22 thoughts on “[CLOSED] Story Bazooka Untuk Kedua Tim.”

  1. Sore ini, ketika aku hendak pulang ke rumah, sewaktu mampir ke toko kue langganan ibuku, aku mendengar gosip dari ibu-ibu yang nongkrik cantik di toko kue tersebut.

    “Tau gak?” kata salah satu ibu-ibu disitu, “Anaknya ibu Siti abis ke jatuh dari kamar mandi lho!” dia mengatakannya dengan nada di lebay-lebaykan (menurutku).

    “Astaga, ya Lord!” teriak ibu-ibu yang lain, dengan volume suara yang seperti teriak.

    Segera semua orang melirik ke arah mereka, termasuk diriku.

    “Terus2, gimana jatuhnya? Parah gak?” lanjut ibu yang lain.

    “Jatuhnya, yah… biasa saja,”

    “Aduhhh… Cedihnya,”

    “Tapi sekarang udah di kyusuk sih,” lanjutnya.

    “Ihhh, syukur deh!”

    Dalam hati aku berkata, ‘Ya gusti, beginikah diriku kalau sudah jadi ibu-ibu nanti?😌😌😌

    #THEEND#

    Liked by 1 person

  2. Menangkis serangan Story Bazooka 🙂

    Sewaktu sampai di Indonesia, pesawat yang di tumpangi Ais dan teman-temannya mendarat. Pesawat ini canggih sekali! Dia bisa mendarat di manapun, dan badan pesawat akan menyesuaikan bentuk dengan tempat yang di gunakannya unttuk mendarat. Ais dan teman-temannya medarat di sebuah kota. “Kita berada di mana ini?” tanya Yunita begitu dia turun. “Aku juga tidak tahu dimana ini…” gumam Ais, dia melihat sekelilingnya. “Sepertinya aku tahu kita mendarat dimana….” Ziah ikut menatap keramaian kota ini dengan takjub. Serempak kepala Ais dan Yunita tertoleh, menatap Ziah dengan pandangan ingin tahu. “ini ada di Jakarta. Tapi, aku agak heran dengan monas di dunia ini. Monas di dunia ini berwarna biru ujungnya, tidak kuning! Dan tiangnya berwarna cokelat!” Ziah menunjuk monas yang berada di belakang ereka betiga. “Aku juga melihat itu tadi. Aku tidak menyangka kalau ternyata itu adalah monas…dia tampak sangat berbeda dari monas yang pernah aku lihat. Dari mana kau tahu kalau ternyata itu adalah monas Ziah?” tanya Ais, Ziah tersnyum simpul. “Aku mengamati bentuknya, dan kemudian aku merasa seperti mengenalinya. Dan ketika aku lihat sekali lagi, akhirnya aku ingat kalau ternyata itu monas. Aku tidak terlalu terkejut saat melihat bahwa monas berwarna biru dan cokelat, bukan emas dan putih. Namanya juga dunia lain, hal-hal aneh bisa terjadi…” Yunita mengangguk setuju. “Walaupun kita sudah tiba di Indonesia, kita tetap tidak bisa pulang kerumah masing-masing. Jadi…kemana kita akan pergi sekarang? Kita tidak mempunyai uang!” Ais berkata bingung, menatap jalanan ibu kota Indonesia di dunia lain. Ziah merogoh sakunya, menatap dua lembar uang berwarna merah. “Ketika pergi berkemah, orangtuaku memberikanku uang jajan. Entah untuk apa, padahal mereka tahu kalau kita akan pergi ke hutan yang sama sekali tidak ada Indomaretnya!” Ais bergegas mengambil uang di tangan Ziah, mengamatinya kemudian bergumam. “Ini mungkin bisa kita gunakan…aku harap uang di dunia ini sama seperti uang yang ada di dunia kita..” mereka kemudian berjalan kaki, sampai akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan yang tinggi menjulang dan mewah sekali. “Woah….bangunan apa ini?” tanya Yunita, kepalanya mendongak menatap bangunan itu. “CINEMA…Ini bioskop!” Ziah berseru setelah dia melihat papan bacaan yang di tancapkan di atas gedung ini. “Ayo kita masuk…aku ingin melihat