[CLOSED]Story Bazooka Untuk Kedua Tim.

Kata kunci:Tokoh Dunia-Lainmu masuk ke dalam portal.Portalnya masuk ke AMERICA!Tokohmu bingung mau ngapain.Tokohmu sedih sekali karena dia tak bisa ketemu keluarganya.Tiba2,tokohmu melihat seseorang yang ganteng dari jauh.Tokoh mu menjadi senang sekali.Dia bilang,”I know I’m not alone,I know I’m not alone,”.Tiba2,seseorang itu adalah si ALAN WALKER sendiri!Dia kagum melihat tokohmu nyanyi dengan sempurna.

Nah,bikinlah solusi bagaimana Alan Walker bantuin tokohmu kembali ke Indonesia;)

Batas Waktu:Selasa jam 11:00:00 malam.

Minds wiring for ideas,right?^_^

♡Team Bravo’s Patrol Officer♡

Advertisement

Published by

Aila

Bonjour, je suis Aila

5 thoughts on “[CLOSED]Story Bazooka Untuk Kedua Tim.”

  1. Menangkis Story Bazook untuk kedua tim 🙂

    Ais, Yunita, dan Ziah berjalan di padang pasir itu. Sebenarnya, matahari tidak menyengat kulit mereka walaupun ada lima di atas sana. Tapi, letih di kaki yang di peroleh setelah berjalan lama membuat nafas menjadi ngos-ngosan. “Kita istirahat lagi yuk! Sebentar saja…” Yunita sudah berhenti berjalan. Ais menggeleng, “Kita harus menemukan sesorang secepatnya! Jangan istirahat dulu Yunita!” Ziah yang berdiri di sebelah Yunita menatap Ais dengan pandangan memohon. “Kita sudah istirahat sebelumnya, kenapa harus istirahat lagi? Bukankah istirahat yang tadi sudah cukup?” Ais membalikkan badannya, hendak meneruskan perjalanan. “Jangan begitu dong Ais…kami capek sekali lho…” Ziah memohon pada Ais. Namun Ais tetap menggeleng, Yunita sudah duduk di atas pasir itu. “Buat apa istirahat saja harus minta izin pada Ais? Kita istirahat saja langsung! Biarkan dia pergi mencari orang yang dapat di mintai tolong tanpa kita!” Ziah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kan, Ais pemimpin rombongan…” Yunita menggeleng, “Bukan dia sebenarnya pemimpin rombongan! Kalian lihat siapa yang berjalan di depan saat kita mencari kayu bakar di hutan? Aku yang berada di depan kan?” “Tapi….menurutku Ais lebih cocok menjadi pemimpin rombongan daripada kau Yunita…” kata Ziah. Yunita melotot kearahnya, “Kenapa kamu berkata begitu?” Ziah tertawa. “Karena aku rasa, terkadang sikapmu itu seperrti anak-anak. Capek sikit, minta istirahat…” Yunita kemudian berseru kesal, “Heh! Bukannya kau juga memohon pada Ais untuk beristirahat? Apa bedanya? Sama saja kan? Kau tetap mengucapkan kata-kata yang sama : I-S-T-I-R-A-H-A-T!” Yunita mengeja satu persatu. “Perasaanku aku gak pernah bilang istirahat deh…aku hanya bilang : ‘Jangan begitu dong Ais…kami capek sekali lho…’ aku tidak ada bilang kata istirahat sedikitpun” Yunita terdiam, dia tidak punya argumen lagi. “Terus kamu bilang, ‘Buat apa istirahat saja harus minta izin sama Ais? Kita istirahat saja langsung! Biarkan dia pergi mencari orang yang dapat di mintai tolong tanpa kita!” Ziah menirukan perkataan Yunita tadi, sengaja benar hendak mengganggu Yunita. “Hei! Sudahlah itu! Aku sudah tidak bilang apa-apa lagi kan? Cukup sampai di situ! Jangan cari masalah!” Yunita meneriaki Ziah, yang diteriaki malah tertawa-tawa. Ais yang melihat mereka berdua hanya bisa menghela nafas dan bergumam, “Mereka berdua ini, kenaapa tidak bisa sebentar saja bersikap tenang, padahal kami harus