selain sunnah, hal ini juga membuatnya tidur lebih nyenyak dan dingin. Eh, tapi nanti dia bakalan kebelet lagi.
Laila keluar dari kamar mandi. Dia menatap langit malam. Baru sadar, ternyata hari ini bulan purnama. Uihh.., indahnya..! Apa lagi ditemani bintang-bintang kecil. Ahhh.., tambah indah saja.
Laila berhenti, diam mematung. Degh! Jantungnya mulai berdegup kencang tak karuan. Apakah dia sedang bermimpi? Laila mencoba mencubit pipinya. Auu..! Itu sakit sekali. Ini bukan mimpi, ini nyata! Apa yang dilihatnya? Makhluk yang tak jelas bentuknya, tapi Laila bisa membayangkannya. Makhluk dengan rambut hitam mengkilat yang tergerai hingga selutut, bukan! Tapi sebetis..! Makhluk itu berbaju putih. Penampakan aneh ini seperti yang di ucapkan Ana lepas isya kemarin. Laila berdiri mematung, mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Laila mencoba untuk mendekati makhluk itu, ingin melihat lebih jelas lagi. Tapi kakinya kaku, tak bisa digerakkan. Mulutnya membisu, sama sekali tak bisa dibuka.
Laila masih diam mematung. Sesaat kemudian ada yang memegang pundaknya. Hampir Laila berteriak, dia mengira ada makhluk yang memegangnya. Tapi untung lah, Haura yang menyentuh bahunya.
“Kenapa tengah malam begini kamu masih di luar?” Tanya Haura sembari mengucek matanya, suaranya kecil dan serak.
Laila menunjuk makhluk aneh itu, yang berdiri di pinggir kemah Enisya dan Khansa. Haura hampir berteriak, tapi untung Laila segera menutup mulutnya. Haura segera mengendap-ngendap pergi ke satu kemah lalu ke kemah yang lain. Semua berkumpul di tempat Laila mematung. Melihat penampakan aneh itu, sungguh menyeramkan sekali.
“Ini gara-gara kamu Ana. Kamu menyebut ciri-ciri makhluk itu, lihat sekarang dia benar-benar muncul.” Bisik Humairoh sambil menjawil tangan Ana. Ana hanya diam, tidak menyangka ucapannya menjadi nyata.
“Aku takut tidur, hantu itu berada di samping kemah ku…” Serak terdengar Enisya mengucap. Dia menunduk, ketakutan.
“Eh, Asad. Kamu bunuh aja makhluk itu, wish.. keren sekali jika kamu membunuhnya. Nama kamu akan dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia.” Dalam keadaan tegang begini pun Yazid masih mau bergurau.
Asad menggeleng, ini tampak lebih seram dibanding si Raja. Dia saja tidak tahu itu makhluk apa.
“Ah, masa makhluk itu lebih seram dari pada Singa. Makhluk itu kan tidak menerkam kita. Jadi bunuh saja..!” Yazid membujuk Asad. Dia seperti bisa pula membunuh makhluk itu.
“Kamu aja yang bunuh. Bisa?” Tanya Asad menantang Yazid. Yazid hanya garuk-garuk kepala, melihat Singa saja dia lari, apa lagi membunuh makhluk menyeramkan ini pula. Mungkin yang mati bukan hantu itu melainkan dia sendiri karena jantungan.
“Aku tidak berani tidur jika hantu itu masih di pinggir kemah itu.” Enisya berkata serak.
“Kamu bisa tidur di kemah kami untuk sementara.” Ujar Aulia menyikut lengan Enisya.
“Eh, bagaimana dengan Khansa?” Tanya Ana setelah menyadari Khansa tidak hadir.
“Hah! Iya! Khansa di mana?” Enisya kepalangan, dia juga baru menyadari Khansa tidak ada.
“Apa jangan-jangan makhluk aneh itu telah memakan Khansa..!” Yazid mengarang, dia tidak serius, hanya ingin menambah ketakutan, jahil.
“Oii! Kalau memang iya kenapa makhluk itu tidak memakan Enisya sekalian?” Nazira bertanya sambil melototkan mata kepada Yazid.
