[CLOSED] Confetti Week 6

Kata kunci: Habis gelap terbitlah terang

Tipe: Boleh tulisan/gambar, sesuaikan dengan setting dunia di cerita yang kamu buat

Contoh:

  • Kalau kamu bikin setting terdampar di planet lain, kamu bisa cerita saat tokoh kamu terbangun setelah melewati portal, lalu melihat dua matahari terbit di ufuk
  • Kalau kamu bikin setting pindah ke dunia bawah air, kamu bisa gambar istana bawah air yang bercahaya di antara gelapnya laut dalam
  • dll

Poin: 200 poin/peserta yang mengumpulkan

Batas waktu: Minggu 11 Agustus 2019 23:59:59

Good luck!

Advertisement

37 thoughts on “[CLOSED] Confetti Week 6”

    1. Eh temanya tetap habis gelap terbitlah terang kan? Ya gapapa kumpulin aja, dunia lainnya kan ga mesti yg aneh2, dunia nyata juga gpp kok, anggap aja paralel universe πŸ˜€

      Liked by 1 person

        1. Wah keren ini, jadi pengendali kekuatan api xD perangnya jadi supernatural nih kayaknya huehehe πŸ˜€ good job, Ayska!
          +200 poin, congrats!

          Liked by 1 person

  1. Menangkis serangan Confetti πŸ™‚

    Semua ini bermula ketika Ais dan teman-temannya pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar bersama. Mereka semua sedang mengadakan karya wisata bersama murid-murid yang lain. Yah….sebenarnya tidak bisa di sebut karya wisata sih. Karena jarang karya wisata di lakukan di hutan. Kebanyakan karya wisata mengunjungi tempat-tempat terkenal dan merupakan touris spot. Namun, karya wisata sekolah Ais dan teman-temannya sangat berbeda, mereka pergi berkemah ke hutan. Walaupun karya wisata kali ini sekolah mereka tidak akan pergi ke touris spot, anak-anak tetap senang begitu mengetahui kalau mereka akan berkemah. Maka malam ini, setelah mendirikan tenda masing-masing, guru pendamping menyuruh mereka mencari kayu bakar untuk meyalakan api unggun. Semua murid menyambut perintah guru pendamping itu dengan antusias. Mereka bersorak-sorak senang, kemudian pergi ke tenda masing-masing untuk menyiapkan keperluan untuk mencari kayu bakar bersama. “Kira-kira, apa yang perlu aku bawa?” Yunita, teman Ais satu tenda bertanya. “Mungkin kau bisa membawa peralatan darurat saja…” Ziah teman Ais yang lain menjawab pertanyaan Yunita. “Barang darurat? Barang darurat itu seperti apa?” Yunita bertanya bingung. Ais menepuk jidatnya, “Hadeeh….masa’ kamu tidak tahu? kita kan sudah belajar sebelumpergi berkemah!” Ais kemudian meraih tas kecil miliknya, kemudian menunjukkan isinya pada Yunita. “Barang darurat yang perlu di bawa hanya ini!” di dalam tas kecil milik Ais ada kaca pembesar, botol air minum, kotak bekal makanan, pemantik api, senter, dan yang terakhir adalah dan entah untuk apa Ais membawanya, plastik. “Hei Ais! Buat apa kamu membawa plastik! Apakah itu termasuk barang yang di butuhkan saat darurat?” tanya Yunita heran. “Itu termasuk barang yang di butuhkan Yun…jika kita mengambil makanan saat darurat di hutan, temppat apa yang mau kau jadikan sebagai wadah makanan itu? Kau mau menggunakan bajumu untuk buah-buaah yang bergetah itu? Atau kau mau menggunakan tas barumu? Plastik juga di butuhkan pada saat darurat…” Ais menjawab pertanyaan Yunita. Tapi, ternyata Yunita masih memiliki pertanyaan lain. “Walaupun tidak ada plastik kresek, kita bisa memegangnya Ais! Kalau begitu, apa kegunaan lain dari plastik kresek yang kau bawa itu Ais?” Ziah ikut mendekat, mendengar percakapan antara Ais dan Yunita. “Mungkin kau muntah saat memakan sebuah makanan yang kita makan di hutan pada saat darurat. Nah…kantong plastik itu akan menampung muntahanmu. Kau tidak mungkin menampungnya di tangan seperti yang mungkin akan kau lakukan pada buah atau makanan yang kita jumpai nanti…” Ais nyengir melihat Yunita yang sekarang terdiam karena tidak memiliki argumen lainnya. Ziah yang mendengar ‘perdebatan’ antara Ais dan Yunita, ikut nyengir lebar. “HEI!! Kalian mau ikut tidak?” itu suara pak Mail. Ais, Yunita, dan Ziah langsung tersentak kaget mendengar suara tegas dan keras milik pak Mail. “Eh…iya pak! Kami…kami…akan datang segera!” Ais menjawab kaget. “Gara-gara kamu Yun…kita jadi kena marah pak Mail!!” Ziah memberskan barang-barangnya, kemudian mengajak Ais dan Yunita untuk bergegas. Mereka