Tugas 1 – White Rabbit, written by Khalisa

Tema Cerita : Cerita Tentang Hewan

Petunjuk Cerita : Kelinci, Hujan, Jendela

Petunjuk Gambar : Kelinci

Nama penulis : Khalisa NFS

Genre : Fantasi, Petualangan dan Detektif

Cerita :

White Rabbit

Keterangan Karakter :

(Nama karakter diambil dari karakter Alice in Wonderland)

Mad Hatter, 27 tahun, pelempar pisau.

Jabberwocky, 14 tahun, pemain akrobat udara.

White Rabbit, 20 tahun, ketua sirkus.

Dormouse, 31 tahun, wakil ketua sirkus.

Bandersnatch, 28 tahun, pesirkus serba bisa.

Cheshire Cat, 17 tahun, pierrot.

***

Hari ini aku menjemput Lili di Bandara Heathrow. Selama setengah tahun terakhir ini kuhabiskan di Hampshire untuk mengikuti pertukaran pelajar. Memang seru, tapi sedikit banyak aku juga merindukan tanah air. Sayang sekali, aku baru boleh kembali ke Indonesia setelah program pertukaran pelajar ini selesai. Dan programnya baru selesai pada pertengahan tahun depan.

 Aku menatap pintu kedatangan. Sudah sekitar setengah jam aku menunggu di sini. Melalui e-mail, Lili memberitauku kalau penerbangan pesawatnya di-delay sekitar 1 jam. Akhirnya, setelah menunggu lagi sekitar 10 menit, ada pengumuman kalau pesawat jurusan Jakarta-London akan segera landing. Aku berdiri dan meregangkan badan, akhirnya penantianku akan segera berakhir.

Tak lama kemudian pintu kedatangan terbuka dan orang-orang dari berbagai nation keluar. Beberapa berwajah Afrika, beberapa orang berwajah khas oriental, dan sebagian yang lain berwajah Asia, namun yang paling banyak keluar adalah orang-orang berkulit putih. Aku tak lepas mengamati pintu kedatangan.

Seorang gadis berkerudung biru dengan jaket biru, rok biru selutut dan menenteng koper hitam keluar dari pintu kedatangan. Gadis itu adalah Lili, adikku si Pecinta Warna Biru.

“Lili!” aku memanggilnya,”Aku di sini!”

Ia tersenyum dan segera menghampiriku. “Kakak!” sapanya dengan riang. Aku ikut tersenyum, lalu memeluknya.

“Kakak kangen sama aku ya?” Lili bertanya sembari tersenyum jahil.

Aku melepaskannya dan mengacak-acak rambutnya. “Ya kangenlah! Oh ya, bagaimana kabar Bunda dan Ayah? Kenapa mereka tidak ikut ke sini?”

“Kabar Bunda dan Ayah baik kok. Mereka lagi sibuk jadi belum bisa kemari… Kak, bukannya lebih baik kita segera minggir saja ya? Kalau di sini ‘kan mengganggu orang.”

Aku mengangguk. Aku mengambil alih koper Lili, dan berjalan keluar dari area pintu kedatangan diikuti oleh Lili. “Li, kamu di sini sampai kapan?” tanyaku.

“Hanya seminggu. Eh, Kak, di Jakarta anak-anak kelas enam sudah libur lho, libur UN. Tapi anak-anak kelas satu sampai kelas lima masih sekolah.” jawab Lili. Lili adalah anak kelas enam, sementara aku sudah kelas dua SMP.

“Oh begitu. Bagaimana kemarin waktu UN? Asyik? Atau tegang?”

“Seru-seru saja sih Kak, tapi ya sedikit menegangkan juga.”

Sesampainya di pintu bandara, aku segera memesan taksi. Sebuah taksi berwarna hitam datang.

Aku menyuruh Lili masuk duluan, lalu menaruh koper miliknya di bagasi, dan menyusul masuk. “To Waterloo Station, please.” ucapku pada sang Sopir.

Yes, Sir.” balas sang Sopir. Beberapa detik selanjutnya, taksi mulai melaju meninggalkan Bandara Heathrow.

“Kenapa ke Stasiun Waterloo, Kak?” tanya Lili.

“Soalnya ‘kan nanti mau langsung ke Hampshire.” jawabku.

“Memang ada apa di Hampshire, Kak?”

“Aku ‘kan program exchange student-nya dikirim ke Hampshire.”

“Oh begitu…” Lili mengangguk tanda mengerti. Seakan teringat sesuatu, Lili langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Kamu mencari apa?” tanyaku.

“Ah, ini!” Lili mengeluarkan dua lembar kertas dan memberikannya padaku.

“Ini ‘kan, karcis. Untuk apa Li?”

“Kemarin ada temanku yang mengasih dua karcis ini. Katanya ada pertunjukan sirkus di Oxford. Dia bilang mau ke Inggris waktu liburan dan menonton pertunjukkan ini. Tapi karena ada urusan lain, jadinya dia tidak bisa pergi.

“Dia menawarkan karcis ini ke teman-teman, tapi tidak ada yang mau.Lalu, aku teringat kalau aku akan ke Inggris untuk menjenguk Kakak. Aku meminta karcis itu padanya, dikasih deh!”

“Oh…pertunjukkannya di Oxford ya…Tanggalnya…26 September. Ini lusa ya? Boleh juga. Nanti kita pergi ke sini ya.” ucapku.

Lili mengangguk senang. “Makanya aku memberikan tiket itu ke Kakak.”

Tak terasa, taksi sudah memasuki kawasan Stasiun Waterloo. Setelah membayar ongkos perjalanan, aku segera mengambil koper Lili dan menyusulnya masuk ke Stasiun Waterloo. Perjalanan ke Hampshire dimulai dari sekarang.

***

“Lili, nanti kalau mau jalan-jalan keluar, pakai syal ya. Sekarang sudah masuk musim gugur.” ucapku seraya membukakan pintu rumahku. Sebenarnya bukan rumahku, melainkan rumah sementara. Selama mengikuti pertukaran pelajar, aku tinggal di sini.

