[CLOSED] Team Battle – Story Bazooka untuk Kedua Tim

Kata kunci:
Karakter Dunia Lain-mu itu sedang bermain di pantai. Tiba-tiba dia melihat temanmu di laut dikejar seekor hiu! Sedangkan temanmu satu lagi di pantai tak sengaja menginjak ular laut yang sedang menepi dan tergigit!

Buat keputusan cepat siapakah yang akan karaktermu itu selamatkan lebih dulu? Bagaimana cara keduanya bisa selamat?

Tipe: Menulis
Poin: 100 poin per anggota yang menjawab (boleh dari Tim Bravo maupun Tim Alpha)

Batas waktu:
Minggu 11 Agustus 2019, pukul 3:00:00 (siang)

Ganbatte, everyone~ (◍•ᴗ•◍)❤
*Alpha Team’s Patrol Officer*

Advertisement

Published by

marsmellowmozara

> “ɪ'ᴍ ꜱᴏᴹᴱᴏɴᴇ. ᴠɪꜱɪᴛ ᴹʸ ᴡᴇʙꜱɪᴛᴇꜱ!” < — https://mozarablog.wordpress.com — https://bukuamanda.blogspot.com

5 thoughts on “[CLOSED] Team Battle – Story Bazooka untuk Kedua Tim”