bertiga keluar dari tenda, dan menuju lapangan. Di lapangan anak-anak yang lain sudah berbaris dengan rapi, sepertinya hanya Ais, Yunita, dan Ziah yang belum datang sedari tadi, dan semua anak sepertinya sudah menunggu mereka bertiga. “Kita akan pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar! Pastikan kalian tidak terpisah dari rombongan, paham!!” Seluruh anak murid menjawab, “PAHAAM!!!” pak Mail yang berada di depan, memimpin rombongan menuju hutan. Semua anak bernyanyi dengan riang gembira, meskipun mereka tidak jelas menyanyi apa, tertawa cekakak-cekikik sendiri. Ais, Yunita, dan Ziah juga tertawa-tawa seperti teman-teman yang lain. Ais melihat sesuatu yang bersinar dari balik semak-semak, tampak menarik. “Wah…ada kunang-kunang!!” Ais bergumam, kemudian mendekati semak-semak itu untuk melihat dari dekat. Yunita dan Ziah yang menyadari kalau ternyata Asi sudah tidak lagi berada di samping mereka, bergegas mendatangi Ais dengan tatapan cemas, taku terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Ais kemudian menyentuh ‘kunang-kunang’ itu sambil tersenyum dan berkata pelan, “Halo kunang-kunang kecil…” tapi, alih-alih akan terbang ketakutan, ‘kunang-kunang’ itu tiba-tiba berputar-putar di tengah-tengah Ais, Yunita, dan Ziah. Putaran ‘kunang-kunang itu menyebabkan sebuah pusaran angin kencang yang menyedot apapun di sekitarnya. Bagaimana mungkin seekor kunang-kunang kecil bisa membuat pusaran sehebat ini? Yang bahkan gajah sekalipun tidak bisa membuatnya? Ini semua aneh sekali. Ais dengan panik langsung meneriaki Yunita dan Ziah untuk mencari pegangan agar tidak masuk ke pusaran angin itu. Keadaan beribah 180 derajat. Yang awalnya Ais dan dua orang temannya ini mengikuti karya wisata dengan gembiara, kini mereka hampir terhisap ke dalam pusaran angin. “AAAAAA!!!!! AIS!! ZIAH!!” Yunita ternyata sudah terseret kedalam pusaran angin itu. Tangan Ais berusaha berteriak memanggil Yunita, namun sayang seribu kali sayang, Yunita sudah terseret ke dalam pusaran itu. Sedari tadi Ais berusaha mati-matian bertahan agar tubuhnya tidak ikut tersedot, dia juga berteriak kencang berusaha mengalahkan suara angin yang menderu. GREB! Ada sesuatu yang memgang tangan Ais. Itu adalah tangan Ziah! Tubuhnya sudah setengah tersedot ke dalam pusaran air itu! “AIS!! JANGAN LEPASKAN PEGANGANMU!!” Ziah berteriak pada Ais. Ais berusaha menahan tubuhnya dan tubuh Ziah. Namun, pegangan Ziah ke tangan kirinya semakin mengendur dan kemudian TERLEPAS!! “ZIIIAAAAHHH!!!!” Ais berusaha menggapai tangan Ziah yang sudah tersedut pusaran angin yang kencang itu. “Baiklah…aku juga akan menyusul teman-temanku!!” Ais menguatkan hatinya, dan perlahan melepaskan tangannya dari pegangan. Entah kenapa, begitu Ais masuk, pusaran angin ini lamgsung secara otomatis berangsur-angsur menghilang, seperti punya pikiran sendiri. BRUKKK!!!! Ais jatuh menimpa sesuatu. “ADUH!!” Sesuatu itu berseru mengaduh kesakitan. “Lho…Yunita?” Ais merasa mengenali suara itu. “Eh….Ais?” orang itu balas memanggil, dia kemudian meraba-raba sekitarnya, dan ketika menemukan Ais, dia langsung memeluknya. Ais balas memeluk orang itu, sekitarnya gelap, dia tidak bisa melihat apapun. Beberapa menit kemudian, secara tiba-tiba, sebuah sinar terang datang sedikit demi sedikit. Apakah itu lampu? Jawabannya adalah tidak. Itu adalah matahari yang terbit. Namun, anehnya matahri itu terbit tidak hanya satu, tapi lima sekaligus! “Ini matahri terbit yang sangat aneh…seumur-umur, beru kali ini aku menyaksikan matahri terbit langsung lima…” gumam Yunita. Ais kemudian tertawa, “Kalau sempat matahari terbit seperti ini dengan berjuta orang yang menyaksikan, bisa jadi viral. Kau bahkan mungkin akan jadi terkenal hanya karena meng-share video matahari terbit sekali lima.” Yunita hanya nyengir lebar. “Teman-teman!!” sesorang berseru dari belakang. Ais refleks menoleh dan kemudian berser, “Ziah!!” Ziah dan Ais kemudian berpelukan, mereka senang dapat berjumpa setelah pusaran angin yang kencang itu. “Ngomong-ngomong kita berada di mana?” Yunita bertanya pada Ais. “Dunia lain….” Ais berkata pelan. Dunia lain? Yunita dan Ziah mengangakan mulut, tidak percaya akan perkataan Ais.