Andrew, landlord-ku—landlord itu semacam pemilik kost—, menyapaku,”Hi, Forsyth! You’re back!

As you can see, Andrew, I’ve come back.” balasku.

Hey, can you come here for a moment?” pinta Andrew.

Aku mendekatinya.

Andrew mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya padaku. “This is your allowances for this month.” Oh ya, biasanya, uang jajan yang disediakan oleh sekolahku—karena sekolahku yang menyediakan beasiswa—dititipkan ke Andrew.

Thanks. Well, I’m tired. I want to go to my room.

OK. Do as you please.

Saat melewati ruang tengah, aku melihat teman-temanku, Patricia, Emily, dan Aghate, sedang mengadakan tea party. Aku menyapa mereka,”Hi, girls!

Hi!

Where’s Daniel and William?” tanyaku. Dua sohibku di sini itu sedang tidak tampak, padahal biasanya kalau Emily dkk mengadakan tea party, mereka ikut.

Daniel is watching TV in his room, and William is going out.” jawab Agathe.

Hey, who’s she?” tanya Patricia sembari menunjuk ke arah Lili.

Oh, she’s my sister.” jawabku.

Aw, she is look like a victorian doll!” ucap Agathe.

She is very cute!” Patricia mengangguk riang.

My God, how cute are you!” tau-tau saja Emily sudah berdiri di depan Lili dan mencubit pipinya.

Lili mengaduh sakit. “Is that hurt? Sorry, Honey.” Emily beralih padaku. “Hey, what’s her name?” tanya Emily.

Her name is Lili.” balasku.

Lili. Yeah, I like that name.” Emily mengangguk-angguk seraya terus memandangi Lili.”Do you want to join to our tea party?

What?” Lili memincingkan mata, menatap Emily. “Can you repeat?

Do you want to join to our tea party?” Emily bertanya lagi.

Well, how about you, Nii-chan?” Lili balas bertanya padaku.

“Boleh kok. Tapi kenapa kamu bicara pakai bahasa Inggris?” tanyaku.

Cause I want to join with these Onee-chan.” jawab Lili.

(Catatanku : Menurutku, hanya bahasa Jepang “Nii-sama” atau “Nee-chan” yang cocok jika disandingkan dengan bahasa Inggris. Soalnya, kalau misalnya pakai bahasa Korea (Hyung gitu) atau China (Cici misalnya) kurang nyambung gitu. Padahal aku cuma tau bahasa Korea dan Jepang buat sebutan Kakak.)

Aku mengangguk. “Ya sudah, aku akan ke kamar dulu.”

***

Jam demi jam berlalu. Tanpa sadar sudah jam 8 malam saja. Aku bangkit dari tempat tidur dan segera mengambil handuk yang kutaruh di punggung kursi belajar. Setelah mandi aku akan mengajak Lili makan keluar, batinku.

Selesai mandi dan bersiap—termasuk salat Isya’—, aku baru ingat kalau sejak aku masuk kamar tadi, Lili tidak ada. Tidak mungkin ia masih ikut tea party Emily. Biasanya ‘kan mereka menyudahi acara itu pada jam lima sore. Lagi pula, sejak tadi datang, Lili belum ada beristirahat sama sekali. Apa dia tidak lelah?

Aku keluar kamar dan mencari Andrew. Ternyata pria itu sedang menyiapkan makan malam di dapur.

Andrew, do you see my sister?” tanyaku seraya mendekatinya.

Em? You mean that black hair little girl?” Andrew balas bertanya.

Aku mengangguk.

I don’t.” jawab Andrew. Aku mengangguk, lalu meninggalkannya.

Aku pergi ke kamar Daniel dan melihatnya tertidur di depan TV yang masih menyala. Biasanya, pada hari Jum’at, Daniel hanya menonton TVdi kamar sampai jatuh tertidur. Aku mematikan TV dan lampu, lalu keluar ruangan.

Ketika keluar, aku berpapasan dengan William.

Hi, Forsyth.” sapanya.

Hi.” balasku lesu.

What’s wrong, Friend?” tanya William.

Do you see my sister?” aku balas bertanya.

William menggeleng. “No, but I saw a black hair little girl in Emily room. I think she’s another boarding child. What do you think?

Well, he’s my sister.” jawabku, lalu aku segera pergi ke kamar Emily. Terdengar suara gadis-gadis itu berteriak-teriak ribut. Pasti Agathe dan Patricia sedang berkumpul di kamar Emily.

Aku mengetuk pintu kamar Emily, dan tak lama kemudian Patricia sudah membukakan pintu.

Where’s Lili?” tanyaku.

She’s here.” ucap Patricia sambil membukakan pintu kamar lebih lebar. Aku agak kaget melihat kamar Emily yang biasanya ditata dengan tataan ala lolita, kini berantakan sekali.

Boneka-boneka bergaya victorian berjatuhan dari lemari boneka, bulu angsa bertebaran di seluruh penjuru kamar dan bantal-bantal berada di sana sini. Di satu sudut kulihat Emily dan Agathe sedang berdiri memegangi bantal, dan di sisi lain ada Lili yang juga memegang bantal. Well, semua ini mudah diduga. Pasti mereka sedang bermain perang bantal.

Forsyth!” Emily segera menghampiriku dan menarik tanganku. “Would you to join to this game?

Aku menatap sekeliling. Entah kenapa, melihat Lili bergembira bersama mereka telah menimbulkan semacam perasaan aneh dalam hatiku. “I think I’m disturbing you, girls. Well, I’ll go out.

“Kakak, tunggu!” Lili langsung mengejarku. “Ada keperluan apa?”

Aku menoleh padanya. “Tadinya aku mau mengajakmu ke kafe langgananku. Tapi berhubung kamu sedang bermain di sini, kubatalkan saja rencanaku. Aku akan keluar bersama William saja.”

“Kakak,” Lili menarik tanganku. “Kakak marah ya?”

