Tugas 6-Jaihan

Tema: Hobi

Petunjuk Cerita : kolektor, kerajinan tangan

Petunjuk Gambar: pink, ungu, kolektor dan kerajinan tangan

Judul : Pentas Hobi

Nama Penulis : Dzakiyyah Jaihan

Sampul depan:

Sampul Belakang:

Punggung Buku:

Cerita:

Pentas hobi
“Petualang…!!”
Suara tak asing lagi bagi petualang, suara yang harus disambut dengan semangat dan teriakan yang menggelegar.
“Hormat kapten!!” Suara itu segera di sambut para petualang dari tengah lapangan. Mereka masih bermalas-malasan di sabtu pagi ini (bukan kah seharusnya semangat?). Badan mereka tak juga kunjung bergerak dari duduk, baring, dan menyandar. Mungkin mereka perlu sesuatu untuk menambah semangat. Hmm, tapi apa? Untungnya kapten selalu punya jawaban dan cara agar mereka semangat.
“Oi?” Kapten heran dengan cara mereka menyambut panggilan. Kapten tahu mereka kurang semangat, semangat mereka hampir padam. Hampir bukan berarti sudah, masih bisa dibakar lagi semangat mereka.
“Kalau mereka seperti ini… bagaimana caranya mereka akan naik pentas?” Gumam kapten sambil mengelus-ngelus dagunya. Kapten sengaja membesarkan suara agar petualang mendengarnya.
“Eh, aku nggak salah dengar ya, tadi? Kapten mengatakan kita naik pentas?” Tanya Khansa bangkit duduk, dia memperbaiki lagi jilbabnya.
“Aku juga dengar seperti itu.” Jawab Nazira sembari menatap kapten.
“Oi! Kapten bilang apa tadi?” Teriak Yazid dari kelompok laki-laki. Memang begitu lah kebiasaannya, bertanya dari kejauhan.
“Kita akan naik pentas!!” Aulia membalas teriakannya.
Reflek mereka bangkit berlari menuju kapten. Tapi, kapten lebih dulu mengulang panggilannya.
“Petualang..!!”
“Hormat kapten..!!!” Dengan semangat pasukan Badar mereka menjawab.
Kapten tersenyum lebar melihat semangat mereka.
“Kenapa tidak pakai semangat 45?” Tanya kapten membuka pembicaraan. Begitu lah kapten Zoo asal mau bicara, selalu menyelipi bumbu-bumbu canda dan gurauan.
“Angka di bawah lima puluh itu angka sial loh kapten! Abang saya bilang angka ganjil juga angka sial.” Jawab Ana, semua melotot ke arahnya.
“Percaya aja sih kamu dengan tahayul!” Kata Nazira, matanya semakin melotot.
“Hei, jangan lah marah-marah nanti cepat tua. Nasihati dengan baik nek..” Kata kapten dengan nada bercanda.
Semua tergelak. Nazira kan emang cocok jadi nenek-nenek.
“Ah, dia kan masih muda kapten jadi kak Ros saja lah. Ha, ha!” Kata Yazid membuat masalah lagi. Tuh, kan. Yazid emang cocok digelar TJPM (Tukang Jahil Pencari Masalah).
“Baik lah semuanya! Jangan berkelahi. Ada pengumuman!” Kapten melerai sembari menatap petualang satu persatu.
“Hari Minggu, tepatnya besok. Kalian akan naik pentas, menampilkan hobi kalian dengan gaya. Jadi persiapkan gerakan-gerakan kalian, gaya kalian, mental kalian, pembicaraan kalian, dan hobi kalian tentunya yang harus dipersiapkan. Jangan malu-maluin. Nanti kalian semua akan diberi piagam dan hadiah. Bagi siapa yang bagus penampilannya, akan diberikan medali dan piagam “Sukses pentas cilik”. Medalinya hanya satu dan hanya satu orang yang berhak menerimanya. Ini bukan medali biasa ya, ini Medali EMAS!! Ini bukan perlombaan tapi ini pentas hobi. Untuk melatih keberanian kalian tampil di depan umum.” Jelas Kapten mengobarkan semangat petualang lagi.
“Semoga besok kalian bisa duduk di SINGGAH SANA.” Kapten mulai menambahi dengan bumbu canda.
“Bah, bisa emang kalu besar kita duduk di sana?” Tanya Thalha kurang percaya.
“Tiggal pergi kalian ke SANA, setelah itu SINGGAH kalian.” Jawab kapten bercanda, mengundang tawa semua petualang.
~~~
Setelah urusan selesai, mereka pun bubar. Mencari dan memikirkan hobi masing-masing. Satu persatu mendapatkan hobinya. Nazira hobi menunggang kuda, berakrobat lah dia dengan kudanya. Ikrimah hobi memanah, meluncur lah dia dengan panahnya. Asad haobi berpedang dan menembak peluru, berekting lah dia dengan pedang dan pistolnya. Aulia hobi memasak, bermain lah dia dengan bumbu dapur. Dan masih banyak lagi yang berlatih untuk penampilan hobi.