    Liked by 3 people

    1. WOW! Ini bagus sekali Namira. Seru banget denger obrolan Ais & teman2nya pas mau jalan, juga waktu mereka melihat kunang2 itu hehe… kalau kamu bikin buku, ini bakal jadi bab pembuka yang bikin penasaran πŸ˜‰ Good job!

      +200 poin, congrats!

      Liked by 1 person

    1. Wow… this is just.. beautiful! It’s kind of sad that they can’t be together and can only meet in the middle.. the story somehow feels deep. Great work, Aila!
      200 points, congrats!

      Liked by 1 person

    1. Wow kok ini keren bangeet? πŸ˜€ Dobel tangkis nih, bikin gambar sama ceritanya. Menarik juga pergi ke dunia lain lewat kolam renang xD good job!
      +200 poin, congrats!

      Like

  2. Argh, lagi-lagi karrena Lili aku dan dia terdampar di suatu pulau yang tak berpenghuni.
    GLEGAR!
    Kilat menyambar-nyambar, sementara hujan sudah turun dengan derasnya. Baiklah, ada karang di sana. Sepertinya aku dan Lili bisa berteduh di sana. “Lili, ayo ke sana,” ucapku seraya menarik tangan Lili. Lili hanya mengangguk.

    Sesampainya di karang, aku dan Lili segera masuk. Ajaib, di sini ada sebatang lilin dan sebuah korek api. Ketika aku menyalakan lilin, keadaan di sekitar menjadi lebih terang. Entah apa pasalnya, aku mendadak ingat buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, sebuah buku yang dibuat dari kumpulan surat R.A Kartini. Ya, suasana yang tadinya gelap menjadi terang karena aku menyalakan lilin.

    Krincing…
    Aku kaget saat melihat sebuah gelang bergemerincing melekat pada pergelangan tanganku.
    Mendadak, sebuah bayangan hitam muncul, tersenyum dan menyapaku,”Halo Forsyth, kita bertemu lagi…”
    *kalo penasaran seperti apa bayangan hitamnya klik link dibawah*
    https://www.google.com/search?q=vanitas+no+carte+naenia&safe=strict&rlz=1C1JZAP_enID790ID790&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjqmLXwsPrjAhUJiXAKHSOkCgIQ_AUIESgB&biw=1366&bih=657#imgrc=3wiUlFZD2hPGzM:

    “Memang kamu siapa ya?” Aku bingung. Lili juga tampak bingung.
    “Masa lupa sih?” bayangan itu terlihat kecewa,”Aku suara tanpa nama yang dulu mengajakmu dan Lili keliling dunia tau!”
    “Eh?!” aku terlonjak kaget.