“Aku nggak marah.” sanggahku. Ya, aku tidak marah, tapi perasaanku saat ini lebih cocok kalau disebut dengan…cemburu? Tidak mungkin. Masa aku cemburu hanya karena Lili bermain dengan teman barunya?

“Kakak kenapa sih?” tanya Lili lagi. “Ya sudah, ayo kita jalan-jalan keluar deh.” ia berbalik menuju Emily dkk,”Sorry Guys, I want to go out with my brother. We’ll play another time, OK?

Emily dkk mengangguk. Setelah pintu kamar Emily tertutup,“Kakak, kita mau pergi ke mana?” tanya Lili.

“Kan sudah kubilang, ke kafe langgananku. Sudah, kamu siap-siap saja. Oh ya, kamar mandinya ada di kamar.” jawabku. Lili hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan skater dress lengan panjang berwarna biru dan sebuah syal putih. Ia juga memakai kerudung biru yang dihiasi sebuah bros berbentuk bunga kosmos.

“Jangan lupa untuk pakai jaket.” kataku.

“Oh iya, aku ambil jaket dulu ya Kak.” Lili masuk ke kamar lagi, dan keluar dengan memakai jaket army warna biru. “Yuk Kak, kita pergi.”

Aku mengangguk. Saat melintasi dapur, aku segera pamit pada Andrew. “OK. Be careful, Son.” pesan Andrew.

Begitu keluar rumah, kami langsung diterpa dengan angin musim gugur yang dingin. Lili merapatkan syalnya. “Dingin,” gumamnya.

Aku menepuk bahunya. “Tenang saja. Kafenya nggak jauh kok. Itu kelihatan ‘kan yang ada sinar kelap-kelip di sana? Nah, itu kafenya.” ucapku seraya menunjuk sebuah bangunan yang bersinar terang.

“Iya ya.” Lili mengangguk. “Kafenya nggak jauh.”

Sesampainya di kafe, aku segera mencari kursi dan mengajak Lili untuk memesan makanan.

“Kakak…?” Lili memanggilku.

“Ya?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Bagaimana ya?” Lili menatapku. “Maksudku aku senang sekali sewaktu kakak mau meluangkan waktu untukku pada liburan kali ini.”

Aku tersenyum. “Justru harusnya aku yang berterima kasih.”

“Kenapa?”

“Karena kamu sudah mau jauh-jauh datang ke sini untuk menjengukku.”

“Oh…Kakak, aku ma—”

Ucapan Lili terpotong oleh hujan deras yang tiba-tiba mengguyur.

“Ada apa Li?” tanyaku.

“Eh, bukan apa-apa.” Lili menggeleng. “Kak, coba pegang kaca jendelanya deh! Dingin ya!”

“Iya.” balasku.

“Tapi di dalam sini masih hangat…”

“Ya iyalah, ini ‘kan di dalam bangunan.”

Beberapa lama kemudian, seorang pelayan datang dan menyajikan makanan pesanan kami. Aku menyuruh Lili makan dengan cepat, karena takut Andrew akan mencari kami meski tadi aku sudah pamit.

Selesai makan, kami segera pulang. Hujan-hujanan, pada malam hari pula. Tapi asyik sekali. Setelah berganti baju, Lili segera pergi tidur. Kebetulan hanya di kamarku yang ada double bed nya.

Aku menatap wajah Lili, lalu menatap ke arah jendela. Di luar, hujan deras membungkus Hampshire. Udara dingin dan suara hujan membuat suasana tenteram. Aku menarik selimut, dan beberapa saat kemudian aku sudah memasuki alam mimpi.

Malam ini sungguh gelap, lebih gelap dari yang pernah kulihat. Malam ini juga dingin, sangat dingin. Namun di dalam hatiku masih ada mentari yang menyinariku dengan kehangatan dan sinarnya yang terang. Mentari itu kusebut dengan ‘kebahagiaan’.

***

Dua hari kemudian…

Lili memasang sepatunya, lalu berlari menyusuri halaman rumah Andrew yang luas. Di halaman, tampak Patricia, Emily dan Agathe sedang piknik. Ketiga perempuan itu memang senang sekali mengadakan piknik pada akhir minggu. Halamannya; selain luas, juga dipenuhi dengan bunga-bungaan. Ada marigold, kosmos dan krisan. Ibu Andrew yang dulu menanamnya.

“Kakak! Ayo! Sudah siap belum?” teriak Lili. Rupanya ia sudah naik ke mobil yang akan disopiri oleh Andrew.

Aku merapatkan mantel dan memasukkan dompetku ke dalam saku mantel. “Iya, aku sudah siap. Tunggu sebentar!”

Aku memasang sepatu, lalu menyusul Lili. Dari Hampshire ke Oxford memakan waktu sekitar satu setengah jam. Andrew akan mengantar kami ke Chesil Lodge, lalu dari sana aku dan Lili akan naik kereta sampai ke Oxford.

Are you ready Kids?” tanya Andrew.

Yes, I’m ready!” sorak Lili, sementara aku hanya mengangguk kalem.

Perjalanan ke Chesil Lodge memakan waktu yang menurutku sebentar. Sesampainya di Chesil Lodge, Lili langsung meloncat turun. Aku pamit pada Andrew, lalu bersama Lili, aku memasuki Chesil Lodge.

Kereta jurusan Oxford akan berangkat sekitar 2 menit lagi, dan dalam kereta sudah disesaki oleh banyak orang, nyaris aku dan Lili tidak mendapat tempat duduk. Aku sedikit mengeluh dalam hati, tapi Lili tidak mengeluh sama sekali. Dari tadi raut wajahnya ceria.

Aku hanya diam memperhatikannya. Sebenarnya dari tadi di dalam otakku, tersusun beberapa khayalan. Misalnya tadi, ketika sedang di mobil, tiba-tiba ada ombak besar menerjang dan kami berdua tiba di kerajaan bawah laut. Atau misalnya sekarang, penumpang kereta yang sedang melaju ini tiba-tiba terlempar ke masa lalu di mana manusia tidak peduli lagi dengan sekitarnya, atau tiba-tiba penumpang kereta ini terlempar ke masa lalu.

