Tugas 5 – Namira

Tema : Olahraga

Petunjuk cerita : Arloji

Petunjuk gambar : Jogging

Judul cerita : Ketika Zahra Tidak Bisa Bernafas

Nama penulis : Namira Fayola Ritonga

Sampul depan :

SD NAMIRA5

Sampul belakang :

SB NAMIRA5

Punggung buku :

PB NAMIRA5

Cerita :

Zahra mengenang saat asmanya kambuh 1 bulan yang lalu. Waktu itu dia sedang lomba lari estafet saat jam pelajaran olahraga bersama pak Roni. Asmanya kambuh ketika 2 putaran terakhir, ketika dia sedikit lagi akan memberikan tongkat estafet kepada Lala. Sejak saat itu dia berjanji, tidak akan pernah berambisi untuk menjadi perwakilan kelompok anak perempuan dalam lomba lari maupun menjadi atlet lari. Tapi sekarang formulir itu ada ditangannya, formulir olimpiade lomba lari antar sekolah. Seluruh sekolah mengharapkannya. Karena memang Zahra adalah atlet lari sejak dulu kelas 1 dan Zahra tak pernah mengecewakan sekolah dan seluruh harapan mereka. Zahra bimbang memilih antara ya atau tidak. Zahra tak ingin asmanya kambuh, juga tak ingin mengecewakan sekolahnya. Zahra tak bisa fokus pada pelajarannya. Dia kemudian melirik Arlojinya, sudah waktunya pulang. Zahra kemudian pulang dengan penuh kebimbangan.