mencari orang yang dapat di mintai pertolongan secepatnya. Eh…mereka malah bertengkar…” Yunita mengejar Ziah yang masih tertawa, menertawakan Yunita. “Sini kau! Jangan lari!” Yunita mengejar Ziah. “Cukup Yunita! Ziah! Kita harus fokus mencari rang ataupun penduduk!” Ais akhirnya berteriak, meneriaki mereka berdua. Bosan rasanya melihat Yunita dan Ziah yang terus menerus kejar-mengejar satu sama lain. Gerakan tangan Yunita yang hendak menangkap Ziah terhenti, begitupun Ziah yang hendak melarikan diri dari Yunita. Tapi, tampaknya Yunita dan Ziah tidak mau peduli, mereka melanjutkan ‘permainan’ mereka yang tadi. Terus kejar-mengejar, berputar-putar, saling mengejek dan melempari pasir. “Baju kalian kotor oleh debu pasir ini! Yunita! Ziah!” namun Yunita dan Ziah yang sedang asyik-asyiknya melempar-lempar pasir, saling mengejek, enggan untuk mendengarkan Ais, lebih tepatnya ‘tidak mau mendengarkan’. Yunita melempar pasir pada Ziah, Ziah menghindari serangan Yunita sambil tertawa, entah apa yang lucu. “Nih! Rasakan serangan balasan dariku!” Ziah berseru sambil melempar Yunita. Yunita bergegas berlari menghindari serangan Ziah. “Gak kena! Wee!” Yunita mengejek, Ziah mengejarnya, hendak menangkap Yunita. Yunita bergeegas berlari sebelum ditangkap oleh Ziah. Tapi ternyata, Ziah lebih cepat dari Yunita, dia kemudian menangkap Yunita. “Dapat! Rasakan serangan pamungkasku!!!” Ziah menggelitik perut Yunita. “Hahahaa…hahha….berhenti Ziah! Hahahaha….aku..ahaha..aku nyerah! Hahahaa!!” Yunita tertawa-tawa, bergulingan di atas pasir, bajunya menjadi sangat kotor oleh debu. Ziah tidak mau berhenti menggelitik Yunita, dia memindahkan gelitikannya ke telapak kaki. Yunita berusaha ‘menyelamatkan’ diri dari serangan Ziah, bangkit berdiri, kemudian berlari. Saat sedang berlari, Yunita melihat sesuatu yang bergerak, seperti berjalan, dari kejauhan. Seketika langkah kakinya yang berlari menghindari Ziah terhenti, dia menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas apa itu. “Apa itu?” gumam Yunita. Ziah yang sudah berada di samping Yunita juga melihat sesuatu yang di lihat Yunita. Dia berhenti mengejar Yunita. Ziah kemudian bernyanyi, “I KNOW I’M NOT ALONE! I’M NOT ALONE!!!” Yunita melotot kearahnya, menyuruhnya diam. “Kenapa kamu malah bernyanyi keras-keras? Jika sesuatu itu dengar nyanyianmu bagaimana? Lalu dia datang kemari?” Ziah tidak menanggapi perkataan yunita, dia masih tetap melanjutkan bernyanyi. “I’M NOT ALONE! I’M NOT ALONE! I’M NOT ALONE! Aku nyanyi karena aku sengan kalau ternyata kita tidak sendiri di padang pasir yang tak berujung ini…” Ziah nyengir. Ais mendekati mereka berdua, “Kalian kenapa sih? Dan Ziah, kenapa kamu malah santai bernyanyi sedangkan kita belum menemukan seseorang yang bisa di mintai tolong!” Yunita tidak menjawab, dia menunjuk kearah depan, sesuatu itu semakin dekat. Dia kemudian tiba di depan Ais, Yunita, dan Ziah, dia ternyata adalah Alan Walker sendiri! “I’m so excited when I hear you can sing ‘Alone’ so perfect!” Yunita dan Ziah menelan ludah, bagaimanalah ini? Mereka bertiga di ajak berbicara bahasa inggris! Ais kemudian maju, “This is my friend who sing ‘Alone’ sng. Her name is Ziah. She’s happy to see someone in this place. Because, we tought we will