Semua khayalan itu terjadi karena Lili yang ajaib. Dulu, ketika aku melepaskan pandangan darinya, maka ia akan hilang ke suatu tempat yang asing dan aku juga akan terseret ke tempat itu.

Tapi sudahlah, ini ‘kan sekarang, bukan dulu.

Dan perjalanan selama satu setengah jam tidak terasa. Tau-tau saja kami sudah sampai di Oxford. Keluar dari kereta, aku dan Lili terjebak di lautan manusia. Setelah bersusah payah, akhirnya kami bisa melepaskan diri dari lautan manusia dan kini berada di dalam taksi, sedang menuju ke tempat yang tertera dalam karcis sirkus itu.

Sesampainya di alamat yang tertera di karcis itu, aku terkejut sekali karena tempatnya adalah sebuah kastel besar aneh yang berada di pinggir jalan. Aneh karena kastel itu sudah terlihat tua sekali dan di belakangnya adalah hutan.

“Lili.” aku melirik ke arahnya. “Kamu tidak salah alamat ‘kan?”

Lili hanya menggeleng. “Nggak mungkin! Harusnya memang di sini…”

Aku terdiam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Tiba-tiba…

Krosak! Krosak! Terdengar suara gemerisik yang berasal dari salah satu semak belukar, padahal tidak ada angin sama sekali.

“Apaan tuh?!” Lili langsung meloncat ke dalam pelukanku. Aku sendiri juga kaget mendengar suara itu. “Sebentar, coba kuperiksa dulu.” ucapku seraya melepaskan Lili.

Aku menghampiri semak belukar itu, dan memekik kaget saat sesuatu berwarna putih meloncat keluar dari semak belukar itu.

“Kelinci!” ucap Lili. Kelinci putih itu menatapnya, dan meloncat pergi. “Tunggu!” Lili menyingsingkan roknya, dan mengejar-ngejar kelinci putih itu.

Aku berdiri dan segera mengejar Lili. Kelinci putih itu aneh, karena kecepatan menloncatnya seperti orang yang sedang berlari. Kelinci putih itu menoleh sekilas padaku, lalu loncat memasuki sebuah jendela. Aku merasa bahwa jendela itu aneh.

“Jangan pergi kelinci aneh!” teriak Lili sambil meloncati jendela tersebut.

“Ah!” setelah menyadari keanehan jendela tersebut, aku langsung berteriak melarang, tapi terlambat. Lili sudah memasuki jendela tersebut. Aku menghampiri jendela tersebut, namun yang kulihat hanyalah warna ungu yang tidak ada habis-habisnya. Ada beberapa pintu di dalam jendela tersebut.

“Sepertinya kamu bingung ya, Jack.”

Mendengar suara itu, aku langsung berbalik. Di depanku berdiri seorang lelaki berambut hitam dengan iris violet. Ia mengenakan rompi beludu berwarna marun, pakaian khas bangsawan abad ke-19 berwarna biru, celana putih dan sepatu bot warna cokelat. Pakaian yang tidak konvensional untuk lelaki Eropa zaman sekarang. Terlebih lagi, kenapa ia mengerti bahasa Indonesia?

Lelaki itu mengulurkan tangannya padaku. “Ayo.”

Aku menatap lelaki itu,“Ke mana?”

Ia tersenyum. “Kau mencari Alice ‘kan? Ayo kita ke tempat si Kelinci Putih berada.”

***

(Catatan : Dalam cerita Alice in Wonderland, Jack itu punya nama lain, yaitu Knave of Hearts. Di cerita aslinya sih, si Alice dan Knave of Hearts itu musuh, tapi di cerita ini enggak, hehe ^_^)

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Agak aneh juga, pikirku dalam hati. Saat ini, aku memakai pakaian yang sama persis dengan si lelaki beriris violet itu. Hanya saja ukuran pakaianku lebih kecil dari pakaiannya.

“Hei, aku sudah melakukan apa yang kau mau. Sekarang beritahu aku siapa namamu sebenarnya?”

Ia tersenyum sembari menatapku. “Namaku Mad Hatter.”

“Apa katamu?” aku balas menatapnya. “Mad Hatter? Itu ‘kan nama salah satu karakter di film Alice in Wonderland.”

“Ya. Itu namaku. Mad Hatter.” ucapnya.

“Namamu aneh.” balasku.

“Jack, ayo, jangan membuang-buang waktu di sini. Ayo kita ke tempat si Kelinci Putih.”

“Namaku Forsyth. Bukan Jack.”

“Kamu kenapa, Jack?” tanya Mad Hatter. “Apa kepalamu terbentur sesuatu?”

“Tidak, aku tidak kenapa-kenapa.”

Mad Hatter mulai berjalan keluar dari ruangan. Aku mengikutinya. Tempat ini sangat aneh karena segala sesuatu yang ada di sini melayang. Tangga-tangga, pintu, dan boneka-boneka kelinci yang didominasi warna putih, kalau tidak hitam.

“Kita sudah sampai.” ucap Mad Hatter. Di depannya ada sebuah tirai merah. Ia menyibakkan tirai itu. Aku menutup mata karena silau. Cahaya menyilaukan itu berasal dari balik tirai itu. Mad Hatter tersenyum. “Selamat datang di White Rabbit’s Circus, Jack.”

***

“Kakak! Bangun!”

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kesadaranku masih timbul tenggelam.

“Kakak!”

Ah, ini pasti Lili. Aku berusaha bangun dan membuka mataku. Di hadapanku ada Lili. Namun penampilannya aneh.

Ia tidak lagi memakai skater drees yang tadi pagi ia pakai. Ia memakai gaun khas abad ke-19. Jangan-jangan kami terlempar ke abad ke-19?

Aku menatap sekeliling dan menemukan diriku berada di ruangan serba biru. “Lili, tempat apa ini?” tanyaku seraya memegangi kepala yang mendadak pening.

