[CLOSED] Team Battle – Story Bazooka untuk Tim Bravo

Kata kunci:
Kamu sedang beristirahat di suatu desa. Tetapi, ternyata seluruh orang di desa itu mendukung pasukan POX! Sehingga, kedatangan kamu tidak diterima.
Kamu dan saudara kamu sedang makan di suatu kedai, ketika tiba-tiba saudara kamu keracunan! Kamu meminta pertolongan para penduduk, karena kamu tidak punya sesuatu yang bisa menyembuhkannya. Tapi, ternyata tidak ada satupun penduduk yang mau membantumu.

Tuliskan bagaimana caranya kamu menyelamatkan temanmu!

Tipe: Menulis
Batas waktu: Minggu 15 Juli 2019, pukul 05:41:59

Ganbatte~ 🧐
*Alpha Team’s Patrol Officer*

Advertisement

Published by

marsmellowmozara

> “ɪ'ᴍ ꜱᴏᴹᴱᴏɴᴇ. ᴠɪꜱɪᴛ ᴹʸ ᴡᴇʙꜱɪᴛᴇꜱ!” < — https://mozarablog.wordpress.com — https://bukuamanda.blogspot.com

10 thoughts on “[CLOSED] Team Battle – Story Bazooka untuk Tim Bravo”

  1. Wait ini masih cerita dystopia kemaren? Secara logika ga ada musuh yg bisa mementalkan orang ke bulan, itu adanya cuma di anime.. bisa aja kamu bikin orang itu terpental ke pesawat yg jalan ke bulan. Sebenernya ga ada larangan buat dunia yg punya transportasi luar angkasa sih, apalagi udh thn 2519. Tapi ini kan dunia lagi hancur dan krisis listrik, wong ibukota aja kena pemadaman bergilir gimana mau ke bulan, roketnya meluncur pakai apa? Jadi tolong diperbaiki deskripsinya atau bikin challenge baru ya

    Liked by 1 person

  2. Menangkis serangan Story Bazooka Tim Alpha 🙂

    “Kak! Sudahlah itu! Kakak sudah tahu kalau komunikasi kita dengan agen Saber yang lain sudah di rusak kan?” kat Luciana pada kakaknya yang masih saja mengutak-atik alat komunikasi itu, Luci memang keras kepala. “Aku tidak akan berhenti sampai alat ini berfungsi!” kata Luci serius. “Sampai tahun depan deh….lebih baik kita mencari makanan! Aku sudah lapar niih…” Aduuh…si Luciana ini, bisa-bisanya memikirkan makanan pada saat genting seperti ini. Luci menghela nafas, dia mengikuti Luciana keluar dari gua. Bagaimanapun perutnya juga lapar, sama seperti Luciana. Luci menyibak dedaunan di depannya. Dia melangkah, “Eh…kak! Kita mau pergi kemana?” tanya Luciana, dia mengikuti kakaknya. Ternyata Luci dan Luciana masuk ke sebuah desa! Beberapa warga menyapa mereka, seperti kenal dekat dengan Luci dan Luciana. Luci membalas senyum mereka dengan seyuman kecut, melihat desa ini membuatnya terkenang akan desanya yang dulu. “Permisi pak…kami ingin beristirahat sejenak di rumah bapak, apakah bapak mengizinkan?” tanya Luci sopan, dia menghampiri seorang bapak tua yang sedang mencangkul. Bapak tua itu tersenyum ramah, kemudian meletakkan cangkulnya. “Oh boleh…aku tidak keberatan jika ada yang mengunjungi rumahku…lagipula sekarang aku sudah hidup sendiri…..ayo masuk ke dalam rumahku!” Luci dan Luciana masuk ke sebeuah rumah yang sederhana. Luci dan Luciana di persilahkan duduk di atas sebuah tikar pandan. “Ngomong-ngomong, kalian berasal dari mana?” tanya bapak tua itu ramah. Luci hendak menjawab, tapi Luciana sudah memberikan jawaban atas pertanyaan bapak tua itu. “Kami sebenarnya adalah agen Saber yang di kejar oleh POX…” mendengar perkataan Luciana, wajah bapak tua yang ramah itu berubah menjadi galak. “Kalian agen Saber rupanya! Pergi dari rumahku! Kedatangan kalian tidak akan pernah di terima oleh desa ini!” Luci segera memahami situasi yang akan terjadi, dia kemudian berkata sopan, “Jika bapak tidak berkenan kami berkunjung ke rumah bapak, kami akan…” tapi, perkataan sopan Luci di sela oleh teriakan marah dari bapak tua itu, “Pergi dari rumahku!” Luci bergegas menarik tangan Luciana yang masih belum memahami apa yang terjadi. Di luar rumah bapak itu, warga-warga di desa ini rupanya sudah kompak menghadang agar Luci dan Luciana tidak bisa melarikan diri. Luci kemudian menggunakan teknik teleportasi miiliknya, dia memutuskan melakukan teknik teleportasi tingkat tinggi yang biisa menerobos benda penghalang. Tapi, teknik teleportasi tingkat tinggi ini memakan banyak tenaga. Akhirnya, Luci dan Luciana berusaha pontang-panting berlari menghinadi kejaran penduduk, mereka berdua berusaha berlari dengan sisa-sisa tenaga menuju hutan tempat mereka pertama tadi, agar warga tidak bisa mengejar mereka, Luci dan Luciana berlari, hilang di antara rimbunnya dedaunan hutan.