Tinggal lah Laila seorang diri memikirkan hobi. Haura sudah mulai berlatih mendekorasi, dia tidak punya waktu lagi bersama Laila. Laila terus memikir hobinya. Dia masih belum mendapatkan hobinya. Pusing sekali kepalanya. Bosan mencari hobi terus menerus.
Diambilnya botol-botol plastik bekas yang sudah dibersihkan dari kardus Pop mie (kardus itu sudah tidak dipakai lagi). Seperti kebiasaannya, tangannya cekatan menyulap botol-botol itu menjadi sebuah benda yang indah, cantik, dan imut.
“Haura.” Panggil Laila sembari terus menggerakkan tangannya. Dia sedang mengelem kaleng menggunakan lem setan, takut benar dia jika lem itu mengenai tangan putihnya.
“Hmm?” Tanya Haura terus berlatih menghis benda.
“Emm.., kamu tahu nggak aku ini hobinya apa?” Tanya Laila menghentikan gerakan tangannya, dia menatap Haura.
Haura ikut berhenti balas menatap Laila. “Seperti yang kamu lakukan sekarang.”
Haura kembali berlatih.
“Maksud kamu…, mengubah barang bekas?” Tanya Laila, dia menatap Haura serius.
Haura mengangguk seraya berkata, “Kamu juga hobi sekali mengoleksi buku-buku, terutama buku cerita dan novel. Oh, ya! Kamu juga hobi mengoleksi kerajinan tangan, baik itu yang kamu buat maupun orang yang buat.”
“Makasih ya, Haura!” Kata Laila sembari memeluk Haura erat. Justru Haura wajahnya bingung, kenapa dia begitu bahagia? aku tidak melakukan apa-apa. Mungkin begitu maksud ekspresi wajah Haura.
~~~
Mulai lah Laila berlatih. Kini pikirannya tidak lagi pusing memikirkan hobi, tapi memikirkan apa yang akan dilakukannya? Bertanya ke Haura lagi? Mana mungkin! Haura saja sibuk dengan latihannya.
Laila tersenyum. Kenapa dia tidak melihatkan cara mengubah barang bekas menjadi benda yang cantik saja? Lalu dia nanti akan menampilkan koleksinya dan dia akan menerangkan tentang koleksinya itu satu persatu. Dia menatap bangga koper pink nya. Di dalam koper pink itu lah dia mengoleksi buku-buku dan kerajinan tangan. Tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi ling lung. Tidak mungkin dia sambil menenteng koper itu ketika di pentas nanti, itu akan membuat penampilannya rusak.
“Oh, ya! Aku kan bisa meminjam rak kayu dengan letnan Fairuz!” Seru Laila girang.
Laila pun bangkit keluar kemah. Dari teras gedung papan itu dia bisa melihat teman-temannya sedang berlatih di lapangan. Di sana tampak Nazira sedang berakrobat dengan kudanya. Wajahnya garang, membuat ngeri para petualang.. Sesekali dia berteriak memanggil nama kudanya “Ziman..!” Teriaknya sambil memukul. Kuda itu lansung mematuhinya.
Dia pun sampai di gudang.
“Pak Dun, letnan Fairuz mana?” Tanya Laila.
“Lagi ngurus sesuatu di kota.” Jawab pak Dun, nama asli pak Dun aslinya pak Midun, tapi orang-orang sering memanggilnya pak Dun.
“Mau apa anak gadis?” Tanya pak Dun.
“Gini pak, besok kan ada acara pentas hobi nih. Jadi saya mau pinjam rak, raknya nggak usah yang besar yang sedang aja.” Jawab Laila menerangkan.
“Kamu mau yang seperti apa? Ada banyak jenis rak yang sedang itu.” Tanya pak Dun.
Laila jadi bingung, dia saja tidak tahu model-model rak, apa lagi namanya. Yang dia tahu rak itu ada dua macam, rak dinding dan rak berdiri yang seperti lemari itu cuman tidak berpintu. Nah dia mau yang rak berdiri ini, rak berdiri ada dua macam pula. Yang beroda dan yang tidak beroda, dia tahu itu dari Abi. Dia menginginkan rak beroda agar mudah didorong.
“Aku mau rak tegak pak Dun, yang beroda.” Kata Laila menjelaskan ciri rak yang diinginkannya itu.
“Kamu lansung lihat di sana saja.” Kata pak Dun sembari menunjuk kearah ruangan tak berpintu.
Laila pun pergi ke ruangan itu. banyak sekali rak-rak tegak di sini. Dia melihat rak-rak itu tajam. Akhirnya dia menemukan satu rak yang cantik sekali dan cocok untuk tempat koleksinya. Rak tegak beroda dengan dua tempat rak dan dua tempat gantungan. Oh.., itu sungguh cantik dan pas dengan yang diinginkan Laila. Laila menarik keluar ruangan rak tegak itu.
“Pak Dun, Laila ambil yang ini ya..?” Tanya Laila berseri-seri.
Pak Dun tersenyum. “Ambil saja non kalau kamu senang dengan rak itu.” Jawab pak Dun ikutan senang. Pak Dun emang begitu, dia selalu mengiyakan dan membolehkan seseorang mengambil sesuatu, asalkan orang itu senang.
