Tugas 2- Jaihan

Petunjuk cerita: Gunung
Petunjuk gambar: Merah,Kuning, Gunung

Judul: Kejaran Sang Raja
Nama Penulis: Dzakiyyah Jaihan
Tema/Genre: Petualang

Sampul Depan

Sampul Belakang

Punggung Buku

Cerita:

Kejaran sang Raja
Niiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitt…….
Suara bising dari pengeras suara itu takkan berhenti sebelum semua petualang bangun. Suara itu selalu terdengar sepuluh menit sebelum subuh.
Petualang bangun dengan rasa jengkel.
“Uh.., kenapa sih harus bangun cepat banget? Padahal aku masih ngantuk.” Ana berkata dengan wajah cemberut.
Petualang segera ke kamar mandi. Perempuan ke kamar mandi perempuan dan laki-laki ke kamar mandi laki-laki.
Byurr…
Siraman air dari Aulia mengenai semua petualang.
“Aulia..!” Laila mengaduh sembari melihat bajunya yang basah kuyup.
“Kenapa?” Aulia pura-pura bertanya.
“Ih.., kamu kan sudah lihat bajunya Laila basah kuyup!” Enisya berucap sinis.
“Hehehe, aku kan cuman mau bermain.” Kata Aulia, dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Yang lain hanya diam-diam saja. Buat apa ribut-ribut?
~~~
Usai mandi dan mengganti baju, mereka shalat berjamaah di mushalla. Jenderal Yuli selalu mengawasi petualang yang shalat.
Selesai shalat, apa lagi pekerjaan mereka?. Mencuci baju yang kotor.
“Uh.., Banyak sekali baju kotorku.” Keluh Syifa.
Sebenarnya baju kotornya sedikit, tapi dia selalu menunda-nunda mencuci baju. Lihat sekarang akibatnya, cuciannya sungguh banyak.
“Aku cuci bajunya besok sajalah.” Syifa bergumam.
“Besok sampai kapan? Tunggu cucianmu setinggi gunung?” Tanya Nazira yang sudah kesal dengan ucapan ‘besok’ milik Syifa.
Melihat wajah Nazira yang sudah memerah karena marah, Syifa terpaksa mencuci bajunya dengan setengah hati.
Semua hanya tertawa kecil melihat drama Syifa dan Nazira.
“Nazira mirip emak-emak loh.” Bisik Aulia ke yang lain.
“Ssstt, sasaran selanjutnya kamu.” Kata Ana sambil ngikik.
“Eh, enak saja.” Jawab Aulia, keningnya mengerut.
“Sudah, selesaikan saja cucian kalian.” Ada yang melerai perkelahian, ternyata Nazira.
Semua lansung diam seribu bahasa. Sejak kapan Nazira mendengar percakapan mereka? Entahlah.
~~~
Sasaran selanjutnya Dapur petualang. Di sini para petualang saling rebutan daging, saling rebutan bumbu penyedap, saling rebut cabe, semua direbut. Disini mereka akan menjadi Chef.
Freezer dibuka.
Jreng, jreng, jreng..
Ternyata tak ada persediaan daging, ikan dan ayam.
“Kapten..!” Semua mengejar kapten yang sedang lari kecil.
Kapten Zoo berbalik badan.
“Apa?” Tanya kapten Zoo.
“Persediaan daging habis kapten..!” lapor mereka.
“Kalian buru lah.” Kata kapten.
“Buru?” Tanya mereka heran.
“Buru rusa, buru rusa.” Bira memberi ide.
“Kalian tampaknya sudah memberikan pikiran cerdas kalian keseekor burung Beo.” Kata kapten tertawa.
“Maksud kapten kami berburu hewan di hutan?” Tanya Asad.
“Jika kalian ingin makan.” Jawab kapten Zoo cuek.
Semua saling pandang. Mengapa tugas berburu mendadak begini?
“Begini saja, anggap pemburuan kalian ini jalan-jalan dan petualang.” Kata kapten Zoo.
Semua masih terdiam.
“Kan petualang harus berani. Nanti anak laki-laki diberi parang dan panah. Anak perempuan diberi pisau.” Lanjut kapten Zoo.
“Yee..” seru petualang.
“Tapi senjata itu digunakan ketika dalam bahaya saja. Oke..?” Tanya kapten Zoo.
“Oke…” Jawab petualang serempak.
Petualang diberi senjata satu persatu.
“Omar..!” Panggil Asad.
Omar menghadap ke arah Asad.
“Sinnnngs.” Asad menirukan suara pedang dengan sedikit bergaya.
“Hahaha.., itu kan parang bukan pedang.” Ledek Omar.
“Tapi ini kan Asli, bukan mainan seperti dulu aku bertarung denganmu.” Kata Asad.
“Eh, kamu mau bunuh aku?” Tanya Omar.
“Nggak, cuman mau bergaya dikit aja.” Jawab Asad.
“Sudah.” Ikrimah melerai perkelahian.
Mereka pun maju dan masuk ke dalam hutan untuk berburu.
Di dalam hutan terjadi obrolan cukup panjang.
“Aku nanti ingin berburu rusa, ah..” Kata Syafiq.