    Bayangan hitam itu lalu menggandeng tanganku dan tangan Lili,”Ayo ikut denganku. Aku akan mengantar kalian pulang…”
    “Eh, tunggu…”
    Sriing!
    Tau-tau saja, aku dan Lili sudah berada di depan pintu rumah. “Selamat tinggal, Forsyth, Lili…” si bayangan hitam bergumam. Ia menghilang bertepatan dengan hancurnya gelang bergemerincing tersebut.

    This is the end, my friend…
    *Lagu Jim Morrison yang berjudul Light My Fire. Aku tau pas baca buku Edensor karya Andrea Hirata*

    ~The End~

    Like

  3. Gelap.

    Sunyi.

    Kosong.

    Itulah yang Destiny rasakan sekarang. Persis seperti perasaan dirinya dulu setelah dikucilkan. Sebenarnya Destiny ketakutan, dia ingin teriak. Tapi, Destiny tahu bahwa teriak tidak akan membuat Destiny menyelesaikan masalahnya. Baru tadi siang Destiny asyik bermain dengan semuanya..

    Sekarang, Destiny berada di antah berantah. Gara-gara Choco dan Yani yang membawanya ke hutan itu, Destiny jadi masuk ke portal aneh itu. Masa ada, ngengat bisa mengeluarkan portal? Benar-benar tidak masuk akal, tapi Destiny sendiri juga berada di tempat tidak masuk akal.

    Sehingga, baginya itu bukan sesuatu yang aneh lagi. Pikiran Destiny sekarang hanya satu, bagaimana keluar dari sini? Dan dari pertanyaan itu, muncul berbagai pertanyaan lainnya. Apa yang akan Destiny temui ketika keluar nanti? Siapa sebenarnya yang harus Destiny salahkan? Choco dan Yani, atau ngengat menyebalkan itu?

    Apa ngengat itu aslinya? Apa.. apa.. argh! Banyak sekali pertanyaan Destiny. Tapi, tidak satu pun dia dapat jawab. Destiny menghela napas. Kesal tidak ada gunanya mending mendinginkan diri dulu. Pada saat itu, Destiny melihat ada cahaya dari arah timur, lama-kelamaan cahaya itu mendekati Destiny! Spontan Destiny berteriak, “Hei, aku disiniii!”

    Meskipun Destiny berteriak, entah siapa yang mendengar. Destiny asal teriak saja, siapa tahu yang dengar dan menolong Destiny.
    “Destiiiiny! Banguuuun!”. Tiba-tiba, suara itu bergaung kencang di sekeliling Destiny membuat Destiny menutup telinganya. Mendengar suara itu, cahaya semakin mendekat.

    Saat cahaya sudah di dekat, Destiny terbangun.
    “Oh, cuma mimpi,” ucap Destiny pelan.
    “Hmm.. gitu ya, jadi kita juga cuma mimpi dong?” Destiny menoleh, Choco berdiri di belakang Yani yang sedang jongkok menghadap kearah Destiny.
    “Umm.. kamu gapapa? Benturannya tadi cukup keras, loh.” Ujar Yani sambil mengulurkan tangannya.

    “…”. “Jadi.. tadi itu kenyataan?!” teriak Destiny sangat kencang. Yani menutup telinga, diikuti dengan Choco. Setelah puas berteriak, Destiny menoleh kepalanya ke kanan dan kiri.
    “Oh, iya. Kita dimana ya?” tanya Destiny kebingungan.

    Choco jadi sangat kesal, dari tadi dia ingin menjelaskan tapi tidak jadi-jadi karena Destiny terus berteriak. Yani menghalangi Choco agar tidak memukul Destiny. Yani pun akhirnya yang menjawab pertanyaan Destiny.
    “Hmm.. Kita juga kurang tahu Destiny. Tapi, yang jelas bukan di Bumi”.

    “Loh, bukan di Bumi? Kok kamu bisa tahu?” Destiny kebingungan, harusnya Bumi tidak bisa dilihat kalau tidak ke luar angkasa kan..?
    “Eh, iya sih. Tapi habisnya.. di Bumi tidak ada manusia dengan kepala Hiu kan?” Jawab Yani sambil menunjuk sebuah Kota di kejauhan. Terlihat, banyak orang dengan kepala Hiu berlalu-lalang disana??

    ~To Be Continued~
    *Amanda*

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s