  • 000 –

“Ma, Zahra pulang……!” Zahra memasuki rumahnya, melepas sepatu, meletakkan tas dan tanpa mengganti pakaiannya, Zahra langsung duduk disamping Mamanya yang sedang membaca novel. “Ma, tahu gak, hari ini bu Rahma membagikan surat perizinan mengikuti olimpiade lomba lari, kalau diizinkan formulirnya bisa diisi, tapi kalau tidak diizinkan formulirnya akan dikembalikan” kata Zahra lesu. “Wah…kalau gitu kamu ikut dong Zahra !” Mama menutup novel dan bersemangat memandang Zahra. “Tapi Ma, bulan lalu asma Zahra kambuh saat lomba lari ! nanti kalau kambuh lagi …..” Zahra menatap mamanya tak bersemangat. Mamanya membelai kepala Zahra tersenyum, “Mama akan memberitahu sesuatu, sekarang ganti baju, makan dan Sholat. Setelah itu baru kembali lagi kesini, oke ?” Mata Zahra membulat, “Mama ingin memberitahu apa?” Tanya Zahra penasaran. “Rahasia dong…” jawab Mama singkat. “Yah…Mama rusuh! Pakai rahasia segala… tapi oke deh ! Setelah makan, ganti baju dan sholat, Zahra akan kembali lagi ke sini menagih janji Mama!” Zahra yang sudah bersemangat kembali, bergegas menuju kamar untuk ganti baju, dalam hati dia bertanya-tanya apa yang akan diberitahu oleh Mamanya. Zahra semakin penasaran. Dia cepat-cepat melakukan semuanya. 15 menit kemudian dia sudah kembali ke tempat Mamanya, ruang tamu. Zahra sibuk menyikut-nyikut pinggang mamanya. “Ma….ma…., mana janji Mama?” tanya Zahra tidak sabaran. “Eh….Zahra! Kamu mebuat Mama kaget! Hmmm…janji apa ya? Kok Mama lupa?” Mama bertanya pura-pura tidak tahu. “Wih…Mama cepat sekali lupanya!” kata Zahra, dia merajuk. “Wah… Zahra merajuk ya ? Duh…kalau begitu, Mama gak akan kasih tahu janji Mama tadi!” sahut Mama pura-pura cuek. “Eh…Zahra gak merajuk kok…” Zahra tersenyum. “Kalau senyum gitu, Zahra kan semakin cantik dan Mama semangat jadinya!”. “Ah…..Mama bisa aja!” Zahra tersipu. “Oke, nah…Mama mau bercerita kepada Zahra, tahu gak, ada loh orang-orang yang berhasil dan sukses tapi mereka juga memiliki asma. Dan ternyata asma tak menghentikan mereka untuk melakukan sesuatu yang besar !” Mama mulai bercerita. “Wah…siapa tuh orangnya? Zahra penasaran!” seru Zahra bersemangat. “Zahra tau gak Amerika ?” “Tahu, Ma!” “Nah…salah satu presiden Amerika ini  menderita asma loh…” kata Mama. “Memangnya, presiden Amerika ini siapa namanya, Ma?” Tanya Zahra. “Namanya John F. Kennedy, Presiden ke 35 Amerika. Selain presiden, ada juga seorang atlet renang bernama Amy Van Dyken, atlet renang olimpiade untuk USA yang berhasil memenangkan 6 medali emas. Dia menderita asma dan ketika kecil dokter memberi tahunya agar memulai latihan renang untuk membuat paru-parunya semakin kuat. Selain mereka, ada juga seorang atlet bernama Jerome Bettis, Saat itu dia berumur 14 tahun ketika dokter memberi tahu bahwa dia memiliki penyakit asma. Namun karena rajin berlatih, menjaga kesehatannya, makan makanan yang sehat dan rajin berolah raga, asma tak menghentikannya menjadi seorang juara bola bowling”. Mama mengakhiri ceritanya. “Terus kenapa bulan lalu asma Zahra kambuh ? Padahal selama ini gak pernah kambuh?” tanya Zahra. Mama tersenyum menatap Zahra, “dulu itu Zahra sangat telaten dalam menghadapi asma Zahra, selalu memberi inhaler, sering makan sayur, istirahat teratur, Zahra juga selalu mengingatkan mama kapan waktu check up kesehatan ke dokter, Zahra juga rajin berenang agar paru-parunya kuat. Tapi kemudian karena asma Zahra jarang kambuh bahkan hampir tidak pernah kambuh, Zahra jadi lalai dan abai terhadap kesehatan Zahra. Karena itu asma Zahra kambuh lagi bulan lalu. “Iya Ma, Zahra sekarang sering lupa dan abai terhadap semua pengobatan. Hmmm…oke mulai sekarang Zahra akan rajin menjaga kesehatan Zahra!” Zahra bertekad. Melihat tekad Zahra yang kuat, Mama pun berkata padanya bahwa mereka akan menjalankan misi 2 bulan sebelum olimpiade dimulai.

  • 000 –

 

Misi Zahra dan mama berjalan lancar. Sekarang dia sudah siap menghadapi olimpiade lari. Anak-anak ramai membicarakan soal olimpiade itu. Mereka sibuk mengatakan pada Zahra bahwa dia akan menjadi sang juara, Zahra hanya bisa tersenyum menghadapi semua ini.

Saat itu pelajaran Matematika sedang berlangsung, kelas sekarang menjadi super hening, karena murid-murid ditenggelamkan oleh angka-angka dan rumus-rumus rumit yang membuat kepala terasa mau pecah. Tiba-tiba keheningan itu dikagetkan oleh suara bell pengumuman sekolah. Tidak, ini bukan waktu istirahat. Ah…..hari ini hari perlombaan. Setelah bell selesai memberi informasi, Zahra bergegas menuruni tangga dengan cepat, menyalami guru-guru meminta do’a dan bergegas menaiki mobil menuju lokasi perlombaan.