    “Kak…aku lapar!” keluh Luciana, dia melirik kakaknya yang masih terus berjalan. “Kita kan singgah di situ!” kata Luci. “Singgah ‘di situ’ ?” tanya Luciana bingung, apa maksudnya ‘di situ’? Tapi, Luciana memutuskan tidak banyak bertanya, terus mengikuti kakaknya. “Kau tahu Luciana? Kenapa baru terpikir olehku, hutan ini dekat dengan perkampungan Zeannie!” kata Luci, suaranya menjadi riang. “Nah…kita sudah sampai!” kata Luci, di melangkah keluar dari hutan. “Kakak tahu rumah kak Zeannie?” tanya Luciana, dia meliihat sekelilingnya. Luci mengangguk, “Rumah Zeannie ada di…” perkataan Luci terputus oleh suara seorang perempuan. “Kalian mencariku ya?” perempuan itu tersenyum sangat manis. Perempuan itu memiliki rambut ikal berwarna cokelat, bola mata biru, dan tubuhnya setinggi Luci, itu adalah Zeannie! “Zeannie! Apa kabarmu?” tanya Luci, dia memeluk Zeannie. “Tentu saja kabarku baik…kita jarang sekali bertemu setelah…” Luci bergegas menutup mulut Zeannie, dia tidak ingin membicarakan hal itu sekarang, apalagi di depan Luciana. “Ayo! Luciana sudah kelaparan! Apakah kau bisa menunjukkan di mana kedai yang menjual makanan?” tanya Luci, dia membelokkan percakapan. Zeannie mengangguk, “Aku bisa mengantar kalian ke sana!” Luci dan Luciana kemudian mengikuti Zeannie. Akhirnya, mereka tiba di sebuah kedai yang bangunannya mirip dengan rumah bapak tua di desa sebelumnya. Luci kemudian duduk di salah satu kursi, dan kemudian memesan makanan. Seorang nenek-nenek berusia sekitar 70 tahun menyiapkan makanan untuk Luci dan Luciana, Zeannie ikut dudk bersama mereka meskipun tidak memesan makanan. “Nah…makanannya sudah jadi..” suara serak nenek itu terdengar seram, dia meletakkan mangkuk makanan, makanan itu seperti bubur ayam. Luciana bergegas memakannya, dia memang sangat-sangat kelaparan. Tapi, hal aneh terjadi pada Luciana! Setelah memakan makanan itu, Luciana langsung memuntahkannya, wajahnya menjadi pucat. “Dia keracunan!” teriak Zeannie. Luci dan Zeannie bergegas mendatangi rumah penduduk untuk meminta bantuan. Luci memegang tangan Zeannie, sementara Zeannie menggendong Luciana. Luci memakai teknik teleportasinya, mereka tiba di salah satu rumah penduduk. “Bu….bisa tolong kami? Adikku keracunan…” kata Luci kepada seorang ibu-ibu yang sedang menjemur. “Buat apa aku membantumu? Kalian para agen Saber bukan? Desa ini membenci para agen Saber yang memiliki kekuatan!” kata ibu-ibu itu. “Tapi, adikku membutuhkan pertolongan! Tolonglah kami bu…” kata Luci lagi, wajahnya menjadi sangat cemas melihat Luciana yang semakin pucat. Ibu-ibu itu mendengus tidak