Laila mengubah posisi, kini dia mendorong bukan menarik. Kalian tahu, dua gaya itu mempunyai tujuan yang sama. Yaitu memindahkan benda. Laila pun membawa masuk rak itu ke dalam kemah.
“Laila, kalau benda itu tidak ada gunanya, lebih baik kamu keluarkan. Rak itu membuat sempit kemah kita Lai..!” Ujar Haura, dia merasa kesempitan dengan adanya rak itu.
“Ini untuk sementara. Jika petas hobi sudah selesai, aku akan kembalikan rak ini kepada pak Dun. Rak ini akan aku gunakan sebagai sarana latihan dan akan ku gunakan ketika peampilan nanti.” Terang Laila sembari membersihkan debu dari rak itu dengan kemoceng.
Haura meneruskan latihannya. Laila membuka koper pinknya. Dia memiliki dua koper pink, satu koper biasa yang beroda dan berkantong (Travel bag). Yang satunya lagi koper tanpa roda dan kantong, di dalamnya terdapat dua tingkat.. Tingkat atas sebagai pintu tingkat bawah. Volume tingkat bawah lebih besar dari pada volume tingkat atas. Di bagian bawah penutup koper itu ada tempat gantungan. Laila menggantung gelang, cincin, dan kalung yang dibuatnya sendiri. Di tingkat bawah, Laila mengoleksi buku-buku kisah, cerita, dan novel. Dia juga mengoleksi pot-pot bunga yang dia buat sendiri, di dalam pot itu terdapat bunga yang terbuat dari kain flanel, ada juga yang terbuat dari botol plastik dan pipet. Di tingkat atas Laila mengoleksi berbagai benda ringan dan kecil ukurannya.
Laila memindahkan semua barang-barangnya itu ke rak yang sudah dia bersihkan. Ditatanya rapi benda itu. Tara..! sudah selesai. Rak itu makin cantik saja setelah dihiasi dengan kerajinan tangan karya Laila. Bahkan tambah cantik setelah disusun buku pada rak paling bawah. Laila sangat senang dengan buku, lihat lah rak paling bawah itu, sudah sesak sekali dengan buku-bukunya.
Sekarang dia tinggal latihan berbicara. Bagaimana caranya dia menarik perhatian para penonton? Itu lah pertanyaannya sekarang. Tentu di pentas nanti dia tidak lansung mempraktikkan bagaimana cara mensulap barang bekas menjadi benda yang indah mempesona. Tidak! Tentu saja dia perlu berbicara terlebih dahulu dengan penonton. Sesuatu yang membuat penonton akrab dan riang adalah bercanda. Ya! Bercanda itu selalu membawa kebahagiaan dan persahabatan. Dan ketika sedang menerangkan atau memparaktikkan sesuatu dia harus menyelipkan bumbu-bumbu candaan agar penampilannya menarik dan bagus.
“Tidak apa-apa kalau aku tidak menang, yang penting penonton bahagia.” Laila berkata dalam hati.
Laila mencari tempat yang sangat sepi. Jika dia berlatih di dalam kemah, dia akan malu dengan Haura. Jika berlatih di lapangan pasti nanti penampilannya akan ditiru oleh banyak orang dan dia juga akan malu. Laila memilih berlatih di belakang gedung papan. Untung-untung tak ada orang yang melihatnya.
Laila pun mulai berlatih dengan sungguh-sungguh. Tangannya sibuk bergerak, entah apa yang dilakukannya. Mulutnya komat-komit mengatakan sesuatu, suaranya kecil agar orang tidak mendengarnya.
~~~
Tak terasa hari mulai senja. Awan mulai dihiasi dengan cahaya oren kemerah-merahan. Oh, indah sekali pemandangan sore di tepi hutan. Laila mengehentikan latihannya dia harus mandi dan merebahkan badan. Jangan sampai tenaga habis hanya untuk latihan, bang Ghazali (abang sepupu Laila) pernah bilang begitu.
Laila pun kembali ke kemahnya. Dia melihat Haura sudah bersiap untuk mandi sore. Laila ikutan bersiap.
“Kamu itu kemana saja sih..?” Tanya Haura sembari berkacak pinggang. Handuk merahnya tergantung di pundak dan tangannya menenteng ember kecil yang berisi sabun, sampo, sikat, dan pasta gigi. Semuanya keperluan mandi.
“Latihan di belakan gedung papan.” Jawab Laila singkat. Dia memasukkan keperluan mandi ke ember kecil miliknya.
“Kok jauh amat latihannya?” Tanya Haura penasaran.
“Emm..” Laila mikir.
“Agar tidak dilihat orang.” Jawab Laila sambil menggantung handuk ke pundaknya.
“Ayo!” Laila mengamit tangan Haura, Haura mau saja.
Di jalan Haura mengabarkan sesuatu.
“Tadi kapten bilang kita sehabis makan lansung kumpul di lapangan. Itu wajib.”