suasana bioskop dunia lain…” bisik Yunita, masuk kedalam bioskop itu. Ais hendak berseru mencegah, hendak bilang pada Yunita bahwa mereka berada di dunia lain saat ini, mereka bukan sedang tamasya! Tapi, rasanya tidak mungkin Ais mengatakan tentang dunia lain itu pada Yunita di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang di depan bioskop itu. Ais akhirnya mengajak ziah untuk menyusul Yunita, ikut masuk kedalam bioskop. Mata Ais mencari-cari dimana Yunita. Mudah saja untuk menemukan Yunita, karena dia sedang berada di depan gambar sebuah film yang di atasnya bertuliskan : Now showing. “Film apa it…wow! Aku tidak bisa mempercayai mataku!” Ais berseru, menatap gambar itu. “Boboiboy Movie 2…hmm…bukankah ini sudah tayang di dunia kita?” tanya Ziah sembari melihat gambar itu. “Ya…ini sudah tayang! Tapi, aku tidak punya kesempatan untuk menontonnya! Dan ternyata film ini ada di dunia lain!!” Ais berkata girang. “Sst…Ais! Kita tidak akan mengahbiskan uangku tadi hanya untuk menonton film konyol ini…” bisik Ziah sambil menunjuk gambar film. Ais melotot, tidak terima, “Apa kau bilang? Film konyol? Ini film yang seru tahu! Hanya karena kau tidak fans Boboiboy, kau bilang konyol begitu?” kata Ais galak. Ziah menelan ludah, “Iya deh…film yang ‘hebat dan seru’…” jangan coba-coba mencari masalah dengan Ais, atau akan panjang urusannya. Tapi, diluar semua itu, Ais merupakan seorang teman yang baik, Yunita dan Ziah mengakui itu. “Eh…watch for free?” kata Yunita heran sambil membaca sebuah tulisan. “Apa? Tonton gratis? Bagaimana mungkin?” tanya Ais heran, dia menatap tulisan yang di baca Yunita dengan seksama. Tulisan itu benar, watch for free. Ais sudah bersorak girang, beberapa orang memperhatikannya. “Anak yang heboh..” mungkin itu yang ada di pikiran orang yang melihat tingkah Ais. “Ya sudah! Kalau ternyata gratis, kita tonton aja yuk!” kata Ais, Yunita di sebelhanya mengangguk, walaupun dia sebenarnya bukan fans Boboiboy. Tapi, sebagai teman, dia akan mengikuti Ais dan Ziah, mereka tidak boleh terpisah, mereka bertiga harus kompak dan saling tolong satu sama lain. Ziah menghela nafas pelan, baiklah…dia akan ikut. Ais dan teman-temannya masuk kedalam ruangan, berusaha berjalan normal seperti pengunjung yang lain. walaupun tetap saja terasa canggung karena ini adalah dunia lain. film di mulai, Ais bersorak senang. Dia menonton film seperti tanpa berkedip dan (menurut perkiraan Ziah) menahan nafas. “Ais….aku tidak selera menonton film seperti ini…aku tidur bileh ya?” bisik Ziah, Ais mengangguk tidak keberatan. Ketika filmnya sudah habis, Ais dan Yunita membangunkan Ziah, “Ziah! Bangun! Kita harus cepat pergi dari sini!” Ais mengguncang-guncangkan bahu Ziah. Ziah menguap, dengan malas bangkit dari kursi, berjalan keluar seperti pengunjung yang lain. Ais dan teman-temannya berjalan cepat-cepat keluar dari bioskop, mereka tidak ingin berlama-lama berada di tengah-tengah pengunjung yang lain. “Selanjutnya, kita pergi kemana?” Yunita bertanya, sesekali dia memandang dengan pandangan tertarik kearah barang-barang yang di jual di pinggir jalanan. “Kita bukan turis di kota ini Yunita! Kita adalah anak-anak yang tersesat dari dunia lain!” kata Ais, berusaha memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain yang berlalu lalang di