  1. Menangkis serangan Story Bazooka tim Alpha 🙂

    “Kita harus segera mencari jalan keluar dari sini kalau begitu!” kata Ziah panik setelah mendengar perkataan Ais tentang bahwa ini adalah Dunia lain. “Tunggu dulu Ziah! Kamu benar-benar yakin kalau perkataan Ais tentang dunia lain itu benar?” Yunita mencoba menenangkan Ziah yang panik. “Tentu saja aku benar Yunita. Di bagian bumi mana sih yang ada matahari terbit langsung lima?” Ais yang menjawab perkataan Yunita. Yunita terdiam, perkataan Ais memang benar. Di bagian bumi mana sih yang ada matahari terbit langsung lima? Ini jelas adalah dunia lain! “Sudah! Ayo kita berjalan! Siapa tahu ada orang yang bisa kita mintai bantuan!” Ais mengkomandoi, mereka bertiga berjalan untuk mencari bantuan. Mereka bertiga melihat ke kiri dan ke kanan, semuanya kosong. “Kita tidak mungkin menemukan rumah penduduk ataupun orang yang dapat kita mintai tolong di tengah padang pasir sepereti ini..” Yunita mengeluh. Ais menggeleng tegas, mereka akan terus mencari sampai dapat. “Kalau begini caranya, sampai tahun depan juga gak ketemu…” Yunita mengeluh sekali lagi. “Kau bisa yang sabar dikit gak? Kita harus berusaha!” Ais akhirnya berbicara. Ziah tertawa melihat wajah masam Yunita. Selama satu jam mereka berjalan, kali ini tidak hanya Yunita yang mengeluh, Ziah juga ikut mengeluh. “Kita istirahat dulu lah…terlalu lama berjalan, kaki ku pegal!” Ziah duduk di atas pasir, meluruskan kakinya. Yunita ikut duduk bersama Ziah. Ais akhirnya mengalah, ikut duduk bersama Yunita dan Ziah. Anehnya, walaupun matahari di dunia ini ada lima, panasnya sama sekali tidak terasa. Malah lebih panas matahari di dunia Ais dan teman-temannya. Padahal, hanya ada satu matahari di dunia Ais dan teman-temannya. “Kau membawa bekal makanan Ais?” Yunita bertanya, Ais mengangguk, menunjukkan pada Yunita makanan yang berada di dalam tas kecilnya. Untungnya, tas kecil Ais yang berisi barang-barang darurat itu tidak ikut terbang saat pusaran angin sebelumnya. Jadi, Ais masih memiliki makanan dan air minum serta barang-barang darurat lainnya. Tas Yunita dan Ziah juga masih ada bersama meerka, tidak ikut terbang. “Cukup ya istirahatnya! Kita harus segera menemukan orang yang bisa di mintai bantuan!” Yunita dan Ziah mengangguk, kembali meneruskan perjalanan. Saat setelah lima belas menit berjalan, Ais melihat ada sesuatu dari kejauhan. Dia menyipitkan matanya, “Apa itu?” gumam Ais. Yunita dan Ziah ternyata juga melihatnya, “Ayo kita pergi ke sana! Siapa tahu itu pemukiman penduduk!” Ais dan teman-temannya berlari kearah benda itu, dan betapa kagetnya mereka ketika menemukan bahwa itu bukan pemukiman penduduk. Itu ternyata sebuah pantai! Warna pasirnya putih, airnya berombak, ada banyak kerang, dan yang paling mencolok adalah pohon kelapa! “Bagaimana mungkin ada pantai di sebuah padang pasir?” Ais menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku juga tidak tahu. Kau benar Ais! Ini memang dunia lain!” Yunita berseru. “Jadi, bagaimana nasib kita di duia lain ini sekarang?” Ziah semakin panik. Ais menggeleng, “Aku juga tidak tahu Ziah…” Ziah menghela nafas. “Untuk sementara, kita bermain air saja yuk!” Yunita berlari, masuk ke dalam laut. “Ais! Ziah! Kemari dan bermain air bersamaku! Ini menyenangkan!” Yunita menciprat-cipratkan air. “Hei! Kamu tidak memikirkan baju ganti untuk selepas mandi ya?” Ziah berseru, tapi Yunita tidak peduli, dia melanjutkan main air. Tanpa Yunita sadari, sesuatu bergerak perlahan menuju tempatnya bermain air. “Yunita! Lihat ke belakangmu!” Ziah berteriak kencang. Yunita menoleh ke belakang, dan betapa kagetnya dia saat mengetahui kalau ternyata dia tepat berada di depan seekor hiu! Yunita berteriak panik, dia berenang kesana dan kemari untuk menghindari hiu itu. “AAAAAAAA……!!!!!! Ais! Ziah! TOLONG AKUU!!!” Ziah bergegas berlari hendak menolong Yunita. “ZIAH! Jangan membahayakan dirimu sendiri!!!!” Ais berteriak. “Yunita!! Bergegas kemari! BERENANG KEMARI!!!” Ais berteriak sekuat-kuatnya. Namun, Yunita yang sudah panik tidak bisa mendengar perkataan Ais. Sementara Ziah terus berlari kearah Yunitta, hendak menolongnya. Lari Ziah baru terhenti ketika kakinya menginjak sesuatu. Sesuatu itu mengggigit kaki Ziah! “Ulaaaaaar!!!!!” Ziah mengibaskan kakinya, berusaha menyingkirkan ular itu. Tapi, ular itu sudah terlanjur menggigit kaki Ziah. Ais meremas jarinya, dia bingung sekali. Di laut, Yunita di kejar-kejar oleh hiu. Dan Ziah sekarang sudah di gigit ular laut! Ais bingung, berusaha memilih. Antara Yunita dan Ziah. Siapa yang akan di tolongnya terlebih dahulu? Kedua-duanya merupakan sahabat baiknya. Dia tidak mungkin membiarkan salah satu saja yang selamat sedangkan yang satu lagi terluka. Ais menoleh kearah Yunita dan Ziah, berusaha memutuskan. Ais mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk menolong kedua-duanya. Dia mengembil batu yang berada di dekat kakinya, dan melemparkannya kearah Yunita di laut. Ketika melihat ada batu yang melayang, Yunita refleks langsung menghindar. “Yunita! Bergegas hindari hiu itu dan secepatnya lari ke pantai! Hiu itu tidak bisa bernafas di daratan!” Ais berteriak sambil berlari untuk menyelamatkan Ziah, Yunita sudah paham apa yang harus di lakukannya. Ais bergegas mendekati Ziah yang meringis kesakitan. “Kamu tidak apa-apa Ziah?” Aduuuh….si Ais ini! Sudah jelas-jelas Ziah di gigit ular laut, masa’ masih di tanya apakah baik-baik saja. Ais memeriksa kaki Ziah, ternyata ujung jari jempol Ziah yang di gigit oleh ular laut itu. “Bagaimana ini? Aku pernah baca, kalau ular laut itu racunnya lebih berbisa di banding ular lainnnya!” Ziah cemas. Ais juga memikirkan itu sedari tadi, dan bertanya-tanya bagaimana cara menyelamatkan Ziah. Selama 15 menit, Ais terus memperhatikan kaki Ziah, memikirkan cara menyembuhkannya. Ais merasa, ada sesuatu yang ganjil dari kejadian ini. Sudah lima belas menit berlalu, namun Ziah tidak tampak keracunan racun ular laut itu. Dia malah merasa kakinya baik-baik saja. Ais menghembuskan nafas lega, dia bersyukur Ziah tidak apa-apa. Yunita juga sudah selamat dari kejaran hiu di laut, dia sudah berdiri di samping Ais dengan badan basah kuyup. “Mungkin, racun bisa di dunia ini berbeda dengan racun di dunia kita…” gumam Ais. Yunita dan Ziah tersenyum kearah Ais. “Terimakasih Ais sudah menolong kami. Kau memang teman terbaik..” kata mereka serempak. “Yah…tidak mungkin aku meninggalkan begitu saja teman-temanku yang sedang berada dalam bahaya. Lagipun, teman memang selalu harus melindungi sesama teman. Karena, ibuku pernah bilang kalau kita pergi dan tersesat bersama teman, setidaknya kita punya teman untuk berdiskusi, bertukar pikiran, dan bekerja sama…” Ais menjelaskan, Yunita dan Ziah ber-oh paham. “Eh…ngomong-ngomong, kenapa kamu tadi kamu mencampakkan batu kearahku Ais?” Yunita bertanya. “Aku sengaja membuat itu agar pikiranmu teralih dari si hiu, fokus pada batu yang kulempar. Nah…saat kamu sudah selesai menghindari batu itu, kau sudah agak melupakan tentang hiu itu dan kau jadi bisa mendengar suaraku…” Yunita menggaruk kepalanya, bingung. “Sudah! Kita harus cepat-cepat mencari jalan keluar dari sini!!” Ziah beranjak berdiri, kemudian berjalan. Sebenarnya, Ais masih waspada tentang racun bisa ular laut yang sudah masuk kedalam tubuh Ziah. ‘Apakah racun itu akan bereaksi suatu saat? Aku dan Yunita harus waspada…’
    gumam Ais dalam hati.