“Habis makan malam?” Tanya Laila memastikan.
“Iya lah, nggak mungkin siang.” Jawab Haura sambil menatap Laila cemberut.
Laila hanya tertawa kecil.
Sehabis mandi, Laila dan Haura pergi ke dapur petualang. Mereka siap berprofesi menjadi chef.
“Sreng, sreng…” Itu suara kuali.
“Ting, ting…” Itu suara spatula.
“Srreg, srreg..” Itu suara bungkusan bumbu dapur.
“Tok, tok, ktok, ktok..” Itu suara gilingan cabe.
“Sraaarrrrr..” Itu suara minyak yang dimasuki bawang, ikan, daging, dan ayam.
“Tlup, tlup, tlup…” Itu suara air meletup.
Dapur bising dengan suara alat dan bahan-bahan dapur. Menyenangkan sekali berada didapur. Memasak bersama-sama. Makanan siap sajikan setelah matang.
Nyeamm… lezat.. Semua saling menikmati makanan sendiri. Sesekali mencicipi makanan kawan. Begitulah petualang setiap hari. Senaaang.. sekali. Mereka semua bagai satu keluarga.
Sehabis makan, mereka berkumpul di lapangan. Kapten memotivasi mereka agar semangat dan pantang menyerah. Di pentas nanti jangan malu-malu ya… begitu nasihat kapten Zoo.
Waktunya istirat. Bermain dalam mimpi. Bersiap untuk pentas hobi esok. Sebagian masih ingin menikmati bintang-bintang malam, curhat dengan bulan dan menghayal tentang hari esok.
Laila menatap langit malam dari dalam kemah, di pintu kemah terdapat jendela kecil yang ditutupi mantel bening. Melihat keluarga langit malam selalu membuatnya bahagia dan tertidur. Dalam hitungan detik, Laila lansung terlelap dalam mimpi.
Dia bermimpi. Berada di taman yang luas, di dalam taman itu terdapat sungai susu, sungai coklat, sungai madu, dan sungai yang airnya jernih nan manis. Di taman itu juga terdapat banyak jenis bunga, bunganya sungguh aneh dan tidak pernah ditemukan di dunia ini. Hewan-hewan di taman ini juga aneh. Ular berkaki, Kuda bersayap, ikan bersayap, unta laut, dan masih banyak lagi hewan-hewan yang aneh. Laila selalu mimpi itu, mimpi yang sudah biasa. Itulah sebabnya mengapa dia suka sekali dengan alam.
Mimpi Laila berbeda dengan Haura. Haura bermimpi berada di Istana. Istana di atas kolam, Lantainya terbuat dari kaca, dan dia menjadi putri di Istan itu. bla, bla, bla…
~~~
Petualang terbangun dari mimpi dengan semangat. Mandi, shalat, dan mencuci baju seperti biasa. Drama Nazira dan Syifa tetap ada seperti biasa. Tapi untung tidak sulit melerainya, apa lagi sampai memanggil anak laki-laki dan kapten.
Masak seperti biasa, dapur bising dengan suara kuali, spatula, dan bumbu-bumbu dapur. Eh, tapi sungguh menyenangkan. Lalu mereka makan masakan sendiri dan mencicipi sedikit masakan kawan.
Mereka pun keluar dari dapur setelah makan. Mereka baru sadar, pentas hobi sudah tersedia dengan kursi-kursi penonton yang banyak jumlahnya. Sepertinya kapten tidak hanya mengundang orang tua mereka.
Semua petualang masuk ke kemah masing-masing. Memakai baju yang bagusss… Haura memakai baju bewarna kuning. Laila? Oh.., Laila jangan ditanya lagi. Sudah jelas dia memakai baju pink, lambang indianya. Petualang keluar setelah mengganti baju. Lihat! mereka semua bagai anak-anak bangsawan. Tapi baju pink Laila emang selalu membuat orang iri hati.
“Cie.. Nazira mulai iri tuh dengan baju Laila..!” Yazid mulai memberi serangan, ah, dia pasti mau buat masalah lagi.
“Laila, kamu kok pakai baju itu terus, sih..?” Tanya Nazira dengan cemberut, Nazira benar-benar iri.
“Yee, baju itu kan emang cocok untuk dia, bukan untuk kamu..! Kamu pakai baju tentara saja.” Kata Yazid tertawa terbahak-bahak. Yang ditanya Laila malah dia yang menjawab.
“Aku nggak nanyak sama kamu..!!” Hardik Nazira lalu diam, emang lebih baik diam kan dari pada meladeni Yazid?
Yazid berkicau-kicau sendiri, dia terus memancing emosi Nazira. Tapi Nazira sudah bulat untuk tidak menjawab pertanyaan Yazid yang berbau jahil.
“Kalian ada barang untuk ditampilkan nanti?” Kapten memecah.
Sebagian mengangguk sebagian lagi menggeleng.
“Cepat bawa ke belakang pentas. Yang tidak punya barang cepat siapkan apa saja yang akan ditampilkan nati. Kalian semua segera berkumpul di belakang pentas.” Perintah kapten, lalu pergi meninggalkan petualang.