“Ini di tenda peristirahatan White Rabbit’s Circus.” jawab Lili.

Ini ‘kan tempat yang tadi dibilang oleh Mad Hatter!

Aku berusaha bangkit berdiri. “Aku harus mencarinya…mencari Mad Hatter…”

“Wah, Jack sudah bangun ya.”

Aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sana ada seorang gadis berambut putih, di sampingnya ada seorang lelaki berambut merah dan beberapa orang dibelakangnya.

Gadis itu tersenyum,“Selamat datang di White Rabbit’s Circus, Jack. Kau tadi sudah bertemu dengan Mad Hatter ya.”

“Mad Hatter…Di mana dia sekarang? Ada yang perlu kutanyakan padanya!” ucapku pada si gadis berambut putih itu.

“Tenang saja…Sebentar lagi Mad Hatter akan kembali. Perkenalkan, namaku White Rabbit. Lalu lelaki berambut merah ini adalah kakakku, Dormouse. Aku adalah ketua sirkus, sementara Kakak adalah wakil ketua sirkus di sini.” ucap White Rabbit.

“Hooo begitu ya. Lalu, orang-orang yang ada di belakangmu, mereka itu siapa?”

White Rabbit menunjuk seorang remaja berambut biru seleher,“Gadis ini adalah Jabberwocky, pemain akrobat udara. Ia biasa bermain akrobat udara denganku…Lalu, pria berambut pirang di sana adalah Bandersnatch, pesirkus serba bisa. Yang terakhir adalah Cheshire Cat, pierrot di sini.”

“Cheshire Cat ya…Padahal dia lebih cocok menjadi pemeran maskot kucing. Lalu kau, White Rabbit, lebih cocok menjadi pemeran maskot kelinci putih!” ucapku sinis. “Kenapa aku dan Lili terseret ke sini? Ke dunia Alice in Wonderland?”

“Itu Alice. Bukan Lili, nyaww….” ucap Cheshire Cat.

“Mad Hatter bilang nama aslimu Forsyth. Sepertinya kau hilang ingatan, Jack.” Dormouse menambahkan.

“Aku bukan Jack dalam karakter film Alice in Wonderland! Aku Forsyth!” ucapku mengkal. “Dan, dia ini Lili! Bukan Alice!” teriakku seraya menarik Lili.

Semua anggota White Rabbit’s Circus menatapku dengan bingung. White Rabbit dan Jabberwocky menatapku dengan tatapan sedih. Aku menarik tangan Lili dan melangkah keluar dari ruangan itu.

“Kakak, kak, tunggu sebentar.” pinta Lili. “Sebaiknya kita melakukan dulu hal-hal yang harus kita lakonkan. Aku merasa sebentar lagi akan terjadi seusatu di sini.” bisiknya.

“Maksudmu, aku harus merelakan diri untuk menjadi Jack, dan merelakan agar kau dipanggil Alice? Sadarlah, Lili! Ini bukan tempat kita seharusnya berada!” balasku.

“Kakak, kita tak tau caranya kembali. Sudahlah, ayo ikuti saja permainan ini.” Lili kembali memohon.

Setelah kupikir-pikir, aku juga tak tau caranya kembali. Baiklah, mungkin ada baiknya jika mengikuti perkataan Lili. Siapa tau kami bisa mengetahui caranya untuk kembali ke dunia asal.

Aku kembali ke tempat White Rabbit dkk berkumpul. “Oke White Rabbit, aku mau bertanya sesuatu, kenapa aku dan Alice ada di sini?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Mad Hatter yang memintanya. Ia bilang, ia ingin agar kamu dan Alice menyaksikan pertunjukkan sirkus kami.”

“Hanya itu?” tanyaku.

Cheshire Cat mengangguk. “Ayo kita ke panggung utama nyaww…Mad Hatter pasti sudah menunggu nyaww…”

Aku dan Lili mengikuti para pemain sirkus White Rabbit’s Circus ke tenda utama. Di sana sudah ada Mad Hatter. Ia sedang duduk di bangku penonton seraya mengasah beberapa pisau kecil.

“Mad Hatter, Jack dan Alice sudah datang…Ayo kita mulai pertunjukan pertama…” ucap Dormouse.

Mad Hatter menoleh ke arahku. “Aku mau Jack menjadi sasaranku.” pintanya.

What?! Sasaran apa?! Sebelum aku berpikir lebih jauh, tau-tau saja sebuah Dormouse dan Bandersnatch sudah menarikku, membaringkanku di sebuah papan kayu, dan mengikatku dengan tali tambang.

Dormouse mendirikan papan kayunya, lalu Bandersnatch menaruh sebuah apel merah ranum ke atas kepalaku. “Hei, apa-apaan ini?!” tanyaku.

Dan satu per satu pisau yang ada di tangan Mad Hatter dilemparkan ke papan kayu, membuatku berteriak-teriak. Memang memalukan, tapi apa boleh buat, aku takut kalau-kalau pisau yang dilempar malah salah sasaran.

Whut!

Salah satu pisau menancap ke apel tadi. Aku menunduk, dan membiarkan apel itu terjatuh ke lantai. “Kemampuanmu hebat, Mad Hatter.” pujiku. “Sekarang, lepaskan ikatanku.”

“Baiklah nyaww…” Cheshire Cat menghampiriku dan melepas ikatan tambangnya. Lili menghampiriku seraya tersenyum kagum.

“Apa? Menurutmu tadi itu keren? Hal tadi membuatku nyaris jantungan tau!” ucapku pada Lili.

“Hehe, tapi menurutku tadi Kakak dan Mad Hatter sangat keren.”

“Oke, sekarang permainan akrobat udara ya. Apa Alice juga mau mencoba?” tanya Jabberwocky.

“Eh…permainan akrobat udara?” Lili menoleh padaku.