    Liked by 2 people

  2. Aku sedang bermain di pantai saat melihat Kiara digigit ular. Dan lagi, terdengar teriakan dari arah pantai. Oh no! Ternyata si Vegas mendadak di kejar hiu!

    *Iee…Amanda @marsmellowmozara di pantai tuh jarang ada hiu! Kecuali di Australia!*

    Aku pun segera membasahi waslap dengan air an berlari ke arah Kiara,”Sini, Kiara!” Aku menekan luka bekas digigit ular tersebut, membasahinya dengan anti septik dan membersihkan luka tersebut.
    “Makasih ya, Haruki-chan…” ucap Kiara setelah aku selesai membalut lukanya.
    “Ya, sama-sama!”

    “…Kh…”
    Aku dan Kiara sama-sama menoleh ke belakang. Tampak, Vegas sedang berjalan ke arah kami,”Ish, masa tadi aku mendadak dikejar hiu. Setelah kuamati, itu ternyata ikan mirip hiu yang tidak berbahaya.” keluh Vegas.
    “Oh…” Aku mengangguk.

    “Eh, ngomong-ngomong, kita harus ke rumah sakit. Kiara tadi mendadak digigit ular,” ucapku sambil bangkit berdiri.
    “Tapi, apa kamu tau ini di mana?” tanya Vegas.
    “Tau kok, ini di daerah Anyer.” ucapku. Akhirnya, kami berdua membawa Kiara ke rumah sakit terdekat dengan mobilku. Ketika pulang ke rumah, aku benar-benar sudah bisa bernapas lega sebab ular yang menggigit Kiara tidak beracun.

    ~The End~

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s