Petualang menyiapkan semua yang diperlukan untuk penampilan nanti. Laila membawa rak yang sudah disusuninya dengan buku dan kerajinan tangan. Dia mendorong rak itu hati-hati ke belakang pentas.
“Ehek..” suara kuda yang ditunggangi Nazira. Nazira bukan seperti seorang putri, apa lagi ratu. Dia lebih mirip dengan khastria. Tapi penampilannya membuat semua orang tercengang. Jika kudanya lewat, semua orang memberikan jalan. Yazid tidak berani membuat ulah, dia takut kepalanya nanti ditendang kuda. Sok-sok kamu Nazira!! Itulah yang dikatakannya dalam hati.
Ternyata benar! Bukan hanya orangtua mereka yang datang tapi juga bapak Walikota bersama istrinya dan ibu UPTD juga bapak UPTD. Semua ini membuat petualang grogi.
Kapten datang, entah apa lagi yang igin disampaikan.
“Kalian lansung masuk saja ke belakang tirai pentas.” Kata kapten Zoo.
Mereka pun masuk kebelakang tirai pentas lewat tangga yang ada di belakang pentas. Mereka disuruh kapten untuk menunggu di belakang tirai.
Tidak lama kemudian terdengar suara kapten membuka acara.
“Bapak-bapak ibu-ibu yang kami hormati. Terimakasih telah menghadiri undangan acara kami. Terimakasih juga kepada bapak walikota yang sudah datang ke pesta ini bersama istrinya (Semua tertawa, kapten emang pandai bergurau). Terima kasih kepada ibu UPTD yang lipstiknya aduh.. tebalnya (Semua tertawa). Dan kepada bapak UPTD Kami berterima kasih atas kedatangannya, semoga kami dapat makan gratis (Tawa semakin gemuruh). Ya, enggak lah. Makanannya dari kami nanti, makanan paling spesial sekali. Sampai-sampai bapak presiden pun tidak mau membeli, yaitu daun..! (Tawa semakin gemuruh). Kan benar, nggak mau bukan nggak bisa atau nggak telap. (Gurauan berakhir).
Jadi bapak-bapak ibu-ibu. Dengan acara ini kami ingin sekali kita semua menghargai kerja keras anak-anak. Kami sangat bangga dengan siswa-siswa sekolah Petualang yang berani, kuat, dan tangkas. Banyak sekali pengalaman mereka selama sekolah di sini. Dikejar singa dan membunuh singa. Ada juga kisah-kisah persahabatan mereka yang tidak bisa dilukis oleh pena.
Dan kini mereka akan menampilkan hobi mereka. Kepada bapak ibu kami sajikan waktu paling istimewa, yaitu menyaksikan penampilan hobi siswa sekolah petualang.” Begitulah berakhir pembawaan acara.
Kapten turun dari pentas. Mikkrofon segera di bawa turun. Petualang siap siaga menunggu nama mereka dipanggil.
“Aulia..!” Panggil letnan Hasan sembari masuk kedalam tirai lewat tangga belakang.
Semua petulang berbalik badan.
“Ada apa letnan?” Tanya Aulia bingung.
Di tangan letnan Hasa ada dua mik jepit.
“Kamu akan deluan dipanggil, jadi pakai mik ini sekarang.” Jawab letnan Hasan sambil memberikan mik jepit kepada Aulia.
Aulia pun memakai mik jepit itu di telinganya (Di dalam jilbabnya). Tepat sekali setelah dia memakai mik itu, namanya lansung dipanggil.
“Kita panggil ananda Aulia..! kepada Aulia, kami persilahkan.” Suara itu terdengar dari spiker.
Aulia keluar dari balik tirai sambil memukul kuali dengan spatulanya. Dia mendorong kuat meja beroda yang di atasnya ada kompor dan bahan-bahan makanan. Untung meja itu tidak jatuh dari pentas. Penonton menutup telinga karena suara kuali yang dipukul Aulia. Aulia pasti sudah merancanakan semua ini.
“Tuan-tuan dan puan-puan!!” Aulia membuka acara.
“Nona-nona yang tidak berlipstik, saya akan menjadikan mulut anda merah seperti berlipstik!” Aulia memulai acaranya.
“Bagaimana caranya?” Aulia pura-pura bertanya.
“Dengan memasak..!!” Yang bertanya malah menjawab pertanyaan sendiri.
“Saya akan memperlihatkan cara membuat mie api dengan cepat..!!” Teriak Aulia sembari meletakkan kualinya di atas kompor.
“Pertama tuangkan minyak, lalu masukkan bawang putih dan bawang merah yang sudah di iris…..” Begitulah seterusnya Aulia menerangkan hingga selesai.
“Amaroh, cepat pakai ini.” Kata letnan Hasan sembari memberikan mik jepit kepada Amaroh.
Amaroh pun memakainya. Sebentar lagi Aulia akan selesai menampilkan hobinya.