“Eh, karena Khansa lebih banyak dosanya.” Yazid menjawab asal tanpa merasa berdosa.
“Kalau hantu itu memakan orang yang dosanya banyak, tentu yang lebih pantas dimakan itu kamu, Yazid!” Nazira mengancungkan telunjuknya kepada Yazid, matanya makin melotot. “Lagi pula hantu itu menginginkan orang yang banyak pahalanya, ingat! Hantu itu Iblis, bukan Malaikat. Orang yang amalannya banyak juga akan sulit untuk diganggu oleh hantu, jin, dan setan.”
“Kalau begitu Khansa adalah pemilik hantu itu, dia pasti berteman dengan hantu itu. mungkin sekarang dia sedang mencari makanan buat hantu itu dan hantu itu sedang menunggunya.” Omongan Yazid tambah ngaur dan tambah membuat Nazira kesal.
“Berperasangka yang baik Yazid bin Nu’man! Bukan yang buruk..!!” Nazira berkata lantang, tangannya mengepal, ingin sekali rasanya dia memukul Yazid.
“Ai..? Dari mana kamu tahu nama nasabku?” Yazid mengalihkan pembicaraan.
“Manalah ku tahu. Waktu itu aku nampak saja di buku tulis mu.” Jawab Nazira, kemarahannya masih tersisah.
“Jadi Khansa itu dimana?” Tanya Laila teringat masalah utama mereka.
“Di sini, kenapa kalian keluar? Nanti kena marah kapten.” Terdengar suara yang menjawab. Suara itu tak asing lagi.
Semua berbalik badan. Ada Khansa di belakang mereka. Wajahnya cemberut, sepertinya dia merasa terganggu. Apakah tadi dia tidur? Tapi kenapa Enisya tak tahu?
“Di pinggir kemah kita ada hantu.” Enisya menjawab pertanyaan Khansa. Perasaannya antara lega dan takut. Lega karena Khansa telah tiba, dan takut karena masih ada hantu di pinggir kemah mereka.
Khansa berbalik kebelakang. Menatap sekeliling kemah, mencoba menajamkan mata. Tapi dia tak melihat apa-apa, hanya seeokor burung hantu yang bertengger di dahan yang daun-daunnya telah gugur.
“Hanya burung hantu. Kalian pasti salah lihat.” Khansa berucap pendek, menatap heran ke arah teman-temannya.
Enisya dan yang lainnya melihat ke pinggir kemah lagi. Benar, hantu itu sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya burung hantu yang bertengger di dahan salah satu pohon yang gugur daunnya.
“Eh, tadi ada.” Enisya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung, perasaannya tadi ada.
Khansa geleng-geleng kepala, dia hanya bisa heran melihat teman-temannya. “Sudah yuk, kita tidur.”
Mereka kembali ke kemah masing-masing. Misteri ini belum bisa dipecahkan. Ini adalah tugas menurut Laila, harus diselsaikan dengan cepat.
~~~
Besoknya, matahari mulai naik. Sinarnya membawa kehangatan bagi seluruh petualang di pagi yang cerah ini. Keringat mulai membasahi pelipis dan kening. Sinar pagi itu mengandung vitamin E yang berguna bagi seluruh makhluk hidup. Biasanya ibu-ibu yang baru punya bayi selalu menjemur bayi mungilnya di tengah sinar matahari pagi seperti ini. Agar bayinya yang baru lahir sehat wal a’fiyat.
Petualang berkumpul seperti biasanya. Sekarang mereka bercerita soal kejadian malam kemarin.
“Aku masih curiga tentang makhluk itu. masa sih, datang Khansa makhluk itu lansung menghilang.” Syafiq memulai percakapan.
“Mungkin dia takut sama Khansa.” Asad serius sekali menjawabnya. “Kamu kasih apa hantu itu Khansa, sampai dia takut sama kamu?” Asad mulai bercanda, melirik Khansa minta jawaban.
Khansa menggeleng, bagaimana mungkin dia memberikan sesuatu sedangkan dia sendiri tidak melihat hantu itu di pinggir kemah.