“Iya, tapi kamu cuman bisa anaknya saja.” Kata Thariq.
“Kenapa?” Tanya Syafiq.
“Karena kamu larinya lambat.” Ledek Thariq, Harun dan Amer.
“Eh, emang kamu larinya cepat?” Tanya Thalha.
“Mereka saja jalannya macam kura-kura.” Kata Yazid.
“Lebih lebih lagi kamu yazid, macam siput.” Harun membalas Yazid.
“Kalau aku jalannya seperti siput, sekarang ini aku baru masuk hutan.” Yazid mulai marah.
“Sudah, jangan berkelahi.” Laila mencoba melerai perkelahian.
“Anak perempuan jangan ikut campur!” Bentak Khalid.
“Heh! Dia cuman melerai!” Teriak Aulia.
“Kamu perempuan, jangan sok jago!” Thariq balas teriak.
Thalha memberi isyarat mata agar Aulia diam saja. Tapi Aulia tak mengerti dan malah marah.
“Kamu apaan sih, dek?” (Aulia dan Thalha memang bersaudara)
“Perempuan pergi masak saja sana..!” Teriak Syafiq.
“Masak pakai apa? Pakai batu? Hah?” Nazira berteriak marah.
“Ngomongnya aneh-aneh saja.” Lanjut Nazira.
Semua diam tak berkutik. Sudah jelas Nazira lah yang paling garang diantara mereka.
“Heh, emak-emak!” Teriak Khalid.
“Apa?” Hardik Nazira.
“Bagaimana jika kalian lomba lari? Agar kita tahu siapa yang jalannya seperti siput.” Omar mengadili.
“Oke!” Nazira dan Aulia menerima tantangan.
“Bukan kalian, cuman anak laki-laki.” Kata Omar.
“Oke!” Kata Syafiq.
“Kalian semua setuju kan?” Tanya Syafiq.
Harun, Amer, Yazid, Thalha, Khalid dan Thariq diam. Mereka tak memberikan jawaban.
“Oh, berarti kalian yang sebenarnya macam siput.” Kata Syafiq.
“Eh.., kami setuju.” Harun, Yazid, Amer, Thalha, Khalid dan Thariq memegang lengan Syafiq.
“Nah, Finish nya sampai semak-semak itu.” Kata Asad sembari menunjuk ke semak-semak.
“Alah, dekat.” Yazid menganggap enteng.
Mereka pun memulai lomba. Dalam hitungan satu, dua, ti…ga.
Dalam hitungan detik, tampak Syafiq hampir mendekati geris Finish. Tapi, anehnya sampai di semak-semak dia berbalik ke blakang dengan sangat cepat. Begitu pula dengan yang lainnya. Bira pun terlihat aneh, dia bersembunyi dibelakang Laila.
Syafiq, Harun, Thariq, Yazid, Thalha, Khalid dan Amer tiba di depan petualang.
“Ada apa?” Tanya Asad.
“A, A..” Khalid tak bisa menjawab nafasnya sesak, dia tumbang dan hampir pingsan.
“Ikrimah, berikan air yang kau bawa.” Kata Omar sembari menyanggah tubuh Khalid, Asad juga ikut meyanggah.
Omar dan Asad menyandarkan dan mendudukkan Khalid disebuah pohon besar. Lalu mereka memberi minum Khalid.
“Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?” Tanya Ikrimah.
“Ada.., Singa..” Jawab Syafiq dengan nafas terengah-engah, dia bersandar di pohon, begitu pula yang lain.
“Nih, minum.” Kata Asad sembari memberikan botol air minum.
Semua wajah petualang tampak pucat.
“Tenangkan diri kalian.” Kata Omar.
“Apa setelah ini kita akan melanjutkan pemburuan?” Tanya Laila.
“Ya.” Jawab Asad.
“Bagaimana caranya?” Tanya Nazira.
“Dengan mengendap-ngendap.” Jawab Omar.
“Tapi apakah dia tak mencium bau kita?” Tanya Amaroh.
“Semoga saja singa itu tak mencium.” Jawab Ikrimah.
Setelah semua tenang dan detak jantung juga nafas Khalid kembali normal, mereka pun melanjutkan perjalan. Mereka berjalan dengan mengendap-endap.
Tiba-tiba…
Arrrgg….
Semua terdiam, tak berani melihat kebelakang. Bira kembali bersembunyi, tapi kini dia bersembunyi didepan Laila. Hati petualang gelisah. Jantung mereka mengeluarkan suara dag, dig, dug. Semakin kencang.
Mereka semua mencoba berbalik badan. Raja hutan! Dagunya ditetesi air liur, wajahnya tampak menyeramkan. Taringnya siap merobek daging siapa saja tanpa ampun.
Wajah petualang pucat pasi. Dalam hitungan satu, dua, tiga.
Arrrgg…
Terkaman singa kuning itu meleset. Semua petualang lari sekuat tenaga. Laila melihat tempat yang tertutup dan bersembunyi. Dia menarik tangan Haura dan membawanya keluar dari barisan petualang. Lari sejauh lima hingga delapan meter dari barisan.
“Tunggu!” Haura menahan pelariannya. Laila ikut berhenti.
“Ada apa?” Tanya Laila.