“Nah, ini mi apinya sudah saya sajikan, ada yang mau makan?” Tanya Aulia sambil mengangkat piring berisi mi yang sudah dicampur dengan cabe rawit tanpa tomat sedikit pun.
Tidak ada yang mau memakan mi buatan Aulia, tampaknya terlalu pedas. Bukan hanya mulut yang pedas, mereka pun nanti akan bolak-balik kamar mandi.
Aulia jadi salah tingkah, tidak ada yang mau mencoba mi buatannya. Padahal mi itu tidak pedas (menurut versinya). Aulia pun duduk di kursi. Lalu dia memakan mi itu. Dia tidak kepedasan sama sekali, apalagi sampai mulut menjadi merah dan bolak-balik kamar mandi. Bah, mantap kali anak ini, mungkin begitu maksud ekspresi wajah kagum penonton.
Aulia selesai menampilkan hobinya. Dan satu persatu menampilkan hobi masing-masing dengan baik. Nazira yang paling bagus penampilannya walau tidak ada kata-kata pembuka. Tapi akrobatnya bersama kuda sungguh mengagumkan. Jamping, melompat, menendang benda, dan masih banyak akrobat lainnya.
Laila orang terakhir yang dipanggil untuk menampilkan hobi. Orang yang terakhir tampil belum tentu kan berhasil. Penonton sudah hilang semangat, sungguh membosankan dengan hanya menonton penampilan anak-anak kecil yang tidak pandai mebawa acara.
Laila mendorong lembut dan hati-hati raknya. Semua mata tertuju padanya. Bukan karena penampilan Laila, tapi karena bajunya yang membuat Laila lebih mirip dengan orang India.
“Ayah bunda…, enak nggak, makan?” Laila membuka acara, suaranya lembuuut bagaikan sutra.
“Enak..!” penonton membalas dengan lembut.
Laila tersenyum.
“Makanan dan minuman yang berkemasan lebih enak kan..? tapi tidak akan membuat kita berisi. Makanya jangan sering-sering makan jajan..!” Kata Laila.
“Eh, kan nggak enak juga jadi roti, ya kan?” Tanya Laila lagi.
Semua mengangguk tersenyum.
“Aduh.., masa ayah ama bunda lebih suka jadi lidi daripada jadi roti. Ayah bunda suka roti apa lidi nih..?” Tanya Laila mulai bergurau.
“Lidi..!!” Jawab penonton serempak.
“Berarti ayah bunda nanti makan lidi aja, nggak usah makan roti.” Kata Laila tertawa kecil. Semua penonton tertawa.
“Ayah bunda…, Makanan dan minuman yang berkemasan emang enak. Perhiasan itu emang cantik. Tapi, uang itu tidak mudah didapat. Tahu nggak ayah bunda sekalian, Indonesia termasuk negara dengan sampah terbanyak di dunia. Tapi bukan Indonesia saja yang membuat sampah jadi banyak. Negara-negara lain juga begitu, sama kita semua. Bahkan sampah dari dunia sampai keluar angkasa. Yaitu sampah-sampah astronot.
Ayah bunda, dari pada kita membuang sampah dan mengorek kocek untuk membeli hiasan rumah, mending kita buat sesuatu yang dapat menghasilkan uang. Dengan modal sampah, kita bisa menghasilkan uang hingga ratusan.” Terang Laila sembari menatap penonton satu persatu.
Penonton mangguk-mangguk kagum. Antusias ingin tahu bagaimana cara berbisnis dengan modal sampah.
“Dan dengan sampah botol plastik, rumah ayah bunda akan cantiiik sekali. Ini benar loh ayah bunda.” Kata Laila tersenyum. Penonton ikutan tersenyum, sebagian penonton sudah tak sabar menunggu cara membuat hiasan rumah dari botol bekas.
“Sekarang saya akan ajarkan ayah bunda sekalian cara membuat pot bunga cantik dari botol plastik dan bunga dari pipet.” Laila memulai penampilan utamanya.
“Ini botol bekas dan pipet bekas yang sudah saya bersihkan.” Kata Laila sembari memperlihatkan botol bekas yang bersih dan pipet yang bersih juga. Laila mengangkat kedua benda tersebut tinggi-tinggi agar semua orang dapat melihatnya.
“Jika di rumah ayah bunda tidak ada botol dan pipet bekas, cari lah di luar rumah. Jangan beli sama pemulung, nanti yang untung pemulung bukan ayah ama bunda (Penonton mulai tertawa, ini lah siasat Laila). Tapi kalau ambil di tong sampah, entar nanti ayah bunda dibilang pemulung lagi (Penonton tertawa kencang). Lah, jadi ambil dimana? Gampang ayah.. bunda.. orang Indonesia ini walau sudah sekolah setinggi mungkin, masih juga seperti anak kecil (Penonton mangguk-mangguk). Lebih lagi orang dewasa, sekolahnya udah tinggi tapi kelakuannya masih macam anak kecik (Terlihat wajah tidak senang pada diri penonton). Benar loh ayah bunda. Dibilang jangan buang sampah sembarangan, tapi masih juga buang sampahnya sembarangan (Penonton mulai sadar). Ini fakta loh.