“Coba saja, pasti seru.” jawabku. Padahal aku sendiri belum pernah coba, batinku. Lili kembali menoleh pada Jabberwocky dan mengangguk. Bersama White Rabbit dan Jabberwocky, Lili bersiap dengan peralatan trapeze.

Dan beberapa detik kemudian, saat akrobat udara dimulai, Lili malah menjerit-jerit ketakutan. Jarak tiang trapeze dengan lantai memang cukup tinggi, sekitar dua puluh meter.

Begitu Lili diturunkan dari arena akrobat udara, ia langsung berjalan dengan gemetar. Aku menepuk bahunya. “Sepertinya seru sekali ya.” ucapku.

Lili menoleh. “Nggak seru. Tadi rasanya aku seperti tidak menginjak tanah.”

“Jangan bilang begitu, Alice.” ucap Jabberwocky sembari mencubit pipi Lili. “Permainan akrobat udara salah satu pertunjukkan utama White Rabbit’s Circus lho!” lanjutnya.

“Ha…Iya iya…” Lili mengangguk muram.

“Ketua di mana?” tanya Bandersnatch.

“Entahlah.” Dormouse celingak-celinguk.

“White Rabbit pergi ke mana?” tanyaku.

“Tidak tau. Tapi ayo kita cari.” ucap Mad Hatter.

“Kyaaa!”

“Itu suara Lia!” ucap Dormouse seraya berlari ke luar tenda utama, diikuti Cheshire Cat dkk.

Lia?

Itu nama asli dari White Rabbit?

“Kakak, ayo!” Lili menarik tanganku dan ikut berlari ke luar tenda utama. Di luar, tampak seseorang membawa White Rabbit pergi. Aku dan yang lain berusaha mengejar orang itu, tapi tidak berhasil. Lalu…yang terlihat dari si pelaku hanyalah siluetnya dan…

Sebuah kertas yang tergeletak di lantai.

***

“Bagaimana sekarang? Kita tidak tau Lia diculik oleh siapa!” Dormouse mondar-mandir di tenda peristirahatan dengan gusar. “Kita sudah mencarinya ke semua tempat bukan?! Lia tetap tidak ada!”

“Nggg…Dormouse?” panggilku. Dormouse menoleh padaku,“Ada apa Jack? Kau punya petunjuk tentang siapa yang menculik Lia?”

Aku mengambil kertas yang tadi kutemukan dan memperlihatkannya pada Dormouse. “Ini ditulis dengan sandi morse. Jika kau menginginkannya, aku akan memecahkan sandi ini. Sepertinya ini dibuat oleh si pelaku.” ucapku.

“Baiklah. Tolong ya Jack!” ucap Dormouse sembari menepuk bahuku.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Lili menginterupsi percakapan,”sebelum itu, aku ingin tau nama asli kalian siapa saja, dan bagaimana asal mula kalian kenapa bisa tergabung dalam sirkus ini!”

Dormouse tersenyum. “Akan kujelaskan, Alice. Dulu, White Rabbit’s Circus adalah usaha sirkus yang dibuka oleh orang tua kami. Nama asliku adalah Adrian Rudolph, sementara White Rabbit adalah Lilianna Rudolph. Nama asli Jabberwocky adalah Joey Lisephine, dan Cheshire Cat adalah kakak Joey yang bernama Cheshire Lisephine. Mereka adalah teman main Lia sejak kecil, karena itu, mereka kami ajak untuk bergabung di sini.

“Mad Hatter bergabung di sini sekitar lima tahun yang lalu, sebagai pelempar pisau yang handal. Nama aslinya Arthur Denver. Yang terakhir, Bandersnatch. Ia bergabung di sirkus ini sudah lebih dari sepuluh tahun. Nama aslinya Ezra. Kalau nama belakangnya…entahlah, aku sudah lupa. Kamu masih ingat nama belakangmu, Ezra?”

(Catatan lagi : Dulu aku pernah buat cerita dengan nama Ezra. Tapi, Ezra yang di sini beda sama cerita yang dulu UwU)

Bandersnatch a.k.a Ezra hanya menggeleng.

“Oh jadi begitu ya…Terima kasih atas informasinya,” ucap Lili.

“Kalian mau memanggil kami dengan nama asli kami?” tanya Adrian.

“Boleh saja.” balasku dan Lili dengan serempak.

Adrian dkk saling tersenyum.

“Oke, aku mau keluar sebentar, untuk memecahkan sandi ini.” ucapku.

“Aku juga mau ikut Kakak!” Lili menarik pakaianku.

“Iya iya.”

***

Pesta perpisahan akan segera dimulai jika kau tidak segera menyelamatkan kelinci putih kesayanganmu. Warna langit musim panas akan berubah menjadi warna senja hari, pada saat itulah pertunjukan indah akan dimulai. Wahai Jack sang Pahlawan yang pemberani, jika kau mau menerima tantanganku ini, akan kuberi sebuah trik indah yang akan segera menyusul…Ungkapkan analisismu di depan teman-temanmu.

Joker~

“Kenapa harus aku?!” pekikku jengkel.

Aku melipat kertas itu dan terburu-buru menemui Adrian dkk. aku segera mengartikan isi surat tersebut.

“Warna langit…apa artinya ini nyaww…” ucap Cheshire.

“Artinya, jika Lilianna tidak segera diselamatkan, maka ia akan dibunuh. Warna tenda adalah biru, dan warna darah itu merah, identik dengan senja.” ucapku.

“Lia…”

Aku menoleh ke arah suara, ternyata Adrian. “Aku harus segera memecahkan maksud trik-trik ini Adrian. Jika berhasil, maka Lilianna akan selamat.”

“Begitu ya…Aku mau keluar sebentar…Masalah tentang Lia ini membuat kepalaku menjadi pusing…” ucap Adrian seraya melangkah keluar tenda.

“Eh, menurutku sebaiknya kita tidak pergi sendirian.” ucapku.

Langkah Adrian terhenti. Ia menoleh padaku. “Kenapa?”