  • 000 –

Rasanya baru sebentar Zahra didalam mobil dan sudah sampai dilokasi. Hmmm…. Mungkin akibat terlalu tegang ya? Bisa jadi. Setengah jam kemudian Zahra sudah berada di garis start bersama peserta lainnya. Olimpiade lari akan segera dimulai. Zahra menatap sekeliling, ada seorang anak perempuan dengan tinggi diatas rata-rata anak lainnya dan sepertinya dia akan jadi juara, kalau dilihat dari postur tubuhnya. Perasaan tegang, semangat dan deg-deg-an bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya ketegangan itu bertambah saat aba-aba pertandingan akan segera dimulai. “Para peserta harap bersiap-siap di garis start. Berbaris sesuai nomor urutnya dan pada hitungan ketiga lomba akan dimulai” panitia mulai memberikan aba-aba. “1……bersedia…..Jantung Zahra berdegup kencang, 2………..siaaaaaap………..degup jantungnya semakin kencang, dan……3………priiiiiiit……….Zahra tak bisa berpikir apa-apa kecuali langsung sprint. Berlari kencang mendahului peserta lainnya. Zahra begitu bersemangat berlari! Berlari……terus berlari, walaupun kakinya mulai terasa pegal, dia terus memaksa kakinya agar tetap berlari. Sudah hampir setengah lintasan Zahra mulai merasa kelelahan, tubuhnya mulai oleng dan terasa hendak jatuh tetapi dia masih saja terus berlari. Garis finish sudah didepan mata, dadanya sesak, nafasnya seakan berhenti…..oh, tidak ! Zahra takut asmanya kambuh lagi. Zahra menenangkan dan menguatkan hati sambil memaksa kaki untuk terus berlari. Sedikit lagi Zahra hampir tiba di garis finish, masih terus berlari…….Zahra sudah tak tahan lagi, dan Zahra jatuh tersungkur, seluruh badannya lemas dengan nafas yang tersengal-sengal, Zahra merasa gagal melakukannya. Sementara itu penonton bersorak-sorak, Zahra tak tahu mereka bersorak untuk siapa. Zahra mencoba bangkit dan betapa kagetnya dia ketika mengetahui bahwa dia jatuh tepat di garis finish dan paling awal sampai dari peserta-peserta yang lain. ZAHRA BERHASIL ! Dan asmanya tidak kambuh pada hari itu. Rasa bahagia, lelah dan terkejut mewarnai hati Zahra. Beberapa panitia menyambutnya di garis finish.

Tak lama kemudian setelah beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi tubuhnya, piala sudah berada di tangannya. Piala juara 1 ! Zahra melihat guru-gurunya menangis terharu dan bangga. Dia juga melihat mamanya yang memandang dengan senyum dan bangga. Zahra mengangkat tinggi-tinggi pialanya dibawah gemuruh sorakan penonton. Zahra berhasil membuktikan bahwa asma tak akan menghentikannya menjadi sang juara. Sama seperti orang-orang sukses yang diceritakan Mamanya. Kekurangan bukan menjadi penghambat bagi seseorang untuk sukses, asalkan tahu cara mengatasinya. Zahra mulai paham akan hal itu.

Dan mengenai misi yang mereka jalani, hanya Mama dan Zahra yang tahu.

 

*THE END*

Advertisement

Published by

Namira dan Dira

Namaku Namira dan ini adikku Dira. Ini adalah blog kami bersama yang berisi hasil hasil karya kami. Beberapa adalah hasil karya kami saat masih kecil. Jangan lupa untuk mengunjungi blog kami ya....

One thought on “Tugas 5 – Namira”

  1. WOW!! Namira ini ceritanya bagus bangeeet!! Walau berat tapi Zahra terus berjuang, sampai ke titik penghabisan dan akhirnya berhasil… aku jadi terharu :”)

    Gambar sampulnya aku sukaa 😀 ekspresi si zahra saat mencapai garis finish ini bagus banget, track larinya juga keren hehehe… secara peletakan desain sampul udah oke, judul, nama penulis, dan deskripsi buku terbaca baik. Paling di punggung buku huruf T dan B di “tidak bisa” mestinya pakai huruf besar xD

    Overall it’s a great cover! A very good job, Namira!

    Poin:
    – sampul depan: 60
    – sampul belakang: 60
    – punggung buku: 30
    – ketepatan waktu: 50
    – cerita: 50
    Total: 250 poin, congrats!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s