perduli, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Luci dan Zeannie mendatangi penduduk yang lain, meminta bantuan. Namun, jawaban yang di berikan sama dengan ibu-ibu tadi, mereka tidak mau menolong karena Luci merupakan seorang agen Saber. “Zeannie…kenapa penduduk di sini tidak membencimu? Padahal, kamu juga seorang agen Saber, memiliki kekuatan…” bisik Luci pada Zeannie. “Yah….aku merahasiakan hal itu dari mereka, sampai sekarang belum ada yang tahu kalau aku juga merupakan agen Saber….” jawab Zeannie, dia balas berbisik kepada Luci. “Tapi, kamu kan lari dari asrama setelah ‘kejadian itu’. Jadi, menurutku wajar saja sih kalau kamu tidak di benci oleh mereka. Karena kamu merupakan ‘mantan agen Saber'” Luci tertawa, dia sedang mengejek Zeannie. “Sudah! jangan mengejekku lagi! KIta tinggal menemui satu orang di lereng gunung!” kata Zeannie, dia menunjuk ke araha sebuah gunung. “Baiklah…” Luci memperjauh jarak teknik teleportasiinya, menuju lereng gunung. “Selamat siang!” kata Zeannie sesampainya mereka di lereng gunung itu. Ada sebuah rumah kecil yang lebih mirip gubuk di lereng gunung ini. “Selamat siang….oh! Kau rupanya Zeannie! masuk…” kata seorang kakek yang keluar, diia tersenyum menatap Zeannie. Zeannie mengangguk ke arah Luci dan mengajaknya masuk ke dalam. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah kakek itu. “Nah…ada keperluan apa sehingga kau datang?” tanya kakek itu pada Zeannie. Zeannie menceritakan kejadian sebelumnya, kakek itu mengangguk-angguk selam mendengar cerita Zeannie. “Jdi…intinya gadis kecil ini butuh bantuan?” tanya kakek itu, menunjuk Luciana, Zeannie mengangguk. Kakek itu kemudian mendekati Luciana, tangannya mengeluarkan cahaya, kekuatan kakek ini adalah Healing, penyembuhan. “Eh…kenapa kakek tinggal di sini? sedangkan di sana ada perkampungan?” Luci bertanya basa-basi. “Aku dulu memang tinggal di sana…tapi, sejak penduduk tahu aku memiliki kekuatan, mereka membuangku ke lereng gunung ini…” kakek itu bercerita dengan sedih sambil tangannya terus mengobati Luciana. “Oke…sudah selesai! Adikmu akan sembuh tak lama lagi…” kata kakek itu, melepas sentuhannya. “Terimakasih kek…” kata Luci, matnya berkaca-kaca. Untuk sementara Luci dan Luciana harus tinggal di rumah kakek yang baik hati ini….

    Liked by 3 people

    1. Wahh keren ceritanya 😀 nyambungnya pas dengan cerita yg kemaren. Padahal mereka udah diterima ya, sayang Luciana terlalu polos ngasih tahu identitas mereka xD yang si kakek punya kekuatan itu kejutan yg bagus di akhir cerita. Good job, Namira!

      +100 poin, congrats!

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s