“Karena, pasti pelakunya ada di sekitar sini. Atau kalau lebih parah lagi, si pelakunya itu adalah salah satu dari kita.” jawabku.

Adrian tersenyum. “Tidak apa-apa kok. Aku pasti bisa melindungi diriku sendiri.” balasnya.

Akhirnya, aku hanya mengangguk.

Aku pun memutuskan berkeliling-keliling sirkus sekaligus memeriksa sirkus sekali lagi. Mungkin ada petunjuk yang terlewatkan.

“Kalau begitu, Lili, aku mau memeriksa tempat ini sekali lagi. Mau ikut?” tanyaku.

“Boleh juga, siapa tau kita bisa menemukan sesuatu! Yaitu, petunjuk! Iya ‘kan Kakak?” tanya Lili.

“Iya.” balasku.

Kami memulai pemeriksaan dari tenda utama dan berakhir di tenda gudang. Di tenda gudang, ada banyak cermin dan beberapa properti sirkus yang tampaknya sudah rusak. Di sini sepertinya penyelidikan akan lebih susah karena gelap.

Ah ya, aku baru ingat, kalau di sirkus ini sama sekali tidak ada bohlam atau semacamnya. Tapi, kenapa tenda utama dan tenda-tenda lain bisa tetap terang ya?

“Ini bagian apa? Kenapa cukup menonjol?”

Aku menoleh ke arah Lili. Ia sedang meraba-raba salah satu dinding tenda. “Kakak, dinding yang ini aneh. Bagian ini tidak rata seperti bagian dinding yang lain.”

Aku terdiam seraya memperhatikan dinding yang dimaksud Lili. Memang, ada salah satu bagian dinding yang tidak rata. Bentuknya seperti sebuah setengah tabung. Aku mencoba berpikir. Ini apa ya?

“Apa mungkin ini dipakai untuk menyembunyikan sesuatu ya Kak?” tanya Lili. Dan seketika itu juga aku tersentak. “Mungkin…Ya, mungkin itu tempat persembunyian sesuatu…Coba kita buka!” ucapku.

Aku berusaha membukanya, namun tidak bisa. Tapi mendadak Lili mendorongnya dan benda setengah tabung itu terjatuh, menimbulkan bunyi yang agak keras.

“Eh…Apa ini…” Lili bersimpuh di samping benda setengah tabung itu. Aku terpaku saat melihat benda setengah tabung itu perlahan terbuka. Dan di dalamnya ada Lilianna. Ia masih belum sadar. Ah iya, tadi si pelaku sempat membiusnya ya.

“Kakak, si pelaku tidak mengikat Lilianna.” ucap Lili.

“Hm….memang. Mungkin itu dikarenakan tempat persembunyian yang dipakai untuk menyembunyikan Lilianna susah terbuka,” ucapku.

“Lalu? Sekarang Lilianna akan kita apakan?”

“Menurutmu?”

“Kita tinggalkan saja?”

“Kenapa?”

“Habis, repot membawanya keluar.”

“Hm, benar juga. Oke, kita keluar dulu.”

Mendadak, dari luar terdengar suara teriakan. Aku dan Lili bergegas keluar dari tenda gudang, dan melihat Adrian yang sedang melawan seseorang. Tapi si pelaku malah membekap Adrian.

Aku menatap sekeliling, dan menemukan sebuah tongkat panjang. Tanpa basa-basi aku menghampiri si pelaku dengan niat mau memukulnya, namun ketika di pelaku menyibakkan jubahnya, aku nyaris pingsan karena ia tidak memiliki badan. Si pelaku, alias Joker, langsung kabur seraya tertawa-tawa. Tapi pada waktu itu juga aku mengerti trik apa yang dipakainya.

“Ada apa?” tanya Ezra dkk yang baru menyusulku.

“Adrian…tadi ia diincar oleh si pelaku.” Gumamku muram. “Sepertinya aku sudah tau siapa pelakunya.”

“Oh ya?!” tanya Lili. “Siapa pelakunya Kak?”

“Sebentar Lili, akan kuberitau triknya dulu.” ucapku. “Tadi, saat aku mau menolong Adrian, si pelaku menyibakkan jubahnya dan tubuhnya tak nampak. Mendadak angin bertiup dan saat sebuah daun menempel, aku mengerti. Di seluruh tubuhnya dibalut kaca.

“Mungkin agak susah, tapi memang seperti itulah triknya. Kaca merefleksikan benda-benda yang ada di sekitarnya ‘kan? Si pelaku memanfaatkan hal berikut.”

“Ah, benar juga. Itu salah satu sulap tingkat pemula.” gumam Ezra.

“Lalu pelakunya siapa?” tanya Lili.

“Pelakunya adalah Cheshire. Semuanya menghampiri dalam waktu kurang lebih semenit saat Lilianna diculik, tapi Cheshire datang paling akhir. Begitu pula saat Adrian tadi dibius. Cheshire juga datang paling akhir kan?”

“Analisis kelas pemulamu memang bagus Jack. Tapi, jika aku pelakunya, di mana aku akan menyembunyikan Lia?” tanya Cheshire. Aku menatapnya, ia tidak lagi bilang ‘nyaww nyaww’ seperti tadi.

“Memang, kita sudah mencari Lilianna ke seluruh tempat di sirkus, tapi ia tidak ditemukan. Kenapa? Karena ia disembunyikan di tenda peristirahatan, tersembunyi di balik tabung yang diselubungi kertas alumunium.

“Kertas alumunium juga memantulkan bayangan, sama seperti cermin. Selama tidak berkerut, kertas alumunium adalah alat refleksi yang bagus.”

“Aku akan mencoba mencari Lia ke tenda gudang!” ucap Joey. Beberapa menit kemudian Joey sudah kembali. “Ketua ada di tenda gudang, persis seperti yang dibilang Jack.”

“Cheshire, kenapa kau melakukan ini?” tanya Ezra.

“Karena…aku ingin melepaskan diri dari sirkus ini. Aku ingin agar aku dan Joey bisa membangun sebuah sirkus mandiri. Tapi tak kusangka trik yang sudah susah payah kubuat bisa dibongkar oleh Jack.” jawab Cheshire.