“Kita keluar dari barisan.” Jawab Haura.
“Benar..! kenapa aku bisa lupa? Ya Allah, tolonglah kami..” Laila berkata lirih.
“Tenangkan dulu diri mu, lihat di depan kita ada pemandangan gunung.” Haura mencoba untuk menenenangkan Laila.
Laila membentangkan tangannya. Dia mencoba tenang dengan menghirup udara segar di hutan.
“Mungkin teman kita sudah diterkam singa.” Wajah Laila tampak sedih.
“Jangan berkata seperti itu, doakan yang baik-baik saja. Semoga mereka selamat.” Kata Haura ikut membentangkan tangan.
“Amin.” Laila mengaminkan.
Laila dan Haura berada disana cukup lama, karena mereka sama sekali tak tahu jalan pulang.
“Hah, udara di sini segar sekali.” Kata Laila memejamkan mata.
“Kau ingin cuci mata disini?” Tanya Haura, dia ikut membentangkan tangan.
“Cuci mata alami. Orang kan biasanya banyak cuci mata di Mall.” Jawab Laila tersenyum-senyum.
~~~
Cukup lama mereka di tempat itu. hingga perut mereka terasa keroncongan sekali.
“Fuhh.. Aku lapar.” Keluh Haura.
“Sama.” Kata Laila sambil mengambil batu yang cukup besar.
“Mau kamu apakan batu itu?” Haura bertanya, heran sekaligus penasaran dengan jawaban Laila.
“Mau ku ikatkan di perut.” Jawab Laila sembari membolak-balikkan batu yang dipegangnya.
Haura tertawa geli mendengar jawabannya.
“Laila…, Laila. Nggak usah sampai seperti itu.”
“Ya, dari pada…” Perkataan Laila terputus manakala mendengar suara teriakan.
“Laila…!!” Sekelompok orang berteriak sembari melambaikan tangan.
Laila dan Haura balik melambaikan tangan. Ternyata mereka adalah petualang!
“Ku kira kalian telah diterkam oleh singa tadi.” Kata Laila.
“Hahaha, tadi terjadi pertarungan seru..! Singa lawan Singa.” Kata Yazid.
“Singa lawan singa!” Haura berseru kaget.
“itu belum lengkap kata-katanya. Singa hutan lawan Singa petualang.” Kata Ikrimah.
“Singa petualang?” Haura bingung.
“Ah.., sudah. Nanti saja ceritanya di hadapan kapten.” Asad melerai pembicaraan mereka.
Mereka pun kembali ke sekolah petualang. Hasil buruan mereka hari ini adalah tiga ekor rusa yang besar-besar. Buruan itu tak tahu juga dari mana asalnya.
Ketika tiba di sekolah petualang, terbuka lah ceritanya. Singa itu terbunuh di tangan Asad. Asad artinya Singa, dia berhasil membunuh singa yang hampir membuat para petualang mati. Tak disangka juga, Syafiq telah memburu tiga ekor rusa yang menjadi buruan petualang pagi ini. Syafiq telah membuat teman-temannya malu. Karena mereka telah mengejek Syafiq yang berbadan kecil tapi cabe rawit.

Advertisement

Published by

ummujaihan

sahabat buat anak dan orangtua

6 thoughts on “Tugas 2- Jaihan”

  1. Haloo Jaihan 😀

    Pertama2 aku mau bilang gambarnya Jaihan baguuus 😀 aku suka banget pohon dan padang rumputnya. Awannya juga dapet itu pewarnaannya. Orangnya juga cakeep (yeaa semua aja disukaa hehehe)

    Buat peletakan obyeknya udah cakep Jaihan 😀 Paling yang di sampul depan itu tulisan Sekolah Petualang emang sengaja ngga dimasukin ke pita kuningnya ya? Logo proyek mungkin bisa digeser sedikit biar gak kejedot jilbab orangnya huehehehe… sama itu font judul bukunya kenapa kayak cerita horor gitu dehh, aku sempet mau kabuuur haha xD

    Punggung buku ini orientasinya ke kanan ya Jaihan, jadi ini terbalik peletakannya. Yang bagian belakang itu singanya agak nabrak tulisan deskripsi buku, jadi mungkin bisa sedikit digeser. Selebihnya udah cakep bangeet! Aku suka pemilihan warna-warnanya yang down to earth gitu.

    Daaan… ceritanya kok seruuu??? Ini udah seri kedua yaa… yg pertama pas mulainya aku belom tahuu huhuhu… ini kelanjutan Safari Galileo? Atau cerita sampingan para tokohnya? Hehehe… untung Syafiq bisa berburu rusa yaa.. kereen!

    Overall this is a very good work, Jaihan! I like it a lot!

    Poin:
    – sampul depan: 60
    – sampul belakang: 60
    – punggung buku: 30
    – ketepatan waktu: 50
    – cerita: 50
    Total: +250 poin, congrats!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s