ever meet someone here. Emm….where is this?” Alan walker versi dunia lain itu menjawab pertanyaan Ais. “You don’t know? This is America! Where you come from?” Ais agak ragu menjawab, karena sebenarnya mereka berasal dari dunia lain, dia tidak mungkin memberitahu Alan Walker dunia lain ini bahwa mereka dari dunia lain. “We…we are from Indonesia…. why America seems different? I never go to America, but I ever saw the photo. It’s different!” setelah menimbang-nimbang, Ais akhirnya mengucapkan perkataan itu. “Yeah…tourist who never go to America, don’t know that America city is underground city.” Si Alan Walker itu menjawab santai pertanyaan Ais, sedangkan Ais, Yunita, dan Ziah menatapnya tidak mengerti. Sepertinya, Amerika belum pernah membangun kota bawah tanah deh…tapi, ini kan dunia lain. Tidak mengherankan. “Oh! I forgot something! Because I hear you are a brilliant singer, I will give you a present!” mata Ais membulat, hadiah? Yunita dan Ziah menatap tidak mengerti apa maksud si Alan Walker ini. “I will buy you an airplane tickets for going to Indonesia!” Ais mengangguk, walaupun seperuh hatinya mengeluh, karena bisa saja Indonesia di dunia ini berbeda dengan yang ada di dunia mereka. “Ok! You want to go now? Or later maybe?” tanya Alan Walker itu. “I want to go now…” jawab Ais agak ragu. Bagaimana mereka akan pergi sekarangjika tiket pesawatnya saja belum di pesan. Alan Walker itu kemudian memanggil lewat, sepertinya alat komunikasi, dia memanggil sesuatu. Sebuah pesawat muncul dari bawah tanah. “You can ride this for going home. See you next time! I hope I can hear your voice again!” pesawat itu kemudian langsung terbang setelah Ais dan teman-temannya masuk kedalam. Di dalam pesawat itu, Yunita dan Ziah meminta Asi untuk menerjemahkan percakapannya tadi. Ai menerjemahkan semuanya dengan lengkap. Di akhir perkataan Ais, Ziah mengangguk-angguk, “Berarti aku cocok jadi penyanyi dong!” Ais dan Yunita tertawa. “Tapi, berkat kamu Ziah, kita bisa ke Indonesia!” kata Yunita sambil merangkul Ziah. “Belum tentu juga…karena bisa saja Indonesia di dunia in berbeda dengan Indonesia dunia kita. Dan kalaupun Indonesianya sama, kita tetap berada di dunia lain dan itu bukan merupakan sebuah hal yang melegakan! Aku masih memikirkan reaksi pak Mail dan teman-teman kita yang lain jika mengetahui kita tiba-tiba hilang…” Ais berkata sedih. Yunita kemudiaan merangkul Ais, “Tenang saja Ais…aku akan terus menemanimu, seperti kau menemani kami saat bahaya di pantai itu…” Ais tersenyum menatap Yunita dan Ziah. “Kalian memang sahabat terbaikku!” Yunita kemudian nyengir, “Apa? Sahabat terbaik? Padahal kamu baru saja memarahi kami berdua saat bermain di padang pasir itu.” Ais menghela nafas. “Aku minta maaf soal itu. Aku hanya khawatir kita tidak bisa pulang. Itu saja…” Yunita dan Ziah tersenyum. “Tidak apa-apa Ais. Kami akan terus menemanimu karena itulah sahabat sejati!” Ais memeluk kedua temannya. Walaupun terkadang Yunita menyebalkan, Ziah malah ikut bermain bersama Yunita, bagi Ais Yunita dan Ziah adalah sahabat terbaik untuknya. Mereka berdua selalu mendukungnya, saling melindungi, dan saling mengingatkan. BEST FRIEND FOREVER AND EVER…..

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s