“Ini hanya permainan…” gumam Joey.

Akhirnya, trik dan permainan Cheshire berakhir saat aku dan Lili harus segera kembali. Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Semua kejadian berkat Lili-ku yang ajaib. Dia memang istimewa karena bersamanya, aku sering kali menemukan hal-hal baru yang ajaib.

***

Sampul buku, punggung buku, sinopsis dan belakang buku 😀

Advertisement

12 thoughts on “Tugas 1 – White Rabbit, written by Khalisa”

  1. My notes while reading this story

    Wait. Waht. WHAT.. AAA ada forsyth!!!! *jejingkrakan di belakang xD ih kejutan banget deh! Aku pikir ga akan ketemu lagi sama tuh oraang hahaa… Kamutu tau aja cara bikin orang nge-hype

    Andrew landlord nya kok ngasih allowance sih? Oh wait. Maksudnya dia tempat si forsyth numpang tinggal pertukaran pelajar ya? Kalo gitu kyknya lebih tepat disebut host bukan? Soalnya kalo landlord itu kesannya kyk bpk kos tukang nagih sewa gitu xD

    Waaaiiiit. Nii-chan?? Aku pikir mereka orang indo? Kenapa manggil pake bhs jepun?

    Aaww.. forsyth dejavu pengen isekai ke dunia lain keknya xD

    Tuh kaaan mereka nyasar wahaha.. btw aku ga begitu familiar dgn film ataupun novel alice, jack itu siapanya deh xD

    Waiit.. ezra yg dulu jd obyek penelitian di cerita kamu? Atau beda lagi? Apa aku salah inget haha..

    Finished reading! Soo jadi sebenernya mereka gak ke dunia lain, tp emang ketemu orang2 unik di sirkus ya? Untung aja si forsyth bisa memecahkan kasusnya yaa… Petualangan yg seru 😀 pemecahan kasusnya juga cukup menarik. Endingnya butuh lebih greget niih, tiba2 dah selesai dan mereka pulang 😛 coba ada dialog antara forsyth dan lili gitu, ngebahas kejadian tadi

    Well aku malem2 online buat baca cerita kamu, soalnya penasaran kyknya panjang banget xD tadi seharian ga sempet meriksa postingan anak2 euyy..

    Anyway ntar kalo aku dah buka laptop aku cek gambar sampulnya di inkscape yaa.. good job, khalisa!

    Like

    1. Haiii Khalisa!

      Aku baru sempat cek sampulnya… first of all ini gambarnya bagus, I like it a lot! Warna monokrom yang soft dan sangat detail, aku bisa lihat dikerjakan dengan sepenuh hati. Aku ngebayangin bikin garis2nya aja tangan aku dah pegel duluan haha xD

      Judul dibuat custom dengan hand lettering is okay kok, disesuaikan dengan jenis buku dan ilustrasinya. Ini udah cocok. Cuma nama penulisnya agak mepet ke ujung bawah buku ya, ini bisa kena Bleed, area kertas yang ada kemungkinan terpotong mesin sampul di percetakan (+- lebar 1 cm). Logo penerbitnya juga ngga perlu dua2nya ditampilin di halaman sampul, yang kanan bawah ini mungkin bisa dikecilin dikit dan digeser ke atas, atau ditaro di sampul belakang sekalian.

      Lalu ukuran sampulnya 10.2 x 15.4 cm, ini kecil ya.. lebih kecil dari kertas A6. Kemaren di scan atau difoto? Kalau aku bandingin dengan versi yang belum diwarnai, sepertinya sudah benar ukuran A4, yang kalau dibagi 2 jadi A5. Kenapa pas sudah diwarnai jadi mengecil ya? Apa pas nge-scan udah dipilih resolusi minimal 300 dpi? Bagian sampul sebelah kanan juga seperti terpotong (lihat baju si kelinci).

      Untuk punggung buku, sebenernya ngga usah dipaksain dimasukkan di tengah, ini kita bisa gambar di kertas terpisah dan scan tersendiri kok. Kamu ngerjain layout nya di Inkscape atau di mana? Untuk selanjutnya mungkin bisa gini:
      1. Gambar seperti biasa di kertas A4, yang nanti akan jadi sampul depan dan sampul belakang
      2. Scan min 300 dpi
      3. Potong hasil scan jadi 2 gambar (di Inkscape cara memotong itu pakai Object – Clip – Set)
      4. Masukkan elemen sampul depan
      5. Masukkan elemen sampul belakang, termasuk deskripsi buku. Mau bikin kotak berisi teks juga bisa kok, malah enak bisa digeser2 dan diperbesar/kecil kalau belum pas
      6. Gambar punggung buku di kertas A4 (kira2 ukuran 1,5 cm x 21 cm).
      7. Scan min 300 dpi
      8. Masukkan file hasil scan ke desain awal (di Inkscape caranya File – Import)
      9. Masukkan elemen punggung buku
      10. Group semua elemen pada masing-masing lokasi (sampul depan, belakang, punggung), lalu Export as PNG pada masing-masing gambar.
      11. Nanti akan ada 3 file PNG sebagai hasilnya yang bisa diupload ke wordpress

      Nah, kira2 begitu.. jadi gambar awal kamu bersih ngga terpotong punggung buku segala. Nanti kalau ada yang masih bingung kasih tahu yaa 🙂

      Anyway it’s a really nice book cover! Good job, Khalisa!

      Poin:
      – sampul depan: 60
      – sampul belakang: 60
      – punggung buku: 30
      – ketepatan waktu: 50
      – cerita: 50
      Total: 250 poin, congrats!

      Like

    2. Makasih udah comment Tante Sari~ dari kemarin kutunggu-tunggu TwT. Kemarin waktu mau ngebuat ending udah pusing, makanya dibikin sesederhana mungkin… Ohya, itu karakternya pada minjem dari Alice in Wonderland

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s