“Kita harus memecahkan misterius ini.” Laila tiba-tiba berkata, memecahkan suasana. Ai, itu serius sekali.
“Sepertinya itu perkara yang amat serius.” Kata Omar sembari mengelus dagunya. Laila mengangguk.
“Tapi bagaimana kita akan memecahkannya?” Tanya Humairoh, ini pertanyaan yang serius.
“Dengan berjaga-jaga.” Laila menjawab singkat.
“Oi? Apa kita akan bergadang sepanjang malam?” Tanya Thalha, dia jelas sangat terkejut dengan jawaban Laila. “Aku tidak ingin jadi pemalas paginya.”
“Sedangkan tidak bergadang saja kamu malas, seperti di rumah, tunggu disiram dengan air satu gayung baru bangun.” Timpal Aulia (Kakaknya Thalha) kesal. Thalha hanya bisa melototkan mata, karena memang begitu faktanya.
“Kita juga perlu strategi.” Laila melanjutkan pembicaraannya.
“Bagaimana strateginya?” Tanya Haura menatap Laila.
“Ketika Haura memanggil Enisya, Enisya keluar lewat belakang. Perhatikan baik-baik wajah makhluk aneh itu. Lalu laporkan kekami. Terus kita akan memberitahu kapten segera, ketika kita memanggil kapten harus ada dua atau tiga orang yang tinggal di tempat untuk menjaga makhluk aneh itu jika nanti kabur. Jika makhluk aneh itu kabur, perhatikan arah kaburnya. Lalu laporkan kepada kami dan kita akan mencari jejaknya.” Laila menjelaskan strategi panjang lebar. Semua mengangguk mendengarnya, ini akan menjadi misi yang seru..!
~~~
Hari mulai gelap, malam pun tiba. Sehabis shalat `isya, petualang tidur di kemah masing-masing. Ketika kapten Zoo lewat mereka berpura-pura tidur, lalu bangun lagi. Mereka memaksa mata tetap terbuka. Tapi satu persatu mulai tertidur, tidak tahan lagi menahan kantuk. Sedangkan Laila tetap membuka matanya meski Haura tertidur di sampingnya.
Laila terkantuk-kantuk, entah sudah jam berapa sekarang. Saat itu lah terdengar suara derapan kaki di atas rumput. Sepertinya ada yang sedang berjalan. Oi..! Itu terdengar menyeramkan. Laila diam-diam melihat keluar dari jendela di pintu kemah. Tidak ada apa-apa, kosong. Yang ada cuman kemah-kemah petualang dan padang rumput luas, juga pepohonan dan bukit yang kelihatan dari jauh. Laila pun kembali ke tempatnya. Mungkin tadi itu suara binatang yang sedang berjalan di atas rumput. Atau dia mungkin salah dengar.
Mata Laila hampir tertidur beberapa saat setelah mendengar suara tadi. Tapi suara itu kembali terdengar. Laila dengan pelan dan lemas mengintip dari jendela pintu. Hah..! Laila melihat ada makhluk yang kemarin juga di samping kemah Enisya dan Khansa. Makhluk itu sekarang sedikit tersembunyi.
Laila segera mengguncang kuat tubuh Haura. Haura terlonjak kaget, dia bangun. Bingung dengan kelakuan Laila.
“Ada apa?” Tanya Haura sembari mengucek-ngucek matanya.
“Kamu harus segera memanggil teman-teman kita! Makhluk aneh itu telah tiba!” Jawab Laila begitu tegang, ekspresi tegang itu jelas sekali tergambar di wajahnya.
Haura bangkit keluar kemah, diikuti oleh Laila. Laila menunggu agak jauh dari makhluk aneh itu, sedangkan Haura memanggil semua teman-temannya. Tak lama kemudian berbondong-bondong petualang keluar, berdiri di sekitar Laila. Terakhir yang keluar adalah Enisya, pastilah tadi dia memperhatikan wajah makhluk aneh itu.
Eh, ternyata dugaan kita semua salah.
“Bagaimana En?” Tanya Laila serius.
“Bagaimana apanya?” Enisya bertanya balik.
“Rupanya?”