Jadi, ayah sama bunda bisa dapat botol bekas dan pipet bekas di taman, jalanan, dan di tepi sungai pun juga ada. Jadi ayah bunda bukan hanya membuat hiasan rumah nanti, tapi juga menyelamatkan bumi dan makhluk hidup.” Jelas Laila panjang.
Laila melanjutkan lagi. “setelah mendapatkan botol dan pipet bekas, ayah bunda lansung bersihkan. Jangan sampai kumannya menyebar. Kalau nggak dibersihkan segera, itu artinya ayah bunda nggak sayang anak (Penonton tertawa kecil). Setelah dibersihkan, botolnya dibelah dua. Terserah mau pakai apa aja, asalkan tidak pakai parang. Karena ayah bunda bukan membelah kayu (Penonton makin tertawa).
Nah, setelah itu botolnya dicat. Terserah mau pakai cat apa. Tapi jangan pula pakai cat rambut (Penonton kembali tertawa). Nah bagian atas botol diisi dengan batu. Lalu tempelkan ke botol bagian bawah. Lemnya pakai lem setan, hati-hati mengelemnya. Nati kalau lemnya kena tangan kita jadi setan (penonton tertawa).
Rangkai lah pipet menjadi bunga, lalu tempelkan ke pipet yang belum dirangkai. Sekarang cat pipetnya. Nah, bunganya sudah jadi. Masukkan bunganya ke dalam batu-batu.” Terang Laila lebar.
Tara..! sudah jadi..!! bagaimana? Mudah kan?” Tanya Laila sembari berseri-seri. Sebentar lagi penampilannya selesai.
Semua mengangguk.
“Ayah bunda, Laila sudah capek nih… Giliran ayah bunda yang membuatnya.” Lanjut Laila.
“Ada yang punya pertanyaan?” Tanya Laila menatap penonton satu persatu.
Seorang ibu-ibu dengan baju batik mengangkat tangan.
“Itu rak apa?” Tanya ibu itu.
Laila sadar. Oya! Ada yang kelupaan.
“Ini adalah rak yang berisi koleksi-koleksi saya. Bagian atas saya gantung dengan nama-nama saya, saya buat sendiri. Bagian bawahnya adalah kerajinan tangan karya saya sendiri, salah satunya ada yang saya jual. Di bawah rak itu adalah tempat gantungan, saya gantung dengan perhiasan berupa gelang, cincin, dan kalung kreasi saya sendiri. Bagian paling bawah adalah koleksi buku-buku saya, tapi bukan saya yang menulis buku.” Jelas Laila sembari menunjuk-nunjuk raknya.
Laila pun selesai menampilkan hobinya. Saatnya pengumuman pemenang pentas hobi. Siapakah yang memenangkan pentas hobi ini? Itulah sekarang pertanyaannya. Ini sungguh membuat jantung petualang berdebar.
“Setelah siswa-siswa sekolah petualang usai menampilkan hobi masing-masing, kami mengucapkan terimakasih kepada semuanya. Terimakasih kepada penonton sudah menghadiri acara ini hingga selesai dan terimakasih juga kepada ananda ekalian karena telah menampilkan hobi masing-masing dengan baik.” Kata kapten.
“Sekarang, seperti janji saya. Saya akan menghadiahkan medali kepada ananda yang bagus sekali penampilannya. Medali ini jatuh kepada…” Kapten menatap penonton satu persatu, di tangannya terdapat medali emas yang berkilau.
“Laila..!!!” Seru kapten setengah berteriak.
Perasaan Laila bahagiaaa sekali.
“Mantap kamu Laila..!!” Haura dan yang lainnya bahagia sekali.
Laila tidak pernah menginginkan hadiah itu. yang diinginkannya penonton bahagia. Dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah itu.
“Kepada ananda Laila kami persilahkan maju kedepan untuk menerima medali emas.” Panggil kapten Zoo.
Laila pun keluar dari balik tirai. Sang kapten mengalungkan medali itu sambil difoto-foto banyak orang.
“Dan kepada siswa sekolah Petualang kami persilahkan maju kedepan untuk menerima hadiah penghargaan dan berfoto dengan putri kita.” Kata kapten.
Petualang sekolah dari balik tirai. Mereka semua menerima hadiah sebagai penghargaan dari kapten. Lalu berfoto dengan wajah tersenyum manis bersama Laila. Foto kedua bersama keluarga besar sekolah petualang. Foto ketiga bersama bapak walikota dan istrinya, juga bapak dan ibu UPTD.
Laila yang tidak berharap menang dan hadiah ternyata memenangkan pentas hobi ini. Perkiraan petualang salah, Nazira yang menang. Tapi, Laila lah yang menang. Karena penampilan dan cara Laila membawa acara sungguh mengagumkan.

