Tugas 6 – Amanda

Petunjuk cerita: Piano, Menyanyi
Petunjuk gambar: Piano, Biru, Ungu

Judul: The Missing Pianist & The Singing Piano
Nama Penulis: Amanda Cahyani (Amanda)
Tema/Genre: Fantasi (Fantasy), Petualangan (Adventure)

==~ THE MISSING PIANIST ~==

 

==~ Sampul Depan ~==

The Missing Pianist - Sampul Depan

 

==~ Sampul Belakang ~==

The Missing Pianist - Sampul Belakang

 

==~ Punggung Buku ~==

The Missing Pianist - Punggung Buku

 

 

==~ THE SINGING PIANO ~==

 

==~ Sampul Depan ~==

The Singing Piano - Sampul Depan

 

==~ Sampul Belakang~==

The Singing Piano - Sampul Belakang.png

 

==~ Punggung Buku ~==

The Singing Piano - Punggung Buku

 

 

==~ Cerita ~==

“Tiing~ Ting~ Ting…”
Bunyi suara piano terdengar dari ruang musik. Tepat di depan ruangan itu, berdiri seorang anak, berdiri termangu di depan pintu sambil “mendengar” lantunan lagu mengalun lembut dari suara itu.

Harusnya kan tidak ada siapa-siapa…? ucap anak itu dalam hati. Anak itu bingung, di sekolah sudah jam—, anak itu bertambah kagetnya ketika melihat jam di tangannya.

Ini sudah sangat malam! Seharusnya tidak ada siapa-siapa di sekolah selain yang piket?! Anak itu segera berlari, menjauhi pintu ruang musik.

Alun suara musik masih mengiang di telinganya. Anak itu hanya berlari, lari, dan lari. Hingga saat itu.. anak itu tidak pernah kembali lagi ke sekolah–

— 00 – STORY ENDS HERE(?) – 00 —

 

“Oke, stop. Ceritamu ini nyata ngga sih? Kok ending-nya kayak ending drama banget??” tanya Kirie kebingungan, temannya Millie sedang bercerita mengenai suatu rumor tentang ruangan musik di sekolah mereka. Ruangan itu memang sudah cukup tua, ruang itu dipakai oleh semua kelas. Dari SD sampai SMA.

“Hehehe.. akhirnya emang buatan sendiri siih..” ujar Millie sambil cekikikan, Kirie itu baginya orang paling gampang untuk dijahili. Selain itu karena Kirie agak.. polos? Diberitahu sesuatu, sebagian besar cerita ada yang ditambah-tambahi. Tapi, bagi Kirie, selama cerita itu LOGIS. Maka, Kirie akan percaya saja.

“Eh, tapi cerita itu yang di bagian awalnya nyata kok!” jawab Millie.
“Aku dengar ini dari kakak kelas. Kamu tahu kan, Kak Wendy?” kata Millie lagi. Kirie mengetahui orang itu, segera Kirie pun balik menjawab. “Ah! Tahu, dong! Kak Wendy dari kelas 11-A kan? Yang jadi sekretaris OSIS?”.

“Aku kemarin habis bantuin dia,” ucap Kirie. Ternyata, kemarin Kirie melihat Kak Wendy membawa setumpuk besar kertas. Karena merasa kasihan, kebetulan Kirie sedang senggang jadilah Kirie membantu Kak Wendy membawa, dan menempelkan lembaran tentang pentas seni itu ke seluruh kelas-kelas di sekolahnya.

“Yak! Bener banget, kata Kak Wendy. Dia sedang piket, dan kebetulan kelasnya dekat dengan ruang musik itu. Kak Wendy tadinya berniat pulang, tapi samar-samar Kak Wendy mendengar suara dari ruang musik,”. “Nah, Karena Kak Wendy penasaran. Kak Wendy mendekati pintu itu lalu..” ucapan Millie diputus oleh Kirie di depannya.

“Lalu, Kak Wendy mendengar lantunan lagu itu, ya?” jawab Kirie, dia tak menunggu Millie yang menjelaskan saja. Sebab, mungkin kalau Millie yang jelaskan. Bisa-bisa Kirie harus menunggu sampai 25 jam!
“Iya.. tapi, kamu ngga usah mutus omongan juga dong!” kata Millie pura-pura kesal.

“Oh, iya! Aku lupa bilang. Katanya Kak Wendy dan beberapa murid OSIS pernah mengeceknya pada saat alunan itu berbunyi. Tapi, pada saat mereka membuka pintu ruangan, alunan musiknya berhenti dan tidak terlihat tanda kalau sempat “ada” orang yang menempati ruangan tersebut,” kata Millie lagi.

KRIING!

Bel pulang sekolah sudah mendering kencang. Seluruh anak-anak, termasuk Millie dan Kirie segera salim pada guru kelas mereka, mereka berebut menjadi penyalim pertama. Sebab, penyalim pertama akan dapat 10 ribu dari guru. Lumayan kan, uang 10 ribu bisa buat beli makanan atau minuman. Lalu, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

— 00 – BEBERAPA HARI KEMUDIAN – 00 —

“Kiriee!!” panggil Millie sambil berlari kearahnya.
“Ada yang dengar lagi, loh! Kali ini Kak Rio, si wakil ketua OSIS yang mendengarnya!”.
“Ya, ampun.. lagi? Dua hari yang lalu kamu bilang Kak Silca, Kak Mitah, Kak Filda, dan sekarang Kak Rio??” ucap Kirie sambil menunjukkan muka tanda bingung.

Entah mengapa, akhir-akhir ini Kirie selalu mendengar ucapan itu setiap kali bertemu Millie. Bagi Kirie sekarang, ucapan itu sudah sangat BIASA. Sebab, dimana pun Kirie bertemu Millie. Yang diucapkan pertama kali bukanlah “selamat pagi”, dan semacamnya.

Tapi, malah berkata, “Kirie! Ada yang dengar lagi loh~”.
Atau, “Eh, Kirie tahu ngga? Katanya–“. Bahkan, yang paling menyebalkan adalah ketika Millie berkata “Kiriee! Dengar deeh!” pada saat mereka sedang berada di depan umuuum?!

Hello~? Kita nih di depan umum! Bisa ngga ngomongnya jangan kenceng-kenceng?? ucap Kirie dalam hatinya. Awalnya sih, Kirie biasa-biasa saja. Tapi, lama-kelamaan Kirie mulai kesal juga. Akhirnya, Kirie berniat menyelidiki alasannya kenapa SETIAP HARI Kirie selalu mendapat ucapan itu.

Kirie mulai bertanya-tanya pada Kak Wendy, yang dianggap orang pertama yang mendengar “bunyi” misterius itu. Tidak lupa, Kirie bertanya juga pada Kak Silca, dan kawan-kawan  yang ikut jadi “pendengar” suara alunan musik di ruang musik. Saat Kirie mewawancarai Kak Mitah, dia diceritakan versi panjang dari rumor di ruangan itu..

 

THE END

Advertisement

Published by

marsmellowmozara

> “ɪ'ᴍ ꜱᴏᴹᴱᴏɴᴇ. ᴠɪꜱɪᴛ ᴹʸ ᴡᴇʙꜱɪᴛᴇꜱ!” < — https://mozarablog.wordpress.com — https://bukuamanda.blogspot.com

3 thoughts on “Tugas 6 – Amanda”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s