Enisya lansung salah tingkah.
“Hmm… Aku lupa memperhatikannya Lai..” Enisya berkata pelan. “Aku ketakutan ketika dipanggil. Sialnya jilbabku susah dicari.” “Maaf, Laila..”
Laila menarik nafas, sudah takdir. Dia berusaha bersabar atas kesalahan pertama. Semua pasti melakukan kesalahan, lagian tugas Enisya itu cukup tegang. Laila tak tega menegurnya, hanya diam. Enisya sepertinya sudah mulai trauma atas kejadian ini.
“Tidak apa-apa Enisya, aku tahu ini cukup berat buat kamu.” Kata Laila sembari tersenyum, dia mengusap punggung Enisya.
“Lai, lansung saja kita panggil kapten, agar semuanya segera terbongkar.” Usul Humairoh cepat.
Laila mengangguk. “Yazid dan Nazira, kalian berjaga di sini.”
Oi, itu kabar yang buruk sekali bagi Nazira dan Yazid. Kalian tentu tahu, mereka berdua tidak akan pernah bisa akur. Satu TJPM (Tukang Jahil Pembuat Masalah), Yazid. Yang satunya lagi garang dan keras, baik fisik, akal, maupun kepala. Nazira.
Laila dan yang lain segera pergi kerumah kapten yang berada di area petualang juga, tak jauh dari kemah. Tugas memanggil kapten ini berjalan lancar. Tapi kacau sekali yang terjadi pada Nazira dan Yazid, sehingga membuat mereka lalai menjaga makhluk aneh itu. tentulah Yazid yang memulainya.
“Nazira, sini dulu.” Panggil Yazid. Nazira mendekat.
“Oii.. nenek Nazira..” Yazid berkata sambil menahan tawa, dia mulai membuat masalah.
Nazira marah besar. Diambilnya ranting yang tergeletak di kakinya, lalu dia melempar ranting itu kearah Yazid.
“Katakan yang penting-penting saja..!” Nazira berseru sebal.
“Eh, itu penting.” Ucap Yazid tanpa merasa bersalah.
“Itu tidak penting..!” Teriak Nazira lagi, dia meraih batu yang ada di tanah berumput, hendak melempar kearah Yazid.
“Ehh, hati-hati. Kalau kepalaku pecah ganti dengan kepalamu.” Kata Yazid sembari mengembangkan jarinya.
“Bukan pakai kepalaku! Pakai kepala makhluk aneh itu..!” Ucap Nazira sambil menunjuk ke pinggir kemah tanpa melihat.
Wajah Yazid seketika berubah menjadi gusar. Selera bertengkarnya hilang begitu saja.
“Berhenti berkelahi. Kita punya masalah.” Kata Yazid sambil menatap gusar ke pinggir kemah.
Nazira ikutan melihat. Ai! Tidak ada lagi makhluk aneh itu, sudah menghilang! Mereka akan mengatakan apa nanti kepada Laila? Percuma saja mereka berjaga, tidak ada hasilnya. Nazira dan Yazid saling menyalahkan.
“Ini gara-gara kamu, Yazid.” Nazira berkata geram.
“Ha?” Yazid justru malah bingung.
“Kamu yang pertama kali mencari masalah.” Nazira menunjuk tajam ke arah Yazid. Yazid tentu tak terima meski yang dikatakan Nazira benar.
“Kamu yang memper panjang.” Balas Yazid melototkan mata.
Nazira tambah geram. “Ihhrg… Kan kamu yang menjadi akarnya! Kita lalai gara-gara kamu tahu!!”
Lalu terdengar suara obrolan. Nazira dan Yazid siap menerima omelan.
“Kami benar-benar melihatnya kapten. Rambut makhluk itu panjaaang sekali, pakaiannya warna putih.” Kata Thariq melihat kapen serius.
“Kita sudah sampai kapten, itu hantunya.” Tunjuk Laila, tangannya menunjuk ke pinggir kemah Enisya.
Mereka semua terdiam, kemana hantu itu menghilang?
“Mana hantunya?” Tanya kaptem memecah kesunyian.