Advertisement

Published by

ummujaihan

sahabat buat anak dan orangtua

10 thoughts on “Tugas 6-Jaihan”

  1. Haiii Jaihaan, apa kabaaar 😀

    Ya Allah ini bagus banget ceritanyaaa… si kapten ini sepantaran mereka kah? Aku suka baca dialognya. Interaksi antar murid sekolah petualang juga enak dibaca, masing2 punya keunikan sendiri. Ini cerita yang komplit, dari awal sampai akhir diceritakan dengan runut dan lengkap, berasa puas bacanya gitu. Yang aku suka pas si Laila nanya ke Haura tentang hobinya, terus Haura melongo waktu Laila kelihatan seneng banget hehehe (anak2 emang suka ada yg ga pede gitu ya xD). Bagian pentasnya Laila juga bagus, si Laila ini jago juga ya public speaking 😀

    Anyway gambarnya indah Jaihan! Pas banget ini menggambarkan ceritanya. Panggungnya kelihatan mewah dari warna dan kerlip lampunya. Rak pertunjukan yang dibawa Laila cantik bangeet, digambar dengan detil sampe ada judul bukunya juga xD

    Untuk sampul depan looks great! Tulisan Pentas hobi huruf H nya seharusnya huruf besar ya 😉 Size nya mungkin bisa dikecilin dikit supaya gak mepet banget dengan tirainya, tapi gini juga udah cantik kok. Punggung buku agak ngga kebaca nih judulnya biru toska di atas ungu muda, mungkin bisa pakai warna yang lebih gelap (hitam/merah tua?). Huruf H nya juga pakai kapital 😛

    Sampul belakang deskripsinya mudah dibaca, cuma mungkin bisa diturunin dan diatur dikit supaya ngga kena tirai (mulai dari Kapten membawa berita blabla, yg “Haura blabla” itu udah bagus posisinya). Judul Pentas Hobinya juga bisa diturunin dikit supaya gak kelihatan terpencil di atas.

    Overall ini sampul yang cantik! I like it a lot!

    Poin:
    – sampul depan: 60
    – sampul belakang: 60
    – punggung buku: 30
    – ketepatan waktu: 50
    – cerita: 50
    Total: 250 poin, congrats!

    Liked by 1 person

      1. oalahhh xD tapi emang berasa kayak mengayomi gitu sih, dekat sama anak2 dan bisa memimpin dengan baik.. makanya aku penasaran usianya berapa hehehe…

        Liked by 1 person

        1. Seperti kak Sari lah, yang dekat sama anak-anak. Jaihan aja nggak tahu berapa umur kak sari, sangking akrabnya Jaihan kira kak Sari umurnya baru dua puluhan tahun.

          Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s