sekitar mereka. “Aduh!” kata Ziah tiba-tiba. Ais menoleh, dia takut kalau ternyata racun dari ular laut itu beru bereaksi sekarang. “Kenapa Ziah?” tanya Ais cemas, Yunita yang berdiri di sampingnya juga terlihat khawatir. “Aku ingin buang air kecil! Dimana toiletnya?” “Aku tidak tahu dimana toiletnya!” Ais melihat sekelilingnya dengan tatapan bingung. “Bagaimana kalau kita kembali ke bioskop tadi? Disana pasti ada toiletnya kan?” kata Yunita memberi saran. Ais mengangguk, “Ayo Ziah! Kita pergi kesana!” mereka bertiga berlari, menuju bioskop. Tetapi, enath kenapa, penjaga pintu masuk tidak memperbolehkan Ais dan teman-temannya masuk kedalam. “Maaf dik…kalian tadi menonton fiml yang ‘watch for free’ kan?” tanya penjaga itu, atau lebih tepatnya disebut satpam. Ais mengangguk cepat, meng-iyakan perkataan satpam itu. “Nah…peraturannya, kalau kalian menonton gratis di sini, kalian tidak boleh masuk bioskop selama satu bulan.” Ais kaget sekali, dia tidak tahu kalau ternyata ada peraturan seperti itu. Sebenarnya, Ais mau berteriak pada satpam ini bahwa mana ada peraturan seperti itu. Tapi, kemudian dia teringat bahwa dia sedang berada di dunia lain, yang semuanya tidak bisa di samakan dengan yang ada d dunia mereka. Ais kemudian mengangguk sopan pada satpam itu, dan berkata, “Kalau begitu, bisa tunjukkan di mana kami bisa menumpang memakai toile?” Ais tidak mengatakan toilet umum, karena bisa saja yang seperti tu tidak ada di dunia ini. Satpam itu memberikan petunjuk, Ais dan teman-temannya mengangguk sekali lagi, kemudian berlari seuai arahan dari satpam itu. Ternyata, petunjuk yang di berikan satpam itu tidak salah. Ais dan teman-temannya memang menuju sebuah toilet yang ramai di kerubuni oleh orang, sepertinya ini adalah toilet umum. “Permisi…” Ais bertanya pada bapak tua yang berjaga di samping toilet umum itu apakah dia boleh memakai toiletnya? Bapak itu mengangguk, mempersilahkan Ais. Ziah masuk dengan terburu-buru, dia sudah tidak tahan lagi. Ais dan Yunita menunggu Ziah di depan pintu toilet, menunggu Ziah keluar. Saat Ziah keluar, tampak bagian celananya yang basah oleh air, bajunya juga basah oleh air, Ais dan Yunita menggeleng-gelengkan kepala melihat penampilan Zia. Sedangkan Ziah hanya nyengir, sambil menepuk bajunya yang basah. Ais dan yunita berjalan dengan hati-hati, ketika mereka berdua mendengar suara….BRUKK!!! Ais dan Yunita langsung menoleh, mereka berdua melihat Ziah jatuh karena terpeleset. “Kau tidak apa-apa Ziah?” tanya Yunita cemas. Ziah berdiri, wajahnya memerah. Karena terpelset tadi, semua orang jadi melihat keearahnya. Sebenarnya, tidak terlalu sakit, tapi karena dia dilihati oleh semua orang, Ziah jadi malu. “Ayo! Kita keluar dari sini!” bisik Ziah pada Ais dan Yunita. Mereka berdua mengangguk, dan berjalan keluar. Di jalan, Yunita cekikikan terus, dia mengingat kejadian Ziah terpeleset tadi. Sedangakan Ais di sampingnya berkali-kali menyuruh Yunita untuk berhenti cekikian, tidak baik menertawakan teman. Yunita baru berhenti setelah Ais melotot galak padanya. “Tidak terlalu sakit bukan?” tanya Ais pada Ziah, Ziah mengangguk. Dia masih malu dan teringat kejadian yang tadi. “Sudahlah…jangan di pikirkan! Walaupun memang lucu sih…” Yunita kembali cekikian. Ais kembali memelototi Yunita untuk berhenti mengejek Ziah…