“Tadi ada di situ, kapten.” Laila menjawab polos.
“Mungkin kalian salah lihat.” Kata kapten geleng-geleng.
“Ahh.. tidak kok, kapten…” Laila buru-buru menggeleng, mereka tentu tak salah lihat.
“Nazira! Yazid!” Panggil Laila membalikkan badan ke arah Nazira dan Yazid.
Nazira dan Yazid terkejut, salah tingkah. Tentu mereka bingung ingin mengatakan apa.
“Kemana perginya hantu itu?” Tanya Laila menatap curiga Nazira dan Yazid.
Nazira menyepak kaki Yazid, dengan maksud agar Yazid menjawab. Tapi disambut dengan wajah ling lung Yazid. Nazira dan Yazid sama-sama tertunduk.
“Kami tidak tahu.” Nazira berucap pelan, dia tertunduk lebih dalam.
“Bagaimana bisa?” Ana tak sabaran.
“Semua ini gara-gara kamu, tuh, Yazid!” Nazira menyalahkan Yazid, Yazid hanya melotot (Merasa tak bersalah).
Kini Laila menyadari kekeliruannya memilih penjaga. Nazira dan Yazid tak bisa bersama, masalah akan bertambah jika begini. Gagal sudah rencana mereka.
“Kalian sudah berkumpul rupanya.” Tanpa sadar ada yang memecah keheningan. Siapa? Itu adalah Khansa!
“Khansa!” Semua berseru kaget. Khansa hanya biasa-biasa saja.
“Oi, Khansa! Sudah dua kali kejadian. Hantu itu hilang, kamu datang. Kamu pemilik hantu itu, ya?” Yazid bertanya serius, meski lagaknya seperti mau mencari masalah.
“Kamu jangan nuduh dong.. Aku nggak pernah sekeji itu.” Jawab Khansa sabar, wajahnya datar.
“Lalu kamu ngapain dan kemana tadi?” Tanya Yazid ingin tahu.
“Hanya di kemah, tidur.” Jawab Khansa polos, yang lain mulai curiga. Entah benar yang dikatakan Khansa entah tidak.
“Sudah lah. Dari pada ribut-ribut mendingan aku tidur lagi.” Khansa kembali masuk kemah dengan santai. Tak ada tersisah wajah sebal, hanya bingung dengan teman-temannya.
Semua saling tatap. Kapten kembali ke rumahnya dan petualang kembali ke kemah. Tapi mereka susah sekali memejamkan mata. Masih terpikir tentang Khansa dan hantu tadi. Laila mencoba memejamkan mata, tapi tidak bisa. Kali ini matanya tak mau tidur. Hingga adzan subuh berkumandang mereka tak tidur.
~~~
Ini malam ketiga. Laila berharap berhasil memecahkan MISTERIUS ini. Dia tidak ingin gagal lagi. Setidaknya dia tahu tempat tinggal hantu itu.
Srrrt….
Suara menyeramkan itu mulai terdengar. Jantung Laila mulai berdebar tak karuan. Kali ini harus berhasil, perkataan itu diucapkan Laila berulang kali. Dia mulai mengendap-ngendap keluar kemah, tidak membangunkan Haura terlebih dahulu. Lebih baik tak ada yang ikut, begitu pikir Laila. Laila mulai beraksi. Dia mengambil sepotong kayu. Sambil membawa kayu dan senter dia mendekat ke makhluk aneh itu.
Satu…
Dua…
Ti…ga.
Laila mengangkat kayu ke udara, lalu memukulkannya ke makhluk aneh itu.
Ssstt… meleset.
Pukulan Laila meleset. Eh, apa yang dilakukan hantu itu? Rukuk? Laila mulai ling-lung. Orang shalat! Dia mulai sadar. Makhluk ini bukan hantu, melainkan orang yang sedang shalat. Yang hitam itu adalah telekung, bukan rambut. Yang putih itu rok, bukan baju hantu. Rasa antusias Laila naik. Dihidupkannya senter, lalu mengarahkannya kewajah orang itu.
Setelah melihat wajah orang itu, Laila berdiri terpaku. Khansa? Ternyata Khansa yang selama ini dikira hantu! Khansa memejamkan mata karena silau. Laila berteriak histeris. Semua terbangun karena terkejut. Segera berlari keluar kemah, menuju Laila yang diam terpaku.
“Apa Lai?” Tanya Haura khawatir. Laila menunjuk Khansa yang berdiri shalat.
Semua akhirnya sadar, Khansa lah hantu itu. Eh, tapi dia ternyata sedag shalat. Sehabis shalat, mereka semua bertanya banyak hal pada Khansa.
“Kalian kenapa sih ganggu orang shalat? Kamu juga Laila, kenapa senter mata ku? Silau..!” Tanya Khansa mengomel, dia memandang teman-temannya satu persatu.
“Eh, aku ingin lihat wajah kamu. Aku kira kamu itu hantu atau siapa lah.” Jawab Laila sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal dengan pertanyaan Khansa.
“Hantu emang shalat?” Tanya Yazid tidak serius, yang jelas dia mau memulai keributan.
“Kan sebelumnya Laila kira hantu, TJPM!” Nazira yang menjawab sembari melototkan mata. Yazid balas melotot.
“Tapi Khansa, kami bukan ganggu kamu. Kami cuman tercengang, yang kami kira selama ini hantu ternyata adalah kamu.” Kata Aulia tersenyum manis, mencoba membuat suasana tenang. Khansa membalas dengan senyum tipis.
“Kamu kok nggak pernah ngasih tau kita kalau kamu yang menjadi hantu?” Tanya Asad datar.
“Aku aja nggak tau hantu apa yang kalian sebutkan itu. Aku kan juga nggak percaya sama cerita bohong, mana ada hantu. Kita sering ngaji dan shalat, Allah menjaga kita. Kita juga dilindungi para Malaikat. Hantu itu nggak ada, yang ada setan. Lagi pula jika kita banyak amalannya, setan akan sulit mengganggu kita.” Jelas Khansa memberi pemahaman.
“Oi! Tapi aku benarkan?” Tanya Yazid, sepertinya dia ingin mencari masalah lagi.
“Benar apanya?” Yang lain balik bertanya, bingung dengan pertanyaan Yazid.
“Eh, lupa ya..? Benar kan Khansa adalah pemilik hantu itu?” Yazid melengkapi pertanyaannya.
“Khansa bukan pemilik hantunya. Tapi dia yang menyamar jadi hantu.” Jawab Enisya sebel.
“Aku bukan menyamar! Tapi kalian yang mengira!” Kata Khansa sedikit berteriak, dia tidak mau dituduh sembarangan.
Semua kembali tenang, bertanya tentang yang lain sambil menunggu subuh. Laila sudah tiga hari ini bergadang. Usahanya tak sia-sia, membuahkan hasil. Misterius ini akhirnya TERPECAHKAN!!

Advertisement

Published by

ummujaihan

sahabat buat anak dan orangtua

One thought on “Tugas 7-Jaihan”

  1. Haloo Jaihan!

    Waww akhirnya misteri penampakan itu terpecahkan juga xD aku udah menduga sih, kyaknya ini si Khansa yg lagi solat, eh bener hehehe… ini anak2nya kocak bener dah, apalagi si TJPM, aduh bikin cengar-cengir aja pas bacanya xD eh tapi ga dijelasin kenapa Khansa solat di kemah ya, bukan di musola?

    Btw gambar sampulnya oke banget iniii 😀 hitam-hitam misterius gitu, udah gitu ada penampakannya di tengah2. Tenda yg menarik perhatian. Pemilihan kombinasi warnanya juga keren! Ini kalo aku liat menerapkan teori Z layout ya hehe..

    Sampul depan dah keren abis! Aku suka pemilihan font judulnya yang mengesankan horor-misteri. Punggung buku oke, deskripsi di sampul belakang juga enak banget dibacanya.

    Overall it’s a very good cover!

    Poin:
    – sampul depan: 60
    – sampul belakang: 60
    – punggung buku: 30
    – ketepatan waktu: 50
    – cerita: 50
    Total: 250 poin, congrats!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s