    Liked by 3 people

  3. July baru saja duduk di kursi bioskop, hendak menonton film kesukaannya yang sudah lama dia tunggu-tunggu.. ketika tiba-tiba, July dipanggil oleh panggilan alam.
    Segera, July berdiri membuat semua orang menoleh padanya. July berlari menuruni tangga, dia bisa mendengar orang-orang berbisik pada teman disamping mereka, bahkan ada beberapa anak kecil ikut bertanya pada ibunya,

    “Bu, kakak itu kenapa?” tanya anak itu dengan polos.
    “Ooh.. paling dia dipanggil sama ‘alam’, nak” jawab Ibunya dengan santun, sambil mengelus kepala anaknya. Namun Ibu itu terdiam ketika anaknya bertanya,
    “Eeh.. begitu ya Bu.. tapi, panggilan alam itu apa?” ucap anak itu polos. Ibunya terdiam, bingung menjelaskannya bagaimana. Lalu Ibu itu berbisik, “Maksudnya– psst.. psst..”.

    July sebenarnya malu, tapi apa boleh buat. “Alam” terus memanggilnya, sampai-sampai “alam” itu hampir keluar. Dia tetap berlari keluar bioskop, bertanya sambil berteriak pada mbak-mbak yang bertugas mengambil tiket para penonton.
    “MBAAK! TOILETNYA DIMANAAAA???” teriak July sangat kencang, tampaknya dia sudah tidak peduli sekitar, orang-orang yang melihat sambil cekikikan, dan lainnya.

    Sambil kaget karena diteriaki tepat di depan kupingnya + dia bingung, keluar dari ruang bioskop lalu teriak-teriak nanya toilet dimana… itu kan… aneh? Mbak itu masih menutup telinga dan tangannya membentuk tanda panah– eh, maksudnya jari telunjuk yang lurus mengarah ke sebelah kanannya.
    “Di.. disi.. disitu… m—.”

    WUUSH!

    July berlari sekencang-kencangnya, setelah mbak itu menunjukkan arah. July segera berlari ke arah tersebut, July hampir tidak mendengar mbak itu bilang apa tadi. Saat tengah berlari, July mengingat kalau dia belum bilang terima kasih pada mbaknya. July menoleh kebelakang lalu berteriak,
    “MAKASIH YA, MBAA—”

    Omongan July diputus oleh seseorang.
    “Kakaaaak! Hati-hatiii! Di depan kakak ada te—-!!” disampingnya ada dua anak kecil perempuan yang berteriak padanya. Omongan itu terputus diakhir, tepat pada saat itu July melihat dua anak kecil itu menutup matanya.
    Ha? Apa itu te…? pikir July dalam hati. Dan pada saat dia menoleh kedepannya lagi..

    DUAAK!

    July terlambat menyadari, otaknya baru sadar tepat pada saat July menoleh kedepan!
    July menghantam—
    ….
    atau menabrak juga boleh. Pokoknya, July tidak sengaja menabrak tembok di depan toilet! Karena, tembok itu berada tepat di depan pintu masuk ke toilet. Kepala July masih pusing, tapi dia berdiri lalu tetap berjalan masuk kedalam toilet.

    SRR..

    Akhirnya July selesaikan “panggilan alam”-nya. July membuka pintu, dan mencuci tangan. Ketika July hendak lari kembali ke ruang bioskop yang sebelumnya. Tak sengaja, July melihat kecoak berjalan TEPAT di depan July! “AAA!” teriaknya, beberapa orang di kamar mandi yang melihat juga ikut teriak karena takut + jijik. Tapi.. July tidak hati-hati…

    BRAK!

    July terjatuh kembali! Kali ini, dia tidak sengaja menginjak roknya sendiri, membuat kakinya tidak stabil dan terpeleset! July bergegas berdiri, dan menjauh. Takut kalau kecoak itu masuk ke roknya! Hiii.. amit-amit deh kalau itu terjadi. Entah apa, yang bakal July lakukan.

    Akhirnya, semenjak kejadian menyebalkan + memalukan itu. July selalu melakukan “panggilan alam” sebelum dia masuk ruang bioskop. Agar, saat dia ke bioskop lagi dia tak perlu menanggung malu seperti waktu itu! Ah iya, meskipun ada kejadian ini. July tetap berhasil menonton film yang tadinya dia ingin tonton, dia tak ketinggalan satu bagian pun.

    ~THE END~
    *Amanda*

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s